
Pak Ade dan Bu Nisa terang saja panik mendengar jawaban polos anaknya itu. Saat itu mereka ingin memarahi Revan karena sudah melanggar nasehat mereka untuk tidak memikirkan tentang rasa takut dan sebagainya, tapi apalah daya. Bagaimanapun Revan tetaplah anak kecil yang tentu saja memiliki rasa takut.
“Jangan, Revan!” teriak Pak Ade pada saat itu.
Namun, usaha Pak Ade sepertinya sudah terlambat. Pada saat itu Pak Ade sudah melihat bahwa mata anaknya sedang melotot tajam ke ruang di antara Pak Ade dan Bu Nisa.
“Paaaaak … I-i-tuuuuuu!” teriak Revan dengan gelagapan.
Bu Nisa dan Pak Ade pun langsung menoleh ke arah belakang tepatnya ke arah yang ditunjuk oleh Revan. Dan tanpa mereka sadari, saat mereka menoleh ke belakang mengikuti arahan Revan, pada saat itu juga mereka juga lengah dan ikut memikirkan tentang arwah Laras. Sehingga, saat mereka menoleh ke belakang, arwah Laras muncul dalam jarak lima meter di belakang mereka dengan wujud yang awalnya transparan dan semakin lama wujudnya semakin nyata saja sesuai dengan wujud Laras yang pernah mereka temui sebelumnya di rumah sakit.
“Tidaaaaaaaak!!!!” teriak Revan dengan sangat nyaring begitu melihat sosok menyeramkan itu terbang mendekatinya.
Pak Ade dan Bu Nisa pun buru-buru masuk juga ke dalam kamar mandi dan memeluk tubuh Revan yang sedang duduk di atas ******.
Prooooooot!!!!
Karena saking takutnya Revan saat itu, kotorannya sampai jatuh dengan sendirinya ke dalam ****** tanpa Revan harus mengejan. Pak Ade pun buru-buru mendekap kepala Revan agar tidak melihat ke arah arwah Laras yang sedang mendekatinya. Jadinya, mereka bertiga pun saling berpelukan dengan erat dan tidak berani membuka mata.
“Hi hi hi hi hi …,” suara tawa arwah Laras terdengar nyaring dan memekakkan telinga mereka bertiga.
Pak Ade, Bu Nisa, dan Revan semakin meringkuk karena ketakutan.
“Revan! Ayo, buruan selesaikan buang hajatmu!” teriak Pak Ade masih bisa menguasai dirinya.
“Tapi, Pak. Aku takut!” sahut Revan sambil tetap memejamkan matanya.
__ADS_1
“Aku akan membunuh kalian bertiga … Hi hi hi hi hi …,” suara arwah Laras makin nyaring saja terdengar di kamar mandi itu.
“Tidaaaaaaaak!!!” teriak Bu Nisa histeris karena ia sangat ketakutan mendengar suara itu.
“Hi hi hi hi hi …,” suara tawa arwah Laras makin melengking saja begitu mendengar suara Bu Nisa yang histeris ketakutan.
Di antara mereka bertiga hanya Pak Ade yang masih terlihat dapat menguasai dirinya. Meskipun saat itu mereka bertiga memejamkan mata, ternyata wajah menyeramkan Laras tetap muncul di pelupuk mata mereka bertiga dan membuat jantung mereka berdegup denga kencang karena ketakutan.
“Pergi kamu! Jangan kamu sakiti keluargaku!” teriak Pak Ade berusaha menghalau arwah Laras.
“Hi hi hi hi hi … Ternyata kamu juga sayang dengan keluargamu, Ade! Tapi, saat kamu berbuat jahat kepadaku, kenapa kamu tidak memikirkan perasaan keluargaku? Dasar laki-laki bajingan! Aku akan membunuh anak dan istrimu agar kamu merasakan sakit seperti yang dialami keluargaku. Hi hi hi hi hi …,” sahut arwah Laras dengan suara menyeramkan.
“Tidaaaaaaaak!!!!!” teriak Bu Nisa dan Revan dengan bersamaan karena saking takutnya.
“Hi hi hi hi hi …,” suara arwah Laras semakin melengking seolah merasa puas dengan rasa ketakutan yang ditunjukkan oleh Bu Nisa dan juga Revan.
