
Aku menimbang-menimbang apakah akan membalas pesan Pak RT atau tidak. Kalau aku membalas ntar dikiranya aku merespons perbuatannya. Kalau aku tidak membalas aku juga merasa tidak enak karena baru tadi pagi aku dan Mbak Ning meminta tolong kepadanya dan ia pun dengan senang hati membantu.
"Oke, aku akan membalasnya. Tapi, balasnya nanti saja karena kalau langsung aku balas takutnya orang ini mengira aku senang mendapat WA darinya," pikirku di dalam hati.
Namun, baru saja aku akan menutup Ponselku untuk memberi jedah waktu membalas pesan itu, tiba-tiba Pak RT mengirim pesan kedua.
"Kok hanya dibaca saja, tidak dibalas?" Isi pesan pria itu.
Duh, aku jadi nggak enak hati jadinya. Akhirnya aku pun membalas isi pesan dari Pak RT.
"Belum, Pak!" itulah balasan dariku.
Singkat memang karena aku tidak mau berpanjang lebar dengan pria satu ini. Aku sudah hapal tabiatnya sejak dulu. Ia orangnya selalu ngeselin dan tidak bikin nyaman makanya dulu aku lebih memilih menghindari pria itu. Ternyata sifatnya tidak banyak berubah sampai sekarang.
Drrrt ... Drrrt ...
"Kok, belum sih? ...," Itulah tulisan pop up yang masih terlihat di layar Ponsel yang sudah kuletakkan di atas dipan karena aku malas meladeni pria itu. Aku sengaja tidak membukanya karena pria itu akan terus nyerocos bila tidak segera kujawab pertanyaan darinya. Sialnya, Pak RT malah melakukan panggilan via WA selama beberapa kali. Aku sampai mematikan dering dan getar dari Ponselku agar tidak terganggu olehnya. Tidak cukup sampai di situ, karena tidak dijawab melalui panggilan WA, pria itu melakukan panggilan melalui saluran telepon biasa, tapi lagi-lagi tak kugubris.
Aku menarik napas panjang sambil merebahkan badanku di tempat tidur untuk sekedar beristirahat melepas lelah. Saat aku masih berada di kamar, aku mendengar Mbak Srintil dan Bu Dibyo pamit pulang ke Mbak Ning dan akan kembali setelah Asar. Lumayan lah, aku bisa tiduran sampai waktu Asar tiba.
Aku bangun dari tidurku ketika azan Asar berkumandang. Aku mengambil Ponsel yang sempat kututupi dengan bantal. Ya Tuhan ... ternyata pria itu sudah melakukan panggilan sebanyak dua puluh kali.
"GILA dia. Apa dia nggak mikir apa yang ia lakukan ini bisa berbahaya untuk rumah tanggaku dan juga rumah tangganya?" umpatku di dalam hati.
Mas Diki memang bukan orang yang kepo dengan apa yang dilakukan istrinya. Selama kami.menikah, ia tak sekali pun membuka isi Ponselku. Tapi, kalau pria ini selalu menghubungiku terus-terusan, bukan tidak mungkin suatu saat Mas Diki akan marah dan curiga yang enggak-enggak.
"Tolong jangan terus-terusan menghubungi. Saya butuh waktu untuk memeriksa videonya," Aku membalas isi pesannya yang cukup panjang. Di akhir jawaban, aku juga mengirimkan nomor Mbak Ning dengan maksud agar pria itu menghubungi Mbak Ning saja. Tapi, lagi-lagi aku kecewa karena pria ini malah membalas.
"Tidak, lebih enak WA sama Dik Sinta saja," jawabnya.
Fix. Aku harus memblokir nomornya segera setelah masalah CCTV ini selesai. Aku sudah benar-benar mangkel dengan tingkah lakunya yang kurang sopan. Saking mangkelnya, aku pun ingin segera memeriksa semua isi videonya.
"Aku harus mencicil menonton videonya agar semua masalahnya cepat clear," pikirku di dalam hati.
Aku pun segera menonton videonya selama satu jam yaitu dari waktu ke 00:00 hingga ke waktu 02:00 dan aku tidak menemukan kejanggalan sedikitpun.
__ADS_1
Tok ... Tok ... Tok ...
"Dik, nggak mau bangun? Sudah sore," teriak Mbak Ning dari balik pintu.
