
Cintia menatap ke arah buku data tamu itu dengan perasaan gelisah. Tujuan utamanya datang ke hotel ini dan bertingkah segila ini adalah demi buku data tamu itu. Tapi, begitu benda yang ia cari sudah ada di depan matanya, hati nuraninya berbicara bahwa ia tidak mungkin mengambil barang yang bukan miliknya sendiri. Dalam keadaan gamang seperti itu, tiba-tiba terdengar deheman dari arah samping.
“Ehem …. Selamat datang di hotel Bunga, Mak!” sapa seorang laki-laki.
Cintia menoleh ke arah sumber suara itu. Betapa terkejutnya perempuan itu karena ia melihat dua orang tadi datang membawa seorang laki-laki tampan dan rapi kehadapannya. Untuk menghilangkan kepanikannya, ia pun mengeluarkan jurus mautnya.
“Wong liwang liweng, tekoo mrene genderuwo … pocong … kuntilanak … ono bocah sing ngenteni awakmu …,” Cintia mengucapkan kalimat berbahasa Jawa itu sambil menunjuk-nunjuk ke arah pria berpakaian rapi yang baru saja datang itu.
“Stop, Mak! Jangan diteruskan! Maafkan kedua karyawan saya yang sudah berbuat tidak sopan kepada Mak!” teriak pria itu dengan sopan sambil mendekati Cintia.
“Pak … kami takut. Tolong suruh nenek itu menghentikan mantranya!” regek Togar.
“Nek, ampun … jangan Nenek undang hantu-hantu itu ke sini!” teriak Dini juga dengan ketakutan.
Cintia menghentikan aktifitasnya sejenak. Namun, beberapa detik kemudian ia mengulangi lagi kalimatnya untuk memberikan shock terapi untuk kedua orang tadi yang sempat mau mengusirnya pergi dari hotel itu.
“Wong liang liweng ….,” ucap Cintia dengan ekspresi wajah sengaja dibuat seram.
“Tidaaaaak!!!!” teriak Togar semakin ketakutan.
“Ampuuuun, Neeeeek!!!” teriak Dini sambil memegangi tangan manajernya.
Manajer dengan name tag bertuliskan ‘Permadi’ itu pun dengan santainya mendekati Cintia yang sedang menatap tajam ke arah mereka bertiga.
“Mak, sekali lagi saya memohon maaf atas ketidasopanan karyawan saya tadi. Apabila Mak masih marah, silakan Mak menghukum saya. Saya akan siap menanggung kesalahan kedua bawahan saya,” ucap Permadi sambil membungkuk di depan Cintia.
Cintia cukup kagum dengan sikap gentle manajer Hotel Bunga itu yang berani menanggung kesalahan anak buahnya. Di jaman sekarang ini, sulit sekali mencari pemimpin yang seperti itu. Yang ada mereka sering memperbudak bawahannya dan ketika ada kesalahan, semuanya dilimpahkan kepada bawahannya dengan cara memberi saksi atau bahkan memecatnya.
“Baiklah, Permadi. Kali ini aku maafkan kesalahan kedua cecunguk ini,” jawab Cintia dengan suara sengaja diberatkan agar meyakinkan mereka bahwa ia memang seorang dukun yang sakti.
“Terima kasih, Mak. Sekarang, Mak ikut saya ke ruangan saya. Supaya Mak bisa beristirahat sebentar di ruangan saya. Mak pasti capek setelah menempuh perjalanan jauh ke sini. Ngomong-Ngomong Mak naik apa tadi?” tanya Permadi.
“Aku jalan kaki!” jawab Cintia dengan suara berat dan tegas.
“Iya, Mak. Seharusnya saya tidak menanyakan hal itu karena Mak memang selalu jalan kaki ke manapun saja,” jawab Permadi.
“Ayo, bawa Mak ke ruanganmu. Mak ingin meminum segelas teh hangat setelah perjalanan jauh tadi,” ujar Cintia memanfaatkan kesempatan berharga itu.
