MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 151 : PERNIKAHAN (TAMAT)


__ADS_3

Hai, Kak. Jangan lupa membaca karyaku yang baru ya.


JERITAN HANTU


TIKUNGAN ANGKER


TITISAN MARANTI


nggak kalah seru loh!


Baru saja mereka bertiga akan pulang, tiba-tiba dari semak-semak muncul tiga orang tanpa sepengetahuan mereka bertiga. Ketiga orang itu langsung membekuk mereka bertiga dengan mudah.


“Siapa, kalian?” pekik Pak Herman dengan tangan ditekuk dan diikat ke belakang oleh seseorang.


“Ini aku, Herman!” jawab orang itu.


“Kamu, Dibyo? Apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Pak Herman lagi.


“Kamu tidak usah banyak bicara Ayo, ikut kami!” jawab Pak Dibyo sambil mendorong Pak Herman menaiki bukit.


“Siapa kamu?” tanya Bu Dewi pada orang yang mengikat kedua tangannya.


“Tidak usah banyak bicara! Ikut kami ke atas!” jawab pria itu.


“Oh kamu ternyata, Dwi? Almarhum ibumu pasti kecewa atas apa yang kamu perbuat ini!” ledek Bu Dewi.


“Jangan dengarkan perempuan itu, Dwi! Sebentar lagi mereka ini akan mati! Dan kamu bisa meneruskan jabatanku,” sela Pak Dibyo.


“Ayo, jalan!” perintah Dwi pada Bu Dewi.


Sementara itu Bu Sinta mendadak pingsan karena diberi obat tidur oleh Jatmiko. Pria itu pun langsung menggendong Bu Sinta menuju ke atas bukit. Jantung emuda itu berdegup dengan kencang saat ia menggendong tubuh Bu Sinta. Perasaan kagumnya kepada perempuan itu tidak pernah berubah sejak pertama kali bertemu dengan Bu Sinta saat Bu Sinta dulu berobat di desanya.


“Jatmiko, bagaimana dengan bayi itu? Apakah kita harus membawanya ke atas juga?” tanya Pak Dibyo.


“Jangan! Nanti Ki Santo dan ibuku pasti marah kalau sampai ada bayi yang dibawa ke atas. Karena hal itu dapat mengurangi keistimewaan tempat pemujaan. Kita tinggalkan bayi tersebut di bawah,” jawab Jatmiko.


“Jangan! Kasihan bayi ini bisa celaka kalau tanpa pengawasan orang dewasa,” teriak Bu Dewi.


“Hei, Dewi! Percuma juga bayi itu hidup toh kamu sebentar lagi akan mati!” jawab Pak Dibyo.


“Biadab kau, Dibyo!” teriak Bu Dewi dengan  marah.


“Siapa pun yang naik ke atas bukit ini tidak akan bisa memiliki keturunan lagi, kecuali dia memang keturunan pengikut sekte kami. Kamu tidak mau kan, anak ini menjadi mandul seumur hidup!” teriak Jatmiko.


Bu Dewi tertegun sejenak memikirkan perkataan Jatmiko. Ia pun membiarkan Dwi Purnomo menurunkan Panji dari gendongannya. Ia tidak mau Panji memiliki nasib yang sama seprti dirinya.


“Panji … Kamu jangan ke mana-mana ya, Le! Tunggu ada orang baik yang akan menolongmu! Ucap Bu Dewi pada anak Balita itu dengan perasaan sedih.


“Sudah! Ayo, buruan naik!” perintah Jatmiko setelah Bu Dewi melepaskan Panji di kaki bukit dengan jarik sebagai alas.


Bu Dewi pun naik ke atas dengan meneteskan air mata. Ia tidak tega melihat Panji berada sendirian di tempat itu. Sedangkan ia sendiri sebentar lagi juga akan mati dibunuh oleh komplotan Pak Dibyo.


Dengan bersusah payah akhirnya enam orang itu sampai di atas bukit. Jatmiko dan kawan-kawannya langsung masuk ke dalam gua. Ternyata di dalam gua itu sudah ada Nenek Galuh dan Ki Santo yang sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk menikahkan Jatmiko dan Bu Sinta secara ritual.


