MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
BAB 40 : KAMAR SEBELAH


__ADS_3

Aku tertegun sejenak dengan cepatnya gerakan Bu Reny barusan, tapi rasa cemasku terhadap keadaan Mbak Ningsih membuatku harus menyingkirkan pikiran-pikiran yang lain.


Aku mencari bagian tirai yang bisa disingkap pada ruangan nomor tiga di depanku dan tidak butuh lama bagiku untuk menemukannya. Dengan cepat kusingkap tirai berwarna hijau itu dan benar saja aku melihat Mbak Ning sedang berbaring di atas dipan. Di tangan Mbak Ning terpasang selang infus, sedangkan mulut dan hidungnya dipasangi alat pernapasan. Aku belum bisa memastikan apakah saat itu Mbak Ning sedang terjaga atau tertidur.


"Assalamualaikum," ucapku perlahan sambil melangkah perlahan menuju Mbak Ning yang sedang berbaring.


Pada saat itulah aku melihat mata Mbak Ning bergerak dan menatap ke arahku. Setelah itu alat yang terpasang di mulut dan hidungnya bergerak-gerak sebagai tanda bahwa Mbak Ning ingin berbicara denganku, tapi karena tubuhnya masih lemah maka ia tidak sanggup melakukannya.


"Sudah, Mbak. Jangan berbicara dulu! Kondisi Mbak Ning masih lemah. Mbak tenang saja, kami semua akan melakukan yang terbaik untuk Mbak Ning," ucapku sambil memijat kaki Mbak Ning yang agak kurusan.


Setelah mendengar ucapanku, Mbak Ning tidak berusaha berbicara lagi.


"Bu, pasien sambil diajak ngobrol, ya? Supaya pasien tetap dalam kondisi tersadar. Bahaya sekali kalau pasien sampai pingsan," ucap dokter Indri yang tiba-tiba muncul di belakangku.


"Oalah, barusan kakak saya ini seperti mau ngomong, tapi saya larang karena takut," jawabku.


"Wah, justru itu bagus untuk keselamatan jiwanya sambil menunggu darah untuk ditransfusikan ke tubuh beliau," jawab Bu Indri.

__ADS_1


"Terima kasih, Bu Indri atas informasinya. Kalau begitu, saya akan mengajak ngobrol kakak saya ini," jawabku.


"Iya, tapi jangan sampai alat pernapasannya dilepas, ya?" ucap Bu Indri.


"Iya, Bu," jawabku.


"Baiklah, Bu. Saya tinggal dulu sebentar ke ruangan sebelah untuk menjahit luka-luka korban kecelakaan yang baru saja meninggal," ucap Bu Indri.


"Iya, Bu Indri. Barusan, dokter Reny juga sudah ke sebelah," jawabku kalem.


"Dokter Reny? Apa saya tidak salah dengar?" tanya Bu Indri sambil memicingkan mata.


"Hm ... Ah, sudahlah! Pasti Ibu tadi salah baca name tag saja. Lah wong yang meninggal kecelakaan itu dokter Reny sendiri kok!" jawab Bu Indri kalem sambil melangkah pergi meninggalkan ruangan.


"Apa???" pekikku keheranan.


"Tidak! Aku tidak salah lihat. Jelas-Jelas aku membaca tulisan berbunyi dokter Reny di atas saku sebelah kiri petugas tadi. Atau jangan-jangan .... Ah sudahlah! Kondisi Mbak Ning jauh lebih penting dari semuanya." Aku berpikir keras.

__ADS_1


Selanjutnya aku terus mengajak Mbak Ning untuk berkomunikasi, meskipun Mbak Ning hanya bereaksi dengan menatap lemah atau pun menggerakkan tangannya saja. Aku terus mengajaknya berbicara untuk mengunci kesadarannya. Aku sampaikan pada Mbak Ning bahwa Mas Wisnu dan Ikbal sedang ke Laboratorium untuk melakukan tes darah apakah bisa menjadi donor darah untuk Mbak Ning. Aku pun meyakinkan kepada Mbak Ning bahwa ia akan segera sembuh. Karena lelah berbicara sambil berdiri dengan Mbak Ning, aku pun mengambil kursi bulat di ruangan itu untuk kugunakan mengobrol sambil duduk dengan kakak sepupuku itu.


