MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 17 :


__ADS_3

Biasakan membaca episode sebelumnya dulu supaya nyambung dengan ceritanya.


Setelah itu, lanjutkan dengan meng-klik tombol like.


Lanjutan ceritanya ...


Aku berjalan menuju anakku yang sedang tertidur pulas di kasurnya. Clara tetap berdiri di dekat pintu kamar Nur. Namun, dia masih dapat melihat ketika aku memasangkan gelang itu ke pergelangan tangan Nur.


"Hhhhhhhh ...," Suara desahan tiba-tiba keluar dari mulut anakku yang sedang tertidur, tepat ketika aku selesai memasangkan gelang pembelian Clara barusan. Setelah selesai memasangkan gelang tersebut, aku pun berjalan kembali ke luar kamar Nur, melewati Clara yang masih mematung di pintu kamar itu. Aku pun kembali duduk di salah satu ruang tamu. Beberapa detik kemudian, Clara menyusulku ikut duduk di salah satu kursi tepat di depanku.


"Makasih banyak, ya, Mbak? Ternyata Mbak Sinta mau memasangkan gelang itu ke tangan Nur," cetusnya kemudian.


"Tidak usah berterima kasih dulu. Ketika nanti anak itu bangun dan mendapati ada benda asing di tangannya. Saya tidak berani jamin, ia tidak akan melepasnya nanti," jawabku sedikit ketus.


"Usahakan gelang itu jangan sampai terlepas, ya, Mbak?" ujar Clara dengan nada memohon.


"Jujur saya bingung sama kamu, Clara. Ditanya alasannya tidak mau jawab, tapi maksa sekali," ujarku.


"Bukan tidak mau jawab, Mbak. Tapi belum saatnya saja," terang Clara dengan nada santun.


Entah mengapa, meskipun Clara ini adalah orang yang baru aku kenal beberapa hari yang lalu. Itu pun karena ia mengontrak di rumah yang berada tepat di depan rumahku, aku merasa ada keterikatan emosional dengan keluarga perempuan muda ini. Terutama dengan anaknya yang masih kecil, Riki.


"Clara!!!" ujarku setelah beberapa detik kami berdua terdiam seribu bahasa.


"Iya, Mbak?" ujar Clara dengan rasa penasaran.


"Kamu kenal dengan pria yang bersama Pak RW kemarin sore?" Aku balik bertanya kepada perempuan di depanku.


Mata Clara tiba-tiba terbelalak. Sepertinya ia tidak menyangka aku akan mengutarakan pertanyaan itu. Selama beberapa detik ia terdiam. Aku sengaja tetap menatap lekat wajahnya agar bisa mendapat jawaban darinya.


"Mbak ... saya pamit pulang dulu, ya?" cetus Clara kemudian. Sudah kuduga ia akan mengalihkan pembicaraan kalau aku menanyakan hal itu.


"Apa ke depannya saya masih harus percaya sama kamu, Clar? Sedangkan kamu tidak mau menjawab pertanyaanku?" Aku berkata dengan nada sengaja ditinggikan.


"Mbak Sin!!!" pekik Clara seolah tidak menyangka perempuan di depannya bisa berbicara setegas itu.


Aku tetap menatap mata Clara dengan raut wajah serius. Kali ini aku yakin Clara tidak bisa berkelit lagi.


"Di-di-a itu bapak angkat saya, Mbak!" jawab Clara dengan suara pelan.


"Nah, begitu dong. Emangnya kenapa kamu harus menyembunyikan hal itu? Bukankah bapak angkat itu orang tua kamu juga?" Aku menimpali jawabannya.


"Saya pamit pulang dulu, Mbak!" ucap

__ADS_1


jawab Clara kemudian. Kemudian ia berlalu pergi meninggalkan rumahku dengan raut wajah yang kurang enak dipandang mata. Hal itu menghadirkan sejuta pertanyaan di otakku. Apa sebenarnya yang terjadi dengan Clara? Kenapa ia seperti tidak suka disinggung tentang bapak angkatnya itu?


*


"Buuu ...," panggil anakku menjelang siang.


"Ya, Nak!" jawabku sambil berlari ke arahnya.


"Saya lapar sekali, Bu. Mau makan," jawab Nur sambil bangkit dari pembaringan.


"Pelan-Pelan, Nak. Badanmu masih kurang begitu fit," ujarku lagi.


"Tidak, Bu. Badan saya sudah enakan kayaknya," jawab anak itu


"Oh ya? Kamu yakin, Nak?" tanyaku tidak percaya, karena beberapa jam yang lalu ia masih mengeluh sakit.


"Yakin, Bu. Masa Nur bohong sama Ibu?" jawabnya lagi.


"Ya sudah, biar ibu ambilkan saja makan siangmu ke sini, takutnya kamu malah oleng nanti," ujarku sambil berlalu meninggalkan anakku tercenung di kamarnya.