“Letakkan calon istrimu itu di atas altar, Jatmiko! Sebentar lagi kamu akan memiliki seorang istri yang cantik yang sudah kamu idam-idamkan sejak dulu. Dan dari rahim istrimu nanti akan lahir seorang anak dengan kekuatan luar biasa yang akan memimpin sekte kita ini menjadi yang terbesar. Ha ha ha ha ha …,” teriak Nenek Galuh dengan sangat gembira menyambut kedatangan anaknya yang sedang mengendong Bu Sinta.


“Hentikan semua ini! Sinta itu sudah punya suami!” teriak Herman dengan keras.


“Tutup mulutnya! Aku tidak mau ada yang mengganggu selama kita melaksanakan prosesi pernikahan anakku dan perempuan keturunan Nyi Ayu Kembang ini,” teriak Nenek Galuh dengan penuh amarah.


Pak Dibyo langsung menyumpal mulut Pak Herman dengan udengnya, sehingga suami Bu Dewi itu tidak bisa berbicara lagi.


Sementara itu Sinta yang tangan dan kakinya diikat dengan kain di empat penjuru setelah diturunkan oleh Jatmiko tadi pun mulai menemukan kesadarannya.


“Bu-kankah kamu adalah nenek yang aku tolong waktu itu?” tanya Bu Sinta dengan suara lemah karena masih ada sisa-sisa obat tidur di tubuhnya.


“Iya. Aku memang sudah lama mencarimu, Sinta! Dan malam inilah saatnya kamu akan menjadi menantuku,” jawab Nenek Galuh dengan tegas.


“Ke-napa ka-lian melakukan ini terhadapku?” tanya Bu Sinta lagi.

__ADS_1


“Kamu belum tahu, Sin? Kamu itu adalah keturunan Nyi Ayu Kembang yang lahir secara bersamaan dengan Jatmiko, anakku. Maka dari itu kalian harus dinikahkan demi kelanggengan sekte kami,” jawab Nenek Galuh.


“Tidak! Aku tidak mau! Aku sudah menikah!” protes Bu Sinta.


“Kamu tidak berhak menolak, Sinta! Kamu menurut saja. Nanti kamu juga enak sendiri. Kamu akan memiliki kekuasaan yang tiada batas,” jawab Nenek Galuh dengan tegasnya.


“Tidaaaak!” teriak Bu Sinta lemah.


“Ayo, segera kita mulai saja ritual pernikahan Jatmiko dan Sinta. Ikat dengan kuat kedua tawanan itu. Setelah ritual ini selesai, kita akan melemparkan tawanan itu ke sungai agar dimangsa oleh buaya penunggu di sana!” teriak Ki Santo.


Pak Dibyo dan Dwi Purnomo pun buru-buru mengikat dengan kuat Bu Dewi dan Pak Herman agar mereka tidak mengganggu jalannya ritual pernikahan. Ketiga orang itu menjadi putus asa atas apa yang akan mereka alami setelah ini.


“Jatmiko, berbaringlah kamu di sebelah Sinta!” perintah KI Santo pada anak kandungnya.


Jatmiko langsung menuruti perintah Ki Santo. Sekilas ia melirik ke arah wajah Bu Sinta. Hal itu menambah kekaguman yang ia rasakan terhadap calon istrinya itu Ia sudah tak sabar lagi untuk memiliki Bu Sinta seutuhnya.


Ki Santo mulai membacakan mantra sambil melemparkan bunga tujuh rupa ke atas tubuh Bu Sinta dan Jatmiko. Bu Sinta mencoba menjerit saat itu, tapi Nenek Galuh uru-buru menyumpal mulut perempuan itu dengan kain.


“Maafkan ibu ya, Nduk!” bisik Nenek Galuh pada Bu Sinta.


Angin tiba-tiba berhembus dengan kencang saat Ki Santo membacakan mantra diikuti oleh semua anggota sektenya. Setelah itu Ki Santo pun menyembelih ayam dan darahnya dikucurkan ke seluruh badan Bu Sinta dan juga Jatmiko. Angin pun bertiup dengan lebih kencang. Ki Santo dan semua angota sekte semakin semangat membacakan mantra.


