MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 33 : ANGGARAN


__ADS_3

Pukul sembilan pagi, Jamilah dan kawan-kawannya yang mayoritas menyandang predikat janda pun selesai menanam padi di sawah Pak Dibyo, kepala desa Sido Mekar yang terkenal kaya raya dan memiliki beberapa istri. Meskipun memiliki beberapa istri, pria itu hanya memiliki satu orang anak bernama Dwi Purnomo yang biasa dipanggil Mas Dwi oleh warga desa Sido Mekar. Mas Dwi ini adalah anak dari istri tertua Pak Dibyo yang sudah meninggal saat Mas Dwi masih SMA. Saat itu Pak Dibyo masih belum sekaya sekarang. Justeru ibunya Dwi lah yang bisa dibilang ekonominya lumayan saat itu. Bu Dibyo berprofesi sebagai guru TK di dusun Delima. Karena ingin memajukan desa Sido Mekar terutama di bidang pendidikan, Bu Dibyo mendukung suaminya mencalonkan diri menjadi kepala desa Sido Mekar dan bertarung dengan kepala desa yang lama yaitu Pak Tejo yang masih ada hubungan keluarga dengan Pak Herman. Waktu itu Pak Herman dan Bu Dewi sempata bersebrangan dukungan atas dua calon tersebut. Pak Herman lebih mendukung Pak Tejo karena masih ada hubungan saudara, sedangkan Bu Dewi lebih mendukung Pak Tejo karena saat itu Bu Dewi sebagai warga yang aktif di bidang PKK sangat dekat sekali hubungannya dengan Bu Dibyo yang sangat gigih mempromosikan suaminya yang berjanji akan memajukan pendidikan di desa Sido Mekar. Berkat kolaborasi kedua perempuan tersebut, akhirnya Pak Dibyo berhasil mengalahkan Pak Tejo dengan perolehan suara yang sangat tipis perbedaannya. Bu Dewi dan Pak Herman sampai dikucilkan di keluarga besar Pak herman saat itu. Butuh waktu lama bagi Bu Dewi dan Pak Herman untuk kembali rukun dengan keluarga besar Pak Herman.


Sayangnya, beberapa saat setelah diumumkan kemenangan suaminya, Bu Dibyo menghembuskan nafas yang terakhir karena serangan jantung. Dokter mengatakan bahwa Bu Dibyo saat itu kecapekan sehingga membuat jantungnya bermasalah. Mas Dwi yang saat itu tengah sibuk merayakan kemenangan ayahnya pun mengalami syok setelah mendengar berita kematian ibunya. Pria itu sampai kehilangan selera makan sampai berhari-hari karena memikirkan ibunya.


Sayangnya, setelah Pak Dibyo dilantik menjadi kepala desa oleh Bupati setempat, pria itu lupa daratan. Ia  yang sudah berjanji untuk menggunakan anggaran dana desa untuk memajukan pendidikan di desa Sido Mekar pun sudah lupa sama sekali dengan janjinya. Melihat tumpukan uang yang ada di meja kerjanya setelah dicairkan dari bank olehnya bersama dengan bendahara desa, pria itu pun lupa diri. Dengan berbekal segepok uang untuk membungkam anak buahnya, ia pun menggunakan dana desa tersebut untuk kepentingannya sendiri yaitu untuk berfoya-foya seperti yang ia lakukan di masa muda sebelum akhirnya ia bertobat setelah mengenal Bu Dibyo. Perangkat desa yang awalnya jujur selama dipimpin oleh Pak Tejo pun ikut nakal membantu kepala desa  menyalahgunakan anggaran dana desa tersebut untuk bersenang-senang. Alhasil, kemajuan di desa Sido Mekar yang diimpi-impikan oleh almarhum Bu Dibyo, hanya menjadi isapan jempol semata karena keserakahan suaminya yang sudah lupa daratan.


Bu Dewi yang melihat gelagat tidak baik tersebut pun memiliki beban mental karena melihat kondisi TK di dusun Delima yang tak kunjung tersentuh oleh pembangunan. Padahal, ia dan almarhum Bu Dibyo dulu sudah sepakat untuk mengutamakan pembangunan TK di dusun Delima tersebut yang bangunannya sudah hampir roboh. Hal itu disaksikan sendiri oleh Pak Dibyo dan pria itu juga menyanggupi hal itu. Namun, ketika Bu Dewi berkunjung ke balai desa untuk menemui Pak Dibyo, beberapa kali pria tersebut dikatakan sedang ke luar kota. Bu Dewi tidak berputus asa. Ia tetap datang ke balai desa untuk menemui orang nomor satu di desa Sido Mekar itu. Dan pada satu kali kesempatan, Pak Dibyo tidak bisa mengelak lagi karena Bu Dewi datang saat ia baru saja keluar dari kantor pribadinya.


“Eh, Bu Dewi. Apa kabar? Ada keperluan apa, nih? Mau proses balik nama tanah, kah?” sapa Pak Dibyo terbata-bata.


“Alhamdulillah ... setelah bolak-balik ke sini akhirnya saya bisa bertemu dengan Pak Kades. Begini, Pak. Saya ingin mengingatkan Pak Kades tentang janji Pak kades terhadap almarhum Bu Dibyo dan saya dulu yang katanya mau membangun TK-TK di desa Sido Mekar, terutama yang bangunannya sudah rusak parah seperti TK di dusun Delima tempat mengajar almarhum Bu Dibyo dulu,” jawab Bu Dewi tegas.


