MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 136 : KEMARAHAN


__ADS_3

Jamila yang sudah lama mengenal Minul pun merasa ada yang aneh dengan sikap Minul saat itu. Tidak biasanya Minul bersikap terlalu formal dan bahkan ada unsur keraguan untuk berbicara.


“Ada apa sih, Nul? Kamu kok kayak serius banget?” tanya Jamila dengan penuh rasa penasaran.


Minul mendongakkan wajahnya dan menatap sejenak ke arah Jamila. Tapi, kemudian ia menunduk lagi. Perempuan itu juga merapatkan tangannya ke tubuhnya seakan-akan ia sedang berusaha menguatkan mentalnya sendiri sebelum berbicara.


“Mil … jujur semalam aku nggak bisa tidur,” jawab Minul dengan sedikit terbata-bata.


“Nggak bisa tidur, emangnya kenapa? Banyak nyamuk di rumah kamu? Atau anakmu rewel?” tanya Jamila berusaha ingin tahu. Padahal tadi malam Jamila juga agak malam tidurnya.


“Yah, aku lagi banyak pikiran, Mil,” jawab Minul datar.


“Kalau boleh tahu kamu mikir apa? Bukan mikirin hutang, kan?” goda Jamila agar temannya itu tidak terlalu spaneng.


“Nggak, Mil. Alhmdulillah kalau masalah hutang peninggalan  mantan suami dulu sudah beres semua. Yah, aku cicil dikit-dikit dari sisa hasil bekerja di sawah,” jawab Minul dengan nada serius.


“Terus … Kalau bukan masalah hutang, kamu mikirin apa sampai kamu bersikap aneh begini?” desak Jamila lagi.


“Anu, Mil … aku mikirin dosa-dosa aku …,” jawab Minul pelan.


“Cie cie … yang lagi tobat. Keren nih! Tunggu … Jangan-Jangan kamu pagi-pagi ke sini mau pamit berangkat umroh, ya? Ayo Nul ajarin aku gimana caranya bisa umroh hanya berbekal bekerja menjadi kuli tandur di sawah. Aku kan juga mau. Asal bkan dengan cara ikut MLM, ya?” seru Jamila dengan penuh semangat.


“Bukan, Mil. Bukan itu maksudku!” sahut Minul masih dengan ekspresi wajah yang tegang tidak seperti biasanya.


“Lantas apa Mil?” tanya Jamila lagi.


“Maksud kedatanganku ke sini ingin meminta maaf kepada kamu atas semua kesalahanku selama ini padamu,” jawab Minul dengan perlahan.


“Iya, Nul. Sama-Sama. Aku juga minta maaf sama kamu atas kesalahank selama ini sama kamu. Namanya juga hidup pasti kita ada salah dan juga khilaf,” sahut Jamila.


“Tidak, Mil. Aku yang punya banyak salah sama kamu. Selama ini aku sering merebut apa yang seharusnya menjadi milikmu. Aku terlalu egois,” tutur Minul memulai pengungkapan kesalahannya.

__ADS_1


“Ya, nggak apa-apa, Nul. Namanya juga berteman,” jawab Jamila berusaha menetralisir.


“Aku sering berusaha memisahkan kamu sama Pak Ratno dan selalu merebut kesempatan kamu untuk bersama-sama dengan Pak Ratno,” lanjut Minul.


Jamila terdiam dan tidak bereaksi. Ia hanya menunggu temannya itu melanjutkan pembicaraanya karena ia sendiri memang merasa bahwa selama ini Minul memang selalu merebut kesempatannya berduaan dengan Pak Ratno.


“Mil, kamu masih ingat dengan kejadian sewaktu kamu mau mengembalikan kencah kepada Pak Ratno?” tutur Minul.


“Iya. Kenapa, Nul?” tanya Jamila.


“Pas di pertigaan di bawah rumpun pohon bambu itu kamu kan ketemu dengan hantu,” tutur Minul lagi.


“Iya. Kenapa?” Jamila mulai merasa ada yang tidak beres yang akan disampaikan oleh Minul.


“Itu bukan hantu beneran, Mil. Itu aku yang sedang menyamar menjadi hantu untuk menakutimu,” lanjut Minul dengan perlahan tetapi cukup jelas di telinga Jamila.


“Apa, Nul? Kamu ini tega banget ya sama aku?” Jamila berdiri dari duduknya dan mulai emosional menanggapi ucapan Minul.


