
Bu Reni tidak bisa tidur semalaman meskipun suaminya sudah datang menemani. Ia seolah merasa arwah Laras masih seliweran di sekitar rumahnya. Pak Hartono pun juga ikut-ikutan nggak bisa tidur karena selalu dibangunkan oleh istrinya setiap kali ia akan terlelap. Pada akhirnya pasangan suami istri itu pun bertengkar.
"Kamu ini kok penakut banget sih, Dik? Ibnu saja berani tidur sendirian, kamu kok malah kayak anak kecil begini? Ayo, buruan kita tidur sekarang! Besok mas harus kerja," keluh Pak Hartono.
"Aku ini takut, Mas. Besok kamu libur dulu! Aku nggak mau hantu Laras itu datang lagi," protes Bu Reni.
"Kalau mas libur-libur terus, mas bisa dipecat, Dik! Sekarang cari kerja itu susah. Kita mau makan apa kalau mas sampai dipecat?" jawab Pak Hartono.
"Libur dua hari masa sampai dipecat, Mas? Bilang saja aku sakit cukup parah gitu, masa nggak boleh?" bantah Bu Reni tak mau kalah.
"Nggak bisa, dik. Ijin itu maksimal satu hari saja. Emangnya kita bisa mengeluarkan surat keterangan sakit sendiri? Jelas-Jelas kamu hanya berhalusinasi saja," jawab Pak Hartono.
"Mas ini nggak percayaan banget sih sama aku? Oke, aku sumpahin kamu nanti ketemu hantu Laras sendiri baru tahu rasa!" balas Bu Reni.
"Orang yang sudah mati nggak bakalan hidup lagi, Dik!" jawab Pak Hartono kekeuh.
"Aku nggak mau tahu, pokoknya mas nggak boleh tidur dulu sebelum aku tidur!" jawab Bu Reni menegaskan.
Akhirnya mereka berdua tidak bisa tidur sampai subuh. Setelah subuh barulah rasa kantuk menyerang dan mereka pun terlelap.
*
Pukul sembilan pagi, Pak Salihun dan Pak Ratno sedang bekerja di sawahnya Pak Herman. Tiba-Tiba datang salah satu tetangga mereka, Pak Yadi yang baru saja selesai menyebar pupuk ke tanamannya.
"Pak Salihun ... kamu sudah denger belum?" sapa Pak Yadi.
"Denger apa, Yad?" tanya Pak Salihun.
"Coba tanya Pak Ratno, dia sudah dengar belum?" ujar Pak Yadi sambil duduk di atas galengan.
"Kalau si Ratno banyakan nggak dengernya kayaknya, Yad. Kamuntabu sendiri, kan, kupingnya Ratno agak budeg?" jawab Pak Salihun.
"He he he ... Iya, juga. Tapi, maksudnya bukan begitu, Hun. Kamu sudah dapat kabar tentang hantunya Laras?" ucap Pak Yadi.
"Apa saya nggak salah denger, kamu ngomong apa barusan?" Pak Salihun minta diulangi lagi.
__ADS_1
"Tidak, Hun. Orang-Orang sudah ramai membicarakan perihal Laras yang menjadi hantu," ulang Pak Yadi.
"Ya Allah ... Benarkah itu?" pekik Pak Salihun tidak percaya.
"Iya benar, Hun. Saya dengar dari istri saya sendiri waktu belanja di toko Bu Yana," jawab Pak Yadi serius.
"Rat ... Rat ...," panggil Pak Salihun pada temannya dengan suara keras.
"Hah!" Pak Ratno hanya menyahut pelan saja.
"Duh, gini ini kalau punya teman agak budeg. Harus menggunakan energi ekstra untuk mengajaknya ngobrol," keluh Pak Salihun sambil berjalan menuju posisi Pak Ratno yang sedang menyiangi tanaman padi.
"Rat ... Rat ...," panggil Pak Salihun lagi sambil menepuk pundak Pak Ratno.
"Apaan kamu ini, Hun? Bikin orang kaget saja. Kalau ada perlu kan kamu tinggal panggil saja, nggak usah pake nepuk-nepuk punggung segala," protes Pak Ratno.
"Halah! Tadi saya sudah manggil-manggil kamu, tapi kamu hanya jawab 'hah' saja!" jawab Pak Salihun kesal.
Pak Yadi ketawa ngakak melihat kedua tetangganya yang saling berdebat.
