MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 32 : KOYO CABE


__ADS_3

Pak Herman sedang mengkudang Panji dalam gendongannya. Mata pria itu sebenarnya masih terlihat mengantuk, tapi ia memaksakan diri untuk bangun karena Panji pada jam-jam segitu memang sudah saatnya bangun dan bermain bersama ibunya. Panji tertawa cekikikan ketika digendong oleh Pak Herman, tapi ketika pria itu meletakkan bayi mungil itu diatas kasur supaya tidur lagi, bayi lucu itu kembali menangis. Mau tidak mau Pak Herman harus menggendongnya kembali agar bayi lucu itu kembali tenang. Panji ketawa cekikikan seolah sedang meledek Pak Herman ketika ia kembali digendong oleh pria itu.


“Kamu ke mana sih, Dik, pagi-pagi begini? Tidak biasanya kamu pergi tanpa pamit pagi-pagi begini,” gerutu Pak Herman ketika diledek oleh bayi lucu itu.


“Aaaaaaaa!!” Panji malah tertawa menggemaskan saat Pak Herman mengeluh seperti itu.


“Kamu kok malah ngetawain bapak sih, Le? Bapak sebenarnya senang main sama kamu, tapi khusus pagi ini bapak pingin tidur yang nyenyak soalnya kemarin bapak capek banget di gudang,” ujar Pak Herman pada anak kecil tersebut.


“Aaaaa!!!” tiba-tiba tangan kecil Panji menonjok muka Pak Herman dan diakhiri dengan ketawa-ketawa lucu ketika meliat reaksi Pak Herman yang kaget mendapat serangan tinju mendadak darinya.


“Aduh! Kamu kok malah mukul bapak sih, Nak?” ucap Pak Herman sambil memasang muka melas di depan Panji.


Bukannya membuat Panji menghentikan aksinya, ia malah menepuk-nepuk muka Pak Herman sambil tertawa lepas.


“Aduh! Sakit muka bapak kamu pukul-pukul terus,” protes Pak Herman sambil mencium pipi menggemaskan ank Balita lucu tersebut.


Dengan dicium seperti itu, Panji pun bersorak dan menghentikan aksinya memukuli wajah Pak Herman. Ia kemudian memeluk kepala pria dewasa di depannya itu. Seolah-olah kedua manusia bapak anak itu sedang melakukan perdamaian saja. Panji seperti ingin menunjukkan bahwa ia tidak begitu peduli dengan pekerjaan Pak Herman. Yang ia butuhka adalah kasih sayang seorang ayah kepada anaknya dari pria itu.


“Panji … Maafkan bapak ya jarang mengajakmu bermain. Selama ini ibu yang yang selalu sayang dan menemanimu sehari-hari. Kamu nanti harus berbakti kepada ibumu kalau sudah dewasa. Meskipun ibumu itu bukan perempuan yang melahirkan kamu, tapi itu sangat sayang dan peduli sama kamu,” ucap Pak Herman pada Balita tanpa dosa itu.


“Aaaaa!!” Panji kembali tersenyum dan membuat pria itu merasa tenang.


Tiba-Tiba pintu depan ada yang membuka.


“Assalamualaikum …,”ucap seseorang sambil masuk ke dalam rumah.


“Waalaikumsalam,” jawab Pak Herman sambil menggendong Panji ke luar kamar.


Ternyata orang yang datang adalah Bu Dewi.


“Dari mana, Dik? Tumben pagi-pagi sudah keluar?” tanya Pak Herman.


“Hm … Anu, Mas. Aku barusan dari rumah Pak Ade,” jawab Bu Dewi berbohong.

__ADS_1


“Ngapain sepagi ini kamu ke rumah Pak Ade?” tanya Pak Herman lagi.


“Pak Ade mengalami kecelakaan, Mas. Dia kejatuhan rak dapurnya,” jawab Bu Dewi sambil berjalan masuk menuju ke dapur.