“Teh hangat? Saya sudah menyediakan kopi luwak kesukaan Mak di ruangan saya,” sahut Permadi.
“Oh begitu … Kupikir kamu tidak tahu kesukaanku. Ya sudah, kamu buatkan saja untukku secangkir saja!” jawab Cintia secara spontan karena ia tidak ingin penyamarannya diketahui oleh Permadi.
“Baiklah, Mak. Monggo, Mak! Kami senang sekali Mak bisa segera datang ke sini. Soalnya, kami sudah sempat bingung ketika Jatmiko mengatakan kepadaku bahwa Mak belum bisa datang dalam waktu dekat ini. Padahal, kami benar-benar butuh bantuan Mak,” ujar Permadi sambil berjalan menuju ruangan pribadinya di belakang ruangan resepsionis.
“Jatmiko?” Cintia tanpa sengaja bergumam.
“Iya, Jatmiko anak Mak. Kenapa, Mak?” tanya Permadi dengan sedikit mengernyitkan dahinya karena heran dukun di depannya tidak mengingat anaknya sendiri.
“Anak itu memang selalu begitu. Maafkan Jatmiko ya, Permadi. Dia memang selalu ceroboh dalam mengambil keputusan. Lah wong aku longgar kenapa dia bilang repot, kan kasihan kamu toh kebingungan kalau tidak segera dibantu olehku,” timpal Cintia dengan percaya dirinya.
“Iya, Mak. Tidak apa-apa. Mungkin Jatmiko tidak ingin melihat Mak kecapekan. Mak kan sudah sepuh sekarang?” ujar Permadi.
“Apa? Kamu bilang saya sudah tua? Jangan kamu pikir meskipun aku sudah tua, tenagaku sudah tidak kuat lagi untuk menolong orang?” Cintia pura-pura protes untuk semakin mempertegas identitas dirinya sebagai dukun kawakan.
“M-maafkan kelancangan saya, Mak!” jawab Permadi dengan membungkuk.
Cintia tertawa di dalam hatinya melihat tingkah konyol manajer Hotel Bunga yang berhasil ia perdaya itu.
“Sudah. Lain kali jangan diulangi. Aku tidak suka disebut sebagai orang yang lemah. Kamu paham itu!” ucap Cintia.
“Iya, Mak,” sahut Permadi.
Sementara itu Herman yang sedang mendengarkan percakapanmereka melalui alat komunikasi yang dipasang Cintia di dalam baju penyamarannya pun tertawa terbahak-bahak sejak tadi. Ia juga dapat melihat tampilan visual ketiga orang yang ditemui oleh Cintia. Sikap mereka yang meninggi-ninggikan Cintia membuat Herman tidak kuat menahan sakit perut akibat terus-terusan tertawa di kamar yang ia sewa untuk memantau Cintia.
Setelah berjalan selama beberapa menit, sampailah Cintia di ruangan pribadi Permadi. Cintia berdecak kagum melihat ruangan manajer itu yang sangat mewah.
“Silakan duduk, Mak!” ucap Permadi pada perempuan tua di depannya.
Cintia pun langsung duduk di kursi empuk itu. Ia benar-benar takjub dengan desain interior ruangan manajer itu. Ia betul-betul tidak menyangka ada ruangan kantor tapi semewah istana seperti itu.
“Din, tolong siapkan kopi pahit buntuk Mak dan teh hangat untukku!” perintah Permadi pada anak buahnya.
“Baik, Pak!” jawab Dini sambil berjalan menuju mini bar yang juga terletak di dalam ruangan itu.
“Togar, kamu kembali ke depan. Jaga di ruanga resepsionis menggantikan posisi Dini untuk sementara!” perintah Permadi pada security yang mengikutinya sejak tadi.
“Siap, Pak!” jawab Togar sambil berjalan meninggalkan ruangan mewah itu.
Tak sampai beberapa menit, minuman yang dipesan oleh Permadi sudah selesai dibuat olehDini. Dini membawakan kedua cangkir minuman itu ke meja di tengah-tengah Permadi dan Cintia.
