MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 35


__ADS_3

Akhirnya motor yang kami naiki sudah sampai di area persawahan. Hal itu menandakan bahwa beberapa saat lagi kami akan sampai di rumah Pak Handoko. Kabut yang menyelimuti jalanan semakin tebal. Rasa dingin semakin menusuk tulang. Jarak pandang pun semakin terbatas. Untunglah lampu depan motor Mas Diki baru beberapa minggu yang lalu diganti sehingga cukup membantu penglihatan ke depan.


Di dalam hati aku sempat berpikir, apa iya Nur berjalan kaki dari rumah sampai ke sini? Kalau memang iya, kenapa mulai dari rumah sampai ke tempat kami sekarang, kami tidak menjumpai anak kami tersebut? Padahal jarak dari rumah ke tempat ini sangatlah jauh. Jika memang demikian, berarti Nur sudah berangkat jauh sebelum aku terbangun.


Baru sejenak aku memikirkan hal itu, tiba-tiba dari sorot lampu depan motor kami, aku melihat ada benda yang sangat kukenal.


"Mas ... Mas ... Itu sandalnya Nur, Mas!" ucapku sambil menunjuk pada sandal jepit berwarna putih dengan tali berwarna kuning yang berada di tengah jalan. Mas Diki menengok ke sandal yang hanya sebelah itu.


"Iya, Dik. Berarti Nur memang ke sini, Dik. Kita harus buru-buru supaya tidak terlambat," ucap suamiku dengan kembali mempercepat kendaraannya yang semula diperlambat untuk mengamati sandal yang hanya sebelah tadi.


"Iya, Mas. Ayooooo ... buruan, Mas!" jawabku dengan semakin cemas.


Baru saja kami mengatakan hal itu, tiba-tiba ..


BRAAAAAK


Motor yang kami kendarai menabrak sesuatu sehingga aku dan Mas Diki terlempar. Kami berdua terlempar ke tepian sawah.


"Dik, kamu nggak apa-apa?" tanya suamiku sambil merangkak ke arahku. Badan suamiku penuh dengan lumpur,sama sepertiku.


"Tidak, Mas. Saya tidak apa-apa. Saya hanya kaget saja," jawabku.


"Tadi kita nabrak apa, Mas?" tanyaku.


"Entahlah, Dik. Mas tidak melihat apa-apa di depan, tapi ban depan seperti menabrak sesuatu. Ayo Dik, bangun! Kita lanjutkan perjalanan kita!" Ajak suamiku sambil menarik badanku dari lumpur.


Kami pun berdiri kembali. Untunglah tekstur lumour sawah itu telah menyelamatkan kami dari cedera serius. Sebenarnya rasa sakit itu ada. Namun, tak aku hiraukan karena ingin segera sampai di rumah Pak Handoko.


"Mas, ternyata kita tadi menabrak batu. Ini batunya ada di tengah jalan," ucapku pada suami yang sedang berusaha menghidupkan motornya.


"Singkirkan batu itu, Dik! Supaya tidak ada orang lain yang bernasib sama seperti kita," ucap suamiku.


"Iya, Mas," jawabku sambil mengangkat batu itu untuk kulemparkan ke pinggir jalan.


Baru saja aku mengangkat batu itu, tiba-tiba terdengar suara cekikikan dari batu yang sedang kuangkat di tanganku.

__ADS_1


"Hi hi hi hi hi,"


Ternyata benda yang kupegang bukanlah batu, melainkan hantu berbentuk kepala manusia. Rambutnya panjang dengan mata melotot berwarna merah, giginya bertaring, dan bagian bawahnya bergerak-gerak seperti ular.


"Astagfirullah!!!" Aku terkejut dan segera melempar hantu itu ke samping. Aku pun segera berlari dan melompat ke motor suamiku.


"Buruan, Mas!" teriakku yang langsung diamini oleh suamiku.


Mas Diki segera menjalankan motornya menjauhi hantu berbentuk kepala manusia itu. Aku memeluk erat tubuh suamiku karena ketakutan.


"Mas ... saya takuuut," ucapku tak berani menoleh ke belakang.


"Kuatkan dirimu, Dik. Sepertinya hantu kepala barusan sengaja dikirimkan untuk menghalangi kedatangan kita," ucap suamiku.


"Berarti Pak Handoko sudah tahu kalau kita akan datang, Mas?" tanyaku sambil terisak.


"Saya yakin pelakunya sudah tahu. Tapi, saya masih tidak yakin kalau Pak Handoko adalah pelakunya. Karena setahu mas, dia orang baik," ujar Mas diki.