“Waaaaaaaaaaa!!!” teriak Laras dengan mata melotot untuk menakuti anak kecil itu.
“Ti-Ti-Tidaaaaaak!!!” pekik Revan lemah sebelum akhirnya ia pun pingsan di atas ******.
“Revan!” pekik Bu Nisa yang menyadari bahwa anaknya menjadi pingsan akibat ulah arwah perempuan itu.
“Aaaaaaaaaaaaa!!!” teriak Bu Nisa pada saat ia membuka matanya karena wajah menyeramkan Laras tiba-tiba juga muncul di depan matanya.
Namun, berbeda dengan Revan. Perempuanitu tidak pingsan saat melihat sosok menyeramkan itu, tapi dia memejamkan matanya kembali sambil berusaha mengamankan posisi kepala anaknya agar tidak membentur dinding kamar mandi.
__ADS_1
“Hi hi hi hi hi …,” teriak kegirangan arwah Laras saat melihat anggota keluarga Pak Ade kepanikan.
“Mas, bantuin pegangi badan Revan!” teriak Bu Nisa panik sambil menangis.
“Iya, Dik!” jawab Pak Ade sambil mempererat dekapannya pada tubuh Revan.
Setelah melihat Revan pingsan, arwah Laras bukannya merasa kasihan dan menghentikan aktifitasnya mengganggu keluarga kecil itu. Arwah Laras malah semakin gencar mengganggu mereka bertiga. Pada saat itu arwah Laras memang masih belum bisa menyentuh secara fisik Pak Ade dan keluarganya berkat jampi-jampi yang diberikan oleh Nenek Galuh. Tapi, karena rasa ketakutan keluarga yang memuncak itu membuat arwah Laras mampu saling kontak secara audio dan visual dengan mereka bertiga.
Bu Nisa dengan sisa-sisa tenaganya berusaha untuk menceboki Revan dengan menggunakan gayung. Perempuan itu melakukan hal itu sambil menghadapi gangguan dari arwah Laras.
“Mas! Aku nggak kuat!” pekik Bu Nisa dengan perlahan karena energinya habis untuk menyingkirkan arwah Laras dari pikirannya.
Usaha Bu Nisa untuk mengenyahkan arwah Laras tidak membuahkan hasil karena saking paniknya melihat Revan yang pingsan.
“Dik … tahan, Dik!” ucap Pak Ade sambil berusaha untuk memegangi tubuh Revan dan juga istrinya.
“Maaaaas!!!” teriak Bu Nisa lemah dan perempuan itu pun juga ikutan pingsan menyusul anaknya.
“Perempuan sialan!” teriak Pak Ade dengan penuh kemarahan karena melihat anak dan istrinya pingsan akibat ulah arwah Laras.
“Hi hi hi hi hi …,” teriak arwah Laras dengan penuh kegirangandan kemudian sosoknya pun menghilang dari pandangan Pak Ade.
Pak Ade pun meletakkan tubuh istrinya terlebih dahulu secara perlahan menyandar di bak mandi. Setelah itu ia pun mengangkat tubuh anaknya ke luar kamar mandi. Namun, belum selesai ia membawa tubuh Revan ke tempat yang lebih nyaman, sosok arwah Laras sudah muncul lagi dalam jarak lima meter dan terbang ke arah pria itu dengan tangan dikedepankan seakan-akan mau mencekik leher Pak Ade. Pak Ade pun buru-buru meletakkan tubuh Revan di atas tanah. Dan ia pun langsung berhadapan dengan sosok menyeramkan arwah Laras yang sudah tepat berada di depannya.
“Aaaaaaaa!!!” pekik Pak Ade berusaha menghalau kedatangan arwah Laras.
__ADS_1
Tentu saja ia dan arwah Laras tidak bisa bersentuhan saat itu. Tapi, pria itu terlanjur menunduk karena ngeri melihat sosok yan sangat menyeramkan di depannya. Selanjutnya suasana menjadi hening seketika. Pak Ade masih meringkuk di depan kamar mandi. Sementara istri dan anaknya masih terbaring pingsan di tempat yang tidak semestinya.
BERSAMBUNG