MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 85 : PENYAMARAN


__ADS_3

Cintia dengan perasaan jengkel terpaksa harus menuruti rencana Herman karena itu adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan data penting dari Hotel Bunga. Ia menggunakan waktu selama beberapa menit untuk memakai pakaian ala nenek sihir yang diberikan oleh Herman beberapa saat yang lalu. Herman terpingkal-pingkal melihat aksi lucu Cintia dengan pakain compang-camping itu. Tidak cukup sampai di situ, Cintia juga harus memoles wajahnya dengan make up agar kelihatan lebih tua.


“Ternyata kamu lebih cantik begini, Cin!” ejek Herman.


“Sialan kamu, Her. Ini semua demi melaksanakan rencanamu. Awas kalau sampai rencanamu kali ini gagal, aku tidak akan membiarkanmu selamat,” ancam Cintia.


“Oke, ingat kamera dan mikrofonnya jangan sampai ketahuan oleh mereka!” ucap Herman.


Kurang lebih seratus meter dari Hotel Bunga, Cintia diturunkan dari dalam mobil. Herman memilih tempat sepi agar tidak diketahui oleh orang lain. Setelah itu Herman melanjutkan perjalanannya menuju Hotel Bunga tanpa Cintia di sebelahnya. Pria itu pun langsung memesan kamar di hotel tersebut. Ia memilih kamar yang tidak jauh dari resepsionis agar mudah mengawasi Cintia.


Sementara itu Cintia saat itu sedang berjalan di trotoar dengan dipandangi oleh orang-orang karena pakaiannya yang tak lajim.


“Orang gila baru kayaknya,” celetuk salah satu orang yang sedang bermain catur dengan temannya.


Cintia geram sekali dengan ejekan orang-orang itu. Hampir saja ia melabrak mereka. Untunglah ia masih sadar bahwa ia sedang dalam misi penyamaran untuk mengungkap kasus kejahatan yang sedang ditangani oleh timnya. Cintia pun terus berjalan kaki menuju Hotel Bunga. Setiap kakinya melangkah tak luput dari pandangan sinis orang-orang yang melihatnya. Cintia menguatkan hatinya untuk terus fokus pada tujuannya yaitu melakukan penyamaran demi mendapat data-data penting di Hotel Bunga.


“Hai, Nek! Jangan berdiri di situ!” teriak salah seorang bertampang sangar yang mengenakan pakaian dengan tulisan ‘Security’ di atas salah satu sakunya.


Jantung Cintia syok saat itu karena ia tidak menyangka akan mendapatkan penolakan dari penjaga keamanan di Hotel Bunga. Terlebih saat itu resepsionis yang berjaga di balik meja juga berjalan ke arahnya dan ikut menghalaunya untuk masuk ke dalam.


“Maaf, Nek. Nenek tidak diperkenankan untuk berada di sekitar hotel ini karena dapat mengganggu kenyamanan penyewa kamar yan sedang beristirahat,” ucap Mbak Resepsionis dengan nada lebih halus, tapi kalimatnya sama saja menyakitkan.


Hampir saja Cintia mengumpat pada kedua orang yang sedang berusaha mengusirnya itu, tapi untunglah dia ingat dengan misi penyamarannya yang tak mungkin ia gagalkan karena faktor emosi sesaat.

__ADS_1


“Ayo, Nek! Cepat pergi dari sini sebelum saya bertindak tegas!”ancam Security itu lagi.


“Monggo, Nek. Buruan lanjutkan perjalanan saja ke sana. Nenek mau mengemis, kan? Ini saya kasih uang untuk membeli makanan,” ucap Mbak Resepsionis sambil menyodorkan uang sepuluh ribuan berbentuk kertas.


Cintia memandang wajah kedua orang itu dengan tatapan sinis.


“Sialan, mereka pikir aku ini pengemis! Kalau saja aku tidak sedang menyamar, sudah kuomeli kalian berdua ini. Hermaaaaaan …. Awas nanti kamu, ya? Gara-Gara kamu aku diolok-olok oleh dua cecunguk ini,” gerutu Cintia di dalam hatinya.


“Neeeek!!!” panggil Mbak Resepsionis.


“Nenek ini kok nggak cepat pergi, ya?” teriak security itu lagi dengan nada emosi.


