
Bu Nisa sungguh tidak tahan dengan apa yang baru saja ia lihat. Ia benar-benar kecewa karena suaminya ternyata juga adalah orang yang ikut-ikutan melecehkan Laras. Selama ini Bu Nisa pikir Laraslah yang ganjen sehingga ia sangat membenci perempuan itu. Tapi, dari view yang ditampakkan oleh Laras barusan menunjukkan bahwa Laras itu adalah perempuan baik-baik. Sedangkan suami dan sahabat-sahabatnya sendirilah yang merupakan laki-laki bejat yang telah menghancurkan hidup Laras.
“Sudah terlambat, Bu Nisa! Penyesalanmu tiada guna lagi. Hidupku sudah hancur. Aku sudah dicemoh oleh seluruh warga dusun Delima.” Itulah kata-kata yang berputar-putar di kepala Bu Nisa sejak ia berada di dalam satu kamar dengan suaminya yang sedang berusaha melecehkan Laras.
“Maafkan aku, Laras! Aku tidak menyangka suamiku juga berbuat seperti itu kepadamu. Aku pikir dia hanya menjualmu saja,” ucap Bu Nisa mencoba menjawab suara yang berputar-putar di kepalanya.
“Kamu memang tidak peduli denganku, kan? Kamu tidak peduli kalau suamimu menjualku atau sahabat-sahabat suamimu melecehkanku. Yang kamu pedulikan hanya perasaanmu dan perasaan istri-istri mereka, kan? Padahal aku ini juga wanita sama sepertimu, Bu Nisa! Kenapa kamu bisa setega itu terhadapku!” bentak suara Laras yang terdengar oleh Bu Nisa.
Bu Nisa hanya diam mematung tak mampu menjawab perkataan Laras yang berputar-putar di kepalanya karena memang benar apa yang dikatakan oleh Laras bahwa selama ini ia sangat kejam menjelek-jelekkan Laras kepada tetangganya yang lain. Dan ketika ia mendengar dari suaminya langsung bahwa suaminya telah memberikan Laras kepada kontraktor saingannya itu, sebagai sesama perempuan Bu Nisa tidak menunjukkan empatinya. Namun, ketika ia ditunjukkan bahwa sahabat-sahabat suaminya dan suaminya sendiri ternyata adalah orang yang bejat, barulah ia merasa peduli akan pelecehan terhadap gadis itu.
“M-maafkan aku, Laras! Selama ini aku terlalu sombong! Sehingga aku mengabaikan bahwa kamu adalah orang yang baik. Tolong, jangan kamu bunuh suamiku! Bagaimanapun dia sangat berharga buat aku dan Revan, anakku,” pinta Bu Nisa dengan memelas.
“Enak saja kamu ngomong seperti itu, Bu Nisa! Oke, kalau kamu dan anakmu tidak ingin berpisah dengan Pak Ade, aku akan membunuh kalian bertiga supaya kalian bisa membusuk bersama di neraka! Ha ha ha ha ha …,” teriak Laras yang suaranya terdengar terngiang-ngiang di telinga Bu Nisa.
“Ampuuun, Laras! Jangaaaan! Ampuni kami, Laras!” ucap Bu Nisa dengan terus memelas.
“Buka matamu, Bu Nisa!” teriak Laras dengan keras.
Bu Nisa pun mencoba membuka matanya dan betapa terkejutnya dia karena ternyata saat ini ia sedang berada di kamar mandi di rumah Jatmiko. Berarti, apa yang ia alami barusan itu adalah rekaan dari arwah Laras semuanya untuk memberitahukan apa yang terjad sebenarnya selama ini. Bu Nisa memegangi kepalanya yang terasa pening. Ia baru sadar bahwa ia sudah lama pingsan di tempat itu dan pikirannya teringat kepada anaknya, Revan.
“Revaaaaan!!! Di mana kamu, Nak?” panggil Bu Nisa sambil berusaha berdiri meskipun gagal karena kepalanya terasa berat.
“Revaaaan, Naaaak!!!” teriak Bu Nisa lagi dengan tanpa putus asa. Kali ini Bu Nisa mencoba mencari Revan dengan cara merangkak.
Namun usaha Bu Nisa saat itu sia-sia karena sepanjang mata memandang ia tidak melihat Revan. Malah saat itu ia sedang melihat suaminya sedang diganggu oleh arwah Laras.
__ADS_1
“Dik!” teriak Pak Ade pada Bu Nisa.
Bu Nisa tidak menyahut. Ia masih teringat dengan penghianatan yang telah dilakukan oleh suaminya tersebut padanya. Arwah Laras menoleh ke arah Bu Nisa dan tersenyum menyeringai. Bu Nisa bergidik ngeri melihat penampakan menyeramkan itu.
“Kamu sudah siuman, Bu Nisa? Bagaimana perasaanmu setelah mengetahui semua yang terjadi selama ini?” teriak arwah laras pada Bu Nisa.
