MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
BAB 22 : MERAYU


__ADS_3

Aku tidak punya pilihan lain selain mengiyakan ajakan Pak RT tentunya nanti aku tidak akan pergi sendiri, melainkan aku akan mengajak Mas Diki untuk menemaniku. Dan Pak RT ternyata tidak keberatan dengan hal itu.


"Baguslah Dik Sinta kalau kamu juga turut mengajak pria yang pernah mematahkan hatiku itu," ujar Pak RT.


"Apaan sampean ini, Pak RT. Nggak usah ngomong kayak gitu. Kita ini sekarang sudah dewasa dan sudah sama-sama berkeluarga. Nggak pantas kita ngomong kayak gitu lagi," jawabku.


"Iya ... iya, Dik. Saya cuma bercanda, kok. Masa gitu saja Dik Sinta sudah marah. Jangan-Jangan malah Dik Sinta yang terbawa perasaan," ledek Pak RT.


"Loh! Sudah ... sudah ... saya mau salat Isya. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, kan?" potongku.


"Oke ... oke ... saya mohon maaf kalau terlalu lancang. Oke, besok jadi ya jam delapan pagi, ya? Saya tunggu kalian berdua di pertigaan besar di depan. Saya tadi tanya ke pedagang pulsa di depan, katanya memory di CCTV Pak Seno itu hanya mampu menyimpan sampai besok. Jadi, kalau kita tidak ketemu Pak Seno sampai besok, wassalam sudah," jawab Pak RT.


"Oke ... terima kasih," jawabku singkat.


"Assalamualaikum, Dik Sinta ...," sapanya.


"Waalaikumsalam," jawabku.


Aku menutup telepon sebelum Pak RT menutup teleponnya. Aku tidak biasa melakukannya untuk menjaga etika, tapi entah kenapa dengan Pak RT ini rasanya malas untuk berlama-lama menanggapinya.


Aku menghela napas panjang sambil berpikir bagaimana caranya untuk menyampaikan hal tersebut kepada Mas Diki? Apakah Mas Diki mau menemaniku esok hari untuk pergi ke rumah Pak Seno? Atau dia akan marah kepadaku? Aku bingung, tapi aku tidak punya pilihan lain selain menerima tawaran Pak RT karena aku ingin sekali mengetahui isi rekaman CCTV di rumah Pak Seno. Setelah bisa menenangkan diri, aku pun segera berwudhu dan menunaikan salat Isya di kamar.


Aku termenung di atas tempat tidur sambil memikirkan keadaan di rumah Mbak Ning. Aku pun segera mengirim WA ke Mbak Ning untuk mengetahui kondisi terbarunya.


"Assalamualaikum ... sudah selesai acaranya, Mbak?" Aku mengirim pesan.


Tak lama kemudian pesanku langsung dibaca dan Mbak Ning pun langsung membalasnya.


"Baru selesai, Dik. Ini orang-orang baru selesai beres-beres di dapur. Semua saya pasrahkan kepada Bu Dibyo dan Mbak Srintil untuk mengurus dapur. Mereka berdua baru pulang," balas Mbak Ning.


"Nggak bertengkar lagi mereka berdua, Mbak?" tanyaku.


"Tetap saja, Dik. Kayak Tom dan Jerry saja mereka itu. Entahlah, kalau minggu depan Mbak Srintil sudah ikut kamu, mungkin mereka berdua bisa saling kangen," balas Mbak Ning.


"Sudah Mbak Ning sampaikan pesan saya kepada Mbak Srintil?" tanyaku.


"Sudah," jawab Mbak Ning.


"Terus, gimana reaksinya Mbak Srintil? Apa dia mau menerima tawaran saya, Mbak?" tanyaku penasaran.


"Mbak Srintil senang sekali, Dik. Katanya untuk sementara anaknya akan diasuh oleh salah satu kerabatnya di sini. Nanti kalau Mbak Srintil sudah betah di sana, baru anaknya itu mau diajak tinggal di sana. Soalnya kan anaknya sudah sekolah di sini. Jadi, kepindahannya juga butuh proses," jawab Mbak Ning.

__ADS_1


"Iya, Mbak. Toh, nanti Mbak Srintil bisa libur hari Minggu, Mbak. Dia bisa pulang ke rumahnya di hari Minggu," balasku.


"Iya. Makasih banyak ya, Dik, atas bantuannya terhadap Mbak Srintil," balas Mbak Ning.


"Sama-Sama. Oh, ya, gimana keadaan Mbak Ning sekarang?" tanyaku.


"Alhamdulillah, setelah barusan saya minum obat, badan sudah mulai berkeringat. Kepala sudah tidak pusing lagi. Semoga besok saya sudah bisa sembuh, Dik," jawab Mbak Ning.


"Aaamiiin. Alhamdulillah kalau begitu, Mbak. Oh, ya, Mbak, tadi Pak RT nelpon saya. Dia ngajak saya ke rumah Pak Seno untuk meminta rekaman CCTV di rumah Pak Seno," balasku.


