MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 105 : STAY COOL


__ADS_3

Pak Ade, Revan, dan Bu Nisa berjalan dengan santai menuju pintu depan. Kali ini mereka sudah sampai di pintu depan dan saling berpandangan. Saat itu suasana di luar terlihat gelap dari bayangan di jendela yang tembus melalui tirai yang cukup tipis. Pak Ade menjinjitkan kakinya agar dapat meraih grendel yang ada di bagian atas pintu. Setelah berhasil memegangnya, ia pun menarik grendel itu.


“Sekarang pintunya sudah tidak dikunci. Kita akan bersiap untuk jalan-jalan, Revan. Kamu senang, kan?” ucap Pak Ade dengan nada suara sengaja dibuat lucu.


“I-iya, Pak!” sahut anak kecil itu mengikuti cara bicara bapaknya.


Pak Ade pun mencoba menarik gagang pintu dan ternyata pintunya masih terkunci.


“Loh, kok terkunci, ya?” ucap Pak Ade masih dengan ekspresi dibuat lucu.


“Duh, di mana kuncinya disimpan, ya? Apa dipegang Mas Jatmiko ya, Mas?” ucap Bu Nisa.


“Hm … bisa jadi. Tapi, kita coba cari dulu di sekitar ruang tamu ini. Barangkali kuncinya disimpan di sini,” jawab Pak Ade.


“Ayo, kita cari bareng-bareng!” jawab Bu Nisa sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang tamu.


Mereka bertiga pun mencari anak kunci di ruang tamu. Semua tempat tak luput dari mata mereka. Mulai dari bagian atas meja, kursi, kolong kursi dan juga atas nakas yang ada di ruang tamu tersebut.


“Ketemu!” pekik Bu Nisa sambil mengangkat sebuah anak kunci dari atas nakas.


Pak Ade dan Revan secara bersamaan menoleh ke arah perempuan itu. Mereka pun senang karena usaha mereka akhirnya membuahkan hasil.


“Ayo, Dik! Kita pasang kuncinya dan buka pintunya!” ucap Pak Ade.


“Ayo!”jawab Bu Nisa.


Kletek … Kletek …


Pak Ade pun membuka kunci pintu dan mencoba memutar gagang pintu, kemudian menarik gagang pintu tersebut.


Kriiiiiiiieeeeeet …


“Eh …,” desah Pak Ade saat ia berhasil membuka pintu. Tapi, ia menutup pintu itu kembali.


“Kenapa, Mas?” tanya Bu Nisa kebingungan.

__ADS_1


Pak Ade tidak langsung menjawab. Ia mengatur napasnya dulu karena ia baru saja terkejut saat membuka pintu. Ia merasakan hawa berbeda di luar rumah. Terlebih, pria itu tiba-tiba teringat dengan Laras. Untuk menetralisir keadaaan hatinya, ia pun memilih untuk menutup pintu itu kembali.


“Nggak apa-apa, Dik. Mas hanya ingat …,” jawab Pak Ade terbata-bata setelah berhasil menguasai dirinya kembali.


“Ingat apa, Mas?” tanya Bu Nisa dengan rasa penasaran tinggi.


Revan hanya memperhatikan perbincangan bapak dan ibunya sambil memegangi perutnya yang sakit.


“Ingat sama utang-utang mas, Dik,” jawab Pak Ade dengan nada bercanda.


“Ha ha ha … Aku pikir Mas Ade inget apaan, ternyata ingat sama utang. Ya udah nanti dibayari Mas biar nggak kepikiran,” jawab  Bu Nisa dengan terkekeh.


Sebenarnya Bu Nisa paham bahwa barusan Pak Ade ingat dengan arwah Laras makanya ia mengurungkan niatnya membuka pintu, tapi karena sudah tahu cara permainannya, maka perempuan itu pun mengikuti cara permainan suaminya. Toh, semua itu mereka lakukan demi keselamatan mereka semua.


“Iya, Dik. Oh ya, jadi nih jalan-jalannya?” tanya Pak Ade pada Revan.


Revan menatap wajah bapaknya dengan sedikit bengong.


“Ja-jadi dong, Pak! Ayo, buruan! AKu sudah nggak sabar, nih!” sahut Revan dengan enjoynya.


“Ayo, Pak!” ajak Revan.


“Iya,” sahut Pak Ade sambil menggandeng lengan anaknya di sebelah kanan dan lengan Bu Nisa di sebelah kiri.