Pak Herman memperhatikan ketika istrinya masuk ke dapur, ia melihat bekas kaki istrinya di lantai meninggalkan tanah berlumpur. Karena penasaran, ia pun menoleh ke arah sandal yang ditinggalkan istrinya di depan pintu. Teryata sandal yang dikenakan Bu Dewi memang banyak lumpurnya. Pria itu pun mengejar istrinya ke belakang. Sesampai di sana, ia mendapati istrinya baru saja keluar dari kamar mandi. Tentunya kakinya yang semula mengandung sedikit lumpur, sekarang sudah bersih dan mulus.


“Kenapa Pak Ade sampai kejatuhan rak dapur, Dik?” tanya Pak Herman penuh selidik.


“Entahlah, Mas. Mungkin dia mengantuk atau sedang kurang konsentrasi jadi ia tidak sengaja menyenggol rak dapur. Maaf ya, Mas, sudah pergi nggak pamit dulu. Panji rewel, ya? Pasti Mas tidak bisa nyenyak tidurnya,” jawab Bu Dewi sambil mengambil Panji dari gendongan Pak Herman.


Panji seperti mrengut kepada Bu Dewi karena diambil dari gendongan Pak Herman.


“Heleh-Heleh, kamu kecil-kecil sudah bisa protes, Panji. Mentang-Mentang keenakan digedong bapak. Kasihan bapak tuh biar bisa istirahat lagi,” ujar Bu Dewi pada bayi mungil di dekapannya.


“Selain dari rumah Pak Ade, kamu pergi ke mana, Dik?” tanya Pak Ade lagi dengan nada interogatif.


“Nggak ada, Mas. Aku langsung pulang. Sudah sana, Mas istirahat lagi saja. Mumpung masih jam enam nih. Ntar, jam delapanan aku bangunin. Atau Mas mau sarapan dulu, tuh udah beres semuanya,” jawab Bu Dewi mengalihkan pembicaraan.


Perempuan itu mulai tidak nyaman dengan pertanyaan-pertanyaan suaminya yang sepertinya mencurigai sesuatu yang sedang ia sembunyikan. Bu Dewi tentunya tidak menginginkan Pak Herman mengetahui bahwa ia baru saja marah-marah di makam Laras.


Perempuan itu pun menyesal kenapa tidak mencuci sandal dan kakinya tadi di depan rumah sebelum masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan suaminya yang super cerdas dan teliti ini. Bu Dewi hampir saja berkata jujur tentang apa yang sebenarnya ia lakukan barusan. Namun, perempuan itu masih berusaha untuk menutupi kebohongannya meskipun di ujung jurang.


“Anu, Mas. Tadi, sewaktu aku sampai di depan rumah Pak Ade, kakiku tanpa sengaja masuk ke selokan karena berdesakan dengan warga yang lain yang ingin menonton,” jawab Bu Dewi dengan berusaha memasang wajah polos.


“Sebanyak itukah warga yang menonton, Dik? Sampai kamu terperosok ke selokan?” tanya Pak Herman.


“Banyak banget, Mas,” jawab Bu Dewi kembali berbohong padahal ia tidak tahu pasti keadaan di rumah Pak Ade saat itu. Ia hanya berusaha untuk menutupi kebohongannya di depan suaminya.


“Terus, Pak Ade dilarikan ke rumah sakit atau bagaimana?” tanya Pak Herman kembali membuat Bu Dewi semakin kebingungan.


“I-iya, Mas. Di-bawa,” jawab Bu Dewi terbata-bata karena ia tidak tahu kondisi Pak Ade sebenarnya dan tidak tahu juga apakah suami Bu Nisa tu dibawa berobat ke mana.


“Ooo … Apa tadi ada ambulan di depan rumah Pak Ade?” tanya suaminya lagi.

__ADS_1


“Aduh, Mas. Kakiku kok mendadak sakit, ya? Tolong kamu gendong Panji dulu, ya? Aku mau ambil koyo di kamar,” jawab Bu Dewi sambil berpura-pura menahan sakit karena ia sudah kehabisan akal untuk meladeni pertanyaan Pak Herman yang semakin detil saja.


