
Mas Diki keheranan melihat reaksi keterkejutanku.
"Kenapa kamu terkejut, Dik?" tanya suamiku.
"E-eee, emangnya Mas Diki ngobrol langsung dengan nenek tua itu?" tanyaku tidak percaya dengan keterangan suamiku.
"Iya, Dik. Nenek itu berkata kepada mas meskipun denga terbata-bata bahwa ia akan menetap di rumah pak RW selama beberapa waktu," jawab mas Diki.
"Mas yakin?" tanyaku kembali.
"Yakin seratus persen, lah! Aku masih ingat dengan raut wajahnya yang datar tanpa ekspresi," jawabnya lagi.
"Mas Diki yakin nenek itu bukan hantu?" tanyaku vulgar.
"Ha ha ha ... Kamu ini ada-ada saja, Dik. Nenek tua itu jelas-jelas orang, lah. Kalau dia hantu, pasti mas sudah digigit olehnya. Wajahnya emang agak pucat begitu, tapi kayaknya itu karena nenek itu menggunakan bedak yang terlalu putih," jawab mas Diki lagi sambil tertawa terbahak-bahak.
"Iya juga, sih" jawabku.
Baru saja kami meneguk minuman, tiba-tiba pintu kembali terbuka.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam," jawab kami berdua.
"Kamu, Nur? Malam lagi pulangnya, ya?" ucapku.
"Iya, Bu. Banyak soal yang dikerjakan di tempat les," jawab Nur sambil mencium tanganku dan tangan bapaknya. Hal tersebut sudah menjadi kebiasaannya setiap pergi ataupun pulang.
"Ya, sudah. Buruan mandi sana, mumpung belum masuk waktu sholat Isya," ujarku lagi.
"Ita, Bu. Saya pamit mau mandi dulu,"
Anak semata wayang kami itu pun berjalan ke kamarnya untuk mengganti baju dan kemudian menuju ke kamar mandi.
"Nur, pakai baju kalau mau ke kamar mandi! Jangan hanya pakai handuk seperti itu!" teriakku.
"Nur kan sudah terbiasa seperti itu, Bu. Selama ini Ibu tidak pernah menegur saya. Kenapa baru sekarang Ibu menegur saya?" protes anakku.
"Iya, baru mulai hari ini ibu membuat peraturannya," jawabku serius.
"Tapi, bapak biasanya seperti itu juga?" protes Nur lagi.
__ADS_1
"Sudah.Tadi ibu sudah menegur bapakmu juga," jawabku.
"Baiklah kalau begitu," jawab pacar kecilku itu sambil nyelonong kembali ke kamarnya untuk mengambil baju dan sarungnya.
Setelah mandi, aku memanggil Nur untuk ikutan mengobrol di ruang tamu sambil menikmati kue pemberian Clara dan kopi hangat buatanku.
"Bu, ganti dong chanelnya! Jangan itu terus," pekik Nur.
"Kenapa sih, Nur? Acaranya bagus, loh. Itu penting buat pembelajaran kita semua. Contohnya, dengan menonton drama ini, bapakmu akan mikir seribu kali untuk menikah lagi, ntar ujung-ujungnya bisa stroke, gila, atau bangkrut," jawabku.
"Ah, itu kan karena si suami dalam drama tersebut terlalu ceroboh dan kurang adil. Harusnya kalau mau poligami itu jangan terlalu jahat kepada istri tua. Harus bisa membagi waktu dan adil kepada keduanya supaya Tuhan tidak marah dan menghukumnya," jawab mas Diki.
"Oooo ... Jadi Mas berencana mau menikah lagi?" teriakku sambil mencubit kulit perut suamiku.
"Aduh, ampun, Dik! Ampun! Bulan begitu maksudku," teriak suamiku sambil meringis kesakitan.
"Terus apa maksud Mas dengan mau bersikap adil barusan?" teriakku kembali sambil memperkencang cubitanku di perut suami.
"Itu kan hanya penjelasanku, Dik. Lepasin! Sakiiit, Dik," pekik suamiku.
"Janji dulu sama aku, Mas tidak akan berpoligami,"teriakku lagi.
"Oke," jawabku sambil melepaskan cubitan mautku dari perut suamiku.
Mas Diki mengamati kulit perutnya yang merah akibat bekas cubitanku barusan. Dia tidak berani protes kepadaku karena tahu aku bakalan tambah panjang kalau ia protes sedikit saja. Sedangkan, Nur tampak terpingkal-pingkal melihat ekspresi kesakitan bapaknya.
Aku kembali berkonsentrasi ke depan televisi untuk melanjutkan menonton sambil memberi ceramah kepada dua lelakiku itu. Sayangnya, layar di depanku ternyata sudah beralih ke acara komedi yang disiarkan chanel lain. Pasti tadi Nur sudah menggantinya ketika aku memberi hukuman kepada bapaknya.
