
Pak Dimas dan Bu Dimas pulang dari rumah sakit dalam keadaan capek setelah seharian menemani Bu Nisa mengurusi Pak Ade. Mereka berdua pulang dengan memesan taksi. Selama di taksi, Pak Dimas sibuk menelepon seseorang sedangkan Bu Dimas memanfaatkan waktu dengan tidur di dalam taksi. Ketika taksi sudah hampir sampai di pertigaan dusun Delima, Pak Dimas menyuruh sopir untuk menghentikan mobil. Ada seseorang sudah menunggu di pinggi jalan. Pak Dimas membuka kaca mobil dan berbicara dengan orang yang sepertinya sudah dihubungi oleh Pak Dimas tadi.
“Mana paketnya, Jo?” ucap Pak Dimas.
“Ini, Pak,” jawab orang tersebut sambil menyerahkan sebuah paket yang dilakban itu.
Pak Dimas menerima paket itu dan memasukkannya ke dalam tas yang selalu ia bawa ke manapun ia pergi.
“Tunggu kabar lagi ya, Jo!” ucap Pak Dimas sambil menutup kaca mobil.
“Iya, Pak,” orang yang dipanggil “Jo” itu oleh Pak Dimas.
“Jalan, Pak Sopir!” perintah Pak Dimas kepada sopir taksi yang ia sewa.
“Iya, Pak!” jawab Pak Sopir sambil menekan pedal gasnya kembali.
“Pertigaan di depan belok kanan, ya, Pak!” perintah Pak Dimas lagi.
“Maksudnya, rumah Bapak di dusun Delima?” sang sopir balik bertanya.
“Iya. Kenapa, Pak?” tanya Pak Dimas.
“Mohon maaf, Pak. Sok mobil ini sudah kurang bagus, Pak. Jadi, saya tidak bisa mengantar Bapak sampai ke rumah. Maksimal sampai di pertigaan ini saja,” jawab Pak Sopir dengan penuh kesopanan.
“Waduh, masa kami berdua harus jalan kaki ke dalam?” protes Pak Dimas.
“Sekali lagi saya mohon maaf, Pak. Saya sudah diingatkan oleh bos saya untuk menjaga mobil ini baik-baik karena satu bulan ini sudah dua kali perbaikan. Saya tidak berani, Pak,”jawab Pak Sopir.
“Gimana kalau kamu saya bayar dua ratus ribu, tapi kamu antar saya sampai ke dalam?” tawar Pak Dimas.
“Duh sekali lagi mohon maaf, Pak. Saya benar-benar tidak bisa. Jalannya rusak parah, Pak!” jawab sopir taksi.
“Ya sudah lah. Tahu gitu tadi saya naik mobil lain saja,” keluh Pak Dimas kesal.
“Mohon maa, Pak. Kalau Bapak tidak berkenan untuk membayar, tidak apa-apa,” jawab sopir taksi juga dengan ekspresi tidak enak.
“Ya sudah, ini uangnya!” ucap Pak Dimas sambil melemparkan beberapa uang puluhan ribu ke dashboar mobil taksi tersebut.
“Dik, ayo turun!” ajak Pak Dimas membangunkan istrinya.
__ADS_1
“Waduh, kok turun di sini, Mas. Ini kan masih belum sampai,” jawab istrinya sambil mengucek kedua matanya.
“Sopirnya takut mobil bagusnya ini rusak. Jadi, dia tidak mau mengantar kita ke rumah,” jawab Pak Dimas.
“Loh, benar begitu, Pak?” tanya Bu Dimas pada sang sopir.
“I-iya, Bu. Saya mohon maaf,” jawab Pak Sopr sambil berusaha tersenyum kepada Bu Dimas meski hatinya agak sakit mendengar omelan Pak Dimas.
“Ah, sampean ini gimana, Pir … Pir …,” omel Bu Dimas sambil turun dari dalam taksi.
Pak Sopir pun melajukan mobil taksinya meninggalkan Pak Dimas dan Bu Dimas yang harus berjalan kaki menuju rumah mereka yang jaraknya masih beberapa ratus meter melalui jalan berbatu dan berlubang.
“Duh, alamat sakit semua ini, Mas. Mana aku ngantuk berat, nih!” omel Bu Dimas.
“Sabar, Dik. Sebentar lagi juga sampai, kok!” jawab Pak Dimas berusaha meredakan emosi istrinya
Kedua orang itu pun berjalan kaki menyusuri jalan rusak dusun Delima. Apesnya lagi, sepanjang jalan mereka tidak menjumpai tetangga yang lewat yang mungki bisa mereka tumpangi . Ketika mereka sudah hampir sampai di rumah mereka barulah ada mobil yang searah dengan mereka.
“Loh, Pak Dimas dan Bu Dimas kok jalan kaki?” sapa pengendara mobil itu yang ternyata adalah pengepul sembako yang biasa mensupplai toko-toko dan warung-warung di dusun Delima.
“Waduh, Pak Eko kok baru muncul. Tahu gitu kami menunggu di depan tadi. Ini sudah mau sampai. Tanggung, dah!” jawab Pak Dimas.
“Oke, Pak Eko!” sahut Pak Dimas sambil menggandeng istrinya untuk melanjutkan perjalanan yang sudah tersisa sekitar seratus meter.
Sesampai di rumahnya, Pak Dimas dan Bu Dimas langsung merebahkan diri di kasur yang diletakkan di ruang tamu.
“Duh, capek banget, Dik. Ternyata berjalan sejauh itu cukup melelahkan, ya?” ucap Pak Dimas.
“Iya, Mas. Padahal Pak Salihun dan Pak Ratno itu sering sekali berjalan dari depan ke sini untuk mencari pupuk dan sebagaina, tapi mereka tidak kenapa-kenapa,” jawab Bu Dimas sambil meluruskan punggunnya.