“Ada lagi yang bisa saya bantu, Pak?” tanya Dini dengan sopan.
“Untuk sementara tidak ada. Silakan kamu kembali ke meja kerjamu. Takutnya ada tamu datang,” perintah Permadi.
“Baik, saya permisi dulu, Pak … Mak …,” ujar Dini sambil menatap ke arah Permadi dan Cintia.
Cintia sengaja memelototkan matanya ketika Dini menatap wajahnya. Ia ingin menakut-nakuti gadis muda itu. Benar saja, Dini kembali merunduk ketika matanya bertemu dengan mata Cintia karena ia ketakutan melihat mata Cintia yang melotot ke arahnya.
“Silakan diminum dulu, Mak!” ucap Permadi pada Cintia.
__ADS_1
Cintia hanya mengangguk, padahal di dalam hatinya sedang berkecamuk.
“Duh, kenapa tadi aku mengiyakan ketika mau dibuatkan kopi panas, ya? Aku kan punya penyakit mag. Biasanya perutku sakit kalau aku memaksakan diri meminum kopi. Duh, bodohnya aku! Tapi, mau gimana lagi. Ini sudah risiko yang harus aku tanggung,” ucap Cintia pada dirinya sendiri.
Permadi menuangkan teh panas ke atas lepek agar suhu tehnya sedikit turun dan bisa diminum olehnya. Cintia pun mengikuti Permadi menuangkan kopi ke atas lepek. Setelah itu keduanya sama-sama mengangkat lepeknya dan menyeruputnya dari atas lepek.
Sreng!!!
“Bagaimana, Mak? Sudah cukup pait kah?” tanya Permadi pada Cintia.
Cintia yang tidak pernah meminum kopi apalagi kopi pahit pun terkejut saat lidahnya bersentuhan dengan kopi itu. Seandainya Permadi tidak ada di depannya, mungkin Cintia sudah melepeh kembali air kopi yang ia seruput itu. Namun, Cintia harus terpaksa berlagak senang meminum kopi pahit itu di depan Permadi agar tidak mengundang kecurigaan manajer Hotel Bunga di depannya.
“Rasanya cocok untukku,” jawab Cintia sambil menahan rasa sakit di perutnya akibat kafein tinggi yang terkandung di dalam kopi pahit itu.
“Syukurlah kalau rasa kopinya cocok untuk Mak. Saya sudah mencarinya jauh-jauh hari untuk menyenangkan Mak,” ujar Permadi.
Cintia hanya tersenyum sekilas karena ia yakin seorang dukun tidak perlu terlalu ramah terhadap kliennya.
“Silakan kuenya dimakan, Mak! Maaf saya hanya punya stok kue ini di resto,” ujar Permadi.
“Ini kue kesukaanku, Permadi!” jawab Cintia sambil mengambil sepotong kue moci dari merek ternama yang disuguhkan di atas meja.
Niat cintia hanya satu saat itu yaitu ingin menetralisir rasa pahit di mulutnya akibat meminum kopi pahit itu.
“Mak suka kue moci?” tanya Permadi tidak percaya.
“Lumayan, Permadi. Klien Mak sering membawakan kue ini ke tempat Mak,” jawab cintia ngasal.
“Wah, Mak ini memang luar biasa. Silakan dimakan Mak kuenya. Dihabiskan juga tidak apa-apa. Dan jangan lupa kopi pahit kesukaan Mak juga arus dihabiskan,” ujar Permadi dengan gembira.
Cintia merasa getir ketika Permadi menyebutkan ‘Kopi pahit’ itu. Ia harus berpura-pura bahagia meminum kopi pahit itu padahal ia sama sekali tidak suka meminum kopi, apalagi kopi pahit.
Setelah selesai acara minum kopi, Permadi pun mulai menceritakan keluh kesahnya kepada Cintia.
“Mak, akhir-akhir ini di hotel ini sering ada penampakan,” ujar Permadi mengawali keluh kesahnya.
