MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
BAB 5 IKHTIAR


__ADS_3

Aku tidak menyangka Mbak Ning memiliki kecurigaan ke arah sana terhadap Bulek Darsih.


"Coba Dik Sinta renungkan, penghasilan dari mana sehingga Bulek Darsih bisa sekaya itu?" seloroh Mbak Ning.


"Mana mungkin Bulek melakukan hal itu, Mbak Ning? Bulek itu seorang guru bahkan kepala sekolah bahkan juga ketua yayasan yang namanya dikenal baik oleh banyak orang. Lagipula dari mana Bulek mendapat ilmu seperti itu? Setahu saya Bulek itu orangnya agamis," jawabku.


"Hh ... itu Bulek Darsih tempo dulu yang Dik Sinta ceritakan. Sudah saya bilang, Mbak, Bulek Darsih itu banyak mengalami perubahan semenjak ia ditinggal mati suaminya," bantah Mbak Ning.


"Dari mana kamu tahu perubahan itu, Mbak Ning. Ingat, fitnah itu lebih kejam dari pembunuban, loh!" ancamku.


"Oke ... Saya tunjukkan salah satu buktinya, ya? Coba Dik Sinta perhatikan Bulek Darsih kalau ke mana-mana pasti membawa jimat sekarang," jawab Mbak Ning.


"J-I-M-A-T?" kataku lirih.


"Iya. Kenapa? Dik Sinta kaget, kan, Bulek Darsih pakai jimat?" terang Mbak Ning.


"Di mana jimatnya? Saya nggak pernah kelihatan," kilahku.


"Dik Sinta saja yang kurang teliti melihatnya," imbuhnya.


"Loh, iya tah? Di mananya, Mbak?" tanyaku penasaran.


"Di kalungnya, Dik," jawab Mbak Ning sambil terkekeh.


"Lah, gimana saya dapat melihatnya? Bulek Darsih, kan, pake jilbab, Mbak?" protesku.


"Ah, Dik Sinta ini kurang canggih. Lah wong Bulek kalau pake jilbab pasti pake yang tipis nerawang. Terus juga jilbabnya masangnya nggak pernah seret. Kalung emasnya saja sering kelihatan. Nah, waktu itu tanpa sepengetahuan Bulek Darsih, jilbabnya miring sehingga menampakkan jimat yang ia pakai," jawab Mbak Ning dengan nada serius.


"Mungkin bukan jimat, Mbak," protesku.


"Kalau bukan jimat terus apa, Dik? Saya ini sudah dewasa, masa nggak bisa bedakan antara jimat dan mainan kalung biasa. Tidak hanya itu, Dik. Saya juga pernah diberitahu oleh mendiang ibu, kalau Bulek Darsih itu juga pakai susuk," tambah Mbak Ning.


"Duh, Mbak Ning, apalagi ini? Kita nggak boleh ngegibah loh!" protesku.

__ADS_1


"Hm ... Iya sudah kalau Dik Sinta nggak percaya sama saya nggak apa-apa. Tapi, sebelum ini apa pernah saya berkata bohong atau suka menceritakan kejelekan orang, Dik?" racau Mbak Ning.


"Hm ... Enggak, sih. Mbak Ning kok sepertinya yakin banget kalau Bulek Darsih itu melakukan pesugihan?" tanyaku.


"Iya, Dik. Itulah mengapa saya sangat keberatan kalau Ikbal akan diajak oleh Bulek Darsih untuk tinggal bersamanya. Ikbal itu adik laki-laki saya satu-satunya, Dik. Saya tidak mau Ikbal akan ditumbalkan oleh Bulek Darsih kepada junjungannya seperti yang sudah dilakukan terhadap mendiang ibu," cerocos Mbak Ning dengan ekspresi geram.


"Istigfar, Mbak Ning ...," sahutku.


"Plis, Dik Sin ... tolong pinjami saya uang!" rengek Mbak Ning tiba-tiba dengan mata sembap.


"Pinjam uang? Untuk apa, Mbak?" tanyaku kebingungan karena permintaan kakak sepupuku yang tiba-tiba itu.


"Untuk membeli motor buat Ikbal, Dik. Saya tahu Ikbal itu mau ikut dengan Bulek Darsih karena diiming-imingi akan dibelikan sepeda motor oleh Bulek Darsih. Memang Ikbal sudah lama ingin memiliki sepeda motor sendiri, Dik. Tapi, ibu nggak punya uang sebanyak itu soalnya pengeluaran ibu juga banyak untuk membiayai sekolah Ikbal," jelas Mbak Ning.


"Kira-Kira berapa uang yang mau Mbak Ning pinjam?" tanyaku.


