
Sore itu Bu Dewi mempersiapkan acara tahlilan di rumahnya sesuai kesepakatan dengan para tokoh masyarakat bahwa tahlilan di rumahnya dimajukan sore hari sedangkan tahlilan di malam hari dilaksanakan di rumah Pak Hartono. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, sore itu warga yang datang ke rumah Bu Dewi sedikit lebih banyak dari hari-hari sebelumnya. Sampai-Sampai Bu Dewi meminta tolong Pak Salihun dan Pak Ratno untuk membeli tambahan kue kering di rumah Bu Yana. Tidak hanya tamu bapak-bapak yang datang sore itu, tamu ibu-ibu juga agak banyak sampai Bu Dewi kewalahan menyambutnya. Sepertinya para tetangga lama-lama merasa tidak enak juga kalau tidak takziah ke rumah Bu Dewi karena istri Pak Herman itu terkenal aktif mengunjungi setiap acara yang digelar oleh tetangganya. Bu Dewi menyambut bahagia kunjungan tetangganya itu. Sepertinya digelarnya acara tahlilan pada sore hari membawa manfaat juga bagi warga dusun Delima karena rasa ketakutan untuk pergi ke rumah Bu Dewi sedikit berkurang pada sore hari.
Meskipun warga sudah datang takziah ke rumah Bu Dewi bukan berarti mereka sudah berhenti membicarakan Laras. Justeru dengan berkumpul seperti itu mereka semakin antusias untuk membicarakan ibunya Panji itu. Tentunya dengan suara sengaja dipelankan. Pembicaraan diawali dari topik seputar kecelakaan yang menimpa Pak Ade berlanjut dengan pergunjingan mereka tentang Laras. Tentunya, saat membicarakan Laras mereka memelankan suaranya agar tidak didengar Bu Dewi. Ada saja salah satu dari warga yang sengaja mengajak ngobrol Bu Dewi untuk mengalihkan perhatian warga lain yang sedang bergunjing tentang Laras. Bu Dewi bukanlah orang yang bodoh. Dia mengerti betul apa yang sedang dilakukan tetangga-tetanganya itu, tapi ia tidak bisa berbuat banyak karena ia menyadari karakter tetangga-tetangganya memang seperti itu. Dan juga saat ini ia juga sudah mulai sedikit percaya bahwa arwah Laras ada di balik semua kejadian itu.
Pukul lima seperempat, acara di rumah Bu Dewi usai. Ibu-Ibu sudah banyak yang pulang setengah jam yang lalu. Bapak-Bapak pun buru-buru meninggalkan rumah Bu Dewi karena takut keburu malam. Mereka sudah mulai merasa tidak nyaman dengan kondisi sore yang sebentar lagi akan berganti senja tesebut. Yang pulang paling belakangan tentunya Pak Salihun dan Pak Ratno karena harus membantu Bu Dewi membersihkan sisa air mineral dan melipat alas tempat duduk.
“Hun, tungguin aku dong!” teriak Pak Ratno sambil memanggil teman akrabnya itu.
Kali ini Pak salihun tidak begitu mempedulikan panggilan temannya. Ia masih kesal dengan tindakan Pak Ratno yang menyerobot percakapannya dengan Jamila pagi hari tadi.
“Hun! Tunggu!” teriak Pak Ratno kembali karena ia merasa ketakutan kalau harus melintas di depan rumah Laras jauh dari Pak Salihun.
Pak Salihun tetap tidak bergeming dan semakin mempercepat langkahnya. Pak Ratno pun berusaha mengejar temannya itu dengan mempercepat langkah kakinya. Namun, sialnya tali sandalnya putus.
“Tunggu, Hun! Tali sandalk putus!” teriak Pak Ratno lagi.
Mendengar perkataan Pak Ratno Pak Salihun pun menoleh ke belakang. Ternyata benar, tali sandal temannyaitu putus. Namun, Pak Salihun kembali melanjutkan langkahnya dengan lebih cepat. Pak Ratno yang melihat gelagat temannya itu pun merasa jengkel juga dengan Pak Salihun karena tidak mempedulikan dirinya yang sedang dikenai musibah. Tak berpikir lama akhirnya pria itu pun meninggalkan sandalnya di tempat itu dan ia pun berlari mengejar Pak Salihun tanpa menggunakan alas kaki.
“Aduh! Sakit kakiku!” pekik Pak Ratno sambil mengurangi kecepatan langkah kakinya karena ia tidak sanggup harus berjalan cepat dalam kondisi jalan yang berbatu-batu seperti itu.
Pak Salihun sudah lumayan juh meninggalkan Pak Ratno di belakang sementara senja pun sudah mulai bergelayut. Pak Salihun sebenarnya masih sedikit kepikiran dengan temannya itu, takut terjadi apa-apa dengan Pak Ratno, tapi kalau mengingat apa yang dilakukan oleh Pak Ratno pagi tadi membuat perasaannya kembali jengkel.