Mereka bertiga saat itu terlihat kompak dan santai sekali keluar dari rumah Jatmiko. Kondisi lingkungan yang cukup gelap tidak menjadi penghalang bagi mereka bertiga untuk tetap santai dan cool. Pak Ade mengajak istri dan anaknya untuk berjalan menuju kamar mandi yang letaknya di sebelah timur rumah Jatmiko.


Awalnya mereka bertiga cukup pandai menguasai pikiran dan perasaan mereka agar tetap tenang dan tidak takut dengan siapapun. Namun, kondisi lingkungan yang gelap dan suara serangga malam membuat mereka bertiga lama-lama jengah juga. Rasa kekhawatiran atas arwah Laras yang mereka buang jauh-jauh itu pun perlahan menyeruak ke dalam pikiran dan perasaan mereka. Alhasil, mereka pun mendengar suara langkah terseret dari arah belakang mereka. Bu Nisa menggenggam erat-erat lengan Pak Ade sebagai tanda bahwa pikirannya saat itu mulai goyah dan ia mulai merasakan kehadiran sosok arwah Laras secara perlahan mendekati mereka.


“Mmaaaas!!!” suara Bu Nisa mulai merasa ngeri dan takut.


Pak Ade saat itu mulai panik karena istrinya sepertinya sudah mulai kehilangan konsentrasinya dan tentunya itu sangat membahayakan bagi mereka bertiga apabila keadaan itu tidak segera ia tangani.


“Mmmmaaaaas!!!” Bu Nisa semakin erat menggenggam lengan Pak Ade.


Pada saat itu Bu Nisa sudah merasakan bahwa arwah Laras saat itu sudah berada tepa di belakangnya. Namun, Pak Ade langsung melakukan sesuatu yang membuat Bu Nisa kembali berkonsentrasi.

__ADS_1


“Goyang sikuuuuut …. Goyang sikuuuuuut  …,” teriak Pak Ade dengan suara cukup lantang dan sengaja dibuat lucu.


Bu Nisa yang mendengar suara Pak Ade pun merasa geli karena suaminya menyanyikan lirik lagu yang sedang hits tersebut.


“Sikut kiri … Sikut Kanan …,” sahut Bu Nisa dengan nada dibuat lucu megikuti irama penyanyi aslinya.


Bayangan arwah Laras pun menghilang dari tempat tersebut setelah Bu Nisa tertawa terbahak-bahak karena memikirkan adegan lucu dalam video klip lagu bernuansa dangdut yang sedang mereka nyanyikan saat itu.


Setelah itu Pak Ade pun kembali menarik lengan istri dan anaknya untuk melangkah menuju kamar mandi menebus pekatnya malam saat itu.


“Revan, kita sudah sampai di kamar mandi. Kamu berani masuk dalam kamar mandi sendirian?” tanya Pak Ade pada Revan.


Revan hanya bengong saat itu karena bingung harus menjawab apa atas pertanyaan bapaknya.


“Jangan, Mas. Biar kita buka saja pintu kamar mandinya dan kita berjaga di dekat Revan,” jawab Bu Nisa memotong  perbincangan antara Revan dan Pak Ade.


“ Ya sudah kalau begitu. Ayo, Revan, buruan!” perintah Pak Ade.


“Iya, Pak!” sahut Revan.


Revan pun bergegas melepas celananya dan ia pun memposisikan diri di atas ******. Pak Ade dan Bu Nisa saat itu hanya bisa menutup hidung karena mereka sendiri yang memilih untuk menemani anak mereka yang akan membuang hajat.


“Pak! Bu! Maafkan Revan, ya!” ucap anak kecil itu.


“Nggak apa-apa, Nak. Kami fokus untuk buang air besar saja. Biar kami di sini menunggu kamu sambil nyanyi-nyanyi,” jawab Pak Ade.


Pak Ade dan Bu Nisa pun saling bersahutan menyanyikan lagu berirama dangdut dengan lirik yang agak lucu itu. Karena suara Pak Ade fals maka suara yang dihasilkan menjadi lucu dan mereka bertiga pun tertawa terbahak-bahak karenanya.


Setelah berkali-kali menyanyikan lagu yang sama, mereka bertiga pun mulai merasa jenuh dan bosan dengan lagu itu. Dan saat itu kembali mereka bisa merasakan betapa dingin dan gelapnya suasana diluar rumah Jatmiko. Ada suara kaki diseret yang semakin lama semakin jelas terdengar di telinga mereka bertiga. Suara sayup-sayup itulah yang membuat perasaan ketiga orang itu mulai terganggu.


“Paaak …,” panggil Revan.


“Kenapa, Revan?” tanya Pak Ade dengan cemas.


“A-aku takuuuut, Pak!” sahut Revan dengan wajah yang mulai kelihatan pucat.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2