MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
BAB 16 KEJUTAN


__ADS_3

Setelah selesai bersih-bersih, kami bertiga pun bergantian untuk mandi dan bersiap-siap untuk pamit pergi kepada Mbak Ning dan Mas Wisnu. Meskipun masih terlihat lemas, Mbak Ning tetap mengantar kami ke depan.


"Mbak Ning, uangnya yang lima belas juta saya berikan sekarang apa nanti setelah selesai tujuh harinya Bude Yati?" tanyaku sebelum pamit.


"Emangnya Dik Sinta bawa uang tunai?" tanyanya heran.


"Enggak juga, sih. Kalau Mbak Ning mau terima uang tunai, biar saya ambil dulu di atm, tapi kalau mau lewat transfer, ya, bisa saya transfer sekarang," jawabku.


"Dik Ning sudah ngomong ke Dik Diki belum?" bisik Mbak Ning.


"Nanti saya pasti ngomong, Mbak. Tenang, Mas Diki itu nggak akan ngelarang-larang, kok, Mbak," jawabku.


"Baiklah kalau begitu. Begini saja, Dik. Biar saya mengajak Ikbal ke dealer motornya saja dulu. Biar dia yang milih motornya. Nanti pas pembayaran, saya akan hubungi kamu dulu, Dik," jawab Mbak Ning.


"Enak begitu, Mbak. Insyaallah nomor WA-ku selalu aktif dan siap siaga," jawabku.


"Makasih banyak, ya, Dik Sin. Kalau nggak ada kamu, entahlah saya harus pinjam sama siapa," seru Mbak Ning.


"Sama-Sama. Nanti, kalau saya butuh apa-apa juga akan minta tolong sampean, Mbak Ning," jawabku.


"Iya, Dik," jawab Mbak Ning.


"Mbak, kami pamit dulu, ya? Ingat, nanti jangan lupa minta antar ke Mas Wisnu untuk periksa!" ujarku.


"Iya, Dik. Tenang saja," jawab Mbak Ning.


"Assalamualaikum," ucapku


"Waalaikumsalam," jawab Mbak Ning.


Aku pun bersalaman dengan Mas Wisnu yang batu saja berbincang dengan Mas Diki. Setelah itu aku pun bersalaman dengan Ikbal yang baru saja selesai bersalaman dengan Nur.


"Ikbal, jangan keluyuran terus, ya? Jaga rumah, kasian mbakmu sekarang nggak enak badan. Orang-Orang di dapur kalau butuh apa-apa, kan, enak bisa nyuruh kamu," pesanku pada anak bungsu Bude Yati itu.

__ADS_1


"Iya, Mbak Sin," jawabnya dengan malu-malu.


Setelah selesai bersalaman, kami pun masuk ke dalam mobil dan kami saling melambaikan tangan sebagai salam perpisahan. Mbak Ning dan Mas Wisnu nampak terharu menatap kepergian kami. Ingatan di antara kami memang sangat kuat. Meskipun kami bukan saudara kandung, tapi rasa persaudaraan di antara kami tidak kalah erat dengan saudara kandung. Harapan kami hanya satu, semoga anak-anak kami kelak juga masih bisa seakrab kami, tidak sampai 'Mati Obor' istilah yang populer di tempat kami yang berarti putusnya tali silaturahmi.


Yang aku salut dari Mas Diki adalah ia tidak membeda-bedakan saudaranya sendiri atau saudara dari aku sebagai istrinya dalam hal kedekatan emosional dan batin. Itulah mengapa aku malu kalau aku sampai tidak perhatian kepada keponakan-keponakan Mas Diki dan juga saudaranya yang lain. Seingatku, Mas Diki tidak pernah memintaku atau bahkan memaksaku untuk menyayangi saudara-saudaranya. Tapi, dari caranya bersikap kepada saudara-saudaraku, aku pun merasa termotivasi untuk menyayangi saudara-saudara Mas Diki juga. Dan semua itu mengalir secara alami.


Drrrrt ...


Tiba-Tiba Ponselku bergetar. Ada sebuah pesan WA masuk. Mas Diki menoleh sesaat ke arahku. Tapi aku tidak perlu khawatir, suamiku ini bukanlah manusia yang super kepo dengan urusan orang lain. Ia hanya menoleh sejenak dan kembali berkonsentrasi pada roda kemudi. Aku membuka pesan tersebut. Ternyata dari nomor Pak RT yang sengaja tidak kusimpan.


"Loh, kok pulang, Dik? Gimana dengan urusan video CCTV-nya?" bunyi pesan di dalam WA tersebut.