Sementara itu, Pak Ratno yang tertinggal di belakang kali ini sudah sampai tepat di depan rumah Laras. Ia terus saja melangkah melalui jalan berbatu sambil meringis kesakitan karena kai tuanya sudah mulai tidak bisa bersahabat dengan tajamnya batu-batu itu. Secara refleks Pak Ratno juga menoleh ke arah rumah Laras yang lampunya selalu mati tersebut meskipun sudah diganti dengan yang baru oleh Bu Dewi. Perasaannya semakin tidak enak saja ketika ia menoleh ke arah rumah Laras. Seoah-olah Laras sedang berada di rumah itu seperti cerita-cerita yang ia dengar dari warga dusun Delima yang lain. Akhirnya, ia yang sudah merasa tidak enak dengan kakinya itu pun berusaha menahan rasa sakitdan melangkah lebih cepat dari sebelumnya.
__ADS_1
“Hun,tega banget kamu ninggalin aku, Hun! Apa kamu cemburu sama aku, Hun? Kamu sendiri kan yang bilang sama aku kalau ingin bersaing secaa sehat dengan aku untuk memperebutkan hati Jamila? Ah, sudahlah! Aku lebih baik buru-buru pergi dari sini takut keburu dihadang Laras!” ucap Pak Ratno sambil terus berjalan meninggalkan jalan tembus tersebut. Hembusan angin senja menambah ketegangan yang dirasakan oleh Pak Ratno ketika harus meniti jalan yang sangat sepi tersebut. Tidak ada orang lain sama sekali di tempat tersebut selain dia sendiri. Jadi, kalau memang benar ia akan dihadang oleh Laras di tempat itu, entahlah apa yang akan terjadi dengan Pak Ratno. Setiap detik saat itu hanya rasa ketakutan yang ada. Sungguh sangat berbeda yang dirasakan oleh pria tua itu antara berjalan sendirian dibadingkan dengan berjalan bersama temannya.
“Hun, aku kapok! Aku lebih baik kehilangan Jamila daripada harus kehilangan kamu!” ucap Pak Ratno sambil terus berjalan dengan kaki gemetar.
Pria itu terkejut karena tiba-tiba ada seeorang menghalangi langkah kakinya. Pak Ratno menahan napasnya sambil memfokuskan pandangannya pada sosok yang sedang menghadangnya. Nyali Pak Ratno ciut seketika saat itu. Jantungnya seakan berhenti berdetak.
“Kamu beneran merelakan Jamila untuk aku, Rat?” ucap sosok misterius yang membuat jantung Pak Ratno sedikit berdenyut barusan.
Pak Ratno melotot saat itu.
“K-kamu, Hun!” teriak Pak Ratno saat itu.
“Iya, ini aku temanmu, Rat! Makasih ya, kamu sudah mau mengalah sama aku,” jawab Pak Salihun.
“Loh, kamu baruan sendiri loh yang bilang kalau lebih baik kehilangan Jamila daripada aku,” protes Pak Salihun.
“Kenapa kamu balik, Hun? Nggak sekalian kamu biarkan aku mati ketakutan saja,” umpat Pak Ratno.
“Maaf, Rat. Tadi aku masih kesal sama kamu,” jawab Ratno.
“Kamu balik bukan untuk aku, kan? Kamu balik karena Jamila, kan?” ucap Pa Ratno dengan kesalnya.
“Nggak gitu, Rat. Aku balik karena aku kepikiran sama kamu,” jawab Pak Salihun.
__ADS_1
“Sudah. Aku bisa pulang sendiri!” jawab Pak Ratno sambil berjalan meninggalkan temannya.
Saat ini mereka memang sudah sampai di jalan yang banyak rumah penduduknya. Makanya Pak Ratno sudah tidak takut lagi.
“Tunggu, Rat. Biar aku antar kamu pulang!” teriak Pak salihun sambil mengejar sahabatnya itu.
“Tidak perlu, Hun! Kamu kejar Jamilamu itu saja! Nggak usah pedulikan aku!” jawab Pak Ratno dengan jengkelnya.
“Oke, kalau kamu masih marah, biar aku jalan di belakang kamu saja. Toh, kita searah, kan?” ucap Pak Salihun mengalah.
Pak Ratno menghentikan langkahnya, kemudian dia berkata.
“Kamu pulang duluan saja! Aku mau ke musalla. Tolong, aku ingin sendirian, Hun!” jawab Pak Ratno dengan ekspresi wajah kecewa.
Pak Salihun menatap waah marah temannyaitu dan sepertinya ia memang harus menjauh dulu dari temannya itu. Bisa runyam kalau ia terus memaksanya.
“Baiklah, Hun! Tapi, kamu buruan pulang, ya? Kasihan Jamila katanya mau ke rumah kamu mengembalikan Kencah.
Pak Ratno tidak menyahut. Ia hanya tersenyum kecut kepada Pak Salihun dan melangkah dengan emosi menuju musalla Ustad Andi. Pak Salihun menatap kepergian temannya dengan perasaan menyesal.
BERSAMBUNG
Kalau Readers pilih mana, nih? Sahabat apa kekasih?
__ADS_1