MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 80 : KARENA CINTA


__ADS_3

Bu Dewi menutup wajahnya dengan menggunakan tangannya secara spontan karena takut melihat sosok menyeramkan itu. Detak jantung perempuan itu langsung meningkat secara drastis saat itu juga.


“Ada apa, Dik?” suara Pak Herman sambil memegangi pundak Bu Dewi.


Bu Dewi masih tidak percaya kalau sosok yang sedang berdiri di depannya sekarang adalah Pak Herman karena sedetik sebelumnya ia melihat sosok menyeramkan di depan matanya sendiri.


“Tidak, kamu bukan Mas Herman! Kamu hantu!” jawab Bu Dewi sambil berteriak.


“Ini aku, Dik. Aku menyusulmu ke dapur karena ingin menemanimu membuat the. Lah kok malah kamu ketakutan waktu melihat aku barusan?” sahut Pak Herman sambil memegangi kedua bahu istrinya.


Bu Dewi tidak punya pilihan lain saat itu selain membuka kedua matanya dan benar saja sosok menyeramkan tadi sudah tidak ada di hadapannya. Berganti dengan sosok pria tampan yang sangat ia cintai.


“Ini beneran kamu, Mas?” tanya Bu Dewi sambil meraba pipi kiri dan kanan suaminya.


Tangan Bu Dewi gemetar saat memegangi pipi Pak Herman. Pria itu memegangi tangan yang sedang ada di pipi kiri dan kanannya. Hati Pak Herman trenyuh begitu memegangi kedua punggung tangan istrinya itu. Ia teringat bagaimana dua tangan itu yang selalu merawatnya ketika sakit. Pria itu juga memperhatikan kedua mata istrinya yang terlihat sayu karena sering begadang merawat Panji. Tak terasa air mata Pak Herman menggenang saat itu.


“Ini aku, Dik. Laki-Laki yang dulu memberikan mahar uang dua puluh ribu kepada kamu. Laki-Laki yang pernah sakit selama dua bulan lebih di awal-awal pernikahan sehingga tidak bisa memberikan nafkah untuk kamu. Laki-Laki yang pernah makan nasi dicampur dengan garam selama berhari-hari bersama kamu-“ jawab Pak Herman dengan air mata berlinang.


Pak Herman tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena bibirnya ditutup oleh telunjuk Bu Dewi.


“Tidak! Mas Herman sudah banyak memberikan kebahagiaan untukku. Kesetiaan … Bimbingan … dan juga mau menerima aku apa adanya …,” jawab Bu Dewi dengan berderai air mata.


Pak Herman tak kuasa untuk tidak memeluk istrinya dengan erat.


“Terima kasih ya, Dik. Sudah mau sabar mendampingiku …,” ucap Pak Herman.


“Aku juga berterima kasih sama Mas atas kasih sayangnya kepada aku …,” sahut Bu Dewi.


Adegan itu berlangsung selama beberapa menit hingga akhirnya Bu Dewi lupa kalau beberapa menit sebelumnya ia sudah dibuat takut oleh kemunculan sosok menyeramkan. Selain itu, adegan tersebut juga membuat Pak Herman harus meminum teh yang sudah hampir dingin.


Keesokan harinya …


Herman dan Cintia sedang duduk di kantin Polres yang biasa mereka gunakan untuk berdiskusi membahas kasus yang sedang mereka tangani.


“Her, kasus kematian Pak Dimas akan segera ditutup karena minimnya alat bukti dan saksi,” ucap Cintiapada Herman.


“Apa? Tidak bisa seperti itu, Cin! Kamu tahu ini kasus Narkoba! Negara ini telah dirugikan banyak oleh Narkoba ini! Kamu tahu berapa banyak pemuda berpotensi di negara ini yang kandas hidupnya karena Narkoba?” protes Herman dengan ekspresi marah.


“Aku tahu, Her? Tapi, banyak kasus lain yang tidak kalah pentingnya untuk segera ditangani! Menurut kantor sih Pak Dimas ini salah satu korban penggunaan Narkoba. Dari hasil olah TKP juga menunjukkan bahwa ia meninggal di ruang tertutup sempurna. Artinya tidak ada orang lain yang terlibat dalam kematiannya. Dan, kamu tahu sendiri dari keterangan anggota keluarganya, tak satu pun yang dapat membantu kita untuk mengungkap kasus tersebut lebih luas lagi,” jawab Cintia.


