
Herman dan Cintia sudah mengantongi video hasil rekaman CCTV kejadian tadi malam di dekat dusun Delima yang mereka peroleh dari sebuah warung yang dikelola sepasang kakek tua dan nenek tua. Mobil yang mereka kendarai pun sekarang sudah mengarah ke kantor polisi tempat mereka bekerja. Setelah melaksanakan pekerjaan tersebut sejak pagi, tak terasa sudah sampai saatnya mereka harus melepas lelah sekaligus melaksanakan kewajiban mereka sebagai umat beragama yaitu menunaikan salat Zuhur. Tepat ketika mobil yang mereka kendarai menginjakkan rodanya di pelataran kantor polisi, azan Zuhur berkumandang di musala kantor polisi.
“Alhamdulillah … kita sudah sampai di kantor polisi, Her. Bertepatan denganwaktu sholat juga. Sebaiknya kita sholat dulu kemudian makan siang!” ujar Cintia kepada Herman.
“Iya, Cin. Sepertinya kita dapat menyelesaikan rencana-rencana kita secara tepat waktu. Jujur, aku puas dengan hasil kerja kita hari ini. Iya kan, Cin?” tanya Herman balik.
“Iya. Aku juga merasa puas. Ya, kita tinggal memutar ulang hasil video rekaman CCTV yang sudah kita simpan di memory laptopku. Oke, kita persiapan sholat Zuhur dulu di musala!” ujar Cintia.
“Siap, Tuan Puteri!” sahut Herman dengan gembira.
Herman pun memarkir mobil kesayangannya di tempat yang sudah biasa ia pakai untuk memarkir kendaraan di kantornya. Di parkiran itu memang tidak ada tulisannya, tapi entah kenapa setiap orang selalu parkir di tempat yang sama setiap hari. Kecuali kalau ada kendaraan baru, barulah ada sedikit perubahan di tempat parkir. Jadi, orang-orang itu ketika sudah ada yang berubah di tempat parkir, bisa dipastikan kalau ada yang baru saja membeli kendaraan baru.
Setelah memarkirkan kendaraannya, Herman mengajak Cintia untuk turun dari dalam mobil dan berjalan secara beriringan dengan perempuan itu menuju kantor. Selama berjalan menuju kantor, Herman mengajak Cintia untuk mengobrol.
“Cin, tak terasa usia kita ini terus bertambah, ya?” ujar Herman di awal pembicaraan.
“Iya lah, Her. Namanya umur semakin hari pasti semakin bertambah. Mana ada umur berkurang? Kalau jatah hidup, ya semakin hari semakin berkurang,” jawab Cintia.
“Nah, itu dia. Setiap hari aktifitas kita ya begini-begini saja, kan, Cin? Apa kamu tidak pernah berpikir untuk melakukan perubahan dalam hidup?” tanya Herman.
“Perubahan dalam hidup? Maksud kamu ganti pekerjaan? Selama kita masih jadi polisi dan menjadi anak buah Kapten Yosi, ya hidup kita memang akan seperti ini terus, Her? Apa kamu merasa bosan bekerja seperti ini terus menjadi polisi? Atau kamu bosan menjadi anak buah Kapten Yosi? Atau jangan-jangan kamu bosan bekerja satu tim denganku?” tanya Cintia balik kepada Herman.
“Loh, bukan itu maksud aku, Cin. Kalau masalah profesi, aku sangat senang bekerja menjadi polisi karena itu adalah cita-cita aku sejak kecil. Selain itu dengan menjadi polisi aku dapat menyalurkan semua potensi yang aku miliki. Berbeda halnya jika aku bekerja di bidang yang lain. Menjadi anak buah Kapten Yosi juga sangat menyenangkan bagiku karena Kapten Yosi itu sangat bijak dalam memutuskan sesuatu. Selain itu Kapten Yosi juga banyak mengajarkan hal-hal yang tidak aku ketahu sebelumnya. Belum lagi beliau itu sangat memberi ruang untuk anak buahnya bisa berkembang dar hari ke hari. Hm, kalau mengenai satu tim denganmu. Jujur saja aku senang sekali, Cin. Soalnya kamu itu orangnya cerdas dan tidak pernah malas kalau urusan memecahkan kasus,” jawab Herman panjang lebar sesuai dengan pertanyaan Cintia yang cukup beruntun.
“Ya, syukurlah kalau kamu masih menyukai profesimu, Her. Terus apa yang membuatmu risau?” tanya Cintia berusaha untuk memancing omongan Herman.
Herman terdiam sejenak. Ditatapnya wajah Cintia yang slalu terlihat cantik di matanya itu.