“Ayo, Ki buruan ikat kedua tangan mereka dengan pusaka!” teriak Nenek Galuh.


“Iya, Nyi!” jawab Ki Santo dengan tak sabar.


KI Santo pun mengeluarkan pusakanya yang berupa gelang berukuran besar dengan lambang naga yang memang diperuntukkan untuk pernikahan ritual di kalangan sekte mereka. Setelah memegang gelang berbentuk naga itu pun, Ki Santo naik ke atas altar dan ia pun menarik tangan Jatmiko untuk ditempelkan ke tangan Bu Sinta yang dalam keadaan terikat. Bu Sinta berusaha meronta,tapi kaki dan tangannya dalam kondisi terikat kuat. Sebentar lagi saat gelang itu melingkar di lengan Bu Sinta dan Jatmiko, maka Bu Sinta akan menjadi istri Jatmiko dan ia akan menjadi perempuan yang hanya patuh kepada Jatmiko saja.


“Wong liwang liwong … Cah loro dad siji nyowo …,” salah satu potongan mantra yang dibaca oleh Ki Santo.


BRUAAAAAAAR!!!


Tiba-Tiba ada air comberan yang membasahi sekujur tubuh Ki Santo dan juga kedua calon pengantin. Air comberan itu dilempar dari arah mulut gua oleh seseorang. Angin yang semula berhembus dengan kencang menjadi reda seketika sebaga tanda bahwa pernikahan ritual tersebut sudah gagal total.


“Bangs*******t!” teriak Ki Santo dengan penuh kemarahan.


Semua pengikut sekte yang ada di dalam gua tersebut terkejut dan menoleh ke arah mulut gua. Ternyata yang datang saat itu lebih dari satu orang. Satu orang bertugas melempar air comberan. Tiga orang yang lain bertugas melepaskan ikatan pada Bu Dewi dan Herman.


“Seraaaang!” teriak Minul sambil menabrakkan tubuhnya kepada Dwi Purnomo. Alhasil tubuh Dwi Purnomo pun langsung tedorong menuju ke arah altar. Ki Santo dan Nenek Galuh secara refleks menghindar karena taut tertindih oleh tubuh Minul yang tambun. Kesempatan itu digunakan oleh Pak Ratno untuk melepaskan ikatan di kaki dan tangan Bu Sinta.


Sementara itu Pak Salihun dengan dibantu oleh Pak Herman langsung menghajar Pak Dibyo hingga kewalahan.


Dwi Purnomo yang berada di bawah Minul menjadi bulan-bulanan perempuan itu. Pria itu tidak bisa bangun karena tidak kuat ditindih oleh Minul. Pak Ratno bertugas untuk mengikat tangan Dwi Purnomo dengan kain yang tadi  digunakan untuk mengikat Bu Sinta.


Sementara itu Pak Dibyo yang dikeroyok oleh Pak Salihun dan Pak Herman pun menjadi penuh lebam mukanya karena terkena tonjokan maut kedua pria itu. Setelah dihantam sampa berkali-kali akhirnya Pak Dibyo pun tidak bisa bangun. Pak Salihun pun mengikat tangan Pak Dibyo yang sudah lemah itu ke belakang.


Jamila yang berada di mulut gua bertugas membatasi pergerakan Nenek Galuh. Perempuan tua itu awalnya bermaksu untuk melarikan diri, tapi selalu dihalau oleh Jamila. Bahkan ketika Nenek Galuh akan mengeluarkan kesaktiannya, Jamila buru-buru melemparkan sisa air comberan itu ke sekujur tubuh Nenek Galuh sehingga perempuan itu pun kehilangan konsentrasinya. Giliran Bu Dewi yang mendorong tubuh nenek tua itu sehingga terjatuh. Kepalanya pun terluka karena menghantam dinding gua.


Jatmiko yang awalnya menghindar dari serangan Minul pun berlari ke arah kiri dan bertemu dengan Ki Santo.Terpaksa kedua laki-laki itu harus memasang kuda-kuda secara bersamaan karena ia dikelilingi oleh Pak Salihun, Pak Ratno, Bu Sinta, dan Pak Herman.