“Iya, Cin. Tapi dari mana asalnya benda terlarang itu masih belum bisa kita temukan sampai sekarang? Tidak mungkin benda laknat itu tiba-tiba saja dimiliki oleh pria tersebut, kan?” protes Herman.


“Iya, aku tahu. Tapi, kita tidak menemukan petunjuk apa-apa dari nomor HP korban selain hobinya bermain judi online. Iya, kan?” jawab Cintia.


“Tidak, Cin. Aku tidak mau kasus ini berhenti sampai di sini saja. Kita harus mengungkap sampai ke akar-akarnya karena aku tidak mau ada korban lain akibat peredaran barang haram tersebut. Titik!” ucap Herman dengan tegasnya.


“Kita tidak punya waktu banyak, Her. Dalam seminggu ini kalau tidak ada perkembangan dari kasus ini, Kapten Yosi akan menutup kasus ini,” jawab Cintia.


“Apa kamu yakin Kapten Yosi ingin menutup kasus ini?” tanya Herman tidak percaya.


“Bukan, Her. Kapten Yosi ditekan dari atas,” jawab Cintia lemah.


“Kita harus bergerak cepat, Cin! Aku tidak mau kasus ini berhenti sampai di sini saja!” jawab Herman geram.


“Baiklah. Aku akan membantumu selagi kasus ini belum ditutup. Tapi apa yang harus kita lakukan sekarang? Memeriksa semua Ponsel keluarga dan tetangganya? Jangan gila kamu!” protes Cintia.


“Tidak, Cin! Aku ada rencana lain,” jawab Herman.


“Apa rencanamu, Her?” tanya Cintia.


“Ayo ikut aku!” ajak Herman.


“Ke mana?” tanya Cintia.


“Ayo, kamu ikut aku saja! Nanti aku jelaskan!” jawab Herman sambil menarik lengan Cintia.


Mereka pun berjalan menuju parkiran. Cintia tak lagi memaksa pria di sebelahnya untuk memberitahukan ke mana mereka akan pergi karena ia tahu hal itu percuma saja baginya. Pria itu tidak akan menjawabnya.

__ADS_1


Mereka berduapun meninggalkan kantor tempat mereka bekerja menuju ke suat tempat. Cintia awalnya diam saja. Ia pikir Herman akan mengajaknya ke rumah Pak Dimas, karena jalan yang ia lewati memang menuju ke dusun Delima. Tapi, Cintia pun terhenyak karena mobil yang disopiri oleh Herman tiba-tiba berbelok menuju sebuah hotel melati yang tidak begitu jauh dari dusun Delima.


“Herman! Ngapain kamu ngajak aku ke sini?” Cintia marah kepada Herman.


“Ayo, ikut aku! Jangan banyak tanya!” jawab Herman.


“Kamu jangan gila, Herman! Karena aku dekat sama kamu, jangan kamu anggap aku ini cewek gampangan, ya?” sahut Cintia dengan penuh kemarahan.


“Apa kamu bilang, Cin? Kamu pikir aku membawamu ke sini untuk berbuat kurang ajar sama kamu? Ya Tuhan! Serendah itu kamu menilai aku, ya?” giliran Herman yang marah kepada rekannya itu.


“Terus, ngapain kamu ajak aku ke tempat seperti ini?” tanya Cintia.


“Aku mengajakmu ke sini untuk mengecek buku reservasi hotel ini, Cin! Siapa tahu Pak Dimas pernah berkunjung ke sini? Dari situ, kita akan memeriksa tamu lain yang berkunjung ke tempat ini secara bersamaan. Nah, dari situlah kita bisa mengembangkan kasus ini. Karena banyak sekali transaksi Narkoba itu dilakukan di hotel,” jawab Herman.


“Ah, kenapa kamu baru ngomong sekarang? Jadinya aku salah tanggap, kan?” protes Cintia.


“Halah, kamunya aja yang senang kalau pemuda ganteng dan pemalu seperti aku ini tiba-tiba mengajakmu check-in. Iya, kan?” goda Herman.


“Sialan kamu!” protes Cintia.


Mereka berdua langsung keluar dari mobil dan berjalan menuju bagian resepsionis. Awalnya resepsionis menyambut kedatangan mereka dengan hangat, tapi begitu mereka mengatahui bahwa mereka berdua adalah polisi, resepsionis itu pun ketakutan.


“Sedang penuh kamarnya, Mbak?” tanya Herman dengan mimik muka serius.


