
Sinta duduk di depan teras rumahnya sambil memandang ke arah rumah Pak RW yang sudah lama tidak ditempati. Orang yang terakhir kali menempati rumah tersebut adalah Clara beserta anaknya, Riki yang meninggalkan kisah tragis bagi keluarga Sinta. Ia sangat menyayangkan kepergian Clara yang serba misterius itu. Terutama setelah perempuan tersebut melihat foto Clara bersama Arman dan salah satu anak panti asuhan yang diadopsi oleh Clara. Jika mengingat-ingat hal itu, mendadak kepala Sinta terasa pening. Ia masih tidak percaya kalau Clara adalah istri dari Arman, pemuda yang pernah menghiasi masa muda Sinta.
Sinta sesekali melihat ke arah Ponsel seolah-olah ia sedang menunggu kabar dari seseorang.
"Bales dong, Wi!" ujar perempuan itu sambil melihat layar Ponselnya.
Rupanya saat itu Sinta sengaja duduk di teras rumahnya karena ada salah satu temannya yang akan berkunjung ke rumah perempuan itu. Karena jenuh ia pun berjalan menuju butik yang dibangun di bagian samping rumahnya. Di tempat itu ia melihat karyawan butiknya sedang mengepaki barang yang akan dikirimkan kepada pembeli online-nya.
"Pagi-Pagi sudah mulai packing, Mbak?" sapa Sinta.
"Iya, Mbak Sin. Biar nggak keteteran ntar sore pas Mas Rifki datang menjemput paketnya," jawab karyawan itu.
"Hm ... biar nggak keteteran apa biar bisa ngobrol lama sama Rifki?" goda perempua itu.
"Ih, Mba Sin ini apaan sih? Lah wong aku nggak ada hubungan apa-apa sama Mas Rifki," bantah perempuan itu.
"Emangnya siapa yang ngelarang kalau kamu ada hubungan khusus dengan kurir itu. Kalian berdua sama-sama single, kan?" terang Sinta.
"Sudah, jangan ngomongin Mas Rifki lagi, Mbak. Aku juga masih butuh waktu untuk bisa menerima kehadiran orang lain dalam kehidupanku. Terlebih, aku juga harus memikirkan anakku juga," jawab perempuan itu.
"Tapi, kamu masih muda loh! Nggak baik menyimpan rasa trauma. Kamu berhak hidup bahagia. Anakmu juga membutuhkan figur ayah untuk masa depannya. Kalau diperhatikan, kayaknya Rifki itu cocok deh sama kamu. Secara dia juga ditinggal selingkuh oleh mantan istrinya. Berarti kalian ini memiliki kesamaan satu dengan lainnya. Iya, kan?"
"Justeru itu, Mbak. Aku takut perasaan kami ini hanya dilandasi emosi semata saja. Begitu emosi itu berlalu, maka rasa itu lama-lama akan pergi. Kami masih butuh waktu lebih lama lagi untuk saling mengenal satu sama lainnya, Mbak."
"Oke. Tapi, awas loh ya! Kalau kamu sampai berbuat aneh-aneh sama Rifki. Aku nggak mau tempat usahaku ini dijadikan tempat yang nggak bener. Lebih-Lebih rumah Yu Darmi yang kamu tempati sekarang. Daripada melihat kalian berdua pacaran terus. Lebih baik saya nikahkan saja kalian berdua ini," ancam Sinta.
"Iya, Mbak. Aku janji nggak akan berbuat aneh-aneh dengan Mas Rifki."
Tiba-Tiba terdengar suara klakson mobil dari depan rumah. Sinta buru-buru berjalan menuju ke halaman rumahnya. Ternyata orang yang ditunggu-tunggu oleh Sinta sudah sampai di depan rumahnya. Dia adalah Dewi, teman lama Sinta yang sudah lama tidak berjumpa. Dan beberapa waktu yang lalu ketika Sinta berkomunikasi dengan teman lamanya yang lain, Dan ia teringat dengan Dewi. Akhirnya, teman lamanya itu pun memberikan nomor ponsel Dewi. Dari situlah Sinta mulai berkomunikasi dengan Dewi. Sinta benar-benar *excited *karena dapat berkomunikasi lagi dengan teman bawelnya itu. Begitu pula dengan Dewi, ia sangat bahagia karena bisa berkomunikasi lagi dengan Sinta.
"Dewi, kamu bisa nggak main ke rumahku lusa? Kebetulan suamiku pergi ke luar kota selama tiga hari?"
"Wah! Kebetulan nih! Suamiku juga pergi ke luar kota. Oke deh aku mau pergi ke rumahmu lusa."
Akhirnya hari ini kedua sahabat itu pun akhirnya bertemu.
"Dewi!!!!" teriak Sinta sambil berjalan agak cepat menyusul Dewi ke depan pintu gerbang.
"Sinta!!! Ya Allah, nggak nyangka aku masih bisa ketemu kamu. Kamu tambah cantik sekarang loh!"
"Alah, kamu ini berlebihan. Kamu juga tetap cantik seperti dulu. Wah, bayi ini juga cakep sama kayak kamu. Ini anakmu yang paling bungsu, ya? Ngegemesin banget sih anakmu ini. Sini gendong sama Tante, Le!"
