
Minul pulang ke rumahnya diantar oleh Pak Ratno. Minul merasa bahagia karena Pak Ratno menggandeng lengannya, meskipun akhirnya Pak Ratno hanya menggandengnya sampai di tikungan saja.
“Kok dilepas sih gandengannya, Pak Ratno? Aku kan takut?” rayu Minul dengan ganjennya.
“Tanganku kram kalau menggandeng tanganmu terus, Nul. Tanganmu kan besar-besar,” sahut Pak Ratno jujur tanpa tedeng aling-aling.
Minul melihat ke arah tangannya yang jarinya berukuran gemuk dan besar. Ia teringat saat jari-jarinya disentuh oleh Pak Ratno malam itu. Mengingat hal itu, Minul jadi malu sendiri.
“Ih, Pak Ratno kok ngomongin tanganku, sih? Aku jadi malu. Ngomongi topik lain aja dah!” sahut Minul.
“Nul, aku boleh tanya sesuatu sama kamu, nggak?” ujar Pak Ratno.
“Boleh! Emangnya Pak Ratno mau tanya apa sama aku? Kalau aku bisa jawab maka aku akan jawab. Tapi, jangan yang sulit-sulit, ya? Misalnya, Pak Ratno tanya tentang kriteria cowok yang aku sukai, aku nggak bisa jawab karena malu,” cerocos Minul.
“Enggak kok, Nul! Aku nggak mau tanya kayak gitu ke kamu. Aku mau tanya sesuatu tentang orang di sekitarmu,” jawab Pak Ratno singkat.
Minul sedikit terperangah dengan perkataan Pak Ratno.
“Seseorang di sekitarku? Siapa? Anak aku? Apa Pak Ratno ingin tahu pendapat anakku kalau ibunya menikah lagi? Kalau anakku sih ngikut apa kata ibunya, Pak. Kalau calon orangnya baik seperti Pak Ratno begini, anakku sih oke-oke saja. Lagipula dia masih kecil, pasti membutuhkan kasih sayang seorang ayah. Ayahnya sendiri sudah tidak peduli padanya,” cerocos Minul lagi.
“Tidak, Nul! Maksudku bukan itu. Aku ingin tanya tentang sahabatmu,” jawab Pak Ratno.
“Hm … Sahabatku? Siapa, ya?” tanya Minul pada Pak Ratno.
__ADS_1
“Iya, Nul. Aku ingin tanya tentang sahabatmu. Masa kamu nggak tahu sahabatmu siapa?” tanya Pak Ratno.
“Duh, siapa ya? Masa Jamila? Enggak lah nggak mungkin Pak Ratno menanyakan tentang Jamila. Soalnya Pak Ratno kayaknya kalau aku lihat nggak begitu cocok dengan Jamila,” jawab Minul dengan polosnya.
“Emang aku dan Jamila nggak cocoknya kenapa, Nul?” Pak Ratno bertanya dengan rasa penasaran.
“Buanyak banget ketidakcocokan Pak Ratno dengan Jamila menurutku. Meskipun, kalau pengetahuan tentang fashion kayaknya hapir sama. Kalian berdua sama-sama juaaaaaadul … Tapi,kalau Jamila itu orangnya ngotot, kalau dibilangi suka membantah dan sok tahu. Kalau Pak Ratno kayaknya orangnya lebih humble dan sabar dari Jamila,” jawab Minul dengan nada serius.
Pak Ratno dengan antusias mendengarkan jawaban Minul.
“Ooo … Gitu ya, Nul? Oh ya kalau boleh tahu Jamila itu sudah punya cowok apa belum?” tanya Pak Ratno sambil berusaha mencari celah agar maksud dan tujuannya tidak diketahui oleh Minul.
“Setahuku sih belum, Pak Ratno. Lagian janda dengan selera fashion kampungan kayak Jamila pasti nggak disukai cowok. Iya kan, Pak Ratno?” Minul balik bertanya.
“Hm … begitu, ya?” sahut Pak Ratno.
“Ada-Ada saja kamu ini, Nul. Oh ya? Kalau hubungan Jamila sama Salihun menurut kamu gimana, Nul? Kamu kan sahabatnya, masa nggak tahu tentang hubungan mereka?” tanya Pak Ratno lagi.