“Iya, Mil. Aku minta maaf, Mil. Waktu itu aku emang ingin merebut kesempatan mengembalikan kencah itu kepada Pak Ratno makanya aku menggunakan segala cara agar bisa mengembalikan kencah itu kepada Pak Ratno. Sekarang aku sudah sadar, Mil, kalau apa yang aku lakukan itu salah!” ucap Minul sambil berusaha untuk meraih tangan Jamila untuk meminta maaf.


“Keteraluan kamu,Nul! Kamu sadar, nggak? Apa yang kamu lakukan itu bisa berakibat fatal buat aku? Kalau aku jantungan bagaimana? Siapa yang akan merawat Gio? Nggak ada, Nul? Si Bun-Bun itu sudah tidak diperdulikan lagi oleh ayah kandungnya. Hanya aku yang peduli padanya!” bentak Jamila dengan semakin emosional.


“Maafkan aku, Mil! Aku mengaku khilaf. Seharusnya aku tidak melakukan hal itu kepada kamu,” Minul masih berusaha untuk meraih tangan temannya itu untuk meminta maaf.


“Tidak, Nul! Sebaiknya kamu pergi sekarang! Toh, sekarang kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan, kan? Apa lagi yang kamu mau dari aku?” balas Jamila sambil meneteskan air matanya.


“Tidak, Mil! Tolong maafkan aku!” ucap Minul dengan memohon dan menangis karena Jamila belum bisa memaafkan kesalahannya.


“Sekarang kamu pergi dan jangan pernah ke sini lagi!  Anggap saja kita tidak pernah berteman baik sebelumnya!” teriak Jamila sambil berlalu masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Minul di beranda sendirian.


Brak!

__ADS_1


Suara keras yang dihasilkan oleh pintu saat dibanting oleh Jamila.


“Mil … maafkan aku!” Minul benar-benar merasa sedih dan bersalah karena telah membuat temannya tersebut kecewa.


Minul masih bersimpuh di balik pintu selama beberapa menit. Ia perlu menetralisir hatinya terlebih dahulu sebelum memilh untuk pulang ke rumahnya. Ia sadar bahwa Jamila masih  membutuhkan waktu untuk bisa memaafkan kesalahannya yang cukup fatal.


Akhirnya Minul harus pulang dengan perasaan sedih dan kecewa karena permintaan maafnya ditolak mentah-mentah oleh Jamila. Namun, ia belum mau berputus asa. Pada kesempatan lain ia akan meminta maaf kembali kepada Jamila jika watunya sudah tepat.


Sementara itu Jamila di dalam kamarnya menangis di balik bantal. Ia benar-benar kecewa dan marah karena temannya sendiri telah berbuat terlalu jahat kepadanya. Hal itu tidak hanya berisiko fatal untuk kesehatannya, tetapi karena kejadian itu ia sempat berburuk sangka terhadap Laras, keponakannya Bu Dewi. Ia pikir Laras lah yang telah menakut-nakutinya.


“Ibu kok nangis? Ada yang jahatin Ibu, ya? Bilang sama Gio ntar aku serang orang itu pake pedang super ini biar dia kapok dan tidak mengganggu Ibu lagi,” tanya Gio pada Jamila.


Jamila mengusap air matanya dan menjawab pertanyaan anak semata wayangnya itu.


“Tidak, Gio. IIbu nangis bukan karena disakiti orang. Ibu nangis karena kehilangan sesuatu,” jawab Jamila berbohong.


“Kehilangan apa, Ibu? Apa aku minta tolong sama detektif Upin untuk bantuin mencari barang Ibu yang hilang?” sahut Gio dengan tingkah lucunya.


Jamila tak kuasa menahan haru atas kepedulian anaknya itu. Ia pun memeluk erat tubuh kecil Gio.


“Nggak kok. Ibu hanya kehilangan sahabat …,” jawab Jamila sambil kembali menitikkan air matanya ketika menebutkan kata ’sahabat’.


“Apa sahabat itu, Bu? Apa sama kayak soto babat?” tanya Gio dengan polosnya.


Jamila semakin erat memeluk anaknya. Ada bagian hatinya yang tergores saat itu.


“Nanti kalau kamu sudah besar pasti tahu sahabat itu apa,” jawab Jamila secara perlahan.


BERSAMBUNG


Batas perlombaan untuk pembaca novel KAMPUNG HANTU adalah 2 Januari 2022. Besok jam 23.59 akan saya cek siapa yang sudah memberikan like dan komentar di setiap BAB novel tersebut. Hm ... kayaknya belum ada ya? akan dipilih 3 orang pemenang untuk mendapatkan hadiah pulsa 20 ribu rupiah.

__ADS_1


__ADS_2