Bu Nisa tidak menyahut. Dia hanya berdiam diri sambil menahan rasa ngeri melihat tampilan wajah arwah Laras yang sangat menyeramkan itu.
“Apa kamu masih mau bilang suamimu ini seorang yan setia padamu? Ha ha ha ha ha …,” teriak Laras sambil berusaha mencium Pak Ade.
Tentu saja Pak Ade menghindar karena ia merasa ngeri dengan wajah Laras yang berusaha menciumnya.
“Kenapa kamu, Pak Ade? Bukankah kamu bilang kamu sangat kagum padaku dan tergila-gila padaku? Hi hi hi hi hi …,” teriak arwah Laras sambil menjulurkan lidahnya yang semakin menyeramkan.
“Tidaaaaaaak!!!” teriak Pak Ade berusaha menjauhi lidah panjang arwah Laras yang menjulur seperti ular mencoba mendekati wajahnya.
“Toloooooong!!!” teriak Pak Ade sambil melambaikan tangan ke arah Bu Nisa.
Bu Nisa yang melihat ke arah suaminya menjadi tidak tega untuk menolong pria itu.
“Bu Nisa, setelah kamu mengetahui semua kelakuan bejat suamimu selama ini di belakangmu, apakah kamu masih sudi untuk menolongnya?” teriak arwah Laras berusaha mempengaruhi psikologis Bu Nisa yang mulai merasa prihatin dengan kondisi suaminya.
“Apa yang kamu lakukan terhadap istriku, Laras?” teriak Pak Ade dengan ketakutan.
“Semuanya, Pak Ade! Semua penghianatanmu terhadap cinta istrimu aku tunjukkan padanya biar istrimu tahu kalau kamu itu laki-laki brengsek yang pantas untuk mati!” teriak arwah Laras dengan sangat keras.
__ADS_1
“Dik Nisaaaaa! Maafkan aku, Dik! Aku khilaf, Dik! Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku janji, Dik Nisa. Tolong aku, Dik!” teriak Pak Ade dengan terus merangkak ke arah Bu Nisa.
Sebenarnya Pak Ade tahu bahwa istrinya tidakaka mungkin mampu menolongnya dari serangan arwah Laras. Namun, yang diinginkan Pak Ade saat itu adalah bentuk maaf dari istrinya padanya.
“Bu Nisa, jangan jadi perempuan bodoh, kamu! Laki-Laki ini tidak tulus mencintaimu. Dia sudah berkali-kali menghianatimu di belakangmu!” teriak arwah Laras berusaha mengahalau rencana Pak Ade.
Bu Nisa tak kunjung merespons apakah dia akan menolong suaminya atau meninggalkannya untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Bu Nisa hanya menangis sesegukan. Ia berada di antara dua pilihan, yaitu memberikan maaf kepada suaminya atau membiarkan arwah Laras mengganggu suaminya tersebut.
“Ampun, Dik! Jangan kau dengarkan ucapan perempuan ini! Aku sangat mencintaimu. Tolong aku, Dik!” ucap Pak Ade dengan suara memelas.
“HI hi hi hi hi … Kamu lihat, Pak Ade! Istrim sudah muak melihat wajahmu. Dia tidak akan mungkin menyelamatkanmu. Dia itu sudah benc terhadapmu. Hi hi hi hi hi …,” arwah Laras berteriak dengan sangat kuat dan memekakkan telinga Pak Ade dan Bu Nisa.
Pada saat arwah Laras dengan percaya dirinya menertawai kegagala Pak Ade untuk mendapat simpati istrinya, Bu Nisa tiba-tiba datang merangkah ke arah Pak Ade dan berusaha sekuat tenaga menarik lengan Pak Ade agar bisa ia tarik dari serangan lidah menyeramkan arwah Laras.
“Terima kasih, Dik!” ucap Pak Ade senang karena ditolong oleh Bu Nisa.
“Aku tidak memaafkanmu, Mas! Aku memaafkan ayah dari anakku,” jawab Bu Nisa dengan ketus.
Arwah Laras yan melihat Bu Nisa berusaha menolong Pak Ade pun menjadi murka karena usahanya untuk memisahkan hati kedua orang itu gagal.
“Kurang ajar kalian!” teriak arwah Laras sambil berusaha untuk menakuti kedua orang itu dengan wajahnya yang semakin menyeramkan.
“Tidaaaaaak!!!” teriak Bu Nisa ketakutan karena melihat arwah Laras mengeluarkan biji matanya sehingga menggantung ke tanah.
Bu Nisa dan Pak Ade terus berusaha merangkak menjauh kejaran arwah Laras.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Loh, kok belum ada yang ikutan, ya? Oke aku naikin hadiahnya, ya. Jadi 2 ribu pulsa untuk 3 orang pemenang. Syaratnya like dan komen di bab 1 sd bab extra 4 novel KAMPUNG HANTU.