MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 14 : TAK ENAK BADAN


__ADS_3

Sebelum membaca lanjutannya, silakan kakak baca episode sebelumnya lagi karena pada bagian terakhir episode sebelumnya ada yang kuedit soalnya ada yang kurang. Kalau tidak dibaca ulang ntar bisa salah paham.


Kalau sudah, jangan lupa untuk selalu like dan komen di setiap episode!


*


Aku paling jijik dengan yang namanya kecoak. Mau hidup mau mati aku tetap jijik. Makanya begitu melihat ada beberapa bangkai kecoak di atas piring, aku langsung memanggil Mas Diki untuk membuangnya ke saluran air.


"Sudah, Dik. Masa sama kecoak mati saja takut?" ejek Mas Diki.


"Bukan takut Mas, tapi jijik?" jawabku.


"Ngomong-Ngomong, kenapa kecoak mati itu bisa ada di tumpukan piring itu, ya?" tanya suamiku.


"Mana saya tahu, Mas. Kalau saya tahu, sudah tak suruh minggat dulu kecoak-kecoak itu sebelum mati," jawabku.


"Alah gayamu, Dik, mau ngusir kecoak hidup. Belum kamu usir, kecoaknya masuk ke bajumu duluan, piye?" ledek suamiku.


"Daripada kecoak yang masuk ke baju saya, mending yang lain saja, Mas," godaku dengan mata genit.


"Ooo ... awas habis ini kamu, ya, berani goda-goda mas!" bisik Mas Diki sambil berusaha memelukku.


"Aduh, Mas. Lepas! Saya mau nyuci piring!" Aku memberontak berusaha melepaskan cengkraman tangan Mas Diki sambil bersuara pelan, takut didengar anakku.


"Kalau mas nggak mau ngelepasin, kenapa? Biar kamu kapok goda-goda mas terus!" bisik suamiku lagi.


"Plis, Mas. Sakit banget dipeluk Mas Diki kayak gini. Masa Mas Diki tega nyakiti istrinya yang lagi nggak enak badan?" ucapku sambil mengingatkan suamiku kalau aku sedang tidak fit.


"Ups! Maaf, Mas lupa. Habisnya kamu godain mas kayak gitu," cetus suamiku sambil melepas pelukannya. Aku pun bisa bernapas dengan lega.


"Bu, teh angetnya sudah jadi belum?" Nur tiba-tiba muncul di dapur kecil kami. Untunglah Mas Diki melepas pelukannya lebih awal, kalau tidak, kami berdua bakal ketahuan oleh Nur.

__ADS_1


"Sebentar ya, Nur. Ibu masih mau nyuci piring dulu!" jawabku.


"Iya, Bu."


Nur membalik badan kembali menuju kamarnya. Terlihat raut mukanya yang kurang bersahabat. Mungkin tenggorokannya benar-benar neg.


Tanpa adanya kecoak-kecoak mati tadi, aku dapat menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat. Akhirnya, satu muk teh hangat sudah selesai kubuat dan kuantarkan ke anakku satu cangkir, sisanya untuk diminum aku dan Mas Diki.


"Makasih, ya, Bu." ucap Nur dengan segera menyeruput minuman yang kubawa.


*


"Ibu!!! Ibu!!!" Sayup-Sayup aku mendengar suara Nur dari kamar sebelah.


"Iya, Nur!!!!" Aku bergegas beranjak dari tempat tidurku menuju ke kamar anakku dengan perasaan was-was. Takut terjadi apa-apa dengan anakku.


Jam dinding di ruang tamu berbunyi sebanyak satu kali sebagai tanda bahwa saat itu sudah pukul satu dini hari. Pantas saja suasana sepi sekali. Tidak ada suara apa-apa yang terdengar dari luar. Mas Diki tertidur dengan nyenyaknya di dalam kamar. Ia tidak terbangun sedikit pun ketika aku melangkahi tubuhnya.


"Ibuuuu ... Ibu ...," suara panggilan anakku.


"Kamu kenapa, Nak?" Aku bertanya seraya melangkah mendekatinya dan meletakkan punggung tanganku di dahinya.