"Oh ya? Emangnya Pak Seno memasang CCTV di depan rumahnya? Bukankah rumahnya sudah lama tidak ditempati?" tanya Mbak Ning.


"Iya, Mbak. Katanya CCTV-nya masih aktif meskipun rumahnya tidak ditempati. Memang untuk keamanan," jawabku.


"Kapan kamu mau ke rumah Pak RT? Bareng siapa saja?" tanya Mbak Ning.


"Rencananya besok pagi, Mbak. Soalnya memory di CCTV-nya terbatas. Kalau sampai lusa, kemungkinan besar rekaman video pada saat malam itu sudah terhapus otomatis oleh sistem. Kemungkinan saya akan berangkat dengan Mas Diki. Soalnya saya juga bilang ke Pak RT kalau Mbak Ning sedang tidak enak badan makanya tidak bisa ikut," jawabku.


"Ya sebaiknya kamu memang berangkat bareng suamimu saja untuk menghindari fitnah," balas Mbak Ning.


"Oh ya, Mbak. Apa Mbak Srintil itu punya nomor Ponsel?" tanyaku.


"Nggak apa-apa, Mbak. Kirimkan saja nomornya biar enak kalau sewaktu-waktu saya mau menghubunginya," jawabku.


"Oke," jawab Mbak Ning.


Selanjutnya Mbak Ning mengirim kartu berisi nomor kontak Mbak Srintil. Aku langsung menyimpan nomor Mbak Srintil di Ponselku.


"Istirahat ya, Mbak. Biar lekas sembuh. Sepertinya Mas Diki sudah datang dari salat Isya. Assalamualaikum ...," pesan terakhir yang aku kirim ke Mbak Ning malam itu.


"Oke. Waalaikumsalam," balas Mbak Ning.


Aku pun menyambut kedatangan Mas Diki dan dengan membukakan pintu depan.


"Assalamualaikum," salam Mas Diki


"Waalaikumsalam," jawabku.


"Sudah salat, Dik?" tanya Mas Diki.


"Sudah, Mas," jawabku.

__ADS_1


Mas Diki pun meletakkan peci dan sajadah yang ia bawa di atas bufet. Nur langsung masuk ke kamarnya. Mungkin dia mau belajar atau mempersiapkan buku pelajaran yang akan dibawa besok ke sekolah. Setelahnya, Mas Diki duduk di atas kursi di depan televisi yang ia nyalakan. Aku duduk di sebelah Mas Diki.


"Mas, mau saya buatin teh atau kopi?" tanyaku mesra.


"Air putih saja, Dik. Nggak baik minum gula malam-malam, ntar diabetes," jawab Mas Diki.


"Oke, tunggu sebentar ya, Honey!" jawabku nakal sambil berjalan mengambilkan segelas air putih di meja makan.


Mas Diki nampak tersenyum mendengar panggilan nakalku itu.


"Ini, Mas, air putihnya." Aku berkata sambil meletakkan gelas berisi air putih itu di meja tepat di depan Mas Diki.


"Dik Sinta tumben baik, nih? Jangan-Jangan ada maunya?" tebak Mas Diki.


"Ah, Mas Diki kok bilang gitu, sih? Masa saya nggak boleh baik sama suami sendiri?" protesku.


"Ya, boleh, sih. Tapi, biasanya kalau sudah baik gini, endingnya nanti ada apa-apa, ya kan?" tebaknya lagi.


"Mas, kok tahu, sih?" gerutuku.


"Lah, beneran, kan? Kamu butuh apa, Sayang? Ayo, ngomong ke Mas," ujar Mas Diki mesra.


"Hm ... Anu, Mas. Besok habis mengantar Nur, Mas Diki bisa nggak nganterin saya?" tanyaku.


"Nganter ke mana, dik?" tanya Mas Diki.


"Itu, Mas. Jam delapanan saya ada janji sama seseorang. Tapi, saya tidak bisa berangkat sendiri. Saya butuh ditemani Mas diki. Bisa kan?" rayuku.


"Jam delapan? Hm ... Sepertinya saya kosong jam segitu, Dik. Habis Zuhur baru saya ada janjian dengan kolega baru. Okelah kalau jam delapan," jawab Mas Diki.


"Horeeeeeee ... Makasih, ya, Mas. Mas Diki sudah mau nganterin saya. Mas emang paling baik deh," jawabku sambil mencium pipi Mas Diki.


"Tapi, ada syaratnya loh!" jawab Mas Diki kemudian.


"Apa syaratnya, Mas?" Aku bertanya.


Mas Diki tiba-tiba mematikan televisi. Setelah itu ia mengunci pintu dan menutup korden.


"Duh, kalau sudah begini, aku jadi mengerti syarat yang ia ajukan," pikirku di dalam hati.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2