“Maksudku itu status kita yang masih single ini, Cin. Apa kamu tidak pernah berpikir untuk mengakhiri masa lajang dan kemudian menikah?” lanjut perkataan Herman dengan nada serius.
Cintia yang mendengar perkataan Herman itu pun mulai menyungging senyum karena ia tidak menyangka Herman akan menanyakan hal pribadi itu kepadanya.
“Hm … Kamu kok tiba-tiba menanyakan hal itu kepada aku, Her? Hi … Jangan-Jangan kamu ini sudahada rencana untuk menikah, ya? Siapa calonnya, Her? Bilang-Bilang, dong! Aku penasaran dengan calon istrimu, Her! Kayak apa ya kira-kira perempuan yang akan menjadi istrimu itu?” cerocos Cintia dengan santainya membahas tentang calon istri Herman.
Herman yang saat itu mengharap jawaban dari Cintia malah justeru merasa terintimidasi karena Cintia mengatakan hal seperti itu. Memang sih ada muatan bercanda dalam kata-katanya, tapi hal itu justeru membuat Herman berpikir apakah Cintia tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya dan hanya menganggapnya sebagai kakak atau rekan kerja saja.
“Apa kamu tidak ingin menikah, Cin?” tanya Herman tiba-tiba dengan gamblangnya setelah ia berusaha menekan mentalnya dengan kuat.
Sontak saja Cintia menjadi terkejut dengan pertanyaan Herman yang langsung mengarah kepadanya tersebut. Cintia langsung menghentikan langkahnya saat itu diikuti oleh Herman yang juga meghentikan langkahnya. Saat itu mereka berdua sudah sampai di dalam ruangan kantor tempat yang mereka gunakan untuk bekerja selama ini.
Cintia selama beberapa detik terdiam dan memikirkan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan seseorang yang menurutnya sangat spesial itu. Setelah berpikir selama beberapa detik, akhirnya keluar juga kata-kata dari mulut perempuan muda itu.
“Aku masih ingin meniti karir dulu, Her …,” jawab Cintia dengan nada datar sambil menoleh dan mengamati perubahan ekspresi wajah rekan prianya itu.
Bagai disambar petir, Herman merasa jawaban Cintia itu seperti menghentikan langkahnya untuk bisa memenuhi janjinya kepada ibunya bahwa ia akan melamar Cintia dalam waktu paling lama sebulan ini. Mulut Herman menjadi kelu seketika dan tidak berani berkata apa-apa lagi karena ia takut hal itu akan berdampak pad hubungan baik ia dengan Cintia yang sudah terjalin bertahun-tahun. Ia tidak mau hubungan baiknya dengan perempuan itu menjadi renggang karena salah berucap.
“Kita ke musala, yuk!” ajak Herman sambil meletakkan tasnya di atas meja kerjanya sekaligus mengalihkan pembicaraan.
Dier!
__ADS_1
Sebaliknya bagi Cintia, ucapan Herman yang tiba-tiba mengalihkan pembicaraannya itu membuat perempuan itu berpikir bahwa Herman hanya berbasa-basi menanyakan tentang cita-citanya untuk menikah. Padahal barusan ia sudah berandai-andai bahwa Herman akan dengan berani mengatakan ingin mengungkapkan perasaannya terhadap dirinya, tapi kenyataannya Herman tidak melanjutkan perkataannya tentang menikah. Dala pikiran Cintia saat itu, berarti Herman masih belum ada rencana untuk menikah atau bukan Cintia yang ada di pikiran Herman untuk dijadikan pasangan hidup.
“Ayo!” jawab Cintia berpura-pura tenang sambil meletakkan tas berisi laptop ke atas meja kerjanya sendiri.
Setelah itu Herman dan Cintia pun berjalan bersama menuju musala kantor. Bedanya, kali ini mereka sudah banyak diam dan tidak berbicara satu patah kata pun mulai dari kantor sampai tiba di musala. Mereka berdua kemudian berjalan menuju toilet masing-masing dan tempat berwudu sesuai gendernya. Setelah itu mereka pun melaksanakan salat Zuhur secara berjamaah dengan diimami oleh Pak Sugeng, salah satu staf senior di kantor tersebut.
Setelah selesai menunaikan solat Zuhur, mereka berdua pun berjalan meninggalkan musala menuju kantor mereka kembali.
“Cin, sarapan di kantin atau mau pesan makanan secara online?” tanya Herman pada Cintia.
“Sebenarnya lebih enak makan di kantin, tapi-“ jawab Cintia dengan ragu.
“Tapi kamu masih ada hutang ke Mbak Yayuk?” potong Herman langsung.
“Eh, sory loh ya? Aku itu tidak pernah berhutang sama Mbak Yayuk, tapi aku malas saja ketemu sama Pak Antoni,” jawab Cintia dengan ragu-ragu.
