MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
BAB 32 : REKAMAN VIDEO


__ADS_3

Kami berdua terkejut dengan kehadiran Pak Seno yang tiba-tiba.


"Ini, Pak. Saya hanya ingin mengenal lebih jauh istri Bapak," jawabku berbohong.


"Sebaiknya Dik Sinta kembali ke ruang tamu. Maafkan istri saya yang mungkin mengganggu Dik Sinta. Dia memang sering begitu," jawab Pak Seno sambil mengarahkan saya untuk berjalan ke ruang tamu.


Dari ekor mataku aku melihat istrinya memandang sinis ke padaku. Mungkin benar kata Pak Seno, istrinya ini sikapnya agak aneh. Buktinya, sekarang ia seperti cemburu kepadaku.


Aku kembali ke ruang tamu. Di sana sudah menunggu Pak RT di tempat duduknya semula.


"Dari mana kamu, Dik?" tanya Pak Rt dengan nada interogatif.


"Saya tadi nyamperin istrinya Pak Seno," jawabku kalem.


"Ngapain kamu bertemu dengan perempuan aneh itu? Awas kamu kenapa-kenapa loh. Nggak ada orang yang mau dekat-dekat dengan dia. Kamu lihat saja. Penampilan dan kelakuannya aneh begitu," balas Pak RT dengan suara dipelankan takut terdengar Pak Seno atau istrinya.


"Iya sih, Pak. Tapi tadi perempuan itu memanggil saya. Tentunya saya tidak enak kalau harus menolak panggilannya. Saya kan tamu di sini, Pak," jawabku dengan suara pelan juga.


"Ya sudah. Tapi, lain kali jauhi perempuan itu!" ujar Pak RT dengan nada serius.


"Iya, Pak," jawabku mengerti.


Selanjutnya Pak Seno datang sendirian dengan membawa nampan berisi dua gelas minuman. Entah ke mana perginya istrinya. Sepertinya tadi Pak Seno mengajak istrinya menuju ke belakang.


"Mohon maaf, Dik Sinta. Saya agak lama perginya," ujar Pak Seno.


"Iya. Tidak apa-apa, Pak," jawabku berbasa-basi.


"Oh ya. Tadi saya sudah mengobrol panjang lebar dengan Pak RT terkait rekaman video CCTV di rumah saya. Kalau saya buka dari telepon genggam saya kayaknya kelamaan. Gimana kalau diakses dari laptop saya saja?" tanya Pak Seno.


"Lebih baik begitu, Pak. Kalau dari telepon genggam takutnya malah membuat telepon genggam Pak Seno menjadi lambat kerjanya. Lagi pula saya membawa flash disk, kok," jawabku.


"Kebetulan kalau begitu. Laptopnya mau Dik Sinta bawa atau dibuka di sini?" tanya Pak Seno lagi.


"Saya buka di sini saja, Pak. Pastinya laptopnya dibutuhkan oleh Pak Seno. Atau Pak Seno ada acara keluar?" Aku berbalik tanya.


"Ada ... Tapi agak siangan. Saya ambil laptopnya dulu, ya? Monggo minumannya diminum," ujar Pak Seno.


"Terima kasih, Pak," jawabku dan Pak RT.


Pak Seno berjalan menuju kamarnya dengan langkah terburu-buru.

__ADS_1


"Ayo, Dik Sinta diminum tehnya?" ujar Pak RT sambil mengangkat gelasnya.


Aku diam saja tidak ikut meminum teh di gelasku. Aku masih ada perasaan takut.


"Ayo diminum, Dik. Nggak enak sama Pak Seno," desak Pak Rt.


"Nanti saja, Pak," jawabku.


Pak RT menatapku dengan tatapan tidak mengenakkan. Aku cuek saja. Di sini aku sendirian. Kalau terjadi apa-apa denganku tidak ada yang bisa menolongku.


Pak Seno kembali dengan membawa laptop mahal yang sudah membuka sebuah alamat situs tertentu.


"Silakan Dik Sinta unduh sendiri videonya, ya?" ujar Pak Seno sambil menyodorkan laptop ke hadapanku.


"Iya, Pak," jawabku sambil memperhatikan keseluruhan tampilan menu yang ada di layar.


Setelah memilih durasi waktunya, aku pun mengunduh video tampilan CCTV di rumah Pak Seno. Proses unduh pun berjalan.


"Sudah, Dik Sinta. Tinggal menunggu proses unduhannya selesai. Monggo diminum tehnya! Masa dianggurin begitu?" ucap Pak Seno.


Kali ini aku tidak bisa mengelak lagi.


"Waduh ... Ya sudah minum air mineral saja, ya? Kebetulan ada nih tinggal satu," ujar Pak Seno sambil mengambil satu gelas air mineral dari bawah meja beserta sedotannya dan diberikan kepadaku.


