MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 9 : PAK HERMAN


__ADS_3

Setelah berhasil lolos dari kemacetan, Pak Herman pun menyuruh sopirnya untuk memacu mobil box-nya lebih cepat agar tidak terlalu malam sampai di rumah.


"Ngantuk, Jo?" tanya Pak Herman pada sang sopir.


"Enggak, Pak. Sebaiknya Bapak beristirahat saja! Nanti kalau sampai di gudang, saya bangunkan," jawab Parjo.


"Makasih, Jo. Tapi, kebetulan saya juga tidak mengantuk. Saya hanya kepikiran orang rumah. Di rumah ada yang meninggal, Jo," jawab Pak Herman sambil menatap lurus ke depan.


"Innalillahi wainnailaihi roojiuuun ... Siapa yang meninggal, Pak?" tanya Parjo kaget.


"Laras, Jo," jawab Pak Herman datar.


"La-ras? Kok namanya kayak nggak asing, ya?" tanya Parjo.


"Laras itu anak mantan asisten rumah tanggaku. Ibu kandungnya Panji," jawab Pak Herman lirih.


"Oooo ... Panji, anak angkat Pak Herman dan Bu Dewi, kan?" tanya parjo meyakinkan.


"Iya, Jo. Tapi Panji sekarang bukan anak angkat kami lagi. Anak lucu itu sudah seperti anak kami sendiri. Laras itu tidak punya keluarga lagi selain kami, Jo," jawab Pak Herman.


"Iya, Pak," jawab Parjo kalem.


Dalam hati Parjo benar-benar mengagumi kepribadian salah satu atasan di perusahaan tempat ia bekerja tersebut. Ia sudah mengenal Bu Dewi. Keduanya sama-sama orang baik. Ia sempat berpikir, kenapa Tuhan belum memberi mereka titipan anak padahal secara mental dan finansial, sepasang suami ialsteri tersebut secara kasat mata jauh di atas dirinya. Sedangkan dirinya yang gajinya pas-pasan saja sudah dikaruniai empat anak. Padahal ia dan istrinya baru saja menikah tujuh tahun. Untuk memenuhi kebutuhan anaknya saja ia sering kekurangan. Untunglah ada Pak Herman yang sering memberinya pinjaman uang.


"Sungguh, Tuhan itu maha mengatur segalanya. Manusia harus pandai-pandai bersyukur atas kehidupannya masing-masing." batin Parjo.


Sepanjang jalan Pak Herman terus saja memandangi jalan raya sambil mengingat-ingat kebersamaannya dengan isterinya yang sangat setia dan sabar mendampinginya. Pak Herman juga mengingat-ingat momen kebersamaannya dengan Panji. Anak itu benar-benar lucu dan langsung memikat hatinya meskipun baru sebulan tinggal di rumahnya. Selain itu, Pak Herman juga teringat dengan Laras. Mulai dari Laras masih kecil, remaja, hingga punya anak dan sakit-sakitan. Tak tega hati Pak Herman jika harus mengingat gadis malang itu.


Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba Pak Herman melihat Laras dengan pakaian serba putih dan wajah agak pucat sudah berada di tengah jalan dan menghadang truk yang mereka naiki.


"Laraaaaaaaaaas!!!!!" teriak Pak Herman berusaha menyadarkan Laras agar tidak melakukan hal konyol itu.


"Pak Herman, bangun!!!" teriak Parjo sambil menggoyang-goyangkan tubuh atasannya.

__ADS_1


Pak Herman kebingungan setelah ia terbangun dari tidurnya. Ternyata apa yang lihat barusan hanyalah mimpi semata. Nyatanya Laras sudah meninggal.


"Astagfirullah!! seru Pak Herman.


"Bapak mimpi apa barusan, kok sampai mengigau seperti itu?" tanya Parjo sambil menatap mata Pak Herman dengan tatapan keheranan.


Pak Herman mengusap peluh yang membanjiri keningnya. Tubuh Pak Herman dibanjiri keringat dingin.


"Wah, ternyata aku barusan tertidur. Maaf ya, Jo. Kita sudah sampai mana nih?" tanya Pak Herman mengalihkan pembicaraan.