"Hm ... Ini anak angkatku, Sin. Ibunya meninggal beberapa hari yang lalu."
__ADS_1
"Innalillah ... Maaf ya, Dewi, atas ucapanku yang kurang sopan."
"Nggak apa-apa kok, Sin."
"Ayo masuk dulu, Dew! Ntar aku buatin minuman buat kamu. Maaf ya aku nggak bisa jemput kamu ke rumah soalnya pagi tadi aku harus masak dulu untuk bekal Mas Diki sebelum berangkat ke luar kota."
"Nggak apa-apa, Sin. Hm ... Diki sering ke luar kota?"
"Dulu sih enggak, tapi akhir-akhir ini Mas Diki agak sering ke luar kota untuk audit cabang usahanya yang ada diluar kota. Kenapa, Dewi?"
"Eh, nggak apa-apa, Sin? Kamu nggak apa-apa sering ditinggal begitu sama Diki? Apa kamu nggak curiga?"
"Maksud kamu, curiga suamiku selingkuh? Enggak lah. Aku yakin suamiku tidak akan berbuat serendah itu."
"Semoga saja begitu."
"Kamu kenapa ngomong begitu, Dew? Hubunganmu dengan Herman baik-baik saja, kan?"
"Aman kok, Sin. Rumahmu gede banget, ya?"
"syukurlah kalau begitu. Ayo, duduk dulu! Aku mau ambilin minuman. Biar anakmu ini aku yang bawa.Ngegemesin banget anakmu ini, Sin."
"Oke. Aku bayarin sopirnya dulu, ya."
"Nggak usah, Sin. Orangnya keburu jemput calon penumpang yang lain. Tadi dia bilang habis nganter aku mau langsung ke rumah customer yang lain."
"Baiklah kalau begitu. Aku ke dapur dulu sama anakmu. Eh, siapa nama anakmu ini?"
"Panji."
"Wah, jadi namamu Panji, toh. Ayo, Panji ikut tante ke dapur. Kita buat minuman segar yuk!"
Dewi pun berjalan ke arah halaman untuk membayar ongkos kepada sopir sekaligus berterima kasih sudah mau mengantarnya.
"Kamu beneran nggak mau mampir dulu, Den?"
"Terima kasih, Bu Dewi. saya sudah kadung menyanggupi untuk mengantar keluarga Ustad Andi ke kecamatan sebelah."
"Baiklah. Sampaikan salam saya untuk keluarga Ustad Andi, ya? Oh ya. Kalau pulangnya nanti misalnya saya nggak diantar teman saya,saya hubungi kamu lagi, ya?"
"Siap, Bu Dewi. Saya pamit dulu. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam. Makasih banyak ya, Den."
__ADS_1
"Sama-Sama, Bu Dewi."
Dewi pun masuk kembali ke dalam rumah sahabatnya itu. Ia kagum melihat desain interior rumah itu yang mengesankan high class, tapi terlihat sederhana. Sinta sudah kembali dari arah dapur.
"Hebat kamu, Sin. Aku tidak menyangka kamu bisa sesukses ini sekarang. Butikmu juga besar tuh!"
"Ah, biasa saja, Dew. Kamu sama Herman juga tuan tanah kan di desa Delima?"
"Tuan tanah apaan, Sin? Sawah cuma beberapa petak saja, kok!"
"Iya tapi sepetaknya satu hektar."
"Mana ada sawah satu petaknya satu hektar? Yang kerja sambat dong karena nggak selesai-selesai?"
"He he he .. Ya kali aja. Ayo, buruan diminum es buatanku!"
"Oke, masih banyak ya, Sin. Panji rewel, nggak?"
"Nggak kok. Aku malah senang sama anak ini. Wajahnya imut dan tingkahnya bikin gemes saja."
"Iya. Begitulah, Sin. Panji adalah hiburanku satu-satunya selama di rumah. Kalau nggak ada Panji mungkin aku bisa stres kayaknya."
"Maksud kamu?"
"Nanti aku ceritakan, Sin."
"Kamu nggak sedang berada dalam masalah, kan?"
Dewi tidak menyahut. Tatapan matanya terlihat kosong selama beberapa detik. Sinta merasa temannya itu sedang ada masalah yang dipikirkan.
Dewi menatap mata Sinta dengan tatapan sedih. Kemudian, secara tiba-tiba ia berucap.
"Kamu beruntung memiliki Diki, Sin ..."
Sinta menyimak kata-kata Dewi dengan saksama. Ia menangkap ada nada kekecewaan di balik kata-kata temannya itu.
"Kamu kenapa, Dewi? Jangan bilang Herman berselingkuh dari kamu?" tanya Sinta dengan kata-kata tertahan.
Dewi yang semula menatap ke arah Sinta beralih menatap Panji yang sedang berada di gendongan sahabat lamanya itu.
Dewi tidak menyahut. Air matanya tiba-tiba menggenang dan menetes dengan deras membasahi pipinya yang mulus. Sinta buru-buru memeluk sahabatnya itu dan mengelus pundak perempuan yang dulu ia kenal sangat ceria itu. Tangis Dewi pecah di pelukan sahabatnya.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Semoga MARANTI season keempat ini berkenan di hati pembaca semuanya.