
Bu Nisa melompat ke dalam pintu antar dimensi itu dengan perasaan yang tidak menentu. Ia tidak berani membuka matanya saat ia melompat ke dalamnya. Perempuan itu merasakan bahwa tubuhnya seperti melayang-layang di udara dan ia pun tak sanggup untuk membuka matanya karena takut. Ia hanya bisa menggapai-gapai tangannya karena ia merasa dengan cara itu ia dapat menyeimbangkan dirinya
Setelah melayang-layang selama beberapa detik akhirnya Bu Nisa merasa tubuhnya terhempas dan mendarat di suatu tempat. Perempuan itu tidak langsung membuka matanya karena takut. Yang ia lakukan saat itu hanya diam dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tiba-Tiba Bu Nisa mendengar suara dua orang remaja tanggung sedang bercengkrama.
“Laras, nanti kamu pulangnya ikut aku lagi, kan?” suara seorang remaja laki-laki.
“Emang boleh?” jawab seorang remaja perempuan.
“Ya, bolehlah. Emangnya kamu mau naik apa pulangnya kalau nggak ikut membonceng denganku?” ucap remaja pria itu lagi.
“Iya, Andi. Sepedaku rusak. Pakde masih belum ada waktu untuk memperbaikinya,” jawab remaja perempuan itu.
Bu Nisa yang mendengar suara percakapan itu pun sontak terkejut karena mendengar kata “Laras” dan “Andi” yang sedang diucapkan keduanya. Tiba-Tiba ia teringat dengan dua orang yang ia kenal yang berasal dari dusun Delima yaitu Ustad Andi dan Laras. Karena penasaran, ia pun memberanikan diri membuka matanya dan benar saja. Ia ternyata berada di sebuah sekolah setara sekolah menengah pertama yang memang menjadi tujuan utama anak-anak yang baru lulus SD di dusun Delima. Bu Nisa terkejut karena ia ternyata sekarang berada di parkiran sekolah tersebut. Ia terbaring di antara deretan sepeda pancal milik anak-anak yang sekolah di tempat tersebut.
Bu Nisa pun mengintip sepasang remaja yang sedang berbincang-bincang itu. Dan ia pun terkejut karena dua oran remaja itu memang adalah Laras dan Ustad Andi di saat mereka masih menginjak usia remaja.
“Iya, ternyata itu mereka berdua, Laras dan Ustad Andi. Tapi, kenapa aku tiba-tiba ada di sini? Apa aku sedang bermimpi?” ucap Bu Nisa pada dirinya sendiri sambil mencubit lengannya sendiri.
“Aduh! Sakit!” pekik tertahan Bu Nisa sambil menutup mulutnya karena Laras dan Ustad Andi kecil sepertinya sedang mendengarkan pekikannya barusan.
“Sepertinya ada yang bersuara barusan, Andi?” tanya Laras kecil sambil mencoba mengedarkan pandangannya ke sekeliling parkiran.
“Iya, aku juga mendengarnya barusan, Laras. Tapi, di mana, ya?” sahut Ustad Andi kecil sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu juga.
Bu Nisa makin meringkuk di tempat persembunyiannya karena ia takut kalau mereka berdua mengetahui keberadaannya, maka akan mengaibatkan peristiwa buruk akan terjadi. Bu Nisa masih bingung dengan peristiwa yang sedang ia alami sekarang.
Setelah dicari-cari tidak ketemu juga sosok yang dicari, Laras dan Ustad Andi kecil pun melanjutkan obrolannya.
“Laras, setelah lulus dari sekolah ini, kamu akan meneruskan ke mana?” tanya Ustad Andi kecil lagi pada perempuan di depannya.
“Hm … Kamu sendiri mau melanjutkan ke mana, Andi?” tanya Laras balik sambil menyungging senyuman.
“Kalau aku kayaknya mau melanjutkan ke Madrasah ALiyah, Laras. Aku ingin memperdalam ilmu agama di madrasah aliyah nanti,” jawab Ustad Andi kecil dengan seriusnya.
Laras kecil menatap kagum pada sok pemuda tampan di depannya. Sulit sekali menyangkal bahwa Laras memiliki perasaan khusus terhadap pemuda itu. Bu Nisa yang sedang mengintip mereka pun menangkap sinyal-sinyal asmara di antara mereka berdua.
__ADS_1
“Hm … berarti Laras dan Ustad Andi itu dulu saling menyukai, ya? Sayangnya mereka berdua tidak berjodoh,” ucap Bu Nisa di dalam hati sambil tetap mengintip mereka berdua dengan lebih berhati-hati.
“Kamu, Laras, mau melanjutkan ke mana setelah lulus dari sekolah ini?” tanya Ustad Andi kecil dengan serius.
“Hm … kayaknya aku mau melanjutkan ke Sekolah Kejuruan, Andi. Aku ingin jadi menjadi wirausahawan, ya kalau bisa sih jadi desainer juga. Aku kan suka dunia fashion, Andi,” jawab Laras dengan malu-malu.
“Wah, itu cita-cita yang bagus, Laras. Kalau diperhatikan kamu juga berbakat di dunia fashion. Kamu kan cantik,” jawab Ustad Andi kecil secara spontan.
“Apa, Ndi? AKu nggak salah dengar, kan?” tegur Laras.
“Eh .. maksud aku itu kalau desainer sama dunia fashion itu kan biasanya good looking gitu,” jawab Ustad Andi kecil dengan terbata-bata.
