
"HP-mu yang rusak kamu bawa, Siti?" tanya Mas Diki.
"Iya, Mas. Saya taruh di tas," jawab Siti.
"Ambil sana! Mau saya bawa ke tempat service ponsel milik teman saya," jawab Mas Diki.
Siti pun segera berjalan untuk mengambil ponselnya yang katanya error. Ia kembali membawa ponsel berwarna hitam dan diserahkan kepada Mas Diki.
"Semoga teman Mas Diki bisa memperbaikinya tanpa harus reset dari awal supaya nomer sepupu saya tidak terhapus dari memory HP," cetus Siti.
"Oke, baiklah, saya segera ke sana sekarang. Kamu tunggu di sini saja, ya, Dik, menemani Siti melayani pembeli?" ujar suamiku.
"Iya, Mas. Semoga ponselnya cepat beres!"
"Amin ...,"
Berangkatlah Mas Diki menuju ke tempat service ponsel milik temannya. Tinggal aku dan Siti yang tetap di toko untuk melayani pelanggan.
"Siti, pakdemu itu dukun, ya?" tanyaku pada gadis energik itu.
"Duh, bukan, Mbak. Dia nggak buka praktik kok!" jawab Siti sambil senyum-senyum.
"Tapi, dia punya kelebihan, kan?" tanyaku lagi.
"Gini, Mbak. Sebenarnya pakde itu nggak pernah melakukan tapa brata atau laku khusus untuk mendapatkan kemampuan supranatural seperti yang biasa dilakukan oleh orang pintar pada umumnya. Pakde juga tidak menginginkan untuk memiliki kemampuan seperti itu. Kemampuan itu datang sendiri padanya. Feelingnya kuat banget, Mbak. Terus doanya gampang diijabah," ujar Siti menerangkan.
"Tapi, banyak orang yang datang minta pertolongan sama beliau, kan?" tanyaku lagi.
"Ada. Soalnya pakde banyak menghindar. Beliau sebenarnya nggak mau seperti itu. Tapi, mau gimana lagi. Bukankah berdosa juga kalau diberi kemampuan tetapi tidak digunakan menolong orang lain? Itu yang jadi pedoman pakde, mengapa masih mau menolong orang yang datang kepadanya," jawab Siti.
"Apa setiap orang yang datang meminta tolong kepada beliau pasti dibantu?" tanyaku lagi.
"Enggak juga, Mbak. Banyak yang ditolak, tapi dinasehati terlebih dahulu. Biasanya yang seperti itu minta tolongnya aneh-aneh. Minta nomer togel, minta jimat kekebalan, sampai minta ilmu pelet," ujar Siti.
"Loh, ada yang minta tolong kayak gitu kepada pakdemu?" Aku berujar.
"Ada, Mbak. Lengkap pokoknya. Kalau sudah kayak gitu, siap-siap diceramahi sama pakde," jawab Siti.
"Kamu nggak minta tolong didoakan lancar jodoh sama pakdemu?" candaku.
"Ih, Mbak Sinta ini ada-ada saja. Tanpa diminta pakde pasti sudah mendoakan saya, Mbak. Lah wong pakde pernah bilang ke saya untuk mendoakan semua leluhur yang sudah meninggal, semua saudara, tetangga, atasan, dan orang-orang yang kita kenal setiap selesai salat," jawab Siti.
"Oooo gitu, Siti. Nanti kira-kira pakdemu mau bantu kami nggak, ya?" tanyaku.
__ADS_1
"Insyaallah, Mbak. Nanti saya bantu ngomong deh," jawab Siti.
"Makasih banyak, ya!" jawabku.
Dua jam kemudian Mas Diki datang dengan wajah lesu.
"Gimana, Mas? Apakah hapenya bisa diperbaiki?" tanyaku tak sabar.
"Hapenya sih bisa diperbaiki, Dik. Tapi ...," jawab Mas Diki menyisakan tanda tanya besar.
"Tapi kenapa, Mas?" tanyaku semakin penasaran.
Mas Diki garuk-garuk kepala sambil menyodorkan ponsel milik Siti di tangannya kepada Siti yang juga berdiri di sebelahku. Nampaknya Siti juga sama penasarannya denganku.
"Tapi ban motornya tadi bocor, jadi saya nuntun kurang lebih tiga ratus meteran hingga ketemu bengkel. Kaki sampai gempor rasanya," jawab Mas Diki kemudian.
"Oalah, kirain HPnya nggak bisa diperbaiki. Kalau cuma kaki Mas Diki yang gempor sih nggak masalah," jawabku lagi.
"Tega amat kamu sama mas, Dik!" seru Mas Diki sambil menghempaskan badannya di kursi.