"Kita hampir sampai di kantor, Pak. Bapak mau diantar ke rumah pakai mobil box ini atau mau naik motor Bapak sendiri?" tanya Pak Parjo.


"Naik motor saya saja , Jo. Kasihan kamu harus wira-wiri," jawab Pak Herman yang sudah menemukan kesadarannya.


"Nggak apa-apa kok, Pak, kalau memang saya harus mengantar Pak Herman pulang. Itu sudah tugas saya," jawab Parjo.


"Enggak, Jo. Aku lebih suka pulang naik motor," jawab Pak Herman.


Parjo pun tak membantah lagi. Dipacunya mobil itu menuju ke kantor tempat di mana Pak Herman memarkir motor kesayangannya.


"Makasih banyak, Jo. Eh, Pak Herman tumben membawa istrinya ke luar kota?" tanya Satpam tersebut dengan suara dipelankan.


"Enggak, lah. Kami hanya pergi berdua. Istri Pak Herman sedang merawat anak bayi di rumahnya," jawab Parjo serius.


"Loh, barusan yang dibonceng Pak Herman siapa?" tanya Satpam.


"Nggak ada. Pak Herman barusan pulang naik motor sendirian," jawab Parjo.


"Enggak, Jo. Barusan ada yang membonceng di belakang Pak Herman. Wong aku lihat sendiri," bantah Satpam.


"Itu tandanya matamu sudah eror. Emangnya sudah berapa hari kamu tidak tidur?" jawab Parjo.


"Dua hari sih. Kebetulan Satpam satunya cuti dua hari ini, jadi aku jaga full dua hari ini. Tapi, enggak lah. Masa aku salah lihat, Jo," protes Satpam.

__ADS_1


"Pake baju apa ceweknya?" tanya Parjo.


"Baju serba putih, Jo," jawab Satpam.


"Kuntilanak dong!" gurau Parjo.


"Hus! Jangan ngomong gitu, Jo. Ngeri ...," jawab Satpam yang tiba-tiba merasa tengkuknya dingin.


"Habisnya kamu ngelantur malam Jumat Legi begini," jawab Parjo.


"Jo, kamu temani aku malam ini, ya?" rayu Satpam.


"Ih ... Jijik ... Badan aja besar, sama begituan aja takut," ledek Parjo.


"Bukan begitu, Jo. Kamu tahu sendiri, kan. Kalau malam Jumat begini di kantor ini sering ada yang aneh-aneh. Biasanya kalau malam Jumat Legi, kami piket bareng," jawab Satpam.


"Itu urusanmu. Aku mau tidur saja. Aku sudah kangen sama istriku di rumah," jawab Parjo.


"Tidur sini saja ya, Jo! Aku bayarin lima puluh deh," jawab Satpam.


"Ogah! Tidur di sini dingin. Mending di rumah ada Maemunah yang bisa kupeluk," jawab Parjo.


"Seratus ribu dah!" rayu Satpam.


"Ogah! Makan tuh arwah-arwah!" jawab Parjo sambil menstarter mobil box-nya.


"Ooooo awas kau ya! Kalau nanti kamu lembur isi barang lagi di gudang. Tak tinggal ngopi-ngopi kamu biar kamu mampus diganggu penghuni gudang belakang!" umpat Satpam.


"Ups!"


Satpam baru sadar kalau Parjo sudah jauh pergi meninggalkan kantor bersama mobil box-nya. Ia baru menyadari kalau sudah berkata yang enggak-enggak di malam Jumat Legi di kantor yang terkenal dengan keangkerannya ini. Warung di sebelah kantor sampai nggak berani jualan terlalu malam karena sering diganggu oleh penghuni tempat tersebut.


"Amit-Amiiiit!!!! Semoga malam ini nggak ada yang ganggu-ganggu kerjaku," ucap Satpam pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Baru saja berkata seperti itu, aroma semerbak bunga kenanga sudah menyeruak kehidung Satpam itu. Keringat dingin mulai mengucur deras dari sekujur tubuh Satpam tatkala terdengar suara langkah kaki dari arah pintu kantor menuju Pos Satpam. Padahal Satpam itu tahu pasti audah tidak ada karyawan yang berada di sana selain dirinya.


BERSAMBUNG


__ADS_2