
Sepuluh hari sebelumnya ...
Bu Dewi sibuk menenangkan bayi yang ada di gendongannya yang sejak semalam rewel. Bayi tersebut sebenarnya bukan darah dagingnya sendiri. Sebulan yang lalu, Laras memberikan bayi mungil itu kepadanya. Laras adalah gadis yang tinggal menumpang di salah satu rumahnya yang lain. Almarhum ibunya Laras adalah orang yang bekerja menjadi pembantu di rumah Bu Dewi. Setelah ibunya meninggal, Bu Dewi mempersilakan Laras untuk
tetap tinggal di rumah tersebut.
Sebenarnya para tetangga banyak yang protes ke Bu Dewi perihal Laras. Kata mereka, Laras yang tinggal sendirian di rumah itu membuat ibu-ibu resah karena Laras acap kali menggunakan baju cukup seksi. Mereka takut suami mereka tergoda dengan Laras. Bahkan, ada yang berani meminta kepada Bu Dewi untuk mengusir Laras dari rumahnya.
Bu Dewi yang kasihan kepada Laras pun mencoba menasehati Laras agar lebih sopan dalam berpakaian. Laras yang mendengar desas-desus tentang dirinya dari Bu Dewi itu pun meminta maaf kepada Bu Dewi dan berjanji akan memperbaiki diri.
Sekitar dua bulan dari kejadian itu Laras pamit kepada Bu Dewi untuk bekerja di kota. Bu Dewi sempat mencecar Laras agar benar-benar mempertimbangkan keputusannya, tapi gadis itu bersikukuh untuk berangkat. Bu Dewi pun tak bisa melarang kepergian Laras yang menurutnya mendadak itu. Dan, setelah itu Laras tidak muncul-muncul lagi di dusun Delima.
Bu Dewi sempat mendengar rumor tentang Laras dari para tetangganya. Ada yang mengaku pernah melihat Laras di sekitar kompleks pelacuran di dekat pantai yang cukup terkenal di kota tersebut. Tapi, Bu Dewi tidak percaya dengan adanya rumor tersebut. Bu Dewi beranggapan itu semua hanya fitnah karena mereka sudah terlanjur tidak suka dengan Laras.
Sebulan yang lalu saat Bu Dewi sendirian di rumah karena Pak Herman, suaminya pergi ke kota untuk bekerja, tiba-tiba Laras datang dengan membawa seorang bayi. Kepada Bu Dewi Laras mengaku bahwa ia sudah menikah sirih dengan ayah bayi itu, tapi ia sudah bercerai dengan suaminya. Bu Dewi sebenarnya agak ragu dengan pengakuan Laras, tapi rasa sayangnya terhadap Laras menutupi semuanya.
"Kamu kok jadi kurus begini, Laras?" tanya Bu Dewi yang cukup kaget melihat perubahan fisik Laras.
Badan Laras dulu bagus sekali dan ideal, tapi sekarang sangat kurus.
"Saya sakit, Bude," jawab Laras.
"Kamu sakit apa, Nduk?" tanya Bu Dewi cemas.
"Paru-Paru, Bude," jawab Laras.
"Kamu sudah berobat rutin belum ke Puskesmas? Gratis kok, kayak Bu Nina yang tinggal di ujung desa itu, dulu
dia kurus kayak kamu, sekarang dia sudah sembuh dan gemuk lagi," tutur Bu Dewi.
"Saya terkena kanker paru-paru, Bude," jawab Laras dengan terisak.
__ADS_1
"Ya Allah, Laraaaaas!!!" pekik Bu Dewi tak tega dengan nasib yang menimpa anak mantan pembantunya itu.
Bu Dewi spontan memeluk Laras. Ia sudah tidak berpikir apakah penyakit yang diderita Laras dapat menular atau
tidak kepada dirinya.
"Kata dokter paling lama enam bulan lagi, Bude, saya bisa bertahan," ucap Laras lirih.
"Kamu nggak boleh ngomong gitu, Nduk. Jodoh .. maut itu urusan gusti Allah ... Semangat ya, Nduk. Demi anakmu
ini," ujar Bu Dewi sambil menunjuk ke bayi yang digendong Laras. Bayi tampan itu tersenyum dengan manisnya.
"Semoga, Bude," jawab Laras sambil mengelus pipi anaknya yang tirus.
