
Rasa lelah yang mendera fisik dan psikis membuat Pak Ade dan keluarganya benar-benar nyenyak tertidur di kamar tamu rumah ibunya Jatmiko. Sementara mereka tertidur, Jatmiko dan ibunya melakukan aktifitas untuk persiapan ritual besok malam. Jatmiko diminta oleh ibunya untuk menyiapkan sesaji yang akan dipasang di empat penjuru desa Curah Putih besok sore. Sedangkan Ibunya Jatmiko kembali naik ke atas bukit untuk menemui Ki Santo, suami ritualnya. Sepertinya ada hal penting yang sedang mereka rundingkan di sana.
Pada sore hari Pak Ade terbangun dari tidurnya sementara Bu Nisa dan Revan masih tertidur pulas. Pak Ade yang semasa sering menginap di kamar tersebut pun menjadi teringat dengan masa-masa dan Jatmiko masih kecil.
“De, kamu kalau sudah besar mau jadi apa?” tanya Jatmiko Kecil pada Ade Kecil.
“Aku mau jadi orang kaya, Jat. Biar bisa keliling dunia,” jawab Ade Kecil.
“Wah, berarti kamu mau ninggalin desa ini, dong?” tanya Jatmiko Kecil.
“Ya, nggak apa-apa, Jat. Masa selamanya kita akan tinggal di sini? Dunia ini luas, Jatmiko. Kita harus bisa merasakan tinggal di banyak tempat di dunia ini,” jawab Ade Kecil dengan berapi-api.
Jatmiko nampak sedih mendengar jawaban Ade Kecil.
“Hm … Kalau kamu cita-citanya apa, Jat?” Giliran Ade Kecil yang bertanya kepada Jatmiko Kecil.
“A-ku ingin tetap tinggal di sini, De, bersama ayah dan ibuku,” jawab Jatmiko Kecil sambil menunduk.
Ade Kecil yang memiliki sifat ekstrovert itu pun menepuk pundak sahabatnya yang memiliki jiwa introvert.
“Nggak apa-apa, Jatmiko. Tapi, kamu mau kan kalau aku sesekali mengajakmu keliling dunia?” ucap Ade Kecil sambil melempar senyuman manis pada temannya yang pendiam itu.
Jatmiko yang pemalu itu pun mendongakkan wajahnya dan menatap wajah Ade Kecil.
“Emangnya kalau sudah kaya kamu masih ingat sama aku, De?” tanya Jatmiko kecil pada Ade Kecil.
Ade kecil kembali tersenyum pada sahabatnya itu sambil menepuk punggung kecilnya.
__ADS_1
“Ya iyalah, Jat. Aku nggak mungkin lupa sama kamu selamanya. Kamu dan ibumu adalah orang yang sangat berjasa untuk aku dan keluargaku,” jawab Ade Kecil saat itu.
“Makasih banyak ya, De. Semoga persahabatan kita ini akan terus ada sampai maut memisahkan,” jawab Jatmiko Kecil dengan tulus.
“Eits! Aku belum bilang syaratnya loh sama kamu!” ucap Ade Kecil sedikit mengejutkan Jatmiko Kecil.
“Syarat?”gumam Jatmiko Kecil saat itu.
“Iya, Jat. Aku mau ngajak kamu keliling dunia tadi ada syaratnya, dong!” jawab Ade Kecil.
“Tapi, kalau aku tidak punya harta atau uang untuk memenuhi syarat dari kamu, bagaimana?” tanya Jatmiko kecil dengan lugunya.
Ade Kecil menatap wajah sahabatnya yang lugu itu.
“Syaratnya bukan uang kok, Jat!” jawab Ade Kecil sambil melempar senyuman manisnya.
“Kalau bukan uang, terus apa syaratnya?” tanya Jatmiko Kecil kembali.
“Iya, De,” jawab Jatmiko Kecil.
“Syaratnya, aku dibolehin sesekali menginap dan makan di rumah ini,” jawab Ade Kecil dengan mengangkat salah satu alisnya.
“Wah, kalau itu sih malah harapanku saat kamu suda menjadi orang kaya. Aku maunya kamu tetap sering ke sini dan tidak melupakan aku dan keluargaku,” jawab Jatmiko Kecil dengan senyum lebarnya.
Ade Kecil adalah dua sahabat dengan karakter yang berbeda. Ade Kecil terkenal bawel dan ada saja idenya. Dengan adanya Ade Kecil di desa tersebut membuat hari-hari Jatmiko Kecil lebih ceria. Ia yang aslinya sangat dijaga ketat oleh kedua orang tuanya pun akhirnya bisa bebas bermain keliling desa karena adanya Ade Kecil. Ade Kecil selalu punya strategi bagaimana caranya mereka berdua bisa bermain di luar tanpa ketahuan orang tua Jatmiko Kecil. Berbeda halnya dengan Ade Kecil, Jatmiko Kecil adalah seorang pendiam. Namun, Jatmiko ini memiliki keterampilan untuk mengerjakan pekerjaan yang tidak biasa dikerjakan anak kecil. Misalnya membuat alat permainan dari kayu atau barang bekas. Jatmiko Kecil juga dapat meninakkan hewan liar dan sebagainya. Selain itu Jatmiko juga memiliki kekuatan fisik diatas rata-rata. Kalau berkelahi dengan temannya, ia selalu menang dan tidak pernah merasa takut. Jadi, ketika mereka berdua sudah bersama maka seluruh dunia peranak-anakan di desa Curah Putih pun tidak berani melawan mereka. Yang ada mereka berdua malah menjadi ‘Bos’ bagi anak-anak di desa Curah Putih. Ade Kecil ‘Bos Besar’nya dan Jatmiko ‘Algojo’nya.