“Nah! Kebetulan nih! Aku emang mau ngomongin hal itu sama Pak Ratno. Kayaknya mereka berdua itu pacaran, ya? Tahu nggak, tadi siang itu mereka berdua ternyata janjian pergi ke pasar berdua membeli perlengkapan acara tahlilan terakhir di rumah Bu Dewi. Alasan klise banget, kan? Aku yakin itu akal-akalannya Jamila saja supaya bisa dekat dengan Pak Salihun. Kasihan juga Pak Salihun kalau sampai tergoda oleh Jamila. Secara, Pak Salihun itu kan ganteng … baik … dan selera fashionnya juga bagus sama kayak aku. Iya, kan?” cerocos Minul dengan satu tarikan napas.
Pak Ratno tidak menyahut karena ia tahu bahwa apa yang dikatakan Minul barusan itu tidak benar.Dialah sendiri yang memang sengaja menjebak mereka berdua supaya berada dalam keadaan yang sama untuk megecek perasaan Jamila terhadap Pak Salihun. Meskipun akhirnya Pak Ratno sendiri yang harus kecewa karena ternyata Jamila memang memanfaatkan momen yang ia ciptakan itu untuk bermesraan dengan Pak Salihun.
“Jamila pernah ngomong sama kamu, nggak, kalau dia suka sama Salihun?” tanya Pak Ratno lebih detil.
__ADS_1
Minul cukup terkejut mendapat pertanyaan dari Pak Ratno yang menurutnya terlalu detil, tapi Ia yang dasarnya nggak begitu suka mikir, menganggap hal itu hanya pertanyaan biasa saja.
“Hm … Nggak sih dia nggak pernah ngomong kayak gitu, tapi menurutku Jamila itu emang suka sama Pak Salihun. Pak Ratno bisa lihat sendiri kan? Tadi, Jamila sok akrab banget dan sok keganjenan banget sama Pak Salihun. Ingin rasanya aku jambak dia pas gandeng-gandeng Pak Salihun! Bikin kesel saja!” jawab Minul dengan ekspresi penuh emosi.
“Loh, kamu kan bukan apa-apanya Salihun? Lagipula, si Salihun mau-mau saja kan gandengan tangan sama Jamila tadi. Jangan-Jangan kamu cemburu sama Jamila, ya? Meskipun ulah mereka tadi terlalu berlebihan dan agak bikin neg juga!” gerutu Pak Ratno.
“Hiiiii … Pak Ratno kali yang cemburu! Hiiiii … Enggak sih, aku nggak cemburu soalnya aku sudah ada target lain,” jawab Minul serius sambil melempar senyum kepada Pak Ratno.
“Enggak lah, Nul. Aku nggak cemburu … Kamu tuh yang cemburu!” jawab Pak Ratno dengan pipi bersemu merah.
Setelah itu mereka pun melanjutkan perjalanan mereka yang sebentar lagi akan sampai. Ketika mereka berdua sudah sampai di pertigaan tempa Minul mengerjai Jamila, tiba-tiba Pak Ratno merasa sakit perut karena ingin buang air kecil.
“Nul, aku kebelet pipis. Kamu tunggu di sini sebentar, ya? Aku mau buang air kecil di kamar mandi umum itu,” ujar Pak Ratno sambil menahan rasa sakit perut yang sudah ia tahan sejak tadi.
“Iya, Pak. Aku tunggu di sini,” jawab Minul dengan santainya.
“Kamu beneran nggak apa-apa menunggu di sini? Kalau kamu takut, kamu bisa menunggu di depan kamar mandi umum itu,” jawab Pak Ratno sambil menahan sakit di perutnya.
“Ah, nggak usah, Pak. Malu! Aku tunggu di sini saja. Aku kan tidak penakut seperti Jamila. Aku ini perempuan pemberani dambaan semua pria,” oceh Minul.
“Ya sudah. Aku tinggal dulu! Aku sudah nggak kuat menahan lagi,” jawab Pak Ratno sambil ngacir menuju kamar mandi umum yang berjarak sekitar sepuluh meter dari tempat tersebut.
“Iya, Pak!” sahut Minul dengan santainya.
__ADS_1
Minul mengedarkan pandangan ke sekeliling ketika sudah ditinggal sendirian oleh Pak Ratno. Suasana saat itu sedang sepi-sepinya karena kebanyakan warga dusun Delima belum keluar rumah kalau masih magrib. Berada di pertigaan tersebut mengingatkan ia saat mengerjai Jamila, sahabatnya. Ia tak habis pikir, dengan cara konyolnya itu ia bisa membuat Jamila ketakutan dan ia merebut kesempatan untuk bertemu dengan Pak Ratno. Mengingat hal itu membuat Minul senyum-senyum sendiri. Minul tidak menyadari pada saat itu ada sesosok bayangan putih sedang mengintai perempuan itu.
BERSAMBUNG