Cintia awalnya tidak bergeming. Namun, pada detik selanjutnya ia pun bereaksi. Mata petugas keamanan dan Mbak Resepsionis tak sedikitpun lepas dari tatapan terhadap apa yang dilakukan Cintia.


“Din, kamu ngerti nggak apa yang diucapkan nenek tua ini barusan?” tanya Security kepada Mbak Resepsionis bernama Dini itu.


“Iya, Togar. Aku ngerti sedikit. Katanya hantu-hantu dan demit akan mengikuti kita ke mana saja kita pergi,” jawab Dini dengan bibir bergetar.


“Apa kamu tidak sedang berbohong, Din? Jangan lagi kamu ngerjai aku seperti kemarin, kamu bilang ‘Jamput’ itu sama artinya dengan permisi, ternyata aku diomeli sama Pak RT karena menyapanya dengan kata itu,” jawab Togar dengan nada mulai takut.


Selama ini Togar memang dikenal sangar jika menghadapi preman atau orang-orang kasar yang mebuat kegaduhan di Hotel Bunga. Namun, di balik keberanianya itu ternyata ia sangat penakut terhadap hantu, terutama hantu khas pulau Jawa.


“Kamu jangan ngelawak dalam posisi ini, Togar! Kamu lihat nenek tua itu memandang tajam ke arah kita. Jangan-Jangan dia itu rajanya hantu yang selalu mengganggu kita setiap malam kalau pas kebagian piket malam,” jawab Dini.

__ADS_1


“Wong liwang liweng semur gambreng … Pocong … Kuntilanak … Tekoo mrene … enyangi koncomu iki ….” Cintia kembali membuat ulah dengan menakut-nakuti kedua orang di depannya itu.


“Diiiin … Apa yang barusan dikatakan oleh nenek tua ini? Kok, ada pocong dan kuntilanaknya?” tanya Togar yang wajahnya semakin menunjukkan rasa ketakutan.


Bagi orang yang terbiasa melihat Togar berpenampilan sangar, tidak akan menyangka kalau laki-laki it bisa setakut ini terhadap nenek tua misterius di depannya.


“Nenek itu bilang, dia memanggil pocong dan kuntilanak untuk menemui kita berdua,” jawab Dini dengan semakin ketakutan.


“Apaaaa? Aku takut, Din!” ucap Togar.


“Aku juga, Togar. Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Dini.


“Se-sebaiknya kita panggil manajer saja! Ayo, Din. Aku takut sama nenek tua ini. Takut dia memanggil teman-teman hantunya ke sini,” jawab Togar.


“Iya, Togar. Ayo, kita kabur saja dulu! Kita tinggalkan nenek tua ini di sini! Kabuuuuuur!!!!” teriak Dini sambil berlari dan disusul oleh Togar.


Saking paniknya mereka berlari sampai mereka salah arah berlari. Mereka yang harusnya berlari menuju ruangan manajer di lantai satu, malah lari ke arah lift. Cintia yang menonton adegan itu pun terpingkal-pingkal di dalam hatinya karena melihat ulah lucu kedua petugas Hotel Bunga itu.


“Rasain, kalian berdua! Suruh siapa kalian tidak sopan terhadapku!” ucap Cintia di dalam hati.


Cintia pun memberanikan diri melangkah menuju meja resepsionis. Ia melihat ke arah meja resepsionis. Ada sebuah buku berisi data tamu di atasnya. Hanya butuh beberapa detik baginya untuk mengambil buku tamu itu. Dan nanti setelah ia berhasil mengambil buku data tamu itu, ia pun seharusnya bisa pergi dengan tenang karena tidak ada petugas Hotel Bunga yang berjaga di tempat itu. Selam menjadi polisi, perempuan ini tidak pernah melakukan tindakan pencurian barang milik orang lain. Meskipun barang itu digunakan sebagai barang bukti dalam persidangan. Akankah Cintia akan mengambil buku tamu itu sekarang?


BERSAMBUNG

__ADS_1


Ayo, yang mau ikutan kuis berhadiah pulsa. Like dan komentar pada setiap BAB novel MARANTI sampai tanggal 30 Nov 2022. Pengundian akan dilakukan pada tanggal 6 Desember 2022


__ADS_2