MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EKSTRA PART 1 : HANTU PAK AGUNG


__ADS_3

Selama dua hari Nur gelisah memikirkan tentang ibunya yang tak kunjung siuman. Tapi, setelah diberitahu oleh ayahnya bahwa ibunya sebenarnya sudah siuman, hanya saja sengaja disuntikkan obat tidur ke dalam cairan infusnya agar ibunya bisa istirahat total, akhirnya Nur pun sedikit tenang.


Pada hari kedua Nur menemani ibunya bersama bapaknya, tiba-tiba Ikbal datang ke rumah sakit untuk menjemputnya pulang ke rumah untuk menemani Mbak Ning karena Ikbal dan Wisnu harus takziah ke rumah Bu Dibyo, suaminya meninggal karena serangan jantung. Awalnya Nur menolak karena ia tidak mau meninggalkan ibunya di rumah sakit. Namun, bapaknya menyuruh Nur untuk pulang menemani budenya. Akhirnya Nur pun menuruti perintah bapaknya.


Nur dibonceng oleh Ikbal.


"Om Ikbal, pinjam punya siapa motornya?" tanya Nur.


"Pinjam sama Bu Dibyo, Nur. Om Ikbal kan dimintai tolong bantu-bantu di sana," jawab Ikbal.


"Oh ... Bagus ya motornya? Om Ikbal nggak pengen punya motor kayak gini?" tanya Nur lagi.


"Mau sih, Nur. Tapi, Om Ikbal tidak mau membebani pikiran budemu. Takut budemu kambuh lagi," jawab Ikbal.


"Baguslah kalau begitu, Om. Eh, orang itu kayak Pak RT, ya?" ucap Nur sambil menunjuk ke seseorang yang sedang berbelanja di pasar tradisional.


"Iya, Nur. Itu Pak RT. Kayaknya Pak RT lagi belanja banyak tuh!" jawab Ikbal.


"Iya, kalau tidak salah Pak RT itu sedang membawa beberapa ekor ayam dan ia sedang berada di stand penjual bunga-bunga untuk sesaji," imbuh Nur.


"Apa Pak RT sedang dimintai tolong oleh Bu Dibyo juga, ya?" tanya Nur.


"Kayaknya enggak, Nur. Lah wong aku tadi yang sudah belanja sayur dan daging sapi sekaligus kebutuhan pemakamannya di pasar," jawab Ikbal.


"Buat apa ya Pak RT belanja barang-barang kayak gitu?" tanya Nur.


"Entahlah, Nur," jawab Ikbal.


Akhirnya sampailah Nur di rumah budenya. Ningsih belum bisa pergi ke mana-mana karena masih dalam masa pemulihan. Ningsih senang sekali Nur datang untuk menemaninya. Ikbal kemudian pamit untuk takziah ke rumah Bu Dibyo.


Ningsih menyuruh Nur untuk makan di meja makan sedangkan ia duduk-duduk di ruang tamu sambil memperhatikan para tetangga yang berbondong-bondong ke rumah Bu Dibyo. Ia sebenarnya ingin sekali ikut melayat ke rumah Bu Dibyo, tapi dilarang oleh adik dan suaminya.


"Apa itu, Mas?" tanya Ningsih kepada suaminya saat akan berangkat ke rumah Bu Dibyo.


"Barang titipan Pak Harun, Dik," jawab Wisnu gelagapan.


"Barang apa? Boleh saya lihat?" desak Ningsih.


"Sssst .... ini vitaminnya burung perkutut, Dik," jawab Wisnu berbohong padahal itu adalah bubuk pemberian gurunya untuk ditaburkan di makam Pak Agung.


"Ooo ... Ya sudah. Salam buat Bu Dibyo," jawab Ningsih.

__ADS_1


"Iya, Dik," jawab sambil berlalu pergi dengan perasaan lega.


Akhirnya situasi di sekitar rumah menjadi sepi tatkala semua tetangganya sudah pergi ke rumah Bu Dibyo dan sebagian ke kuburan untuk menggali liang lahat.


Nur sudah selesai makan di meja makan. Ia pun segera menutup nasi dan lauk pauk yang masih tersisa. Nur segera menuju dapur dengan membawa piring dan gelas kotor untuk dicuci di dapur. Pada saat ia mencuci piring, tiba-tiba ia mendengar suara ketukan di pintu belakang.


"Siapa?" teriak Nur.


Tidak ada sahutan. Nur pun melanjutkan aktifitasnya sampai selesai. Kemudian terdengar ketukan lagi, kali ini lebih keras.


"Siapa?" teriak Nur lagi.


Lagi-Lagi tidak ada sahutan. Karena penasaran Nur pun berjalan dengan mengendap-endap menuju ke arah pintu. Bulu kuduk Nur tiba-tiba merinding, tapi untuk mengobati rasa penasarannya Nur pun membuka tirai jendela yang berada tepat di sebelah pintu dapur. Nur melihat ada seorang bapak-bapak sedang menghadap ke arah pintu. Tapi, Nur tidak mengenal orang tersebut. Nur dibuat terkejut saat pria tersebut tiba-tiba menoleh ke arahnya sambil tersenyum. Ternyata muka orang tersebut sangat pucat seperti mayat. Nur pun segera berlari mencari budenya.