“I-iya,Pak. Tapi, kalau Bapak dan Ibu mau menginap di sini, kami bisa menyediakan kamar khusus,” jawab petugas resepsionis dengan ketakutan.


“Kapan hotel ini terakhir dirazia?” tanya Herman dengan nada interogatif.


“S-sudah agak lama, Pak!” jawab resepsionis dengan ketakutan.


“Sudah waktunya dirazia lagi, dong?” tanya Herman.


“K-kami mohon jangan hari ini, Pak. Karena manajer sedang ke luar kota dan sedang banyak tamu dari luar kota,” jawab resepsionis itu lagi dengan memohon.


“Oh … begitu …,” jawab Herman dengan ekspresi wajah serius.


“Apa? Kamu mau menyogok kami?” Herman sedikit membentak pada resepsionis itu.


“T-tidak,Pak. Kami tidak bermaksud seperti itu. Tapi, kami mohon Bapak dan Ibu tidak merazia kami sekarang!” sahut resepsionis.


“Kenapa begitu? Apa hotel ini sedang menyelenggarakan kegiatan melanggar hukum sekarang?” tanya Herman.


“Tidak, Pak. Kebetulan hotel ini sedang dikontrak oleh sebuah perusahaan swasta yang sudah langganan setiap tahun mengadakan acara gathering di sini. Jadi,kami takut mereka terganggu dan kecewa dengan pelayanan hotel ini,” jawab resepsionis.


“Ooooo begitu … Tapi, kamu bisa membantu kami, nggak?” ucap Herman.


“Membantu apa, Pak?” tanya resepsionis tersebut.


“Kami butuh data nama-nama oran yang menginap di hotel ini selama dua tahun ini. Bisa?” tanya Herman.


“Tapi, Pak. Itu rahasia perusahaan kami. Saya bisa dipecat kalau sampai ketahuan membocorkan data tersebut ke pihak lain. Terlebih polisi,” jawab resepsionis.


“Mbak, kami butuh bantuan, Mbak …,” Herman pun menjelaskan secara singkat maksud dan tujuannya. Ia berjanji akan menghapus data itu nanti dan tidak akan menunjukkannya kepada orang lain.


Dan Herman pun berhasil membawa pulang data pengunjung hotel tersebut.


Sesampai di mobil, Cintia protes kepada Herman.


“Kamu gila, Her! Bagaimana kalau mereka nanti melaporkan kita? Ini pelanggaran hukum, Her! Kita tidak bisa mengambil data perusahaan tanpa surat perintah dari kepolisian,” protes Cintia.


“Tenanglah, Cin. Tidak akan ada apa-apa. Kita tidak boleh terlalu polos dalam memecahkan kasus seperti ini. Yang penting tujuan kita baik, kan? Dan kita harus benar-benar melenyapkan data ini nanti,” jawab Herman santai.


“Gila kamu, Her!” jawab Cintia dengan tak habis pikir atas perbuatan temannya itu.


“Sudah siap check-in di hotel-hotel yang lain, Cin?” goda Herman.


“Entahlah, Her. Terserah kamu! Kamu benar-benar gila! Kapten Yosi pasti kecewa punya anak buah seperti kita!” keluh Cintia.

__ADS_1


“Santai saja,Cin!” jawab Herman.


Mereka pun meluncur ke hotel-hotel yang lain untuk mendapatkan data-data pengunjung. Tentunya cara yang mereka lakukan berbeda-beda untuk setiap hotel. Seharianitu mereka sudah bisa mengantongi sebagian besar data hotel di kota kecil tersebut.


Setelah mendapatkan data-data itu, mereka pun mengecek data itu satu persatu.  Dan betapa kecewanya mereka karena tidak menemukan data pengunjung bernama Pak Dimas di semua data yang mereka kumpulkan.


“Capek-Capek melanggar kode etik hasilnya nihil, Her!” keluh Cintia.


“Sabar, Cin. Masih ada satu hotel yang  belum kita kunjungi,” jawab Herman dengan santai.


“Maksud kamu kita akan meminta data Hotel Bunga? Jangan gila kamu! Hotel itu milik pejabat teras di kota ini. Kalau ketahua, kita bisa dipecat dari kesatuan!” teriak Cintia.


“Santai, Cintia. Kita akan menemukan cara agar bisa mendapatkan data hotel itu tanpa harus ketahuan orang lain. Percaya sama aku!” jawab Herman dengan tenang.