“Oooooo ... Saya senang sekali Bu Dewi masih peduli dengan pendidikan di desa ini sama seperti ibunya Dwi dulu. Oh ya, mengenai pembangunan TK tersebut sebenarrnya tanpa Bu Dewi mengingatkan, kami setiap tahun sudah mengajukan anggaran untuk membangunnya. Tapi, sayangnya pengajuan kami belum di-acc oleh pengawas. Alasannya, kebanyakan karena program yang kami ajukan masih belum selaras dengan program pusat lah. Pokoknya macam-macam, Bu Dewi, alasannya. Kami yang di bawah hanya bisa apa. Memang uang ada di kami, tapi dalam penggunaannya harus sesuai dengan anggaran yang di-acc oleh pengawas. Mohon maaf ya, Bu Dewi. Mohon doakan kami juga agar tahun depan sudah bisa terealisasi,” jawab Pak Dibyo diplomatis.


“Tapi, desa sebelah kok bisa ya, Pak?” protes Bu Dewi.


“Desa sebelah sudah mengajukan tahun-tahun sebelumnya. Kalau desa ini tahu sendiri, kan, kepala desa sebelum saya seperti apa?” jawab Pak dibyo sambil berusaha mendiskreditkan Pak tejo yang masih kelaurga suami Bu Dewi.

__ADS_1


“Oke, Pak. Saya tunggu nanti ya realisasinya. Semoga Pak Dibyo bisa amanah dengan jabatan titipan Bu Dibyo ini,” jawab Bu Dewi sambil pamit pulang.


Bu Dewi benar-benar kesal saat itu karena Pak Dibyo terlihat hanya bermain kata-kata dan sudah lupa dengan janji-janjinya. Terlebih, banyak rumor beredar bahwa Pak Dibyo sekarang senang dengan dunia malam.


“Ya Allah ... seandainya Bu Dibyo masih hidup ...,” gerutu istri Pak Herman.


Dan benar saja, ditunggu-tunggu sampai mau habis masa jabatan Pak Dibyo, tak kunjung datang juga bantuan pembangunan TK-TK di desa Sido Mekar. Tidak hanya itu, jalan-jalan dan saluran irigasi di desa Sido Mekar juga masih minim perbaikan bahkan desa tersebut sdah banyak tertinggal dibandingkan desa-desa yang lan di sekitarnya. Sekalinya ada perbaikan jalan kualitasnya jauh di bawah standar, tak sampai satu tahun jalannya sudah rusak kembali. Ketika masyarakat mengeluh, Pak Dibyo dan kroni-kroninya beralasan bahwa itu bukan tanggung jawab mereka melainkan tanggung jawab CV yang mendapat tender.


Bukan hanya itu yang dikeluhkan oleh masyarakat desa Sido Mekar. Masyarakat merasa dipersulit untuk mengurusi surat-surat penting ke kantor desa. Hanya yang mau membayar saja yang diutamakan. Bahkan pajak bumi dan bangunan yang sedianya dibayarkan oleh warga secara rutin juga sebagian dikemplang oleh kroni-kroni Pak Dibyo. Masyarakat sudah benar-benar jengah dengan kepemimpinan kepala desa tersebut sejak lama. Namun, pada pemilihan kedua lagi-lagi masyarakat yang anti dengan Pak Dibyo harus rela gigit jari karena Pak Dibyo berhasil mengalahkan pesaing-pesaingnya dengan menggunakan politik uang dan politik kekuasan. Ada yang ditahan surat tanahnya oleh Pak Dibyo dan diancam akan dikeluarkan kalau sudah selesai pemilihan kepala desa dan juga banyak ancaman-ancaman yang lain. Akhirnya, masyarakat yang awalnya menginginkan perubahan harus menyerah kalah kepada centeng-centeng pria arogan itu.


Setelah kemenanganya yang kedua ini pun Pak Dibyo semakin terang-terangan menghambur-hamburkan dana anggaran desa. Ia dan kroni-kroninya yang bisa menikmati uang haram tersebut. Sementara warga yang lain tidak dapat menikmatinya. Di penghujung masa kepemimpinanya ini dia sudah menggadang-gadang Dwi Purnomo sebagai pengganti dirinya karena dia sudah tidak bisa mengajukan diri kembali menjadi kepala desa. Dwi Purnomo yang awalnya adalah pemuda yang baik itu akhirnya lama-lama megikuti jejak ayahnya sebagai bromocorah di desa Sido Mekar.


"Iya. Kenapa, Nul?" Jamila bertanya balik.


"Kamu suka sama Pak Ratno?" tanya Minul lagi.


"Hah? Kamu kok ngomong gitu?" protes Jamila.

__ADS_1


"Sudah ngaku saja. Kamu suka sama Pak Ratno, kan?" cecar Minul.


"Aku cuma pinjam kencah saja, kok. Kamu kenapa sewot begitu? Jangan-Jangan kamu yang suka sama Pak Ratno," balas Jamila.


"Sini, mana kencah-nya. Biar aku yang balikin ke Pak Ratno!" ucap Minul.


"Enggak! Aku mau balikin sendiri kepada Pak Ratno!" jawab Jamila.


"Berarti benar kan dugaanku. Kamu itu suka sama Pak Ratno!" ledek Minul.


"Bukan urusan kamu!" jawab Mila sambil berlalu pergi  meninggalkan teman tandur padinya itu.


Minul merasa jengkel dengan perlakuan Jamila terhadapnya.


"Awas kamu, Mil! Kalau sampai kamu godain Pak Ratno. Tak pites kamu!" umpat Minul dengan geramnya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Kira-Kira ada nggak ya model kepala desa seperti Pak Dibyo ini di Indonesia?


__ADS_2