
Aku melangkah meninggalkan Mas Diki yang tidur mendengkur. Tidur di kamar depan sama saja mengingat masa remajaku dulu. Tiap menginap di rumah bude, aku selalu memilih untuk tidur di kamar depan. Kamar depan adalah kamar yang biasa ditempati oleh Mbak Ning sejak ia kecil. Aku memang paling akrab dengan Mbak Ning sejak dulu, tapi akrab dalam hal ini tidak seperti keakraban remaja masa kini. Pada masa itu aku masih tetap menjaga norma-norma kesopanan dalam menghadapi Mbak Ning yang usianya lebih tua dariku. Terlebih, kalau sudah berada di depan Bude Yati yang sangat menjaga adat dan kesopanan warisan leluhur. Tapi, kalau pas tidak ada bude, sih, cara berbicara aku dan Mbak Ning lebih leluasa tidak sekaku kalau ada Bude Yati.
Mbak Ning adalah sosok kakak yang sangat pengertian. Ia menjadi tempat bagiku untuk mencurahkan isi hati. Aku nyaman saja menceritakan isi perasaanku kepada Mbak Ning karena Mbak Ning selain sebagai pendengar yang baik, ia juga bisa memberikan solusi-solusi tentang permasalahan yang aku alami. Seperti saat itu aku pernah ditaksir oleh teman sekelasku. Aku tidak nyaman dengan hal itu karena aku kurang begitu suka dengan temanku itu. Emang sih dia itu anak salah satu guru di sekolah dan banyak sekali teman-teman cewekku yang naksir sama dia, tapi aku sendiri risih dengan sikapnya yang menurutku terlalalu berlebihan dan cenderung mengandalkan kedua orang tuanya. Mbak Ning lah yang memberikan solusi kepadaku untuk bisa menghindar dari cowok itu dengan cara elegan dan tidak menyakiti perasaannya.
Sebaliknya pun begitu, Mbak Ning juga sering menceritakan masalah pribadinya padaku. Mulai dari kisah cintanya dengan anak tetangga yang tidak direstui oleh Bude Yati, sampai masalah cintanya kepada Mas Wisnu yang juga tidak disenangi oleh Bude Yati. Mbak Ning dan Bude Yati memiliki prinsip yang berbeda dalam hal urusan jodoh. Bude Yati ingin memiliki menantu yang mapan sedangkan Mbak Ning sudah kadung kecantol dengan Mas Wisnu yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja. Mbak Ning dan Mas Wisnu ini sudah menjalani hubungan backstreet eejak mereka masih sama-sama SMA. Lulus SMA mereka sempat putus karena ketahuan oleh Bude Yati. Mbak Ning waktu itu dipingit nggak boleh keluar rumah kecuali hanya untuk sekolah saja. Itu pun Bude Yati sudah memasang mata-mata di sekolah untuk mengawasi gerak-gerik Mbak Ning dan Mas Wisnu. Tapi, namanya jodoh takkan ke mana. Beberapa tahun kemudian Ikbal yang saat itu masih kecil mengalami sakit demam berdarah dan dalam kondisi kritis. Saat itu Ikbal membutuhkan transfusi darah sesegera mungkin. Bude Yati berusaha mencari darah yang cocok di PMI, tapi stoknya kosong. Bude Yati sampai minta bantuan teman-temannya untuk mencari di kabupaten lain, tapi sama saja hasilnya nihil. Sementara kondisi Ikbal semakin menurun. Aku ingat waktu itu semua keluarga mencoba untuk menjadi pendonor, tapi tidak ada yang cocok. Akhirnya, Mas Wisnu yang juga mendengar perihal Ikbal yang sakit pun datang untuk mendaftar menjadi pendonor. Beruntungnya, darah Mas Wisnu cocok sekali dengan darah yang dibutuhkan oleh Ikbal. Akhirnya Mas Wisnu pun mendonorkan darahnya untuk Ikbal dan setelahnya kondisi Ikbal pun membaik dan sembuh. Sejak saat itu, Bude Yati pun mulai membuka hatinya untuk menerima kedatangan Mas Wisnu dalam keluarga besar kami. Tanpa menunggu waktu lama, beberapa bulan kemudian mereka pun menikah. Dan terbukti berkat Mas Wisnulah, Mbak Ning bisa menjadi sosok yang lebih dewasa, salihah, dan tentunya lebih bersemangat untuk menjalani hidup.