“Itu dia, Dik. Padahal mereka itu sudah tua renta. Kita ini masih muda kok sudah ringkih begini,” jawab Pal Dimas.
Baru beberapa saat mereka mengobrol, tiba-tiba adzan Magrib sudah berkumandang dari salah satu radio tetangga mereka.
“Mas, sudah Magrib. Kamu tidak mau tahlilan di rumah Pak Hartono?” tanya Bu Dimas sambil membangunkan suaminya yang sepertinya mau tidur.
“Tidak, Dik. Mas kecapekan. Besok saja!” jawab Pak Dimas.
“Mas ini gimana? Pak Hartono itu teman baik Pak Ade. Masa Mas nggak tahlilan di sana. Mentang-Mentang Pak Hartono sudah nggak ada?” protes Bu Dimas.
__ADS_1
“Apaan sih kamu ini, Dik. Ya enggaklah. Aku nggak tahlil karena aku kecapekan banget sekarang ini. Kalau aku sehat, aku tahlilan kok!” jawab Pak Dimas kesal karena dipojokkan oleh istrinya sendiri.
“Terus, kemarin kok nggak tahlilan? Aku lihat Mas santai-santai saja. Atau jangan-jangan benar ucapan Bu Nisa kapan hari,” jawab Bu Dimas.
“Memangnya Bu Nisa bilang apa kepada kamu, Dik?” tanya Pak Dimas penasaran.
“Katanya kamu ini agak iri sama Pa Hartono. Karena Pak Ade sering memberi uang kepada Pak Hartono. Betul begitu, Mas?” tanya Bu Dimas.
“Ya enggak lah, Dik. Ngapain aku iri sama Pak Hartono!” protes Pak Dimas.
“Mas nggak usah iri sama Pak Hartono. Pak Ade itu sering ngasih uang ke Pak Hartono karena gaji Pak Hartono sebagai Satpam itu murah dan hanya cukup untuk makan saja. Lagipula Pak Hartono itu teman masa kecil Pak Ade yang sudah tumbuh bersama sejak kecil. Lagipula Pak Hartono kan sudah meninggal sekarang,” jawab Bu Dimas.
“Iya, Dik!” jawab Pak Dimas singkat.
Padahal memang benar dugaan istrinya bahwa ia sebelumnya iri dengan Pak Hartono.Tapi, alasannya bukan karena Pak Hartono sering diberi uang oleh Pak Ade. Melainkan, ia tahu Pak Ade itu sering mengajak Pak Hartono ke tempat karaoke untuk pesta barang terlarang dan wanita. Terlebih, ia juga iri karena ia yang sudah lama mengincar Laras, tapi didahului oleh Pak Hartono. Tapi, ia tidak mungkin menyampaikan alasan itu kepada istrinya yang polos itu. Karena ia tidak mau istrinya mengetahui betapa bejadnya dirinya.
“Mas, aku ke rumah Pak Jefri dulu. Aku sampai lupa mengatakan kepada Pak Jefri untuk mengantar Revan ke rumah sakit menjenguk ayahnya,” ucap Bu Dimas mengingat sesuatu.
“Ini kan sudah malam, Dik. Jam besuknya sudah ditutup pastinya,” jawab Pak Dimas.
“Yang penting aku bilang dulu ke Pak Jefri. Biar dia nanti yang mengabari Bu Nisa,” jawab Bu Dimas sambil berjalan meninggalkan suaminya yang msih berbaring di kasur.
Sepeninggal istrinya, Pak Dimas tiba-tiba teringat dengan sesuatu.
“Duh, kalau capek-capek begini paling enak mengkonsumsi barang kesukaanku itu. Mumpung istriku pergi, aku mau ke kamar depan saja,” ucap Pak Dimas pada dirinya sendiri sambil mengambil tas berisi barang terlarang yang biasa ia gunakan untuk menjebak lawan bisnis Pak Ade dan juga untuk ia konsumsi sendiri.
Sesampai di kamar, Pak Dimas pun mengunci pintu dari dalam. Iatahu pasti bahwa kalau ia sudah mengurung diri di kamar depan, istrinya tidak akan berani mengganggunya lagi.
“Inilah saatnya aku menikmati hidup sambil mengenang kebersamaan bersama Laras. Ah, sayangnya anak itu harus berubah drastis fisiknya karena penyakit. Bikin ak jadi illfeel saja. Tapi, untunglah ia tidak melapor ke polisi. Ia pasti takut aku menyebarkan foto syurnya. He he he .. Laraaaas Larasss … Kamu itu malang banget hidupnya. Coba kamu lihat aku ini. Jahat, tapi dianggap baik oleh orang-orang. He he he … Makanya kamu itu janganjadi orang bego, Laras!” itulah kata-kata yang diucapkan oleh Pak Dimas sambil ia membuka paket dan mengeluarkan isi di dalamnya yang berbentuk putih.
Pria itu menghirup benda berwarna putih itu dengan takaran yang sudah ia atur sendiri. Sementara itu Bu Dimas yang baru kembali dari rumah Pak Jefri merasakan ada keanehan di rumahnya. Pintu yang awalnya tertutup sekarang dalam keadaan terbuka dan ia tidak menemukan suaminya di atas kasur yang diletakkan di ruang tamu.
“Mas, kamu ke mana?” teriak Bu Dimas sambil mencari suaminya ke arah dapur dan kamar mandi.
Namun, usaha perempuan itu sia-sia belaka karena ia tidak menemukan batang hidung suaminya. Kemudian sayup-sayup ia mendengar suara keributan dari arah kamar depan.
Brak!
BERSAMBUNG
__ADS_1