"Lima belas juta, Mbak. Nanti biar kurangnya pake uang saya dulu," jawab Mbak Ning lirih.


"Ya Allah ... terima kasih banyak ya, Dik. Rencananya kalau Dik Sinta nggak punya, saya akan meminjam uang ke bank. Apapun akan saya lakukan untuk menyelamatkan adik laki-laki saya satu-satunya, Dik," tandas Mbak Ning.


"Iya, Mbak. Sekarang kita singkirkan segala pikiran buruk tentang bibi kita. Yang penting Ikbal segera punya motor dan tidak jadi tinggal bersama Bulek Darsih," balasku.


"Iya, Dik," jawab Mbak Ning sudah jauh lebih tenang.


"Mbak, saya ke dapur dulu, ya, sepertinya ada tetangga Mbak Ning yang audah datang mau membantu kita di dapur. Itu, yang biasanya paling rajin cuci piring," ujarku mengalihkan pembicaraan.


"Oalah, Mbak Srintil maksudnya? Iya, Dik. Dia emang paling cakcek kalau ada apa-apa di rumah ini. Sejak ibu masih hidup, Mbak Srintil itu sudah sering rewang di sini, Dik," jawab Mbak Ning.


"Iya. Bersyukur kamu punya tetangga seperti Mbak Srintil itu, selain cantik dia juga nggak itung-itungan kalau membantu orang," tambahku.


"Iya. Tapi, kasian dia, Dik Sin," lirih Mbak Ning.


"Kasian kenapa, Mbak?" tanyaku penasaran.

__ADS_1


"Suaminya menikah lagi dengan cewek penjaga kopi pangku," jawab Mbak Ning lirih.


"Ya Tuhan, sungguh bodoh suaminya. Menyia-nyiakan istri sehebat dia hanya untuk perempuan yang nggak jelas visi misinya," balasku.


"Itulah laki-laki, Dik. Sulit ditebak. Padahal Mas Joyo itu orangnya kalem dan nggak neko-neko. Lah kok bisa tergoda pada perempuan nggak genah kayak gitu," tambah Mbak Ning.


"Ya, kita harus bisa menghibur Mbak Srintil, Mbak. Agar ia tetap semangat dan tidak berputus asa untuk mempertahankan rumah tangga yang sudah dibangun cukup lama. Kayak gitu itu perbuatan setan, Mbak. Setan itu paling nggak suka kalau lihat rumah tangga ayem tentrem," terangku.


*Iya, Dik. Dik Sinta kalau butuh pekerja bisa mengajak Mbak Srintil. Kebetulan dia lagi butuh pekerjaan. Mas Joyo sudah jarang menafkahinya," ujar Mbak Ning.


"Duh, kok sampai segitunya suaminya itu? Kasian sekali Mbak Srintil. Di balik sosoknya yang humoris ternyata Mbak Srintil menyimpan masalah rumah tangga yang sangat besar," ujarku.


"Iya, Dik. Semoga Mbak Srintil tabah menjalani ini semuanya. Aamiin," pungkas Mbak Ning.


"Ya sudah, Mbak. Saya mau ke dapur wes biar nggak rugi saya ke sini jauh-jauh," pungkasku.


Aku pun membantu pekerjaan di dapur bersama Mbak Srintil dan beberapa tetangga Mbak Ning yang lain. Di dapur kami berhaha-hihi bareng Mbak Srintil. Ada saja guyonan Mbak Srintil yang membuat kami tertawa terbahak-bahak. Stok candaan Mbak Srintil ini seperti nggak ada habisnya saja. Sampai perut kami semua sakit karena kebanyakan tertawa.


"Til, tadi kamu makan apa bernagkatnya? Kok kuat ngocek kayak burung saja?" tanya Bu Dibyo.


"Duh, Bu Dibyo ini kalau manggil nama orang janhan disingkat kenapa, sih?" protes Mbak Srintil dengan gaya marah.


"Lah, namamu kan Srintil, masa nggak boleh dipanggil 'til'?" protes Bu Dibyo.


"Saya sih nggak apa-apa dipanggil 'til' atau 'tul', tapi kalau ada suami Mbak Ning lewat, ya saya malu lah, Bu dipanggil kayak gitu. Emang saya apaan?" protes Mbak Srintil.


"Duh tiiiiil ... tiiiil ... gitu saja kamu buat ruwet. Suaminya Mbak Ning nggak kira mikir macem-macem. Kamu saja yang pikirannya jorok," ledek Bu Dibyo tak mau kalah.


Kami pun tertawa terbahak-bahak melihat ulah mereka.


BERSAMBUNG


Kira-Kira dari mana saja, nih, yang baca MARANTI SEASON KETIGA? tulos komentarnya dong!

__ADS_1


__ADS_2