"Apa sih istimewanya Mas Wisnu, Mbak, sampai Mbak Ning secinta itu sama Mas Wisnu?" tanyaku suatu hari.
"Wajahnya biasa, kamu tahu sendiri kan seperti apa cowok-cowok yang pernah mendekati saya? Secara pekerjaan juga biasa. Hm ... tapi, Mas Wisnu itu bikin hati saya nyaman, Dik Sin. Saya juga bisa menjadi diri saya sendiri. dan juga Mas Wisnu selalu mengajak saya untuk lebih dekat dengan Allah SWT. Bukankah itu yang kita cari di dalam hidup, Dik Sin?" ujar Mbak Ning dengan mata berbinar dan wajah yang merona.
Demikianlah aku dsn Mbak Ning tumbuh bersama dalam kasih sayang para ibu kami yang sangat luar biasa. Aku dan Mbak Ning bergantian untuk saling menginap. Kadang aku menginap di rumahnya, kadang juga dia nginap di rumahku. Tapi, paling sering aku yang menginap di rumahnya karena permintaan Bude Yati. Bude Yati bilang senang kalau aku menginap di rumahnya karena Mbak Ning bisa bangun subuh untuk salat dan membantu pekerjaan Bude Yati di dapur. Berbeda kalau ia tidur sendirian, bisa ngebangkong sampai siang. Terutama pas liburan. Dasar Mbak Ning ...
__ADS_1
Aku menoleh ke pintu kamar Bude Yati yang dalam keadaan tertutup. Kemudian setelahnya aku pun melewati kamar Mbak Ning dan Mas Wisnu. Aku berjalan di atas hambal yang sengaja digelar di ruang tengah untuk menampung para tetangga yang ikut mendoakan mendiang Bude Yati. Ada beberapa botol air mineral kosong sisa acara semalam yang belum dibersihkan.
Setelah melewati kedua kamar itu, aku pun sampai di ruang dapur yang sudah dalam keadaan bersih. Kamar mandi berada di salah satu sudut ruangan ini. Pada saat aku berjalan menuju kamar mandi, aku teringat dengan momen-momen di mana Bude Yati masih hidup. Beliau sangat menyayangiku sebagai keponakannya. Beliau sering mengajak aku dan Mbak Ning untuk memasak bersama atau mengerjakan pekerjaan dapur lainnya.
"Meskipun kalian nanti bisa menghasilkan uang sendiri. Ingat, kalian harus pintar masak agar suami kalian tidak suka jajan di luar. Karena kalau sudah jajan di luar, hm ... godaannya banyak," pesan Bude Yati waktu itu.
Wangi parfum Bude Yati seperti dapat aku cium saat itu. Mungkin aku terlalu kangen dengan beliau saat itu. Duh, ternyata saat itu aku mencret, mungkin ini efek dari es teh yang aku beli di warung dekat rumah Bude Yati. Aku cukup lama menggunakan kamar mandi sambil menahan sakit di perutku. Perutku memang agak sensitif dengan es batu yang dibuat dari air mentah. Kemungkinan warung itu menggunakan es batu yang berbahan dasar air mentah untuk mengefisiensi pengeluaran. Jarang sekali warung menggunakan air matang untuk membuat es batu. Pikir mereka toh sama saja padahal hal itu sama saja dengan menzalimi konsumen yang sensitif dengan air mentah.
Pada saat aku selesai buang air besar, tiba-tiba terdengar suara keras dari depan rumah. Aku terkejut saat itu. Aku pun buru-buru untuk keluar dari kamar mandi untuk mengetahui bunyi apakah itu.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Jangan lupa membaca karyaku yang lain
KAMPUNG HANTU
SEKOLAH HANTU
CIRCLE OF LOVE
__ADS_1