“Penampakan seperti apa, Permadi?” tanya Cintia.
“Kalau sudah masuk waktu magrib, karyawan di sini dan bahkan tamu juga pernah diganggu oleh seorang hantu perempuan,” jawab Permadi.
“Hantu perempuan?” tanya Cintia.
“Iya. Kadang dia muncul di dapur mengganggu para juru masak yang sedang bertugas malam, kadang muncul di sekitar resepsionis, dan kadang juga di kamar hotel. Hampir semua karyawan di hotek ini sudah pernah diganggu oleh hantu perempuan tersebut. Bahkan ada beberapa karyawan yang mengundurkan diri karena ketakutan. Pengunjung hotel pun pernah ada yang check-out lebih awal karena takut habis diganggu hantu perempuan itu,”jawab Permadi panjang lebar.
Cintia menyimak cerita manajer itu dengan antusias.
“Bisa tunjukkan kepadaku kamar tempat hantu perempuan itu mengganggu tamu hotel ini?” tanya Cintia.
“Ayo, antar aku ke kamar itu!” jawab Cintia.
Permadi pun bangkit dari duduknya dan mengajak Cintia berjalan menuju kamar yang dimaksudkan olehnya. Cintia berlagak sakit punggung ketika baru bangkit dari duduknya untuk meyakinkan Permadi. Setelah itu mereka berdua pun naik lift menuju ke lantai dua di mana posisi kamar 204 itu berada. Herman yang tidak ingin terjadi sesuatu pada Cintia pun keluar dari kamarnya untuk mengikuti pergerakan kedua orang itu. Herman sengaja pura-pura berdiri di tangga darurat lantai kedua sambil mengamati pergerakan Cintia dan Herman di lantai 204. Cintia merasa lebih tenang karena ada Herman di lantai yang sama dengannya.
Ketika Permadi membuka kamar 204 itu , Cintia merasakan hawa-hawa ketidaknyamanan di ruangan itu.
“Ayo, kita masuk ke dalam, Permadi!” ajak Cintia.
“Apa perlu kita masuk ke dalam, Mak?” tanya Permadi.
“Kenapa? Kamu takut?” tanya Cintia.
“Iya, Mak. Sudah cukup lama kamar ini dikosongkan sejak ada komplain dari tamu hotel itu,” jawab Permadi.
“Ayolah, kamu tidak perlu takut. Ada saya di sini!” jawab Cintia.
Dengan memberanikan diri, Permadi pun masuk menemani Cintia ke dalam kamar 204 itu. Sebenarnya itu di luar skrenario Cintia dan Herman, tapi terpaksa Cintia lakukan untuk meyakinkan Permadi akan kemampuannya membersihkan Hotel Bunga dari gangguan makhluk halus.
Cintia memeriksa keseluruhan isi kamar itu denga didampingi oleh Permadi yang ketakutan. Seluruh ruang diperiksa oleh Cintia tanpa terkecuali. Mulai dari kamar dan juga kamar mandinya.
“Permadi, apakah kamar ini secara rutn dibersihkan?” tanya Cintia.
“I-iya, Mak!” jawab Permadi.
“Siapa yang membersihkannya?” tanya Cintia.
“Kami membayar rekanan cleaning service dua minggu sekali untuk khusus membersihkan ruangan ini,” jawab Permadi.
“Kenapa tidak menyuruh cleaning service yang ada di sini?” tanya Cintia.
“Mereka tidak ada yang berani, Mak. Bahkan setiap dua minggu, kami harus mengganti rekanan perusahaan Cleaning Service yang baru karena rekanan yang lama menolak diajak kerja sama,” jawab Permadi.
“Kenapa mereka menolak?” tanya Cintia.
“Alasannya tidak jelas, tapi saya curiga mereka juga diganggu oleh-,” jawab Permadi terbata-bata.
“Kamu tadi menghidupkan keran kamar mandi, Permadi?” tanya Cintia karena tiba-tiba terdengar suara air dari kamar mandi.