Ade Kecil dan Jatmiko pun melanjutkan perbincangan ‘halu’ mereka sambil melihat keadaan di halaman rumah melalui jendela. Mereka berdua biasa melakukan hal itu setiap sore hari sambil memperhatikan lalu lalang penduduk yang sedang beraktifitas. Kebetulan rumah Jatmiko berada di dekat perempatan yang banyak dilalui penduduk. Di dekat rumahnya juga terdapat tempat ibadah yang sesekali dikunjungi oleh mereka. Pada saat mereka berdua masih kecil, masih ada orang yang berkunjung ke tempat ibadah itu meskipun jumlahnya sedikit.
__ADS_1
“Loh, ayo mandi semua! Kok masih anteng-antengan di situ! Lima menit lagi kalian berdua bersiap mengaji, besok kalian berdua nggak boleh main keluar rumah!” ancam bapaknya Jatmiko Kecil yang tiba-tiba muncul di belakang mereka dengan menyibak tirai yang terbuat dari kain sebagai pembatas kamar Jatmiko Kecil dan ruang tamu.
“I-iya, Pak!” Ade Kecil dan Jatmiko Kecil pun langsung kabur meninggalkan kamar menuju kamar mandi.
Mereka berdua tidak mau kehilangan waktu bermain di luar rumah yang hanya setengah jam itu. Tapi, biasanya dengan kecerdasan akal Ade Kecil, waktunya bisa bertambah menjadi satu jam bahkan dua jam. Salah satu cara yang pernah dilakukan Ade Kecil adalah dengan melambatkan jam dinding tua yang ada di ruang tamu rumah Jatmiko. Alhasil mereka pun tidak dimarahi ketika pulang terlambat. Namun, akibatnya bapaknya Jatmiko Kecil justeru ditertawain oleh penduduk desa Curah Putih karena mengumandangkan azan Asar terlambat satu jam. Ada-Ada saja kelakuan Ade Kecil dan Jatmiko Kecil saat itu. Namun, mengingat hal itu membuat Pak Ade merasa terharu dan sedih.
Pak Ade menatap ke arah luar jendela kamar. Tidak ada lagi orang yang datang ke tempat ibadah di dekat rumah Jatmiko. Tempat ibadah itu sekarang sudah tidak terawat lagi. Yang dilihat oleh Pak Ade saat itu hanyalah penduduk yang tidak saling menyapa. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Di banyak titik di rumah mereka terdapat banyak sisa sesajen. Setiap pergi keluar rumah, mereka juga selalu membawa jimat untuk keselamatan. Di desa Curah Putih, orang yang ditokohkan adalah dukun. Perangkat desa harus dekat dengan dukun supaya bisa didengar omongannya oleh warga desa tersebut.
Tak terasa air mata Pak Ade menggenang saat itu mengenang masa kecil hidup di desa ini. Pak Ade menghentikan lamunannya saat terdengar suara seseorang dari balik pintu.
“De, apa kamu sudah bangun? Aku lupa mengatakan kalau kamar mandi di dalam rumah ini sedang macet. Jadi, yang bisa digunakan yang ada di luar rumah. Apabila kamu dan keluargamu mau ke kamar mandi. Lebih baik dilakukan sekarang mumpung masih belum magrib,” ucap Jatmiko dari balik pintu.
“Iya, Jat,” jawab Pak Ade sambil mengusap air matanya.
Pak Ade pun buru-buru membangunkan istrinya dan menyampaikan informasi tersebut. Bu Nisa kaget dan ia pun buru-buru ke kamar mandi untuk buang air. Begitu pula dengan Pak Ade. Sedangkan Revan masih tetap dibiarkan tidur karena mereka tidak tega membangunkannya.
BERSAMBUNG
Hai, Readers ...
Ada kuis lagi loh, tapi bukan untuk novel ini. Melainkan untuk novel yang satunya, yaitu KAMPUNG HANTU.
Caranya :
Berikan like dan komentar di setiap BAB novel KAMPUNG HANTU mulai dari bab awal sampai akhir (BAB Pengumuman tidak usah)
Hadiah : Pulsa @10 ribu untuk 3 orang pemenanng.
__ADS_1
Batas perlombaan 2 Januari 2023.
Pengumuman Pemenang 3 Januari 2023