MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 34 : RUMAH SAKIT


__ADS_3

Sepanjang jalan dari rumah menuju rumah sakit, Pak Ade beberapa kali mengumpat karena tubuhnya harus terangkat-angkat di atas brankar karena banyaknya jeglongan yang dilalui sepanjang jalan.


“Pelan-Pelan, Pak!” pekik Pak Ade.


“Ini sudah pelan, Pak. Jalannya saja yang rusak parah. Kalau terlalu pelan nanti malah mobilnya rentan terjebak di lumpur,” jawab sopir ambulan dengan agak jengkel.


“Iya, Pak. Fokus sama jalan saja. Mohon maaf ya, Pak, suami saya memang begitu,” sahut Bu Nisa merasa malu dengan kelakuan suuaminya.


Pak Sopir pun memaklumi alasan Bu Nisa dan melanjutkan perjalanannya.


“Jalan sialan!” umpat Pak Ade kali ini.


“Sudah! Nggak usah mengumpat jalannya. Jalan rusak tidak kunjung diperbaiki ini kan karena ulah kepala desa junjungan Mas sendiri yang nggak becus mengurusi desa!” sahut Bu Nisa.


“Mending aku mendukung Pak Dibyo orangnya gagah nggak letoy kayak Pak siapa itu yang kamu dukung?” jawab Pak Ade.


“Siapa yang letoy? Mas Wisnu kan ganteng orangnya,” jawab Bu Nisa.


“Laki-Laki kemayu kayak gitu kau bilang ganteng? Buktinya suaranya kalah jauh sama Pak Dibyo,” protes Pak Ade dengan perasaan cemburu.


“Biarin Mas Wisnu tidak jadi kepala desa di sini, tapi sekarang dia sudah kerja di dinas sosial di kecamatan. Itu berarti dia itu berkualitas tinggi, nggak kampungan seperti Pak Dibyo,” jawab Bu Nisa tidak mau kalah.


Pak Ade menoleh ke arah Bu Nisa dan ia pun hanya bisa menatap kesal karena tidak punya jawaban lagi untuk melawan istrinya itu.


“Aduh!” pekik PakAde lagi saat melewati jeglongan terakhir di desa Sido Mekar.


“Sudah, Bu Nisa. Jangan bertengkar masalah politik. Toh, itu sudah cerita lama. Sekarang lebih baik kita konsentrasi untuk kesembuhan Pak Ade saja,” potong Bu Dimas yang juga berada di sebelah Bu Nisa.


“Eh, iya, Bu. Maaf, sudah bikin Pak Dimas dan Bu Dimas risih,” jawab Bu Nisa dengan malu-malu.


Setelah melalui perjalanan sekitar dua puluh menit yang cukup menguras energi an emosi karena jalan desa yang rusak parah di desa Sido Mekar, ahirnya mobil ambulan itu pun sampai di rumah sakit terdekat. Sopir ambulan mengarahkan mobil ke Instalasi Gawat Darurat. Setelah sampai di depan IGD, sopir ambulan dengan dibantu oleh petugas rumah sakit pun membuka bagian belakang mobil ambulan dan menurunkan brankar dari atas ambulan untuk dibawa ke ruang observasi. Bu Nisa hanya bisa mengantar sampai di bagian administrasi, selanjutnya mereka hanya boleh menunggu di depan IGD.


“Pak, ijinkan istri saya ini masuk, ya?” pinta Pak Ade sambil merengek kepada petugas rumah sakit.


“Maaf, Pak. Nggak boleh. Di dalam harus steril. Bapak istirahat saja dulu nggak usah takut,” jawab petugas medis yang berpakaian serba putih itu.

__ADS_1


“Dik kamu jangan jauh-jauh dari sini, ya! Mas takut berada di sini,” teriak Pak Ade yang disambut senyuman oleh para petugas IGD.


“Iya, Mas. Tenang saja, aku di depan sini, kok!” jawab Bu Nisa.


Setelah menyelesaikan urusan administrasi di meja Admisi, Bu Nisa pun menghampiri Pak Dimas dan Bu Dimas yang sudah duduk terlebih dahulu di kursi tunggu.


“Apa ada urusan administrasi yang kurang, Bu Nisa?” tanya Pak Dimas.


“Sudah beres semua, Pak. Tinggal menunggu hasil observasi suami saya,” jawab Bu Nisa sambil duduk dan menghela napas lega.


“Semoga tidak ada masalah serius dengan Pak Ade ya, Bu,” ujar Pak Dimas kemudian.


“Iya, Pak. Saya belum siapa untuk kehilangan suami saya, Pak,” jawab Bu Nisa dengan lemah.


“Bu Nisa nggak boleh ngomong seperti itu. Insyaallah Pak Ade baik-baik saja. Buktinya barusan masih kencang kan ngomongnya sama Bu Nisa,” sela Bu Dimas.


“Semoga saja begitu, Bu,” jawab Bu Nisa.


“Revan nanti saya antar ke sini apa gimana, Bu Nisa?” tanya Bu Dimas.