“Tidak, Mak. Saya tidak menyalakan air sama sekali,” jawab Permadi.
“Coba kita cek ke sana!” ajak Cintia.
__ADS_1
Permadi berjalan di belakang Cintia ketika perempuan itu secara perlahan melangkah untuk memeriksa kamar mandi. Dan begitu mereka berdua sudah sampai di depan pintu kamar mandi, mereka terkejut karena suara air itu tiba-tiba menghilang dari pendengaran.
“Loh, kok suaranya tiba-tiba menghilang, Mak?” tanya Permadi ketakutan.
“Biasa, Permadi. Hantunya ngajak kenalan,” jawab Cintia dengan entengnya.
“Mak, ayo kita segera keluar dari kamar ini! Sebelum dia berulah lagi,” ajak Permadi dengan ekspresi wajah ketakutan.
Cintia pun mengajak Permadi keluar dari kamar mandi itu. Cintia juga jengah berada di dalam sana karena ia merasa bulu kuduknya mulai merinding. Mereka berdua pun akhirnya meninggalkan lantai kedua itu dan berjalan menuju ke lobi. Ada kursi di sana. Mereka berdua duduk saling berhadapan untuk melanjutkan perbincangan.
“Mak, bagaimana? Apa Mak bisa membantu kami?” tanya Permadi yang masih berusaha menetralisir rasa ketakutannya akibat masuk ke dalam kamar 204 tadi.
Cintia saat itu mulai menyusun rencana untuk mendapatkan data tamu pengunjung di hotel itu. Tapi, karena ia sudah terlanjur masuk ke peran yang ia mainkan, maka ia tidak bisa serta merta melepas hal itu.
“Kejadian apa yang pernah terjadi dikamar 204 itu? Apa ada pembunuhan atau kasus bunuh diri di sana?” tanya Cintia pada Permadi.
Permadi terhenyak mendapatkan pertanyaan sevulgar itu dari paranormal tua itu.
“Ti-tidak pernah, Mak. Tidak pernah terjadi bunuh diri atau pembunuhan di hotel ini,” jawab Permadi.
“Oke. Kira-Kira kejadian luar biasa apa yang pernah terjadi di kamar 204 itu?” tanya Cintia lagi.
Permadi berusaha mengingat-ingat kejadian di kamar 204 itu sebelum dihentikan operasinya.
“Beberapa waktu silam, kami mendapatkan telepon dari hotel melati milik kita juga di pinggiran kota untuk menyediakan satu kamar untuk dua orang. Kami pun mengosongkan kamar 204 tersebut. Satu jam kemudian datang seorang pria bersama pasangan wanitanya yang sedang ngefly masuk ke dalam kamar 204 itu,” tutur Permadi.
“Kalian menerima limpahan tamu itu? Apa kalian tidak curiga dengan mereka?” tanya Cintia.
“Tidak! Soalnya hal itu sudah biasa terjadi. Biasanya mereka mabuk didiskotik dan ujung-ujungnya menginap di hotel. Kami pikir perempuan yang dibawa oleh pria itu adalah teman kencannya. Lagipula kami juga tidak bisa menolak perintah dari atasan kami sendiri waktu itu,” jawab Permadi.
“Lantas, apa yang terjadi selanjutnya?” tanya Cintia.
Setelah itu kam tidak begitu memperhatikan sepasang tamu tersebut. Ternyata dari rekaman CCTV di lobi hotel, setengah jam setelahnya laki-laki itu keluar dari dalam kamar 204 dan menyerahkan kunci kamarnya kepada laki-laki lain. Jadi, yang menginap di kamar tersebut adalah orang yang baru datang itu,” lanjut cerita Permadi.
“Terus, bagaimana dengan nasib perempuan itu?” tanya Cintia.
“Esok harinya, pria itu check out duluan sedangkan si perempuan meninggalkan kamarnya sekitar pukul satu siang,” jawab Permadi.
“Tidak terjadi apa-apa pada perempuan itu?” tanya Cintia.
“Tidak!” jawab Permadi.
