MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 97 : KEBELET


__ADS_3

Revan nyenyak sekali tidurnya sore itu. Ia memang sengaja tidak dibangunkan oleh kedua orang tuanya karena kasihan. Bu Nisa dan Pak Ade pun secara bergantian buang air di WC yang ada di luar rumah Jatmiko. Mereka melakukan hal itu dengan kecemasan karena meski di luar masih agak terang, tapi ketika masuk ke dalam kamar mandi itu suasananya agak gelap seolah-olah sudah malam. Alhasil, mereka buang air di dalam dengan perasaan was-was karena mereka tahu malam ini jampi-jampi itu tidak bisa melindungi tubuh mereka lagi.


“Buruan, Dik! Mas kebelet!” tegur Pak Ade.


“Sabar, Mas! Aku masih baru mulas nih,” sahut Bu Nisa.


“Duh … Aku sudah tak tahan ini, Dik!” gerutu Pak Ade.


“Cari batu dulu, Mas! Aku beneran masih sakit perut nih,” jawab Bu Nisa sambil  mengejan di dalam kamar mandi.


Pak Ade yang sudah sangat sakit perutnya itu pun sampai terkentut-kentut di luar kamar mandi.


Bu Nisa yang berada di dalam kamar mandi mendengar suara kentut Pak Ade dan terpingkal-pingkal di dalam kamar mandi.


“Ayo, Dik. Buruan!” teriak Pak Ade sambil memegangi pintu kamar mandi dengan tampang sedihnya.


“Sebentar lagi, Mas!” sahut Bu Nisa sambil berusaha menghabiskan stok kotoran yang ada di dalam perutnya.


Prot Prot Prot


Suara kentut Pak Ade dengan kerasnya berbunyi dan terdengar dari dalam kamar mandi.


“Dik, buruan! Kayaknya mas sudah kecirit, Dik!” seru Pak Ade dengan suara memelas.


“Iya, Mas. Ini aku sudah selesai,” jawab Bu Nisa sambil membuka pintu kamar mandi.


“Huh, baunya, Mas!” protes Bu Nisa ketika lewat di sebelah Pak Ade.


Pak Ade buru-buru masuk ke dalam kamar mandi untuk menuntaskan hajatnya.


“Dik, jangan tinggalin mas sendirian! Mas takut, Dik!” teriak Pak Ade dari dalam kamar mandi.


“Iya, Mas. Aku tungguin di sini, kok!” jawab Bu Nisa sambil berdiri membelakangi pintu agar dapat melihat keadaan sekitar.


Cuaca mendung yang menghiasi langit desa Curah Putih dan juga pemandangan sisa-sisa sesajen di sekitar rumah Jatmiko membuat perempuan tersebut merasa merinding.

__ADS_1


“Mas, masih lama kah? Aku di sini juga takut nih!” protes Bu Nisa pada suaminya yang tak kunjung selesai dari aktifitas buang airnya.


“Sebentar, Dik Perutku masih mulas, nih! Kamu ngomong saja terus untuk mengusir rasa takutmu,” sahut Pak Ade dari dalam kamar mandi dengan suara berat khas orang kebelet.


“Mas, waktu kamu masih kecil dulu keadaaan di sini apakah seseram ini?” tanya Bu Nisa pada suaminya.


“Seram gimana, Dik? Waktu aku di sini ya biasa saja seperti tempat lain,” jawab Pak Ade.


“Beda, Mas. Di sini tuh suasananya terasa mistis sekali. Sesajen ada di mana-mana. Suara azan pun tidak terdengar. Sekali terdengar kayaknya jauh banget. Pasti sumbernya dari desa sebelah,” jawab Bu Nisa.


“Nah, itu yang agak beda dari jaman mas waktu kecil dulu. Dulu mesjid di depan itu masih beroperasi. Yang menjadi imamnya almarhum bapaknya Jatmiko. Penduduk di sini juga ada beberapa yang menunaikan sholat di mesjid dean itu. Mas dan Jatmiko tiap sore juga belajar mengaji dari bapaknya Jatmiko di mesjid itu. Kalau masalah sesajen, waktu itu sudah ada, Dik. Tapi, tidak sebanyak ini. Lagipula mas dan Jatmiko waktu itu sering mencuri makanan pada sesajen itu. Daripada dimakan tikus atau kucing, kami ambil duluan untuk dimakan,” jawab Pak Ade dengan sedikit terseyum.


“Dasar kamu, Mas! Emangnya kalian tidak dimarahi sama orang-orang?” tanya Bu Nisa.


“Kalau ketahuan ya dimarahi, Dik. Tapi lebih banyak lolosnya karena semacam ada keyakinan warga di sini kalau makanannya hilang berarti persembahan mereka diterima,” jawab Pak Ade.