"HP-nya nggak kereset pabrik, kan?" tanyaku lagi.
"Enggak kok! Teman saya kan emang jago banget kalau urusan ponsel, Dik. Cuma urusan menaklukkan wanita saja hang dia belum mampu," ujar Mas Diki.
"Maksudnya si Andre itu belum nikah sampai sekarang?" Aku menyeru heran
"Gimana kalau kita kenalin sama perawan kita, Mas?" ucapku sambil melirik ke arah Siti.
Siti menatap malu ke arahku seraya berkata.
"Apaan sih Mbak Sinta ini!" serunya.
"Emang kenapa Siti? Masa kamu nggak mau punya suami seorang pengusaha?" Aku menggoda Siti.
"Ih, Mbak Sinta malah diterus-terusin. Tau orangnya saja enggak, kenal juga enggak, kok sampai urusan bersuami?" jawabnya.
"Wah, kayaknya Siti ngasih kode nih. Ayo Mas, ajak si Andre ketemu Siti! Siapa tahu mereka berjodoh?" Aku berkata dengan nada agak tinggi.
"Dih, Mbak Sinta maksa amat, sih! Saya sampai nggak konsen, nih! Entar kalau sampai nomernya sepupu saya kehapus, gimana?" jawab Siti masih dengan nada kesal.
"Kalau nomernya sampai kehapus, sia-sia dong kaki saya yang sampai gempor ini?" protes Mas Diki.
"I-iya deh, cariin nomer sepupumu dulu. Urusan jodoh-jodohan nanti saja," jawabku.
__ADS_1
"Nah, gitu dong!" jawab Siti dengan senang.
Aku dan suami menunggu dengan harap-harap cemas Siti yang sedang menggulir tombol di ponselnya untuk mencari nomer sepupunya yang sudah membawa pakdenya itu tinggal bersama di daerah lain. Sekitar lima belas menit kemudian, Siti menyeru.
"Ketemu, Mbak!" pekiknya.
"Beneran ada nomernya, Siti?" tanyaku memastikan.
"Iya, ada ini, Mbak." jawabnya.
"Alhamdulillah," pekik aku dan Mas Diki.
Aku mendekati Siti yang sedang memegang ponselnya. Aku melihat di layar ponsel Siti tertulis nama 'NANIK'.
"Coba hubungi, Siti! Pulsamu ada, kan?" ucapku.
"Oke, Mbak. Saya coba call, ya?" ucapnya.
Siti mencoba menghubungi nomer tersebut. Terdengar samar-samar suara nada tunggu dari microfon ponsel yang Siti pegang. Ada kelegaan yang hinggap di dadaku meskipun sambungannya belum diangkat, setidaknya hal itu menandakan nomer sepupunya masih aktif.
Nada tunggu berkali-kali berbunyi, tapi tidak diangkat juga sampai Siti menutup sambungannya kembali.
"Coba lagi, Siti!" ucapku.
Siti pun mencoba menghubungi nomer tersebut kembali. Dan beberapa detik kemudian ...
"Assalamualaikum ...," ucap Siti.
"Waalaikumsalam," jawaban dari seberang yang terdengar samar-samar.
"Nik, gimana kabarmu? Alhamdulillah aku juga sehat. Oh ya, pakde ada kan? Aku mau ngobrol sama pakde, Nik," ucap Siti berbicara melalui ponselnya.
"Assalamualaikum, Pakde sehat, kan? Alhamdulillah saya juga sehat. Iya dong, saya di sini kerasan. Insyaallah salat tetap terjaga, Pakde. Iya, Pakde bos yang dulu sudah meninggal, sekarang diganti adiknya bos yang dulu. Oh ya Pakde, ini saya menghubungi Pakde karena bos saya yang sekarang sednag ada masalah dan ingin minta pendapat Pakde. Pakde ngomong sendiri sama bos saya, ya?" ucap Siti melalui saluran telepon. Sepertinya saat ini ia sedang berbicara dengan pakdenya.
"Ini, Mbak ngobrol sendiri sama pakde," ucap Siti sambil menyerahkan ponselnya padaku.
"Assalamualaikum, benarkah ini pakdenya Siti?" sapaku secara sopan.
"Waalaikumsalam ... Astagfirullah!!!" Jawaban yang aku dengar dari seberang. Pakdenya Siti seperti sedang terkejut.
BERSAMBUNG
Bagi yang mau memesan novel cetak KAMPUNG HANTU edisi spesial, bisa japri ke penulis via wa 085236533388.
__ADS_1
Banyak promo-promonya, loh!
Saram Seram dan Bahagia