Cintia memejamkan matanya saat itu seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.
“Bagaimana, Mak? Apakah Mak bisa membantu kami mengusir arwah dari hotel ini?” tanya Permadi sekali lagi.
“Tenang, Permadi. Saya akan berusaha untuk menolong kalian. Tapi, dari hasil penerawangan saya barusan. Sepertinya saya tidak bisa melakukannya sekarang,” jawab Cintia.
“Terus, kalau tidak bisa sekarag, kapan?” tanya Permadi sedikit kecewa.
“Saya membutuhkan data tamu pengunjung hotel ini dulu karena saya harus meruwat satu persatu nama itu agar hasilnya lebih optimal,” jawab Cintia.
“Kalau itu gampang, Mak. Saya bisa memberikannya langsung pada Mak sekarang. Bukunya suda standby di sana. Apa itu artinya Mak bisa langsung melakukan ritualnya sekarang?” desak Permadi.
“Tidak bisa, Permadi. Aku tetap harus meruwat nama-nama itu satu persatu di rumah. Hal itu memutuhkan waktu yang cukup lama. Kalau dalam bentuk file apakah ada datanya?” tanya Cintia.
“File? Apa Mak bisa mengoperasikan komputer?” tanya Permadi keheranan.
“Kamu menyepelekan Mak? Mak diajari salah satu murid Mak,” jawab cintia berbohong.
“Oke, Mak. Selain ditulis di buku besar itu, data-data pengunjung juga kami ketik di komputer. Biar nanti Dini yang mengcopykan untuk Mak ke dalam flashdisk,” jawab Permadi.
“Baiklah, Permadi. Ayo, kita ambil datanya sekarang. Kebetulan aku harus segera ke tempat lain,” ajak Cintia.
“Ayo, Mak!” jawab Permadi lemas.
Setelah itu Permadi pun menyuruh Dini menyalin data pengunjung hotel tersebut dari komputer ke flashdisk untuk diberikan ke Cintia. Cintia senang karena ia tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkan data-data itu dari Permadi. Begitu sudah mendapatkan apa yang ia inginkan, Cintia pun pamit kepada Permadi. Permadi, Dini, dan Togar pun bersalaman dan mencium tangan Cintia. Cintia sampai merasa risih dengan sikap mereka bertiga yang berlebihan.
Permadi mengantar Cintia ke depan.
“Mak, saya tunggu kehadiran Mak segera, ya?” ucap Permadi.
“Iya, Permadi. Setelah selesai memeriksa data-data ini, aku akan segera mengadakan ritual di hotel ini. Oh ya, sampaikan kepada temannya Dini itu jangan sombong-sombong,” ucap Cintia.
“Temannya Dini yang mana, Mak? Togar?” tanya Permadi.
“Bukan. Cewek yang berdiri di sebelah Dini,” jawab Cintia.
“Cewek???” Permadi keheranan dengan jawaban Cintia karena Dini sedang berdiri sendirian di ruangan resepsionis.
Permadi ingin mengkroscek ucapan Cintia, tapi Cintia sudah berjalan jauh meninggalkan Hotel Bunga. Pria itu menoleh ke arah Dini yang sedang sendirian di ruangannya. Menyadari ketidakberesan itu, Permadi pun buru-buru meninggalkan hotel tersebut menuju parkiran.
“Sebaiknya aku ke hotel melati cabang dulu. Daripada di sini aku bisa ati ketakutan.” Permadi berbicara pada dirinya sendiri di dalam mobil.
Baru saja pria itu akan menghidupkan mesin mobilnya, ia melihat seorang perempuan cantik dari kaca dashboard.
“loh, kok ada cewek di dalam mobilku?” pikir Permadi.
Karena penasaran ia pun menoleh ke jok belakang dan betapa terkejutnya pria itu karena ia tidak melihat siapa-siapa di sana.
__ADS_1
“Ha-ha-ha-haaantuuuuuuuuu ….,” teriak Permadi sambil ngacir meninggalkan mobilnya.
BERSAMBUNG