
Perasaan hancur dan sedih bercampur menjadi satu setelah mendengar kabar tentang keluargaku dari Pak Seno dan Pak RT. Ada perasaan menyesal dalam hatiku kenapa aku tidak segera membuka video rekaman CCTV yang aku dapat dari Pak Seno waktu itu. Tapi mau gimana lagi, lah wong waktu itu aku langsung dibius oleh Pak Seno sendiri hingga terlambat sampai di rumah. Setelah itu aku disibukkan untuk melayani suamiku dan keesokan harinya aku mempersiapkan diri untuk pergi ke rumah Mbak Ning.
Alhasil video itu tidak tersentuh sama sekali. Seandainya aku tahu keteledoranku itu dapat berakibat fatal seperti ini pastinya aku akan mengabaikan hal-hal yang lain demi untuk memeriksa isi video tersebut.
"Muridku, sebaiknya kita siapkan segera perlengkapan untuk ritualnya sembari menunggu kakak tertuamu datang," ucap Pak Seno.
"Baiklah, Guru. Semua perlengkapan sudah aku siapkan sejak pagi tadi," jawab Pak RT dengan takdimnya.
"Darah ayam dan kembang tujuh rupanya tidak ketinggalan, kan?" tanya Pak Seno memastikan.
"Sudah semua, Guru. Tinggal menjalankan saja," jawab Pak RT.
"Bagus! Sepertinya kamu sangat bersemangat dengan ritual ini," ledek Pak Seno.
"Iya, Guru," jawab Pak RT tidak mengelak.
"Dengerin tuh, Sinta. Calon suamimu saja sangat bersemangat menghadapi ritual yang akan kita lakukan, masa kamu enggak?" ujar Pak Seno berusaha meyakinkanku.
"Berarti istri Pak Seno itu dinikahi dengan proses ritual seperti ini juga? Kenapa ia tidak terlihat bahagia seperti cerita Pak Seno?" ujarku sedikit lancang.
Plak!
Sebuah tamparan mendarat dengan cukup keras di pipiku. Aku mengaduh kesakitan. Tapi, aku cukup puas karena bisa menyerang logika berpikir ketua sekte sesat ini.
"Kamu jangan sok tahu, ya! Meskipun istriku itu seperti itu, tapi aku sangat mencintainya. Dia itu awalnya sangat cantik, bahkan lebih cantik dari kamu. Waktu itu aku sedang mencari tumbal wadon untuk diriku sendiri. Almarhum guruku memberi petunjuk tentang gadis keturunan Nyi Kembang yang harus kupilih menjadi pasanganku. Ketika aku pergi ke alamat yang diberikan oleh almarhum guruku, aku bertemu dengan istriku itu. Kupikir dialah wanita yang dimaksudkan oleh guruku, karenanya aku pun berusaha mendekati perempuan itu hingga kami benar-benar saling mencintai. Dan ternyata aku salah, istriku itu ternyata adalah saudara tiri dari gadis yang dimaksud guruku. Sehingga, akibat kesalahan itu maka kecantikan istriku pun sirna seketika saat ritual di altar sebagai ganti dari kedikdayaan yang aku terima. Tapi, aku tetap menyayangi dia karena dia adalah cinta pertama bagiku," ujar Pak Seno panjang lebar.
__ADS_1
Ada keharuan yang tiba-tiba menyeruak saat Pak Seno menceritakan kisah antara dia dengan istrinya yang terlihat jauh lebih tua darinya itu.
"Bagaimana kalau ternyata saya bukan keturunan Nyi Kembang? Setahu saya, saya tidak punya mbah atau pun buyut bernama Nyi Kembang," ujarku berusaha mempengaruhi pikiran Pak Seno.
"Kamu pikir aku ini orang bodoh? Sejak kejadian yang menimpa istriku, aku menjadi lebih berhati-hati dalam melacak keturunan Nyi Kembang. Dan kamu ini adalah salah satu keturunan Nyi Kembang. Apa kamu tidak menyadari kemampuan yang kamu miliki?" ucap Pak Seno dengan suara keras.
