MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 19 :


__ADS_3

Jangan pelit-pelit dalam memberikan like dan komen, ya, Kak! Orang pelit kuburannya sempit, lo ... He he he ..


Bercanda


Langsung saja ke lanjutan ceritanya ...


Tengah malam aku kembali terbangun malam itu. Badanku remuk redam setelah mendaki gunung Himalaya bersama lelaki tercintaku, Mas Diki. Biasanya kalau terbangun tengah malam begini, kalau tidak karena ingin buang air, ya, karena kehausan. Tapi, saat itu aku terjaga karena keduanya. Seperti biasa, aku tak tega untuk membangunkan suamiku untuk menemaniku ke belakang. Biarlah rasa takut ini kupendam sendiri.


Kulangkahi tubuh Mas Diki secara perlahan. Aku pun melangkahkan kaki keluar dari kamar secara perlahan menuju ruang makan. Aku tidak mendengar apa-apa selain suara jangkrik dan kresek-kresek dari kamar anakku. Mungkin anak itu sedang mengubah posisi tidur.


"Syukurlah, ia tidak panas lagi kayak semalam,"


Setelah menenggak segelas air dari dispenser, haus di tenggorokanku pun sirna. Tinggal buang air kecil ke kamar mandi. Setelah meletakkan gelas yang sudah kupakai ke atas meja, aku pun melangkah ke pintu yang menghubungkan antara ruang makan dan dapur.


KRIEEEEET!


Suara derit engsel pintu yang baru saja kubuka.


GUBRAK!


Seekor tikus curut nampak berlari karena kaget tiba-tiba ada orang yang memergokinya.


"Duh, lewat mana tikus sialan itu, ya? Padahal semua lubang sudah kututup,"


Aku sengaja mengganjal pintu dengan sapu supaya tetap terbuka. Hal itu sudah menjadi kebiasaanku kalau pergi ke dapur dalam keadaan agak was-was. Pikirku, kalau terjadi apa-apa di dapur, misalnya tiba-tiba ada maling atau ada hantu muncul di depanku. Teriakanku bisa langsung terdengar oleh orang-orang yang berada di dalam rumah.


Aku melangkah secara perlahan menuju kamar mandi. Syukurlah, air di bak mandi sedang penuh, jadi aku tidak perlu menunggu untuk menyiram air kencingku sendiri.


Begitu selesai membersihkan diri, aku bergegas meninggalkan kamar mandi dan menutup pintu dapur. Lega rasanya kalau aku sudah selesai menutup pintu dapur begini. Akhirnya, aku selesai menuntaskan dua panggilan alamku, dan sekarang saatnya aku masuk ke kamarku kembali untuk melanjutkan tidurku. Bau bantal itu sudah tercium dari tempatku berdiri saat itu, padahal aku masih berada di luar kamar.


Aku sudah bersiap untuk masuk ke dalam kamarku sendiri saat itu, ketika tiba-tiba suara kresek-kresek itu kembali terdengar dari dalam kamar anakku.


"Itu suara apa sebenarnya sih, kok mulai tadi nggak berhenti-berhenti?" Aku bertanya pada diriku sendiri.


"Sebaiknya, aku tengok saja anakku. Siapa tahu ia sedang insomnia di kamarnya," pikirku.

__ADS_1


Secara perlahan aku pun melangkah menuju kamar anakku. Sesampai di depan pintu aku pun mendorong pintu itu ke dalam sambil memutar kenop pintu. Suara kresek-kresek itu semakin jelas terdengar. Dan ketika pintu itu terbuka secara penuh, aku dibuat terperangah dengan apa yang sedang terjadi di depanku.


Anakku Nur sedang melotot di atas tempat tidur. Tangannya menggapai-gapai ke arah samping dengan sangat lemah. Tangan kirinya hanya bisa menjangkau sprei yang sudah acak-acakan, sedangkan tangan kanannya berhasil menjangkau meja kecil di samping tempat tidurnya. Di atas meja itu terdapat kresek hitam pembungkus obat yang diberi oleh Bu Rini siang tadi. Tangan kanan Nur meremas-remas kresek hitam tersebut. Ia tidak punya tenaga lebih karena saking takutnya. Tepat di atas tubuh anakku sedang berdiri seonggok pocong tinggi besar dengan wujud yang sangat menyeramkan.


"Tidaaaaaakkkk!!!!!" teriakku dengan keras dengan penuh emosi melihat anakku yang sedang ketakutan setengah mati seperti itu.


Aku sudah tidak peduli dengan rasa takutku sendiri. Aku lebih takut terjadi apa-apa dengan anakku. Aku menjerit dan berlari ke arah anakku. Kuhantam dengan keras bagian bawah pocong yang tepat berada di atas perut anakku itu. Sayangnya, hantamanku mengenai ruang kosong. Pocong itu lenyap seketika.