"Apaaa?" Pak Ratno terkejut. Saking terkejutnya ia sampai melempar alat untuk menyiangi tanaman yang sedang ia gunakan.
Pak Ratno pun langsung berjalan ke arah Pak Yadi dan diikuti oleh Pak Salihun.
"Siapa, Yad, yang bilang kalau Mbak Laras jadi hantu? Kamu jangan membuat-membuat cerita, ya? Ntar saya laporkan ke Pak Herman, kamu bisa dihajar kalau membuat isu seperti itu" tanya Pak Ratno dengan nada emosi.
"Tenang dulu, Rat. Bukan saya yang membuat isu seperti itu. Orang sedusun Delima ini yang membicarakan hal itu. Tadi, istri saya juga dengar dari orang-orang waktu berbelanja di toko Bu Yana," jawab Pak Yadi dengan nada agak ketakutan tetapi tetap dikeraskan karena takut Pak Ratno salah dengar.
"Emangnya siapa yang sudah ketemu dengan hantunya?" tanya Pak Ratno.
"Bu Nisa," jawab Pak Yadi.
"Ah, perempuan lemes begitu kalian percaya. Dia kan sudah lama tidak suka dengan Mbak Laras. Bisa saja dia membuat-membuat cerita yang enggak-enggak tentang Mbak Laras untuk menjatuhkan nama Mbak Laras!" protes Ratno.
"Tenang dulu, Rat. Kamu dengarkan dulu penjelasan dari Yadi. Jangan marah-marah sama Yadi. Yadi ini nggak tahu apa-apa. Dia hanya orang yang mau menceritakan tentang isu yang berkembang di dusun ini kepada kita," terang Pak Salihun.
__ADS_1
"Oke. Siapa lagi yang mengaku diganggu oleh hantu Mbak Laras selain si Nisa?" tanya Pak Ratno lagi.
"Bu Reni ...," jawab Pak Yadi.
"Bu Reni istrinya Pak Hartono? Setahu saya dia orangnya pemberani? Ke sungai malam-malam dia sudah terbiasa sendirian," tukas Pak Ratno.
"Nah, baru percaya kan kalau Laras beneran jadi hantu?" ujar Pak Yadi.
"Nggak juga sih. Reni itu setahu saya juga tidak suka dengan Mbak Laras. Dia kan yang paling keras menyebarkan isu kalau Mbak Laras jadi pelacur di lokalisasi? Ah, siapa tahu Reni itu sedang bersekongkol dengan Nisa untuk mempermalukan Mbak Laras?" jawab Pak Ratno.
"Apa untungnya buat mereka, Rat? Laras sudah mati, kan?" protes Pak Yadi.
"Namanya juga perempuan, Yad. Kalau sudah benci, sampai kiamat ya tetap benci. Pokoknya saya tidak percaya Mbak Laras menjadi hantu. Mbak Laras itu orang baik. Nggak mungkin orang sebaik Mbak Laras bisa menjadi hantu," jawab Pak Ratno.
"Kamu boleh percaya boleh tidak, Rat. Tapi, kamu lihat sendiri, kan? Tak ada satu pun warga di sini yang mau ikut mengurus jenazah Laras. Yang ngurus orang luar semua. Siapa tahu waktu Laras dikuburkan tali pocongnya tidak dibuka?" ucap Pak Yadi.
Pak Salihun dan Pak Ratno tercengang dengan analisa Pak Yadi.
"Emangnya kalau tali pocongnya tidak dibuka bisa jadi hantu?" tanya Pak Salihun.
"Entahlah, Hun. Tapi, di film-film kan begitu biasanya? Lagipula dari jaman kakek nenek kita, apa pernah ada jenazah yang tali pocongnya tidak dibuka?" Pak Yadi bertanya kepada Pak Salihun dan Pak Ratno sambil menatap mata mereka.
Pak Salihun dan Pak Ratno hanya melongo.
"Nggak ada, kan?" tanya Pak Yadi lagi memastikan.
"Coba kamu tanyakan pada Bu Dewi, apakah ia melihat saat tali pocong Laras dibuka?" ujar Pak Yadi sambil berlalu pergi meninggalkan kedua tetangganya itu.
BERSAMBUNG
Like dan komentar kamu selalu aku tungguin.
Jangan lupa membaca novelku yang baru
"SUAMI RAHASIA PENYANYI DANGDUT"
__ADS_1