"Ya Allah!!! Badanmu panas sekali, Nak. Ibu kompres dulu, ya?" Ucapku sambil bergegas menuju ruang makan. Aku ingat di kulkas ada persediaan es batu. Aku sadar malam aku bisa saja mendapatkan gangguan makhluk halus seperti beberapa waktu yang lalu, tapi rasa takut terjadi apa-apa dengan anakku mengalahkan segalanya. Bahkan ketika aku berjalan ke ruang makan, aku sempat berkata pada diriku sendiri.


"Seandainya ada arwah yang tiba-tiba muncul di depanku pada saat seperti ini. Aku siap menerkamnya karena sudah menggangguku untuk mengobati anakku. Aku tidak perduli arwah itu kuat atau aku akan mati karenanya. Akan kulawan rasa takutku demi menyelamatkan anakku."


"Mas ... Mas ... Badannya Nur panas sekali!" teriakku sambil tetap mempersiapkan es batu ke dalam mangkuk besar.


Kunyalakan lampu ruang tamu seraya mengulangi panggilanku terhadap suamiku yang tak kunjung mendengar suaraku.


"Ah, dasar laki-laki! Bisanya cuma membuat anak saja. Kalau disuruh ngurusi anak nggak sanggup," Aku menggerutu di dalam hati.

__ADS_1


Nur masih menggigil di atas tempat tidurnya. Wajahnya terlihat menahan nyeri. Aku tak tega melihat anakku seperti itu. Aku pun segera mengambil sapu tangan di lemari Nur, kurendam sapu tangan berbahan kain handuk itu ke dalam baskom yang berisi air dicampur es batu. Kemudian kain itu kuperas dan kulipat, selanjutnya sapu tangan itu aku letakkan di kening anakku.


Baru semenit kain itu aku letakkan di keningnya, kain itu sudah kering kembali. Hal itu menandakan bahwa badan anakku itu benar-benar sedang panas tinggi. Aku pun segera merendam kembali kain itu ke dalam air baskom dan kuulangi lagi seperti tadi. Aku panik karena panas tubuh anakku tidak kunjung turun. Bahkan kali ini anakku itu mengigau.


"Jangan Tante .... Jangaaaaan!!!!" suara igauan Nur.


"Nur ... Nur ... Sadar, Nak. Ini aku ibumu!" Aku memukul-mukul pipi anakku karena takut anakku tersebut pingsan karena hal itu akan membahayakan jiwanya.


Dalam kondisi panik seperti itu, aku jadi ingat pesan guru ngajiku dulu bahwa dalam merawat orang sakit, harus diimbangi dengan membaca doa-doa dan sholawat. Aku pun mengompres kening Nur sambil membaca doa-doa dan sholawat. Seperti sebuah keajaiban, beberapa waktu kemudian Nur berhenti mengigau dan panas tubuhnya beranjak turun.


"Alhamdulillah ...," ucapku di dalam hati.


Nur perlahan-lahan tertidur kembali dan aku masih gelisah dengan kondisinya. Kalau aku harus kembali ke kamar, aku takut panas tubuh Nur naik kembali. Maka, aku memutuskan untuk menjaga anakku di kamarnya saja.


"Sebaiknya aku menutup pintu kamarnya, Nur. Takutnya ada nyamuk masuk dan mengganggu istirahatnya anakku. Dalam kondisi seperti ini, tentunya tidur terlelap sangat berarti baginya."


Aku melangkah ke pintu dan menutup pintu itu dari dalam. Kemudian, aku berjalan ke arah Nur untuk menggelar kasur cadangan di bawah.


Aku sudah hampir tertidur untuk menghilangkan rasa capek tubuh dan pikiranku, ketika tiba-tiba aku mendengar suara orang sedang berbicara di depan rumahku.


"Siapa tengah malam begini berbicara di depan rumah? Kalau dari suaranya, itu seperti suara Clara. Tapi ... dia sedang berbicara dengan siapa tengah malam begini?"


Mataku kembali terbuka karena rasa penasaran yang begitu kuat.


Bersambung


Terima kasih atas sambutan pembaca terhadap novel MARANTI ini. Komentar kakak selalu kutunggu, loh!


Yang nggak ngelike atau nggak mau nulis komentar entar tak laporin Bu Clara loh? Mau??????


He he he ...

__ADS_1


__ADS_2