“Kamu boleh gila, tapi jangan sinting, Herman! Hotel lain mungkin bisa kamu begitukan, tapi untuk Hotel Bunga tidak bisa kamu sepelekan!” tegas Cintia.


“Kamu meremehkanku, Cin?” protes Herman.


“Entahlah! Aku sudah tidak bisa berpikir dengan jernih lagi. Gara-Gara kamu aku merasa tidak pantas menjadi polisi,” jawab Cintia.


“Ingat, Cin. Kita melakukan ini demi apa? Demi nasib anak-anak bangsa, kan? Percayalah, Tuhan pasti memberikan jalan yang baik untuk kita. Ayo, kita berangkat!” ujar Herman.


“Aku mau sholat dulu, Her!” jawab Cintia.


“Oke, kita sholat dulu,” jawab Herman.


Di dalam sholatnya, Cintia merasa bersalah atas apa yang ia lakukan hari ini. Tapi, ia dan Herman tidak punya pilihan lain selain melakukan hal itu.


Setelah sholat mereka pun berangkat menuju Hotel Bunga. Cintia hanya bisa diam tanpa bicara selama di dalam mobil. Ia tidak tahu apa yang akan ia alami setelah melakukan ini semuanya. Ia benar-benar khawatir dan tidak percaya Herman bisa mengatasi ini semua. Tapi, ia sudah siap-siap dipecat bersama Herman karena tanpa Herman, ia juga pasti akan kesulitan menyelesaikan tugas-tugasnya.


Setelah berada sekitar sepuluh menit di dalam mobil, Herman pun berkata.


“Kamu kok diam saja, Cin? Kamu takut, ya?” tegur Herman.


“Entahlah, Her. Aku sudah tidak bisa berpikir dengan jernih! Kamu jalan saja. Lakukan yang terbaik! Pastikan kita berdua tidak akan dipecat dari kepolisian!” jawab Cintia.


“Ha ha ha ha ha … kamu berani bertaruh denganku? Kita akan sukses mendapatkan data dari Hotel Bunga?” tantang Herman.


“Tidak usah sesumbar! Buktikan saja omongan besarmu itu. Nasibku ada di tanganmu sekarang,” jawab Cintia.


“Oke, lima menit lagi kita akan sampai di sana! Sekaran kamu pakai ini!’” ucap Herman pada Cintia sambil memberikan kresek hitam.


“Apa ini, Her?” tanya Cintia penasaran.


“Kamu ini senengnya tanyaaaa terus! Kamu buka saja sekarang dan pakai!” jawab Herman.


Cintia pun secara perlahan membuka kresek hitam itu dan ia terkejut karena melihat benda aneh di dalam kresek berwarna hitam itu. Ada rambut palsu berwarna putih, pakaian lusuh berwarna hitam, make up, dan juga bunga tujuh warna di dalam kresek itu.


“Kamu sudah sinting beneran Her? Benda apa ini?” teriak Cintia sambil melempar benda-benda aneh itu karena terkejut.


“Ha ha ha  … Kamu nggak usah kaget dulu, Cin! Ini peralatan menyamar. Beberapa hari yang lalu aku mendapatkan info dari orang bahwa pihak manajemen Hotel Bunga itu sedang mencari paranormal untuk mengusir hantu-hantu yang sering muncul di sana,” jawab Herman sambil tertawa terbahak-bahak.


“Maksud kamu, aku menyamar jadi paranormalnya?” tanya Cintia dengan wajah tidak percaya.


“Iya, Cin. Kebetulan aku hanya punya stok kostum nenek sihir ini. Jadi, terpaksa kamu yang harus masuk ke sana menemui pihak manajemen,” jawab Herman.


“Sialan kamu, Her! Aku nggak mau!” protes Cintia.


“Plis, Cin! Hanya cara ini yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan data itu. Aku yakin Pak Dimas melakukan transaksi Narkoba itu di sini. Ingat, tempat paling aman untuk menyimpan rahasia adalah di tempat umum. Kamu tahu sendiri, kan? Hotel ini tekenal dengan reputasi baiknya? Tenang, aku juga akan masuk ke dalam dan memesan kamar untuk membantu mengawasimu,” jawab Herman.


“Tapi, aku takut, Her …,” jawab Cintia.


“Yakinlah, kamu bisa melakukannya, Cin!” jawab Herman dengan wajah memelas.


Sulit bagi Cintia menolak permintaan Herman yang super baik itu.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Sudah ikutan game berhadiah NOVEL MARANTI belum?


__ADS_2