“Wah, nakal juga kalian ini, ya? Tapi, masa kalian tidak pernah kepergok oleh warga saat mencuri sesajen itu?” tanya Bu Nisa lagi.


“Pernah, Dik. Tapi, bapaknya Jatmiko selalu menyelamatkan kami. Beliau yang meminta maaf kepada warga dengan alasan kami berdua masih kecil,” jawab Pak Ade.


“Ya begitulah. Mereka sungkan dengan ibunya Jatmiko karena beliau adalah salah satu tetua dalam ritual di bukit yang diceritakan oleh ibunya Jatmiko tadi,” jawab Jatmiko.


“Oooo … Jadi begitu? Tapi, apa Mas nggak takut penunggu sesajen itu akan marah pada kalian?” tanya Bu Nisa.


“Waktu itu sih enggak, Dik. Namanya juga masih kecil. Nggak ada pikiran macam-macam. Yang penting bisa mengambil makanannya. Itu saja! Tapi, kalau sekarang, ngeri lah, Dik!” jawab Pak Ade sambil mengejan.


“Duh, Mas. Buruan dong buang airnya! Yang nungguin sampai capek, nih! Belum lagi langit sudah semakin gelap,” protes Bu Nisa.


“Iya, Dik. Sabar! Sedikit lagi, nih!” jawab Pak Ade.


“Sedikit lagi .. Sedikit lagi … Mulai tadi sediki lagi terus!” gerutu Bu Nisa.


“Iya, Dik. Sebentar lagi selesai, kok!” jawab Pak Ade.


“Mas, kamu pernah ikut ritual di bukit itu?” tanya Bu Nisa.

__ADS_1


“Pernah lah, Dik! Diajak ibunya Jatmiko,” jawab Pak Ade.


“Seperti apa ritualnya, Mas?” tanya Bu Nisa.


“Hampir sama dengan sesajen itu, tapi kalau di bukit itu ada penyembelihan hewan juga. Ibunya Jatmiko dan tetua-tetua ritual naik ke atas bukit. Aku dan Jatmiko tetap di bawah bersama warga yang lain. Waktu itu semua warga membaca mantra-mantra dan sambil menari begitu. Kemudian setelah penyembelihan hewan selesai, warga berebut meminum darah dari hewan yang disembelih itu. Dagingnya kemudian dilarung di sungai oleh Ki Santo sebagai dukun tertua waktu itu. Nah, biasanya daging hewan itu langsung disantap oleh buaya yang tinggal di sungai. Itulah kenapa mas heran kenapa bisa ibunya Jatmiko mengatakan bahwa Ki Santo masih hidup, sedangkan waktu itu jelas-jelas mas melihat dengan mata kepala sendiri Ki Santo dimakan oleh buaya itu,” jawab Pak Ade dengan serius.


“Ya Tuhan! Serem banget ya? Waktu itu Mas juga minum darah hewan itu?” tanya Bu Nisa.


“Enggak sih, Dik. Mas jijik. Tapi, kalau Jatmiko sih minum karena dia takut ditanyai ibunya kalau sudah selesai acara ritual. Jatmiko kan tidak pandai berbohon kepada ibunya. Tapi, dia selalu pandai untuk melindungiku,” jawab Pak Ade.


“Mas, gimana reaksi bapaknya Mas Jatmiko kalau tahu kalian ikut ritual itu?” tanya Bu Nisa.


“Beliau kalem, Dik, orangnya. Beliau biasanya mendudukkan kami dan memberi arahan kepada kami tentang ritual tersebut. Kalau aku sih sebenarnya lebih setuju dengan bapaknya Jatmiko, tapi kalau Jatmiko sih ngikut keduanya. Secara dia itu sayang banget sama bapak dan ibunya,” jawab Pak Ade.


“Ooo begitu. Mas, apa mas sudah siap melaksanakan ritual besok malam? Terus terang aku masih takut. Apalagi setelah mendengar cerita Mas barusan,” tanya Bu Nisa lagi.


“Yah, mau gimana lagi, Dik? Itu satu-satunya agar mas bisa lolos dari kematian,” jawab Pak Ade sambil kelar dari dalam kamar mandi.


Bu Nisa langsung merangkul suaminya.


“Mas, aku sangat mencintaimu. Aku tidak mau kehilangan kamu, Mas,” ucap Bu Nisa dengan terisak.


Pak Ade pun mengecup kening istrinya dengan penuh rasa kasih sayang.


“Tenangah, Dik! Kita semua akan baik-baik saja,” jawab Pak Ade.


BERSAMBUNG


Ayo ikutan game berhadiah pulsa


Caranya : Like dan Komen semua BAB novel KAMPUNG HANTU


Terakhir tanggal 2 Januari 2023


Pengundian tanggal 6 Janari 2023

__ADS_1


__ADS_2