“Kenapa takut ketemu Pak Antoni? Dia kan orangnya sopan. Atau jangan-jangan kamu membeli kuenya tapi belum bayar?” ujar Herman sambil menebak isi kepala Cintia.
“Iya, Her. Pak Antoni itu selalu memaksa aku untuk membeli kue buatannya. Aku sih sudah pernah membeli kue buatannya, tapi-“ jawab Cintia dengan terba-bata.
“Tidak enak rasanya!” potong Herman dengan yakin.
“Nah, itu dia maksudku. Tapi, Pak Antoni masih saja terus memaksa aku untuk membeli kue buatannya. Akhirnya aku berpura-pura tidak punya uang dan mengambil kuenya dengan berhutang terlebih dahulu. Aku sengaja tidak membayar hutangku dulu padanya karena untuk menghindari ditawari kuenya lagi. Dan benar saja, sejak aku berhutang padanya itu, Pak Antoni suda tidak pernah menawarkan kuenya kepada aku lagi. Tapi, tatapan matanya kalau melihat aku itu bikin aku malu saja,” jawab Cintia dengan jujur.
“Ha ha ha ha ha … Ada-Ada saja kamu ini, Cin! Ya, wajar saja Pak Antoni memandang kamu tidak enak la wong uang jajannya belum kamu bayar,” jawab Herman sambil tertawa terpingkal-pingkal.
“Lah, mau gimana lagi, Her? Hanya itu cara yang bisa aku lakukan agar dia tidak terus-terusan menerorku dengan tawaran kue yang kurang pas rasanya di lidahku itu. Tahu, nggak? Saking traumanya aku dengan tawaran Pak Antoni itu, aku sampai mimpi ditawari kue loh!” jawab Cintia dengan sedikit berapi-api.
Cintia hanya melongo mendapat pertanyaan seperti itu.
“Iya, ya? Kalau diperhatikan Pak Antoni memang aku lihat tidak pernah menawarkan kuenya pada penghuni laki-laki di kantor ini. Semua yang ditawarinya adalah yang perempuan. Kecuali tamu dari luar. Kok bisa begitu, ya? Aku kok baru kepikiran? Kenapa bisa begitu, Her?” tanya Cintia dengan rasa penasaran yang sangat tinggi.
Herman tersenyum simpul melihat reaksi kebingungan dari Cintia. Tak lama kemudian laki-laki itu pun langsung memberikan jawaban yang ditunggu-tunggu oleh Cintia.
“Begini, Cin. Para laki-laki di sini semuanya kompak kalau ditawari oleh Pak Antoni, ya kami para lelaki semua langsung mengambil saja salah satu kue yang disodorkan oleh Pak Antoni. Dan begitu kami memakannya dan rasanya aneh, kami langsung melepeh kue yang baru kami makan itu di depan Pak Antoni sambil berkata bahwa kuenya tidak enak! Begitu saja. Akhirnya Pak Antoni tidak pernah menawarkan kuenya kepada para laki-laki di sini,” jawab Herman dengan nada datar.
“Hah? Kalian setega itu pada Pak Antoni?” tanya Cintia lagi dengan penuh keragua karena ia tidak menyangka para rekan kerjanya di kantor polisi tersebut semua bermental bar-bar.
“Ya, begitulah para lelaki menyikapi sesuatu, Cin. Lugas, cepat, dan tidak bertele-tele. Daripada bertele-tele seperti yang kamu lakukan malah semakin tidak enak, kan?” balas Herman.
“Iya, sih. Tapi, kasihan juga kalau harus sekasar itu kepada Pak Antoni. Dia melakukan itu semua kan demi menafkahi keluarganya?” protes Cintia.
“Justeru karena untuk menafkahi keluarganya itu maka harus diberikan dengan sesuatu yang benar-benar halal. Coba seandainya semua orang yang dia tawari langsung bertindak seperti yang kami lakukan, pasti Pak Antoni akan berpikir keras bagaimana caranya ia dapat menghasilkan kue yang rasanya enak. Nyatanya tidak, kan? Dia tetap saja memproduksi kue yang rasanya aneh. Kenapa seperti itu? Ya, karena orang-orang yang tidak enakan seperti kamu ini? Jadi, dia berpikir bahwa kue buatannya itu enak dan orang-orang seperti laki-laki di sini yang kasar terhadapnya dianggap adalah orang yang memang tidak baik dan bukan target pasarnya,” balas Herman.
“Iya juga sih, Her. Aku sudah tiga kali makan kuenya dan rasanya tetap aneh,” jawab Cintia.
“Apa? Tiga kali? Aku saja yang makan satu kali sudah eneg, ams kamu kuat makan kuenya sampai tiga kali?” ujar Herman.