"Monggo diminum, Dik Sinta!" desaknya lagi.


Dan aku pun tidak bisa menolak permintaan Pak Seno lagi. Aku menusukkan sedotan ke permukaan air mineral itu. Dan aku pun menyeruput air mineral itu dengan diperhatikan oleh Pak Seno dan Pak RT. Aku merasa rasa air mineral itu kurang segar. Tapi aku tetap meminumnya karena tidak mau menyinggung perasaan Pak Seno.


"Ah, mungkin ini hanya perasaanku saja. Air mineral ini pasti sudah agak lama disimpan makanya rasanya tidak sesegar air mineral baru," pikirku di dalam hati.


"Wah, videonya sudah selesai diunduh," ucapku sambil meng-eject flashdisk dan menariknya dari port USB yang ada di laptop Pak Seno.


"Syukurlah kalau begitu," ujar Pak Seno.


"Terima kasih, Pak Seno atas bantuannya. Hanya Allah SWT yang bisa membalas kebaikan Bapak," jawabku.


"Sama-Sama, Dik. Sudah selayaknya saya membantu Dik Sinta. Toh, cuma rekaman CCTV saja," jawab Pak Seno.


"Rekaman ini sangat berarti buat keluarga saya, Pak," jawabku.


"Baiklah. Saya sekedar iseng nih, ya. Jangan diambil hati. Dik Sinta sama Pak RT ini kalau diperhatikan wajahnya kok mirip sekali, ya? Jangan-Jangan kalian ini berjodoh," seloroh Pak Seno sambil tertawa.

__ADS_1


"Astagfirullah ... Saya dan Pak RT ini sudah sama-sama punya keluarga, Pak," jawabku sopan.


"Umur dan jodoh itu rahasia Allah SWT. Kita tidak tahu ke depannya seperti apa. Ya, kan?" jawab Pak Seno.


"Iya sih. Tapi, nggak baik ngomong kayak gitu, Pak. Kami berdua dan pasangan kami sama-sama sehat wal afiat," jawabku.


"Saya hanya ngomong loh, Dik Sinta. Jangan diambil hati. Salam buat suami Dik Sinta, ya?" ujar Pak Seno mencairkan suasana kembali yang semula terasa tidak enak.


"Iya, Pak. Tidak apa-apa," jawabku.


"Monggo dihabiskan minumannya!" ucap Pak Seno lagi. Pak RT pun segera menghabiskan minumannya, sedangkan aku tidak. Aku bilang perutku sudah penuh.


"Pak, kami ijin pamit, ya? Sekali lagi terima kasih atas bantuannya," ucapku.


"Wah, mau kemana saja sih. Masih pagi juga," jawab Pak Seno.


"Kami masih ada urusan lain, Pak. Lain kali kalau ada waktu saja," jawabku berbasa-basi. Padahal berada di rumah Pak Seno ini bagiku seperti bertarung dengan ketakutan dan ketidaknyamanan.


Setelah bersalaman dengan Pak Seno, kami pun masuk ke dalam mobil dan segera berjalan menuju arah pulang. Tak lupa kutandai lokasi tersebut di google map dan kuberi nama 'Rumah Pak Seno'.


Ketika mobil berjalan kurang lebih lima menit, aku merasakan kepalaku pening dan rasa kantuk berat tiba-tiba menyerangku.


"Kamu kenapa, Dik?" tanya Pak RT cemas.


"Tidak apa-apa, Pak. Kepalaku hanya pening sedikit. Mungkin darah rendahku kambuh," jawabku berusaha tenang.


"Kamu sudah sarapan apa belum?" tanya Pak RT.


"Sudah ... sedikit" jawabku. Aku memang terbiasa sarapan sedikit. Baru, siangnya aku terbiasa makan lagi, entah roti atau apa saja yang penting perutku terisi. Tapi, roti dan air mineral di tasku itu sudah kuberikan semua kepada nenek tua yang kutolong tadi pagi.


"Kita berhenti cari makanan dulu, ya?" tanya Pak RT dengan panik.


"Kalau ada minimarket. Tolong berhenti dulu ya, Pak. Saya ingin membeli roti dan membeli obat," jawabku.


"Baiklah! Sekarang Dik Sinta istirahat saja dulu. Gunakan bantal kecil itu ditumpul dua," jawab Pak RT.


Aku pun menuruti perintah Pak RT untuk beristirahat di mobil itu sejenak. Enak rasanya saat aku rebahan di jok mobil itu. Mataku benar-benar merasakan kantuk yang amat sangat.


BERSAMBUNG


Ketik mohamadimron (tanpa spasi, huruf m nya satu saja) di Shopee untuk bisa belanja jualanku. Ada novel KAMPUNG HANTU juga dijual di sana.

__ADS_1


__ADS_2