“Iya, Dik. Sini aku gendong Panji,” jawab Pak Herman sambil mengambil Panji dari dekapan istrinya.


Setelah menyerahkan Panji kepada Bu Dewi, perempuan itu pun pura-pura berjalan dengan agak pincang ke dalam kamar untuk lebih meyakinkan suaminya. Setelah sampai di kamar, perempuan itu pun menghela napas lega karena merasa bebas dari berondongan pertanyaan yang dilancarkan suaminya.


“Mas … Mas … Kamu kok sampai sedetil itu bertanya kepadaku?” rutuk Bu Dewi di dalam kamar sambil mengamati wajahnya di depan cermin hias di dalam kamar. Perempuan itu tidak buru-buru mencari koyo karena kakinya memang tidak sedang sakit.


Saat asyik-asyiknya menikmati kebebasan di dalam kamar, tiba-tiba Bu Dewi dikejutkan dengan kehadiran Pak Herman di balik pintu yang terlihat dari kaca hias kamarnya itu.


“Sudah kamu pasang koyonya, Dik?” tegur Pak Herman.


“Ini masih nyari, Mas,” jawab Bu Dewi sambil membuka satu persatu laci di meja hias tersebut.


“Kalau koyo cabe itu ada, Dik, di laci paling atas,” ujar Pak Herman.


“Koyo cabe? Aku nyari koyo yang biasa saja,” jawab Bu Dewi sambil terus membuka laci-laci yang lain.


“Kalau kakimu beneran sakit, lebih enak koyo cabe, Dik. Panasnya lebih meresap,” jawab Pak Herman.


Bu Dewi memperhatikan omongan suaminya. Ia ingat terakhir kali memakai koyo cabe panasnya bikin perempuan itu tidak tahan. Ia memang paling sensitif kulitnya kalau berhadapan dengan koyo cabe. Tapi, kalau ia tidak menuruti omongan suaminya, ia takut suaminya curiga bahwa ia tidak benar-benar merasakan sakit di kakinya.


“I-iya, Mas, Aku mau pakai koyo cabe saja,” jawab Bu Dewi sambil membuka laci paling atas tempat beradanya koyo cabe itu.


Dengan berat hati, Bu Dewi mengambil koyocabe dari dalam laci dan mengeluarkan satu lembar benda yang paling dibencinya itu. Pak Herman masih berada di balik itu dan mengamati perempuan itu yang menyobek lembaran koyo cabe dan ditempelkan di kakinya yang katanya sakit.


Nyes!!!


Rasa panas mulai menyerang kaki Bu Dewi ketika koyo cabe itu ia tempelkan ke betisnya yang kuning langsat.


“Aduh! Panas banget sih! Kenapa aku barusan bersandiwara kaki sakit si di depan Mas Herman. Aduh! Panas banget koyo sialan ini!” rutuk Bu Dewi pada dirinya sendiri.


Sementara itu Pak Ade sudah meninggalkan posisinya semula. Pria itu memilih menggendong Panji meninggalkan ruang tamu dan mengajak anak kecil itu ke luar rumah untuk menikmati hangatnya sinar matahari. Ada sebuah senyum kemenangan yang tersungging di bibirnya saat ia meninggalkan Bu Dewi yang sedang kepanasan di depan meja rias. Benar saja, Bu Dewi saat ini sedang menderita kepanasan akibat ulahnya sendiri. Wajah perempuan cantik itu sampai meringis-ringis di dalam kamar. Ia sibuk menunggu efek panas koyo cabe itu menghilang. Seandainya Pak Herman berada di sana saat itu, ia pasti tertawa terpingkal-pingkal karena meihat ekspresi lucu istrinya yang sedang menahan panas di kakinya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


Kira-Kira Pembaca pernah nggak kena getahnya akibat berbohong? Cerita, dong!


__ADS_2