"Jadi, mas sependapat dengan Clara bahwa pelakunya adalah ayah angkatnya Clara?" tanyaku.


"Lantas, apa hubungannya Pak Handoko dengan mereka? Kenapa yang terlihat di mimpiku, Pak Handoko-lah yang melemparkan aku dan Nur ke jurang," jawabku membocorkan isi mimpiku tadi.


"Kamu mimpi Pak Handoko, Dik?" tanya Mas Diki seolah tidak percaya.


"Iya, Mas. Pria yang melemparkanku ke jurang adalah Pak Handoko, bukan ayah angkatnya Clara," jawabku menegaskan.


"Dik, jujur mas tidak paham dengan semua yang terjadi ini. Tapi, kalau mengingat apa yang disampaikan oleh pakdenya Siti bahwa kamulah nanti yang bisa menyelamatkan Nur. Mas hanya mengingatkan kepadamu untuk tetap waspada, baik terhadap ayah angkatnya Clara, maupun terhadap Pak Handoko," ucap Mas Diki dengan tetap mengendarai motornya.


"I-i-iya, Mas. Tapi, jujur saya masih sangat takut, Mas. Mas jangan jauh-jauh dari saya, ya? Saya juga bingung, bagaimana caranya untuk menyelamatkan Nur dari kejahatan mereka," jawabku.


"Tenang, Dik. Kita harus selalu berdoa dan yakin bahwa Allah SWT akan melindungi kita semuanya," ujarnya lagi.


"Aaamiiin ...,"


Beberapa menit kemudian, sampailah kendaraan yang kami naiki di depan pintu gerbang rumah Pak Handoko. Setelah memarkirkan motor, kami pun berjalan secara perlahan menuju gerbang. Kami memperhatikan pintu gerbang tersebut. Syukurlah, pintunya tidak digembok. Jadi, kami bisa masuk ke dalam pekarangan tersebut.

__ADS_1


Malam semakin menggelayut. Suasana di sana sangatlah sepi dan mencekam. Tak ada bunyi jangkrik atau pun binatang malam. Padahal, di sekitar rumah itu adalah area persawahan. Aneh bukan?


Aku menggandeng tangan suamiku untuk berjalan melewati halaman rumah tersebut. Aku memperhatikan rumah yang ada di depanku. Gelap sekali, seperti tidak ada orangnya sama sekali. Aku bertanya-tanya di dalam hati, di manakah Nur sekarang ini?


"Mas, apakah kita akan masuk ke dalam rumah itu?" bisikku perlahan pada suamiku.


"Tidak, Dik. Saya yakin Nur tidak ada di rumah itu," jawab suamiku.


"Lantas, ke mana kita akan melangkah, Mas?" tanyaku pada suamiku.


"Tunggu, Dik. Mas mau berpikir sejenak!" jawab suamiku.


"Iya, Mas. Tapi, buruan, ya? Saya takut kalau berdiri berlama-lama di sini. Saya merasa seperti sedang diawasi," jawabku.


Mas Diki tampak mengedarkan pandangan ke sekeliling. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Sedangkan, pikiranku buntu saat itu, mau berbuat apa aku bingung.


Setelah berpikir selama beberapa waktu, akhirnya Mas Diki menemukan sebuah ide. Ia menarikku untuk berjalan ke arah gerbang kembali.


"Mas, mau kemana kita?" tanyaku kebingungan dengan apa yang akan dilakukan olehnya.


"Sebaiknya kita bergerak dari luar pagar, Dik," jawabnya berbisik.


"Lewat pinggiran sawah, maksud Mas?" tanyaku.


"Iya, Dik. Saya yakin kita akan lebih leluasa kalau memantau lewat luar pagar," jawab suamiku berusaha meyakinkanku.


"S-s-sepertinya k-k-kita t-t-tidak b-b-bisa k-k-keluar l-l-lagi, M-m-mas!" jawabku terbata-bata.


"Kenapa, Dik? Pintu gerbangnya tidak terkunci, kok. Siapapun bisa keluar dan masuk tempat ini," tegas Mas Diki.


"I-i-itu, M-m-mas," pekikku tertahan sambil menunjuk ke arah pintu gerbang.


Tanganku menggenggam erat tangan suamiku. Mas Diki menoleh ke arah gerbang. Darah kami terkesiap karena di pintu gerbang kami melihat harimau berwarna putih sedang berjalan mondar-mandir dan menoleh ke arah kami berdua dengan tatapan buasnya.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa untuk mengikuti program Give Away novel KAMPUNG HANTU dengan cara mengupload gambar format pemesanan novel KAMPUNG HANTU di FB atau Instagram.


__ADS_2