“Baiklah, kalau kalian memang ingin mati!” ucap Ki Santo pada orang-orang yang mengelilinginya.


Selanjutnya KI Santo tampak merapatka tubuhnya dan membaca mantra. Jatmiko dan Nenek Galuh juga mengikuti gerakan yang dilakukan oleh Ki Santo. Pada detik selanjutnya tiba-tiba muncul tiga sosok mengerikan di gua tersebut.


“Ya Tuhan!” pekik semua orang yang berada di dalam gua.


“Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?” tanya mereka kebingungan.


Semua orang yang ada di dalam ruangan itu pun mundur secara perlahan agar tidak dihajar oleh makhuk-makhluk menyeramkan itu.


Dalam keadaan kebingungan seperti itu, tiba-tiba Bu Sinta berdoa dan dari belakang tubuhnya muncul sosok perempuan dengan jubah berwarna putih persis seperti yang dilihat oleh Bu Sinta di rumahnya sebelum berangkat. Perempuan berjubah putih itu pun melemparkan selendang yang ia pegang. Ajaibnya selendangnya itu semakin panjang dan mampu melilit ketiga makhluk mengerikan yang muncul di belakang anggota keluarga Jatmiko.


Semua orang yang berada di tempat itu pun ikut berdoa dan mencari posisi yang aman. Ketiga makhluk mengerikan itu tidak tinggal diam. Mereka berusaha melawan kekuatan dari sosok perempuan berjubah putih itu. Tubuh keempat orang itu pun berkeringat karena banyak mengeluarkan tenaga dalam. Setelah bertarung dengan seru, akhirnya ketiga makhluk menyeramkan itu pun harus tunduk dan hancur terhadap sosok perempuan berjubah putih itu.


“Aaaaaaagh!” Ketiga orang itu terlempar ke belakang.


Mulut ketiganya mengeluarkan darah segar. Sedangkan Bu Sinta menjadi kelelahan setelahnya. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh orang-orang itu untuk mengikat tangan anggota keluarga Jatmiko. Mereka semua pun berhasil dilumpuhkan oleh Bu Sinta dan kawan-kawannya.


“Ayo, cepat keluar!” teriak Minul dengan sura garangnya.

__ADS_1


Kelima penjahat itu pun mengikuti perintah Minul.


“Makasih ya, Hun … Rat … Berkat pertolongan kalian berempat kami semua bisa selamat,” ucap Bu Dewi pada kedua anak buahnya itu.


“Sama-Sama, Bu. Ini sudah menjadi tugas kami untuk melindungi Bu Dewi,” jawab Pak Salihun.


“Iya, Bu. Begitu Bu Dewi mengirim pesan kepada kami, kami berdua langsung berunding dengan calon-calon istri kami. Dan mereka berdua langsung bersepakat untuk membantu Bu Dewi,” jawab Pak Ratno.


“Kalian memang hebat! Loh, kalian sudah jadian?” tanya Bu Dewi penasaran.


“I-iya, Bu!” sahut Jamila dengan malu-malu.


Kemudian Bu Sinta ikutan nimbrung. Untung kayawan-karyawanmu Gercep semua, Wi! Padahal aku sudah meminta Cintia dan Herman untuk datang, tapi mereka tidak nongol-nongol?” gerutu Bu Sinta.


“Mereka berdua datang kok, Bu! Tuh, mereka ada di bawah bukit. Sebenarnya mereka tadi mau ikutan naik tapi ngak dibolehin sama warga karena takut nggak bisa punya anak. Akhirnya kami berempat yang naik,” jawab Pak Salihun sambil menunjuk ke bawah tebing.


DI bawah sana sudah banyak orang ternyata. Herman dan Cintia mengangkat Panji ke untuk memberi kode kepada Bu Sinta.


“Loh, kalian berempat nggak mau punya anak lagi?” tanya Bu Dewi.


“Anak kami sudah banyak, Bu! Biar kami bebas berpacaran setelah menikah,” jawab Jamila.