“Jangan dulu, Bu. Biar Revan sementara sama Bu Jefri dulu. Nanti kalau suami saya sudah boleh ditengok baru Revan diajak ke sini,” jawab Bu Nisa.


Bu Nisa tampak tidak tenang menunggu suaminya yang sedang diobservasi oleh tim dokter. Pak Dimas dan Bu Dimas selalu mensupport perempuan itu untuk tetap tabah dan tidak terlalu panik. Kurang lebih satu jam kemudian ada salah satu tim dokter yang memanggil nama keluarga Pak Ade. Bu Nisa buru-buru menghampiri dokter tersebut.


“Bagaimana keadaan suami saya, Dok?” tanya Bu Nisa tak sabar.


“Kami sudah mengobservasi bagian luar dari luka dan lebam pasien dengan saksama.Kalau dari pengamatan sementara yang kami lakukan, sepertinya suami ibu baik-baik saja karena ditangani dengan tepat sesaat setelah terjadinya kecelakaan. Kalau seandainya luka suami ibu terutama di bagian kepalanya tidak ditangani dengan cepat, entahlah mungkin kondisi suami ibu tidak akan sebagus sekarang,” jawab dokter berjenis kelamin perempua tersebut.


“Alhamdulillah. Terima kasih, Dokter. Terima kasih, Pak Dimas, atas pertolongannya terhadap suami saya,” jawab Bu Nisa sambil meneteskan air mata.


“Siapa itu Pak Dimas, Bu?” tanya dokter bernama dr. Marni itu.


“Ini Pak Dimas, Dok. Beliau yang memberikan pertolongan pertama pada suami saya,” jawab Bu Nisa sambil menyeka air matanya.


“Wah, terima kasih, Pak Dimas. Anda sungguh luar biasa,” puji dokter Marni.

__ADS_1


“Sama-Sama, Dok,” jawab Pak Dimas.


“Apa kami boleh melihat suami saya sekarang, Dok?” tanya Bu Nisa.


“Jangan dulu, Bu. Sebentar lagi kami mau melakukan rontgen pada kepala, tulang belakang, dan kaki suami ibu. Kami ingin memastikan apakah tidak ada tulang retak atau rembesan darah di kepala suami ibu,” jawab dokter Marni.


“I-iya, Bu. Lakukan yang terbaik untuk keselamatan suami saya, Dok,” jawab Bu Nisa.


“Baiklah, Bu. Teruslah berdoa untuk kesembuhan suami ibu dan saya ijin untuk kembali ke dalam,” ujar dokter Marni sambil berlalu meninggalkan tiga orang warga dusun Delima tersebut.


“Terima kasih banyak, Dok,” jawab Bu Nisa sambil mengajak sepasang suami istri itu untuk duduk di kursi tunggu kembali.


“Sekali lagi sayamau mengucapkan terima kasih kepada Pak Dimas dan Bu Dimas atas bantuannya untuk suami saya. Entah dengan apa kami bisa membalasnya,” ucap Bu Nisa.


“Sudahlah, Bu, nggak usah dipikir. Selama ini Bu Nisa dan Pak Ade juga sudah banyak menolong kami berdua,” jawab Pak Dimas.


Bu Nisa menyadarkan badannya ke kursi. Kali ini pikirannya sudah lebih tenang dari sebelumnya. Jadi, ia bisa memikirkan hal lain. Ia teringat pada kejadian lima tahun yang lalu. Saat itu dia dan suaminya sedang pulang dari jalan-jalan.


“Dik, sepertinya tender kali ini tidak bisa saya menangkan,” ujar Pak Ade dengan kesal.


“Sabar, Mas. Sekali-kali kalah tender kan tidak apa-apa. Garapan Mas yang lain kan masih banyak,” jawab Bu Nisa santai.


“Tidak begitu, Dik. Tender kali ini bergengsi sekali dan nilainya sangat besar. Kalau mas bisa memenangkan tender kali ini, CV mas bisa tambah besar. Kita juga bisa ganti mobil baru,” jawab Bu Nisa.


“Emangnya, kenapa Mas bisa kalah?” tanya Bu Nisa penasaran. Ia mulai tertarik untuk membantu suaminya memenangkan tender itu.


“Saingan mas berat sekarang, Dik. Ada kontraktor nomor satu di kecamatan sebelah mulai terjun ke sini,” jawab Pak Ade serius.


“Oh ya? Apa hebatnya kontraktor itu, Mas?” tanya Bu Nisa lagi.


“Track recordnya bagus. Modalnya juga lebih besar dari Cv kita, Dik,” jawab Pak Ade kesal.


“Apa tidak ada cara lain  Mas untuk mengalahkan kontraktor itu?” pancing Bu Nisa.


Pak Ade menoleh ke arah istrinya dan ia memeriksa raut wajah istrinya. Ia senang istrinya bisa mengerti jalan pikirannya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


Kalau menurut Readers, nanti sore update bab baru lagi apa nunggu besok saja?


__ADS_2