Selama beberapa detik Laras mengkudang bayinya dengan disaksikan oleh Bu Dewi yang juga kepincut dengan
keluguan bayi laki-laki itu.
"Iya, Laras. Tapi kamu sering-sering jenguk. Kasihan anakmu," jawab Bu Dewi.
"Kalau saya mati, saya titip Panji ya, Bude. Anggap dia anak Bude sendiri," ujar Laras sambil meneteskan air mata.
"Laraaaas!! Kamu jangan ngomong begitu lagi," balas Bu Dewi dengan berderai air mata.
Laras pun menyerahkan Panji kepada Bude. Seperti sudah jodohnya, Panji tetap tenang di dalam gendongan Bu Dewi yang memang tidak punya anak itu.
Laras pun pamit ke rumah lamanya untuk beristirahat. Bu Dewi membawakan rantang berisi makanan kepada Laras. Laras dengan senang hati menerima pemberian Bu Dewi.
Keseharian Bu Dewi sekarang disibukkan dengan merawat Panji. Pak Herman, suaminya tidak keberatan istrinya
merawat anak Laras. Bahkan Pak Herman juga senang dengan kehadiran Panji di rumah itu. Kebahagiaan keluarga Bu Dewi akhirnya lengkap dengan kehadiran Panji di tengah-tengah mereka.
__ADS_1
Laras biasanya datang ke rumah Bu Dewi sekitar jam sembilan pagi. Tapi, ia membatasi bersentuhan dengan Panji
karena ia merasa kondisi paru-parunya semakin memburuk. Ia khawatir ada virus yang menyertai kankernya sehingga dapat menulari anaknya yang masih sangat rentan dengan penyakit.
Para tetangga yang dulunya memang tidak suka dengan Laras tidak menaruh iba sedikitpun melihat kondisi Laras yang sudah memprihatinkan itu. Mereka malah mempengaruhi Bu Dewi dengan mengatakan bahwa Laras itu perempuan nggak bener dan Panji itu anak hasil dari pekerjaan haramnya. Bu Dewi marah pada orang yang mengatakan Panji adalah anak haram.
"Panji ini anakku! Jangan sekali-kali kalian menjelekkan anak ini," bentak Bu Dewi pada Bu Nisa.
"Maaf, Bu Dewi," sahut Bu Nisa sambil berlalu pergi.
Berbeda dengan Laras, Bu Dewi adalah sosok yang sangat disegani di dusun Delima. Selain dermawan, Bu Dewi memang terkenal sabar. Kemarahan Bu Dewi demi membela Panji sangat ditakuti oleh para tetangganya. Mereka tidak berani lagi berbicara tentang Panji di depan Bu Dewi. Namun, di belakang Bu Dewi mereka malah mengira Bu Dewi itu bodoh dan mau-maunya disuruh merawat anak hasil hubungan gelap.Yah, meskipun mereka juga memaklumi karena Bu Dewi sudah lama menginginkan buah hati.
Sebulan pun berselang. Selain merawat Panji, Bu Dewi juga secara rutin membawa Laras ke Dokter dan tempat
berobat alternatif. Namun, sudah dua mingguan ini Laras tidak mau diajak berobat. Kondisi fisiknya menurun secara drastis.
"Larasssss!" Bu Dewi berteriak-teriak memanggil nama ibunya Panji.
Tidak ada sahutan dari dalam rumah Laras. Bu Dewi datang dengan menggendong Panji dan membawa rantang berisi makanan. Bu Dewi mencemaskan kondisi Laras. Tidak biasanya jam hingga jam sebelas siang Laras tidak datang menjenguk Panji.
Karena tidak ada jawaban, Bu Dewi pun mencoba membuka pintu yang ternyata tidak dikunci.
"Laraaaaas!!" teriak Bu Dewi lagi sambil berjalan menuju kamar utama.
Sesampai di kamar, Bu Dewi terkejut karena melihat Laras sedang berbaring dengan tatapan mata lurus ke atas.
"Ya Allaaaaaaaaaah!!!!" teriak Bu Dewi histeris sambil berusaha memeriksa denyut nadi dan tanda-tanda
kehidupan lainnya.
"Innalillahi wainnailaihi rojiuuuun," ucap Bu Dewi dengan lirih sambil mencoba menutupkan mata laras yang tetap terbuka.
__ADS_1
BERSAMBUNG