“Baiklah! Sebagai wujud terima kasih kami berdua, kami akan mengadakan pesta besar-besaran untuk pernikahan kalian nanti,” sela Pak Herman.


“Beneran, Pak?” tanya Jamila.


“Bener. Mbak Sinta mau ikutan nyumbang?” tanya Pak Herman.


“Hm … Gimana kalau aku membantu membuka usaha di dusun Delima?” ujar Bu Sinta.


“Usaha apa, Mbak?” tanya Bu Dewi.


“Gimana kalau butik? Kayaknya Jamila dan Minul cocok deh jadi modelnya. Nanti konsep butiknya Beauty and Sexy? Gimana?” tanya Bu Sinta.


Bu Dewi saling menoleh dengan Jamila. Kemudian mereka pun bersorak.


“Horeeeeeeeee ….,” teriak mereka kegirangan.


Akhirnya mereka sudah hampir sampai di jalan yang menuju kaki bukit. Tiba-Tiba terdengar teriakan dari warga yang ada di bawah bukit.


“Loh, itu kok Ki Santo masih hidup? Berarti benar dugaanku selama ini. Ki Santo sudah membunuh pamanku dan memberikan jenazah pamanku kepada buaya itu. Sini kamu Ki Santo, aku akan membunuhmu,” teriak saah seorang warga yang sedanga menunggu di bawah bukit.


Teriakan warga tersebut disambut oleh warga yang lain. Hal itu membuat Ki Santo panik. Tiba-Tiba dalam keadaan tangan terikat ia berlari ke sebelah timur.


“Jangan, Ki di situ ada buayanya!” teriak Nenek Galuh.


“Jangan, Pak!” Teriak Jatmiko dengan suara serak.


Pak Herman berusaha untuk menahan Ki Santo yang hendak melompat ke sungai. Namun, ia kalah cepat. Pria tersebut sudah berada di ujung tebing. Ia menoleh ke arah Jatmiko sambil tersenyum.


“Jaga ibumu, Nak!”


“Kiiiiiiii!!” teriak Nenek Galuh.


“Bapaaaaak!!!” teriak Jatmiko.


Ki Santo melompat ke arah sungai dan tubuhnya langsung dicabik-cabik oleh buaya yang tinggal di sana. Pak Herman dan yang lain tidak tega melihat laki-laki tua itu menjadi santapan buaya.


Suasana haru pun melingkupi tempat itu. Jatmiko dan keluarganya memang orang jahat, tapi kasih sayang dalam keluarga mereka begitu kuat dan itu membuat siapapun yang melihatnya akan ikut bersedih.


Setelah turun dari tebing itu Herman dan Cintia pun langsung memborgol keempat penjahat yang masih tersisa. Herman sudah menghubungi kantor, Sebentar lagi polisi dan tenaga medis akan datang. Bu Sinta berdiri di atas batu yang cukup tinggi kemudian berbicara pada warga desa Curah Putih.


“Sekarang kalian semua sudah tahu bahwa kedamaian di desa ini sudah lama dirusak oleh orang-orang yang memiliki kepentingan mereka sendiri. Semua kembali kepada kalian, apakah kalian akan tetap hidup seperti ini atau kalian akan memperbaiki hidup kalian. Kalian sudah lama meninggalkan masjid dan lebih memilih untuk mengikuti kehendak Ki Santo dan Nenek Galuh yang ternyata sudah membohongi kalian semuanya. Tapi, aku berharap kalian bisa belajar dari kejadian ini …,” ucap Bu Sinta dengan lantang.


Semua warga desa Curah Putih yang berada di tempat tersebut terdiam dan tertunduk malu. Jatmiko yang sedang diborgol pun tersenyum mendengar pidato singkat Bu Sinta.


TAMAT


Terima kasih yang tiada terkira author sampaikan kepada semua pembaca novel Maranti ini. Author menyadari bahwa novel ini masih banyak kekurangan di sana dan sini. Semoga para pembaca bisa setia membaca karya-karyaku yang lain untuk ke depannya.

__ADS_1


Wassalamualaikum Wr Wb …



__ADS_2