"Kok diganti sih, Nur? Bagusan yang tadi, loh! Ini acara apaan, ketawa-ketiwi tidak jelas?" teriakku pada anal tunggalku itu.
Nur diam saja tidak menyahut. Aku memungut remote control dari atas meja. Aku memencet tombol pada remote tersebut dan saluran pun berganti ke saluran tempat drama keluarga tadi. Namun, azan Isya tiba-tiba berkumandang dari layar televisi.
"Sholat dulu yuk, Nur!" ajak suamiku kepada Nur.
"Ayuk, Pak!" jawab anakku.
"Dik, mas pamit dulu ke surau sama Nur, ya?" ujar suamiku sambil berdiri dari tempat duduknya.
Entah kenapa aku yang biasanya senang sekali ketika suami dan anakku pergi ke surau, malam itu agak berat melepas mereka untuk keluar rumah saat itu. Namun, aku tak berdaya melawannya karena laki-laki memang seharusnya salat berjamaah di surau, sedangkan perempuan lebih baik salat sendirian di kamarnya. Itulah yang diajarkan guru ngajiku dulu.
"Cepetan pulang kalau sudah selesai, ya!" ujarku sambil melepas kepergian mereka berdua di depan pintu.
__ADS_1
"Iyalah, Dik. Kami tidak mungkin menginap di surau," jawab suamiku dengan tersenyum. Masih sempat-sempatnya ia bergurau dalam keadaan istrinya yang sedang risau tak menentu.
[Klek]
Segera kututup dan kukunci pintu depan begitu kedua lelakiku itu pergi. Perasaan was-was dan takut tiba-tiba saja menyeruak di dalam dadaku. Seharusnya aku mengambil wudlu dan menunaikan salat Isya saat itu, tetapi entah mengapa membayangkan harus berada sendirian di dapur, aku merasa takut sendiri. Seolah-olah nenek penghuni baru di depan rumah tiba-tiba saja berdiri di sebelahku kalau aku berada di sana.
"Hiiiiii ...," pekikku sambil berlari menuju kamar.
Aku sudah berada di dalam kamar dan menutup pintu rapat-rapat. Bayangan beberapa tahun yang lalu tiba-tiba hadir di dalam pikiranku. Saat itu di dalam kamar ini, karena kondisi psikologis yang kurang baik, aku melihat bantal guling sebagai pocong. Mengingat kejadian tersebut, aku takut itu akan terjadi lagi saat ini.
Dalam keadaan kalut seperti itu, aku ingat dengan kitab suci yang sudah lama tidak kubaca. Aku berlari mengambilnya dari atas lemari, saat itu aku memang seharusnya tidak boleh memegangnya, tetapi dalam keadaan darurat begini tentunya ada pengecualian. Sudah menjadi kebiasaanku, jika merasa kalut atau takut alu membaca kitab suciku tersebut kemudian mendekapnya hingga terlelap.
Ternyata di atas lemari tidak ada. Mungkin mas Diki sudah memindahkannya ke tempat lain. Rasa takutku semakin meningkat, apalagi aku mendengar suara derap kaki di depan sana sedang menuju ke arah rumahku.
Entah mengapa perasaanku mengatakan, itu adalah suara derap kaki nenek tua itu yang belum aku ketahui dengan pasti apakah ia manusia biasa ataukah arwah.
[Tok tok tok]
Tiba-Tiba ada yang mengetuk pintu depan. Aku terkesiap. Tidak ada suara panggilan dari luar sana. Aku menunggu suara panggilan itu dengan harap-harap cemas. Namun, suara panggilan yang aku tunggu tidak juga kudengar.
[Tok tok tok]
Suara ketukan di daun pintu itu kembali kudengar. Kali ini lebih keras dari sebelumnya. Urat takutku pun bereaksi. Aku berpikir keras untuk menemukan kitab suciku kembali. Ada rasa sesal di hatiku, mengapa aku jarang membacanya sehingga aku sampai kehilangan jejaknya di saat genting seperti ini. Otakku berpikir dengan keras berusaha menganalisa dimanakah benda itu berada? Akhirnya, aku berkeyakinan benda itu berada di atas rak televisi di ruang tamu.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Haruskah aku keluar dari kamar ini menuju ruang tamu? Bagaimana kalau nenek itu sudah berada di ruang tamu itu sebelum aku menemukan kitab suciku itu? Sementara, tetap berdiam diri di dalam kamar seperti itu juga tidak membuatku merasa tenang karena bisa jadi nenek itu juga tiba-tiba muncul di ruangan ini," ucapku di dalam hati.
Bersambung
Jangan lupa untuk membaca novelku yang lain!
KAMPUNG HANTU
AKU TIDAK MAU MENJADI PELAKOR
CINTA KEDUA
TAK SENGAJA DINIKAHI PLAYBOY KAYA
__ADS_1