“Iya, Her. Tapi, jujur aku masih merasa yang kalian lakukan tadi terlalu ekstrim dan kasar. Iya kalau Pak Antoni bisa berubah? Kalau dia malah down bagaimana?” tanya Cintia lagi.
__ADS_1
“Nah itu dia penyebabnya. Masih ada orang yang tidak tegaan seperti kamu ini yang menyebabkan orang-orang seperti Pak Antoni tidak introspeksi diri sehingga masih menghantui ketenangan hidup orang lain. Iya, kan?” ujar Herman.
“kamu berlebihan sekali, Her. Masa Pak Antoni yang masih hidup kamu bilang menghantui? Emangnya dia hantu?” protes Cintia.
“Ya, buktinya kamu sampai ketakutan pergi ke kantin. Berarti Pak Antoni itu sama kayak hantu, kan?” tegur Herman.
Cintia pun terdiam. Selanjutnya ia pun berkata.
“Ya udah, ayo kita makan di kantin saja, sekalian aku ma membayar hutang kepada Pak Antoni. Kasihan dia,” jawab Cintia.
“Ayo!” jawab Herman sambil menjulurkan tangannya secara refkeks.
Cintia meandang aneh ke arah tangan Herman yang baru saja dijulurkan kepadanya.
“Eh, maaf, Cin!” ujar Herman kemudian dengan malu-malu karena sudah berusaha mengajak Cintia bergandengan tangan.
Cintia sebenarnya senang melihat tingkah konyol Herman barusan, tapi sebagai wanita dia harus menjaga harga dirinya. Masa dia mau digandeng-gandeng tanpa ikatan yang jelas?
Mereka berdua pun akhirnya berjalan menuju ke kantin. Sesampai di kantin Herman memperhatikan tingkah Pak Antoni yang sedang memandang tidak enak kepada Cintia. Selanjutnya pria itu pun meldek Cintia.
“Cin, lihat Pak Antoni mulai tadi ngeliatin kamu terus! Pasti dia itu mengumpat kamu di dalam hatinya!” ujar Herman sambil berbisik di dekat telinga Cintia.
Cintia pun langsung mengalihkan pandangannya kepada Pak Antoni dan benar saja apa yang dikatakan oleh rekan satu timnya itu, Pak Antoni memang memendang ke arahnya dengan tatapan seperti seorang debt colector yang mau menagih hutang tapi sungkan. Cintia tidak kuat lagi melihat ekspresi tidak mengenakkan dari Pak Antoni tu. Terlebih, Herman yang berada di sebelahnya tak henti-hentinya meledek Cintia sampai Cinta menjadi keki.
Karena tidak tahan lagi, Cintia pun segera bangun dari duduknya dan berjalan menuju tempat Pak Antoni. Herman mengamati gerak-gerik Cintia dengan geli.
“Pak Antoni, saya mau membayar uang kue saya kapan hari? Mohoh maaf saya lupa untuk membayarnya,” ujar Cintia pada Pak Antoni.
Pak Antoni yang awalnya cemberut menjadi sumringah seketika begitu mendengar Cintia akan membayar hutangnya. Pak Antoni pun membuka buku catatan kas bonnya dengan gembira. Cintia memperhatikan bahwa nama-nama teman perempuan di kantor ini banyak yang tercatat di buku milik Pak Antoni itu. Termasuk salah satu atasan di divisi lain.
“Hah, Bu Retno juga punya hutang kepada Pak Antoni?” pikir Cintia di dalam hati.
“Dua puluh ribu, Mbak!” ucap Pak Antoni setelah menemukan nam Cintia di deretan buku kas bonnya.
“Ini, Pak. Lunas, ya? Tolong dicoret nama saya dari buku itu!” jawab Cintia dengan perasaan tidak enak.
“Iya, Mbak. Terima kasih banyak, ya? Ayo diambil lagi kuenya, Mbak! Mumpung masih hangat!” ujar Pak Antoni setelah menerima uang dari Cintia.
“Sudah, Pak. Terima kasih. Saya sedang tidak berselera makan kue!” jawab Cintia sambil berlalu menuju mejanya sendiri.
Herman yang sedang duduk di meja menyambut kehadiran Cintia dengan senyuman.
“Beres, Cin?” tanya Herman.
“Beres, Her!” jawab Cintia.
“Ya sudah. Sekarang kita makan siang dulu. Aku sudah memesan makanan untuk kita berdua,” ucap Herman.
Mereka berdua pun langsung menyantap makan siang mereka dengan lahap. Aktifitas mereka seja pagi tadi nampaknya cukup menguras cadangan energi di tubuh mereka.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Hm ... ditunggu nih ikutan kuis KAMPUNG HANTU