MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 31 : CANTIK


__ADS_3

Pak Salihun dan Pak Ratno menjadi panik seketika berada di dalam posisi tersebut.


“Hun … kayaknya hantunya ngikutin kita ke sini. Kalau tahu bakalan begini, lebih baik tadi aku lari ke rumah saja,” ujar Pak Ratno dengan terbata-bata.


“Iya, Rat. Aku juga nggak tahu kalau hantunya bakalan ngejar kita ke sini. Gimana ini, Rat? Aku tidak tahu caranya menghadapi hantu. Apa kamu punya penangkalnya?” ujar Pak Salihun.


“Hun, kamu ingat nggak omongan si Yanto teman kita mengaji dulu?” ucap Pak Ratno mengingatkan Pak Salihun pada masa kecil mereka berdua.


“Si Yanto teman kita yang sok supranatural itu?” tanya Pak Salihun.


“Iya\, benar\, Hun. Dia dulu pernah bilang katanya hantu itu bakalan lari kalau melihat manusia t*lanjang b*l*t\,” jawab Pak Ratno dengan berbisik.


“Hah? Omongan Yanto kamu percaya, Rat. Dia itu tukang ngibul. Uang SPP saja dikorupsi sama dia,” jawab Pak Salihun membantah.


“Apa kamu punya cara lain yang lebih jitu, Hun?” tanya Pak Ratno.


“Ti-tidak, aku tidak punya pengalaman dalam hal ini, Rat. Ya Tuhan!” pekik Pak Salihun.


“Kenapa, Hun?” tanya Pak Ratno.


“Hantunya sekarang menunduk, Rat. Kayaknya dia mau menggigit lehermu,” jawab Pak Salihun sambil meringis.


“Ya Tuhan! Kita harus cepat bertindak, Hun! Aku tidak mau mati konyol dimakan hantu penghisap darah atau hantu apalah ini. Apa yang harus kita lakukan sekarang, Hun?” pekik Pak Ratno dengan nada panik namun ditahan karena sejak tadi kedua pria itu memang saling berbincang dengan cara sedikit berbisik.


“Sepertinya kita tidak punya pilihan lain sekarang, Rat. Kita ikuti cara Yanto,” jawab Pak Salihun dengan nada terpaksa.


Sejak dulu memang Pak Salihun tidak pernah akur dengan teman mereka yang bernama Yanto. Baginya, Yanto itu anak yang aneh dan sering menyesatkan. Tapi, dalam kondisi terdesak seperti ini, sepertinya ia harus mengalah dengan prinsipnya.


Sementara itu sosok perempuan di belakang Pak Ratno kali ini sudah menunduk. Pak Ratno dan Pak Salihun mulai memantapkan niat untuk melakukan hal yang memalukan itu.


“Ayo, kita lakukan bareng-bareng, Rat!” ajak Pak Salihun.


“Iya, Hun. Kamu yang hitung, ya?” ujar Pak Ratno.


“Sa-tu … du-a … ti-ga …,” Pak Salihun mulai menghitung dengan suara agak dikeraskan.


Pada hitungan ketiga, Pak Salihun dan Pak Ratno pun secara bersamaan membuka pakaian bagian atasnya.


“Rasakan ini SIALAN!!!” pekik Pak Salihun sambil berdiri menghadap sosok perempuan misterius itu.


“Enyah kau sekarang!!!” pekik Pak Ratno tidak kalah keras sambil berdiri dan membalikkan badan untuk menghadap sosok perempuan misterius di belakangnya.


Selama beberapa detik waktu seakan berhenti berputar. Pak Salihun dan Pak Ratno kali ini saling bertatapan dengan sosok perempuan misterius tersebut. Ketiga orang itu sama-sama melotot matanya terutama Pak Salihun dan Pak Ratno. Mereka benar-benar tidak menyangka atas apa yang sedang ada di hadapan mereka sekarang.

__ADS_1


“Wuaaaaaaaaa!!!” sosok perempuan itu menjerit dengan keras dan memalingkan wajahnya ke belakang begitu melihat kedua pria tua di depannya sedang melakukan aksi yang tidak senonoh tepat di hadapannya.


“Jamila!!!” pekik tertahan Pak Ratno dan Pak Salihun secara bersamaan begitu mereka mengetahui bahwa perempuan yang sejak tadi mereka curigai sebagai hantu tenyata adalah Jamila, janda cantik yang berprofesi sebagai kuli tandur di dusun Delima.


“Ya Allah! Maaf, Jamila. Kami kira kamu hantu!” ujar Pak Salihun sambil memasang kembali baju atasannya.


“M-maaf, Jamila! Kami tiak bermaksud kurang ajar kepada kamu!” ujar Pak Ratno sambil memasang kemejanya kembali


“Kalian ini apa-apaan, sih, pake buka baju segala? Dasar orang tua mesum kalian ini!” teriak Jamila dengan marah dan tetap membelakangi kedua pria itu.


“Tidak, Jamila. Kami tidak seperti yang kamu kira. Tadi itu kami berdua mengira kamu ini hantu yang akan menggigit darah kami,” jawab Pak Ratno.


“Alasan! Masa aku cantik-cantik begini dikira hantu!” gerutu Jamila semakin marah.