Aku segera menutup kotak percakapan dengan Pak RT. Mood-ku rasanya langsung ngedrop saja mendapat WA dari pria iseng itu. Aku hampir lupa kalau di sebelahku ada Mas Diki. Segera kumatikan mode getar di Ponselku dan kutaruh kembali Ponselku di dashboard.


"WA dari siapa, Dik?" tanya Mas Diki tiba-tiba.


Aku menoleh sekejap ke arah Mas Diki. Awalnya menatapnya dengan tatapan terkejut, tapi segera kuubah dengan senyuman.


"Biasa, Mas. Tawaran pinjaman online," jawabku kalem.


"Iya, nanti kalau Mas Diki jadi pejabat penting di Kemenkominfo, barulah ada sweeping semacam itu," ledekku.


"Ogah ah. Mas nggak mau kerja di Kemenkominfo. Puyeng mikirin orang Indonesia nggak bisa diatur semua dalam menggunakan teknologi informasi. Mending mas jadi juragan baju saja," jawabnya.


"Emangnya jadi juragan baju nggak capek?" tanyaku.


"Capek juga sih. Tapi, kan, ada Dik Sin yang bantuin mas untuk pilih-pilih motif dan bahan. Ya kan?" rayu Mas Diki.


Aku tersenyum manis ke arah Mas Diki. Pria ini benar-benar sangat istimewa. Dia sangat menghargai istrinya dan selalu memprioritaskan istrinya dalam kehidupannya. Mana mungkin ada pria lain yang dapat kucintai melebihi Mas Diki?


"Dik, kita akan sarapan di mana?" tanya Mas Diki kemudian.


"Nur, kamu pingin makan apa, Nak?" tanyaku pada anakku yang sedang duduk di jok belakang.

__ADS_1


"Hm ... gimana kalau kita makan di warung depan sekolah yang kapan hari itu?" jawab Nur.


"Ooo ... dekat sekolah Eyang Darsih?" tanyaku memastikan.


"Iya, Bu," jawab Nur kalem.


"Gimana menurut Mas Diki?" tanyaku pada suamiku.


"Okelah, di sana saja. Makanannya lumayan enak, kok," jawab Mas Diki.


"Oke. Kita ke sana saja," ucapku.


Mas Diki pun mempercepat laju mobilnya menuju tempat yang kami inginkan. Tak sampai lima belas menit, kami pun sampai di warung tersebut. Warung tersebut berada tepat di depan salah satu sekolah milik Bulek Darsih.


"Kami pesan tiga, Bu. Minumnya air putih semua tiga," ucapku pada salah satu pegawai yang ada di sana.


Tak berselang lama, tiga makanan dan tiga minuman yang kami pesan pun selesai dibuat dan siap disantap di hadapan kami. Benar saja, kami bertiga sangat lahap dalam menyantapnya karena rasanya memang benar-benar pas di lidah kami. Suasana di warung tersebut saat itu cukup sepi. Entahlah, mungkin karena kami datang terlalu pagi. Seingatku, terakhir ke sana, warungnya cukup ramai dikunjungi orang. Aku juga heran dengan pintu gerbang sekolah yang juga masih tertutup rapat.


"Bu, kenapa kok gerbang sekolahnya masih ditutup, ya?" tanyaku penasaran.


"Oh, anu, Mbak. Sekolahnya diliburkan mulai kemarin," jawab Ibu Pemilik Warung.


"Loh, kenapa, Bu? Bukankah ini bukan musim liburan? Apa gurunya ada kegiatan penting?" tanyaku semakin penasaran.


"Oh, bukan, Bu. Sekolahnya katanya diliburkan dulu selama tiga hari karena salah satu guru yang bernama Bu Marisa meninggal kemarin sore," jawab Ibu Pemilik Warung dengan nada serius.


"Innalillahi wainnailaihi rojiuuun ...," pekikku.


"Kasihan banget, Mbak. Bu Marisa itu masih sangat muda dan menjadi orang kepercayaan yayasan katanya. Orangnya juga sangat ramah dan baik," tambah Ibu Pemilik Warung.


Aku benar-benar terkejut mendengar berita kematian itu. Kemarin lusa Bu Marisa itu masih sakit seperti yang diperbincangkan dua orang guru di sekolah ini pada saat mereka makan nasi pecel di warung ini bersama kami.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Sebelumnya aku mau minta maaf karena kemarinnlibur update. Pasti sudah kangen semua dengan lanjutan ceritanya, kan?


Oh ya, nih. Aku ingin kalian menulis komentar tentang pengalaman kalian dalam berhubungan baik dengan orang yang tidak sedarah dengan kalian. Bisa teman bisa juga keluarga pasangan? Ada nggak ya?


__ADS_2