"Bagaimana kamu mengungkap pembunuhan Bu Darmi? Bagaimana kamu menghabisi Nyawa si Handoko? Kamu pikir kemampuanmu melihat arwah itu hanya kebetulan semata? Hanya cukup dengan makan makanan orang mati lantas kamu bisa melihat arwah mereka? Tidak, Sinta! Kemampuan kamu itu ada dalam diri kamu karena ada darah Nyi Kembang dalam diri kamu. Makan makanan orang mati itu hanya media untuk meningkatkan sensitifitas indera keenammu," imbuhnya sambil mendekatkan wajahnya ke arahku.
Aku hanya diam dan mendengarkan baik-baik penjelasan Pak Seno. Aku terkejut karena Pak Seno tenyata sudah lama mengamati kehidupan pribadiku.
"Muridku, kita harus segera memulai ritualnya. Ayo segera mandikan tubuh calon istrimu ini dengan air dari bunga tujuh rupa yang sudah kamu siapkan," ucap Pak Seno kemudian.
"Tidak, Pak! Jangan lakukan itu terhadap saya! Saya tidak mau melakukan ritual ini!" Aku berusaha berteriak dan meronta. Tapi, percuma saja kedua kaki dan tanganku sudah terbelenggu dengan kuat.
Dingin. Itu yang aku rasakan saat air bunga itu membasahi sekujur tubuhku.
"Pastikan sekujur tubuh perempuan ini tersiram oleh air bunga itu, Muridku. Dan kamu juga harus mandi dengan air bunga itu. Setelah itu barulah kamu siramkan darah ayam itu ke sekujur tubuh kalian berdua," perintah Pak Seno di sela-sela ia membaca mantra.
"Baik, Guru. Saya akan melakukannya dengan teliti," jawab Pak RT.
Suasana di ruangan itu benar-benar sangat mistis sekali. Mantra-Mantra yang dibaca oleh mereka berdua menambah kesan mistis yang kurasakan, terlebih wangi bunga tujuh rupa yang disiramkan oleh Pak RT juga ikut meningkatkan aura mistis di tempat itu.
"Muridku, setelah ini aku akan membacakan mantra untuk memikat sukma perempuan ini. Tugas kamu menyiramkan darah ayam yang akan kumantra-mantrai itu ke sekujur tubuh perempuan ini dan tubuhmu. Setelah perempuan itu hilang kesadaran, kamu lepas semua ikatan di tangan dan kaki perempuan ini dan segera menyatulah dengannya. Tapi ingat ada pantangan yang tidak boleh kamu langgar selama penyatuan diri," ucap Pak Seno.
"Apa itu, Guru?" tanya Pak RT.
__ADS_1
"Selama penyatuan kamu tidak boleh menatap mata perempuan itu lebih dari tiga detik," ujar Pak Seno.
"Kenapa tidak boleh Guru?" tanya Pak RT.
"Kalau kamu melanggar hal itu, kamu akan mengalami nasib yang sama denganku, Adik! Ritualmu akan gagal dan tumbal wadonmu akan tewas sama seperti milikku yang guru TK di sekolah Buleknya istriku itu," jawab seseorang dari arah pintu ruangan ini.
"Mas Wisnu???" pekikku keheranan.
"Iya Sinta. Akulah sebenarnya orang yang kamu cari-cari itu, bukan Bulek Darsihmu yang tolol itu. Akulah orang yang terekam di CCTV Guruku ini. Aku yang membersihkan bekas-bekas alat teluh itu pagi-pagi sekali sebelum kamu dan suamimu itu bangun. Kamu tahu kenapa aku melakukan ini semuanya? Aku iri dengan kehidupanmu dan suamimu yang begitu lengkap. Sedangkan aku ...," ucap Mas Wisnu dengan santainya seolah-olah tanpa dosa.
"Jadi, Mas Wisnu yang menumbalkan Bude Yati?" tanyaku penasaran.
"Iya!! Perempuan tua itu memang pantas untuk aku singkirkan terlebih dahulu untuk mencapai keinginanku," jawab Mas Wisnu dengan ekspresi wajahnya yang jahat.
"Terus, Mbak Ning?" Aku tak kuasa menyebut nama kakak sepupuku itu dengan suara keras.
"Iya, Sinta. Dia juga terpaksa harus aku singkirkan juga," jawab Mas Wisnu datar.
"Biadab kamu, Mas! Tega-Teganya kamu menghianati Mbak Ning.
"Muridku, kemarikan darah ayam itu, sekarang sudah waktunya aku memantrainya," ucap Pak Seno memotong pembicaraan kami.
BERSAMBUNG
Jangan lupa like dan komentarnya
__ADS_1