"Toloooooong!!!!!! Maaaaaaaaasssss!!!" teriakku dengan keras sambil menangis memeluk anakku yang masih berada dalam ketakutannya. Tidak hanya Nur yang ketakutan saat itu. Aku juga ketakutan setengah mati.


"Maaaaaas !!! Maaaaaaaasss!!!" teriakku kembali dengan keras sambil menangis. Nur menangis di dekapanku.


"Buuu!!!! Buuuuu!!!! Ituuuuu!!!!" teriak Nur sambil menunjuk tempat di belakangku. Aku pun menoleh. Ternyata pocong itu kembali muncul di belakangku.


"Pergiiiii!!!!!!?" teriakku dengan sangat keras.


Tiba-Tiba ...


BRAAAAK!!!


"ADA APA? ADA APA?" teriak Mas Diki dari arah belakangku.


Aku dan Nur masih saling berangkulan. Aku menunjukkan telunjuk ke arah belakangku bermaksud memberi tahu kepada Mas Diki.


"A-a-ada p-p-pocong di belakangku!" teriakku pada suamiku.


"Mana pocongnya? Mana? Tidak ada pocong di sini!" teriak suamiku sambil bergerak ke sana ke mari dibelakangku.


Aku memberanikan diri untuk menoleh ke belakang.


"Barusan pocongnya ada di situ, Mas!" ucapku pada suamiku sambil menunjuk ruang di belakangku.


"Tidak ada apa-apa di situ, Dik. Mungkin kamu salah lihat saja," ujar suamiku.


"Tidak, Mas, saya tidak salah lihat. Mas bisa lihat kondisi Nur. Kalau seandainya saya datang terlambat ke sini. Anakmu ini bisa mati karena ketakutan. Bayangkan saja, pocong itu terbang tepat di atas tubuhnya," ucapku dengan nada emosional.

__ADS_1


"Benar begitu, Nur?" Mas Diki mengkroscek keteranganku kepada Nur.


"I-i-iya, Pak. T-t-adi p-p-pocong itu tiba-tiba muncul di atas saya. Nur takut, Pak!" jawab anakku dengan terbata-bata.


"Ada apa ini sebenarnya? Kok bisa ada pocong di rumah kita?" Mas Diki berkata pada kami berdua.


"Entahlah, Mas. Tadi malam Nur panas, dan siangnya ia sembuh secara ajaib . Dan malam ini tiba-tiba dia didatangi pocong. Sepertinya ada yang tidak beres ...." Aku menjawab juga dengan pertanyaan yang membingungkan.


Mas Diki mondar-mandir di sekitar kamar anakku. Ia memeriksa lemari, jendela, dan kolong tempat tidur. Namun, ia tidak menemukan apa-apa. Sedangkan aku memberikan anakku air minum yang ada di meja kamarnya. Kemudian Mas Diki bermaksud untuk keluar kamar ini. Mungkin untuk memeriksa ruangan yang lain.


"Stop, Mas. Jangan jauh-jauh dari kami. Takutnya pocong itu datang lagi mengganggu kami berdua," cetusku.


"Baiklah, saya akan berjaga di ruangan ini. Kalian berdua sebaiknya tidur kembali, biar saya yang bertugas menjaga kalian berdua." ujar Mas Diki


"Jangan, Mas! Nanti Mas Diki bisa sakit kalau harus begadang. Sebaiknya kita tidir bertiga saja di kamar ini. Saya tidir di sebelah dalam, Nur di tengah, dan Mas Diki di sebelah luar kasur. Jadi kalau ada apa-apa Mas Diki bisa menyelamatkan kami berdua," ucapku


"Baiklah, kalau begitu. Ayo kita segera tidur saja," jawab suamiku.


Kami pun memutuskan untuk tidur kembali karena mata kami sudah sangat mengantuk. Perasaanku sudah agak tenang karena ada Mas Diki di sebelahku. Nur, yang berada di antara badan kami berdua, nampak masih ketakutan.


Setelah beberapa menit ...


"Nur, kamu sudah tidur?" Aku bertanya pada Nur. Tapi, tidak ada jawaban. Pertanda ia sudah terlelap.


"Mas, kamu masih terjaga?" tanyaku pada suamiku. Tak ada jawaban, hanya terdengar suara dengkurannya yang berirama.


"Ya Tuhan, hanya aku yang masih belum bisa tidur," ucapku dalam hati.


Tiba-Tiba


BLEP!


Mati lampu.


Bersambung

__ADS_1


Ayo, tuliskan komentar kalian kalau tidak ingin ....


__ADS_2