“Bukan begitu, Jamila! Kamu kan munculnya mendadak di belakang kami, jadi kami nggak bisa melihat kamu. Kalau kamu muncul di depan kami, ya kami pasti bisa melihat kecantikan kamu yang tiada bandingnya itu,” jawab Pak Salihun sambil merayu.


“Yakin, kalian nggak bohong?” tanya Jamila lagi.


“Enggak, Jamila. Kami berdua ini mana pernah berbohong apalagi kepada perempuan paling cantik di dusun Delima ini,” sahut Pak Ratno dengan membual juga.


“Ah, gombal kalian ini. Yang paling cantik di dusun ini kan Bu Dewi, istrinya Pak Herman, calon-“ jawab Jamila.


“Calon apa, Jamila?” tanya Pak Salihun penasaran.


“Calon imamku, dong!” jawab Jamila sambil cengengesan.


“Jangan dong, Pak! Ntar, aku nggak dikasih sedekah lagi sama Bu Dewi. Aku barusan hanya bercanda, kok! Lagipula, Pak Herman itu mah bukan tipeku,” jawab Jamila dengan kenesnya.


“Hm … Emangnya Jamila suka pria yang seperti apa?” tanya Pak Ratno penasaran.


Pak Salihun yang berada di depan Pak Ratno langsung mendorong kepala temannya itu ke belakang sebagai eksresi gemasnya atas keberanian Pak Ratno. Pak Ratno hanya senyum-senyum saja menanggapi hal itu.


“Hm … Yang pertama tentunya harus sayang sama si Bunbun, anakku. Yang kedua ant kekerasan dalam rumah tangga. Ketiga, aku sih suka yang lebih dewasa dari Pak Herman. Yang lebih cekatan kalau kerja di sawah. Soalnya kan aku ini pekerjaannya tukangtandur paling cekatan di dusun Delima ini. Kalau suamiku nanti juga cekatan bekera di sawah, kami kan bisa saling bekerja sama untuk memajukan pertanian di dusun Delima ini,” jawab Jamila dengan polosnya.


Pak Salihun dan Pak Ratno saling bertatapan dan manggut-manggut dengan jawaban Jamila.


“Hm … kalau calon suamimu sudah punya anak cucu, bagaimana?” tanya Pak Salihun.


Jamila terdiam sejenak. Kemudian ia pun berkata.


“Selagi ada restu dari anak-anaknya, aku sih oke-oke saja,” jawab Jamila dengan polosnya.


Kedua pria tua itu pun tersenyum bahagia dengan jawaban Jamila.

__ADS_1


“Oh ya, kamu ngapain mendatangi kami berdua, Jamila?” tanya Pak Salihun.


“Kalian sudah pakai pakain lagi, kan?” tanya Jamila.


“Sudah,” jawab mereka berdua.


“Beneran?” tanya Jamila lagi.


“Beneran,” jawab Pak Salihun.


Jamila pun membalikkan badannya menghadap kedua pria tua itu. Pak Salihun dan Pak Ratno menatap wajah janda cantik itu dengan perasaan takjub.


“Tadi aku kan berangkat mau tandur di sawah Pak Dibyo. Nah, aku kelupaan membawa kencah. Kebetulan dari jauh aku melihat kalian berdua makanya aku mau pinjam kalau ada,” jawab Jamila kemudian.


“Oooo … Kencah yang kemarin kau taruh di mana, Rat?” tanya Pak Salihun.


“Kayaknya ditaruh di pondok itu,” jawab Pak Ratno.


“Alhamdulillah ada, Jamila. Aku ambilkan, ya?” ucap Pak Salihun dengan nada manis.


“Nggak usah repot-repot, Pak. Biar aku ambil sendiri. Di Pondok itu, kan?” ujar Jamila.


“Iya, di situ. Nggak apa-apa biar aku ambilkan,” jawab Pak Salihun.


“Nggak usah, Pak. Biar aku ambil sendiri saja. Terima kasih banyak, ya,” jawab Jamila sambil berjalan mendekati pondok di galengan sawah Pak Herman.


“Baiklah, kalau begitu. Nanti nggak usah dikembalikan, biar-“ jawab Pak Salihun.


“Biar aku yang menjemput ke rumah Jamila,” potong Pak Ratno tak mau kalah.


“Baiklah, Pak. Makasih banyak, ya?” ujar Jamila sambil berlalu pergi.


“Sialan kamu, Rat. Asal nyelonong saja!” protes Pak Salihun kesal.


“Kita bersaing secara sehat, Bro!” jawab Pak Ratno.


“Ngomong-Ngomong kenapa budeg-mu mendadak sembuh kalau ada Jamila?” tanyaPak Salihun keheranan.


“Hm … Yang budeg siapa, Hun?” protes Pak Salihun.


“Maksudku kok kamu fokus banget dengan omongan Jamila?” jawab Pak Salihun sengaja dipelankan.


“Apa???” tanya Pak Ratno tidak jelas.

__ADS_1


Pak Salihun meninggalkan Pak Ratno tanpa menjawab pertanyaannya. Ia benar-benar kesal dengan temannya itu dan kali ini ia tidak peduli dengan kebingungannnya. Perasaan cemburu kepada temannya itu telah membuatnya sekesal itu.


BERSAMBUNG


__ADS_2