"Budeeeeeeee!!!!" teriak Nur sambil berlari.


"Ada apa, Nur?" tanya Ningsih dari arah ruang tamu.


"Bude, di pintu belakang ada orang mukanya pucat," jawabnya dengan nada ketakutan.


Baru saja Nur selesai menjawab, Ningsih sudah melihat sosok yang dimaksudkan oleh Nur tersebut sedang berjalan di depan rumah.


"P-a-k A-gung????" pekik Ningsih dengan wajah pias.


"Ayo, lari bude!" teriak Nur sambil berusaha menarik tangan Ningsih.


"Kita akan lari ke mana, Nur?" tanya Ningsih kebingungan.


Hantu Pak Agung mulai menggedor-gedor pintu depan.


Nur pun menelpon nomor ibunya,


"Assalamualaikum, Nur... Ibu sudah telepon kamu berkali-kali ...," sapaku.


"Bu, tolooooong!!! Di depan rumah ada hantunya Pak Agung!!!" suara Nur dari microphone Ponsel suamiku.


"Apaaaaaa? Kamu teriak, Nak! Minta tolong sama orang!" teriakku kebingungan.


"Sudah, Bu. Tidak ada orang sama sekali di sinj. Semuanya takziah ke rumah Bu Dibyo. Nur takut, Bu ...," jawab Nur dengan suara ketakutan.


"Jangan takut, Le. Kamu sembunyi sama Budemu, ya? Kalau hantu itu datang kamu bacain dengan doa-doa. Kamu jaga budemu dengan baik, ya? Ibu dan bapak sebentar lagi akan sampai di sana," teriakku.

__ADS_1


BLEP!!!


Telepon tiba-tiba terputus. Hantu Pak Agung sudah berhasil masuk.


"Ayo, lari ke belakang, Bude!" teriak Nur sambil menarik tangan Ningsih.


Tiba-Tiba pintu meja dan kursi beterbangan menutup akses menuju pintu belakang. Kali ini Nur dan Ningsih terperangkap di ruang tamu bersama hantu Pak Agung. Hantu itu menyeringai dengan tatapan mata tajam dan berjalan mendekati mereka berdua. Tidak ada lagi ruang kosong bagi mereka berdua untuk berkelit. Tidak ada pilihan lain selain menghadapi hantu tersebut. Saat tangan hantu Pak Agung berusaha mencekik Ningsih, Nur pun menendang perut hantu itu, tapi usahanya sia-sia karena perut Pak Agung sangat keras.


Ningsih merintih-rintih menahan sakit akibat cekikan hantu itu. Nur kebingungan menghadapi hantu Pak Agung, ia pun membaca doa dengan khusyu sehingga tubuh Nur memanas dengan sendirinya. Setelah itu Nur pun menarik lengan hantu Pak Agung yang sedang berusaha mencekik budenya. Keanehan terjadi, tangan hantu itu melepuh dan hangus. Nur meneruskan bacaannya sambil menyerang hantu itu. Ternyata cara yang dilakukan Nur berhasil, seluruh tubuh hantu itu hangus tak bersisa. Nur berhasil menyelamatkan Ningsih.


"Terima kasih, Nur ...," ucap Ningsih.


"Sama-Sama Bude. Bukan Nur yang meyelamatkan Bude, tapi Allah SWT. Bude, saya mau menghubungi baoak dan ibu lagi. Perasaan saya tidak enak. Takut terjadi apa-apa dengan mereka," ucap Nur.


"Iya, Nur!" jawab Ningsih.


Nur pun mencoba menghubungi nomor bapak dan ibunya, tapi tidak diangkat.


"Gimana, Nur?" tanya Ningsih.


"Tidak diangkat, Bude!" jawab Nur.


Akhirnya Nur pun mencoba menelpon nomor orang tuanya berkali-kali namun tetap tidak diangkat. Karena penasaran ia pun melacak keberadaan mereka dengan menggunakan aplikasi yang sengaja mereka pasang di tiap Ponsel.


"Bude, kok bapak dan ibu tidak ke sini? Mereka justru berjalan ke arah utara?" tanya Nur sambil menunjukkan peta di aplikasinya.


"Loh, saya tahu tempat ini, Nur. Pakdemu pernah seharian berada di tempat ini. Pas saya jemput alasannya bilang sedang memancing," jawab Ningsih.


"Ayo, kita ke sana sekarang, Bude!" ujar Nur.


"Ayo, Nur!" jawab Ningsih.


Mereka berdua pun berangkat menuju titik yang muncul di peta aplikasi tersebut.


*****


Sambil nunggu ekstra part 2, baca novelku yang lain, ya?


KAMPUNG HANTU


SEKOLAH HANTU

__ADS_1


DARAH INDIGO


__ADS_2