"Iya, Mbak. Ini saya sambil nyicil nonton videonya yang satu jam pertama," jawabku sambil membuka pintu kamar.
"Oh, ya ... Gimana? Apa ada sesuatu yang mencurigakan?" tanya Mbak Ning penasaran.
"Tidak ada, Mbak. Nanti kalau ada waktu senggang, saya akan menonton kelanjutannya sampai selesai," jawabku.
"Iya, Dik. Terima kasih banyak, ya? Mohon maaf sudah merepotkan sampean," ujar Mbak Ning
"Iya. Tidak apa-apa. Oh ya? Apakah Mbak Srintil dan Bu Dibyo sudah datang?" tanyaku.
"Belum, Dik. Palingan sebentar lagi mereka datang," jawab Mbak Ning.
"Ya sudah kalau begitu saya mau mandi dulu dan menunaikan salar Asar. Jadi pas mereka datang, saya audah rapi dan siap melanjutkan pekerjaan di dapur," jawabku.
"Iya, Dik. Oh ya, tadi pas kamu tidur ada tamu temannya ibu dan beberapa tetangga di sini," ujar Mbak Ning.
"Tidak, Dik. Saya kasihan sama kamu karena kamu tidurnya sambil mendengkur. Pastinya kamu kecapekan," jawab Mbak Ning.
"Oh ... kedengeran dengkuran saya, Mbak?" tanyaku.
"Iya, he he he ," jawab Mbak Ning sambil terkekeh.
"Hm ... Maaf ya, Mbak. Saya kecapekan sekali," jawabku.
"Iya. Tidak apa-apa. Oh ya? Temennya ibu itu kirim salam sama kamu," ujar Mbak Ning.
"Oh ya? Temennya Bude Yati yang mana itu kok kenal sama saya?" tanyaku penasaran.
"Kamu ingat sama teman ibu yang sering ke sini bawa anak kecil?" tanya Mbak Ning.
"Hm ... Yang pandai meramal itu, ya?" tanyaku.
__ADS_1
"Nah, iya benar. Anaknya sudah besar sekarang. Dia sekarang sudah buka praktek pengobatan alternatif di kecamatan sebelah," jawab Mbak Ning.
"Oh ya? Yah, emang itu sudah jadi kelebihan ibu itu. Dulu saja dia sering nebak-nebak kita, kan? He he he ...," ujarku.
"Iya. Dan tebakannya benar semua terutama dalam hal pacar. He he he ...," balas Mbak Ning.
"Teman ibu itu cerita kalau anaknya itu kayaknya mewarisi sifat ibunya, Dik. Bahkan kata ibunya, anaknya itu lebih peka dibanding ibunya," kata Mbak Ning.
"Loh, anaknya jadi peramal juga?" tanyaku.
"Tidak. Bukan begitu. Anaknya itu kan mondok agak lama gitu terus ya gitu sering dimintai orang untuk mengusir makhluk halus dan sebagainya," jawab Mbak Ning.
"Wah, hebat kalau begitu anaknya. Kirain sama kayak ibunya jadi tukang ramal?" balasku.
"Peramal terus maumu, Dik. Ya enggaklah, kemampuan istimewa tidak harus dimanfaatkan untuk meramal, kan?" protes Mbak Ning.
"Iya. Takutnya nanti malah banyak gadis yang minta diramalin sama anaknya ibu itu jadinya kalau dia jadi peramal," sahutku.
"Nah itu dia. Anak ibu itu membatasi pergaulannya dengan perempuan katanya. Anaknya lebih fokus untuk menolong orang-orang yang mengalami gangguan makhluk halus," jawab Mbak Ning.
"Ooooo begitu," sahutku.
"Ya sudah sana buruan mandi. Ntar keburu dicari Mbak Srintil kamu, Dik," ucap Mbak Ning.
"Iya, Mbak," jawabku.
Aku pun berjalan ke kamar mandi. Saat aku akan membuka pintu kamar mandi, tanpa sengaja ada seekor cicak jatuh ke bahuku.
"Astagfirullah!!" pekikku karena terkejut.
Kusingkirkan cicak itu dengan mengibaskan handuk ke bahuku. Setelah cicak itu pergi, aku sempat berpikir sejenak.
"Ada apa ini?"
BERSAMBUNG
__ADS_1
Masih ingat kan letak tombol like dan komentarnya?