Saat aku berbicara dengan Mbak Ning, tiba-tiba aktivitas di kamar sebelah meningkat. Tirai berwarna hijau yang berfungsi sebagai pembatas antara kamar tersebut dengan kamar Mbak Ning bergerak-gerak seolah-olah ada orang yang menyender di tirai tersebut. Tidak hanya itu, dari kamar ini aku pun mendengar suara derit antara bagian bawah dipan dengan lantai yang cukup keras. Suara derit itu tidak hanya terdengar sekali, tapi terus berulang seolah-olah dipannya diayun-ayunkan.


"Apa yang dilakukan dokter Indri di kamar sebelah? Apakah proses menjahit luka jenazah dokter Reny harus segaduh ini?" Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri.


Awalnya aku tidak mau ambil pusing dengan keadaan ini, tapi karena aku melihat ekspresi mata Mbak Ning yang menunjukkan rasa takut, mau tidak mau aku pun berkata kepada Mbak Ning bahwa aku akan memeriksa kamar sebelah. Tangan Mbak Ning erat memegangi tanganku bermaksud melarangku, tapi aku meyakinkannya bahwa aku harus ke kaamr sebelah untuk memastikan semuanya aman. Dan pegangan tangan Mbak Ning pun melemah. Artinya, ia memberikan ijin kepadaku untuk memeriksa kamar sebelah.


Aku berjalan secara perlahan meninggalkan ruangan Mbak Ning. Mbak Ning menatap kepergianku dengan perasaan takut. Di luar kamar suasana masih senyap seperti tadi. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memeriksa apakah ada orang lain selain kami bertiga di ruangan UGD ini, tapi lagi-lagi aku tidak mendapati satu batang hidung pun.


Secara perlahan aku mulai mengendap-endap menuju kamar sebelah. Suara derit masih terdengar dengan jelas dari dalam kamar. Dengan cepat aku pun mencari bagian tirai yang bisa disingkap ke samping, setelah menemukannya aku pun segera menariknya ke samping secara perlahan agar tidak ketahuan oleh Bu Indri yang sedang berada di dalam. Bagaimana pun, aktivitas medis yang ada di dalam bersifat rahasia dan tidak boleh dilihat oleh siapa pun selain tim medis dan keluarganya.


Aku mengintip melalui celah yang sudah kubuat sendiri. Ketika aku berhasil melihat ke dalam ruangan tersebut aku cukup terkejut karena di dalam ruangan tersebut hanya ada dipan kosong tanpa pasien dan Bu Indri berdiri menghadap ke arah dipan kosong itu dengan kepala digerakkan ke kiri dan ke kanan secara bergantian sebanyak dua hentakan dua hentakan.


"Loh, kenapa tidak ada jenazah dokter Reny di dalam? Apa jenazah dokter Reny sudah dipindah ke kamar mayat? Lantas ke mana juga perginya petugas medis yang memakai pakaian dengan name tag bertuliskan 'dokter Reny'? Dan apa yang dilakukan dokter Indri di depan dipan kosong itu?" Aku bertanya-tanya di dalam hati.


Tidak butuh waktu lama bagiku untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaannku barusan. Sedetik kemudian dokter Indri memalingkan wajahnya ke arahku, lebih tepatnya memutar kepalanya seratus delapan puluh derajat, sedangkan tubuhnya masih tetap menghadap seperti semula. Kontan saja aku langsung berteriak begitu melihat pertunjukan menyeramkan di hadapanku. Sosok yang semula kukira dokter Indri ternyata adalah sosok yang beberapa waktu lalu aku temui di ruangan ini dengan wajah yang penuh luka menganga dan mulutnya menyeringai menampakkan gigi-giginya yang tajam berlumuran darah.

__ADS_1


BERSAMBUNG


Baca juga novel KAMPUNG HANTU dan lanjutannya SEKOLAH HANTU


__ADS_2