“Oooohhhh … ngak juga sih, Ndi. Menurut aku yang penting itu semangat dan kreaifitas. Good looking aja mah tanpa attitude yang bagus juga percuma. Lagipula semua orang itu bisa good looking, ok. Tergantung dia mau berusaha merawat dirinya apa tidak. Kalau mandi aja jarang, gimana mau cakep?” ucap Laras dengan renyahnya.
“He he he he … bisa saja kamu, Laras!” jawab Ustad Andi kecil.
“Hm … Memangnya aku ngobrol sama kamu begini nggak ada yang cemburu, Andi?” tanya Laras dengan polosnya.
“Eh, nggak ada kok, Laras. Aku kan nggak punya pacar. Emangnya kamu yang banyak fansnya?” jawab Ustad Andi kecil.
Ustad Andi kecil tertegun sesaat ketika mendengar penjelasan Laras yang cukup panjang. Entah kenapa ia merasa sepertinya ucapan Laras sedang ditujukan kepadanya.
“Hei, kam kok ngelamun, Ndi?” tegur Laras.
“Eh, maaf. Hm … aku sedan mikir sesuatu,” kilah Ustad Andi kecil berbohong.
“Kamu mikir apaan sih, Ndi?” tanya Laras.
“Aku mikir ujian nanti, Laras. Aku takut nilaiku nggak bagus. Mana bisa aku masuk ke Madrasah Aliyah Negeri kalau nilaiku pas-pasan. Terutama nilai matematika yang aku khawatirkan,” jawab Ustad Andi kecil.
“Ah, gampang. Ntar kita belajar bareng saja. Aku siap ajarin kamu pelajaran matematika, tapi ada syaratnya,” jawab Laras kecil.
“Apa syaratnya, Laras?” tanya Ustad Andi kecil.
“Ajarin aku pelajaran agama juga dong! Terutama bahasa Arab. Huh, gedeg aku sama pelajaran itu,” jawab Laras serius.
__ADS_1
“Siap, kalau itu mah gampang,” jawab Ustad Andi kecil.
“Oke, deh. Ayo kita masuk kelas dulu ntar malah terlambat. Jam pertama aku pelajaran bahasa Arab, nih!” jawab Laras kecil.
“Ayo!” jawab Ustad Andi kecil.
Mereka berdua pun melangkah meninggalkan parkiran dan menuju ke kelas masing-masing. Bu Nisa memantau pergerakan mereka berdua yang semakin menjauh.
“Andi, kamu masuk kelas dulu, ya? Aku bali ke parkiran untuk mengerjakan sesuatu,” ucap Laras sambil menghentikan langkahnya.
“Oke!” jawab Ustad Andi kecil.
Bu Nisa yang merasa sudah aman pun berniat untuk keluar dari tempat persembunyiannya dan pergi dari tempat itu karena ia pusing dengan yang sedang ia hadapi sekarang. Namun, saat ia akan bangkit dari tempat persembunyiannya, tiba-tiba ada yang memegangi pundaknya. Bu Nisa pun menoleh secara refleks.
“Mau ke mana, Bu Nisa?” ucap seseorang dari belakang Bu Nisa.
“La-Laraaaaas!!” sahut Bu Nisa terbata-bata karena ia terkejut dengan kemunculan sosok Laras kecil belakangnya padahal ia yakin Laras kecil sudah pergi meninggalkan tempat tersebut.
“Kenapa kamu takut, Bu Nisa? Apa karena kamu tidak mengenaliku? Bagaimana kalau begini?” jawab Laras kecil yang secara perlahan merubah tampilan fisiknya menjadi Laras dewasa dan terakhir berubah menjadi sosok pocong yang sangat menyeramkan.
“Po-pocooooong!!!” Bu Nisa pun berteriak sambil berlari meninggalkan pocong Laras yang terus saja mengejarnya.
Bu Nisa terengah-engah berlari dari kejaran pocong Laras. Entah kenapa ia justeru masuk ke dalam area halaman sekolah dan pocong Laras masih saja mengejarnya dengan tampilan yang sangat menyeramkan. Anehnya lagi orang-orang yang melihat Bu Nisa dikejar pocong Laras bukannya membantu malah mentertawakan Bu Nisa. Bu Nisa bingung sekali dengan keadaan itu. Ia menoleh ke sana ke mari untuk mencari pertolongan. Sementara pocong Laras masih saja mengejarnya. Hingga akhirnya, Bu Nisa melihat ada pintu kantor yang sedang terbuka di pojok halaman sekolah. Bu Nisa berpikir dengan lari ke kantor itu maka guru-guru yang berada di sana akan menolongnya.
“Mau ke mana kamu, Bu Nisa? Ayo, aku akan membunuhmu!” teriak pocong Laras membuat nyali Bu Nisa semakin ciut.
Bu Nisa tanpa babibu langsung saja berlari ke arah pint kantor yang sedang terbuka itu. Pocong Laras terus saja mengejarnya dari belakang dan jarak keduanya sudah semakin dekat saja.
“Toloooooooong!!!” teriak Bu Nisa sambil berlari ke dalam pintu kantor.
Hampir saja pocong Laras menjangkaunya. Untunglah Bu Nisa buru-buru masuk dan menutup pintu dari dalam.
BERSAMBUNG
Waktu ikutan kuis novel KAMPUNG hantu semakin dekat. Caranya like dan tulis komentar di setiap bab novel KAMPUNG HANTU.
__ADS_1