Aku bergegas mengambil makan siang untuknya. Bubur ayam saja karena aku takut lambungnya masih bermasalah.


"Loh kok bubur ayam, Bu? Saya mau makan nasi putih saja. Mana bisa kenyang kalau Nur hanya makan bubur ini?" protes anakku.


"Apa kata ibu dah!" jawab Nur sambil menggerutu.


Tak sampai lima menit, bubur ayam itu ludes dilahap oleh anakku tersebut.


"Kayak orang sehat saja kamu, Nak?" cetusku.


"Nur emang sudah sehat, Bu." jawab Nur pelan sambil menggerutu.


Aku tidak menggubris protes anak tersebut. Biarlah tidak kuturuti keinginannya dulu, toh ini juga demi kebaikannya juga.


TOK TOK TOK


"Assalamualaikum ...," suara seorang perempuan dari balik pintu.


"Waalaikumsalam ...," jawabku sambil bergegas menuju pintu.


"Alhamdulillah ... akhirnya samoean datang, Bu. Sudah saya tungguin dari tadi," sapaku pada perempuan yang baru datang tersebut.


"Maaf, ya, Mbak Sin. Saya datang agak siang karena masih ada tugas dari atasan. Jagain pasien di kamar isolasi," jawab Bu Rini.

__ADS_1


"Kok pake diisolasi segala, Mbak. Apa penyakitnya berbahaya gitu?" tanyaku dengan kepo.


"Iya, Mbak. Ada pasien baru datang dari luar negeri. Sengaja kami taruh di kamar isolasi, takut membawa virus berbahaya dari luar negeri, Mbak," jawab Bu Rini.


"Ooo begitu. Nggak apa-apa kok, Bu. Bu Rini menyempatkan hadir ke sini, kami sudah senang," jawabku.


"Pasti saya datang, Mbak. Ini kan juga sebagai balas budi saya untuk keluarga Mas Diki. Kalau dulu tidak dibantu Yu Darmi sama Mas Diki, mungkin saya nggak bisa jadi seperti sekarang, Mbak!" jawab Bu Rini.


"Ah, Bu Rini ini nggak usah ngomong begitu. Kita ini kan hanya melanjutkan silaturahmi antara orang tua kita saja. Almarhum Ayah Bu Rini dan almarhum ayahnya Mas Diki kan dulu bersahabat. Ya, sudah sewajarnya kita sebagai keturunannya melanjutkan persahabatan itu," jawabku menimpali.


"Iya, benar Mbak. Oh, ya dimana si Nur sekarang. Biar langsung saya periksa keadaannya!" ujar Bu Rini kemudian.


"Eh, iya. Keasyikan ngobrol sampai lupa. Nur sedang tiduran di kamarnya, Bu. Tadi malam badannya panas sekali. Saking panasnya, ia sampai mengigau. Kemarin-Kemarinnya dia sangat sibuk di sekolah dan kemarin sore kayaknya dia makan makanan pedas, Bu." Aku bertutur pada Bu Rini sambil melangkah menuju kamar anakku.


"Duh, masih suka makanan pedas anak itu, Mbak? Padahal, dulu waktu lambungnya kambuh, ia sudah saya ingatkan untuk tidak terlalu banyak mengkonsumsi makanan pedas," ujar Bu Rini.


"Hm, kalau nggak pedas, anak itu makannya nggak lahap, Bu. Tadi malam langsung saya kompres dia, Bu. Alhamdulillah panasnya perlahan turun. Tadi pagi badannya masih anget, tapi anehnya barusan ini dia sudah merasa enakan." Aku bertutur lagi.


"Oh, ya?" Bu Rini agak terkejut dengan penjelasanku.


"Tapi, tetap diperiksa saja, Bu. Takutnya, itu hanya bersifat sementara saja," ucapku.


"Iya, benar, Mbak. Karena memang ada penyakit yang justeru masa kritisnya terjadi saat panas badan pasien turun," terang Bu Rini.


Akhirnya kami berdua pun sampai di depan kamar Nur. Aku yang berdiri di depan segera mendorong pintu kamar tersebut.


KRIEEEEET ...


"Nuuur! Tante Rini datang nih!" teriakku sambil membuka pintu kamar anak lelakiku tersebut.


"ASTAGA!!!"


Bersambung


Cukup segini dulu, Kak. Sekarang saatnya kakak menulis komentar. Kira-Kira, apa yang dilihat Sinta di dalam kamar anaknya?


Oh, ya. Sekedar mengingatkan juga. Bahwa novel cetak KAMPUNG HANTU sudah open po. Sudah banyak yang pesan, lo!



Cara mesannya begini ...


__ADS_1


Salam Seram Bahagia


__ADS_2