MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
BAB 35 : MAAF


__ADS_3

Sebagai seorang wanita normal, siapa pun akan merasa kesal jika berada di posisiku saat ini. Saking marahnya, upaya Mas Diki untuk mencairkan hatiku pun tak kugubris.


"Dik ... maafin Mas Diki, ya? Tadi saya hanya salah lihat saja," bujuk Mas Diki sambil berusaha merengkuh tubuhku.


"Saya mau ke kamar mandi, Mas. Saya mau membersihkan diri," jawabku sambil mengelak dari rangkulan suamiku.


"Maafkan kekhilafanku barusan, Dik. Ayo, kita mulai dari awal lagi," bujuk suamiku lagi.


"Lain kali saja, Mas. Saya sudah nggak mood. Sebentar lagi Nur juga datang," jawabku sambil beranjak dari pembaringan.


"Plis, Dik! Ayo!" Mas Diki masih berusaha memaksa.


"Sudahlah, Mas! Toh, Mas Diki juga sudah kehilangan konsentrasi juga, kan? Sebaiknya kita segera mandi saja," jawabku ketus.


"Mandi together, kan? rayunya lagi.


" Tidak! L-o-n-e-l-y!!!" jawabku dengan ketus.


Mas Diki hanya bisa menatap kepergianku ke kamar mandi dengan tatapan mata kecewa. Tapi, bukan hanya Mas Diki yang merasakan kekecewaan. Aku juga ...


Setelah mandi dan menunaikan salat aku memilih untuk menenangkan diri dengan menonton televisi di ruang tamu. Sedangkan Mas Diki memilih untuk makan malam sendirian setelah mandi. Sebenarnya laki-laki itu masih berusaha mendekatiku, namun karena aku menunjukkan wajah tidak bersahabat, akhirnya ayah dari anakku itu pun memilih untuk tidak dekat-dekat denganku.


"Dik. Suamimu nggak marah, kan?" bunyi pesan WA yang dikirim Pak RT ke gawaiku.


"Enggak, kok," jawabku singkat.


"Syukurlah ...," balasnya lagi.


Heran sama orang itu. Sempat-Sempatnya ia mengirim WA ke aku. Kalau saja aku tidak berhutang budi padanya, pasti sudah kublokir nomornya dari kontakku.


Pukul setengah sembilan Nur datang dari musalla dan langsung pamit untuk tidur. Pukul sembilan malam aku masuk ke kamar untuk tidur malam. Sebelum menutup pintu kamar, aku mengambil sebuah bantal dan sebuah guling dan kulemparkan ke atas kursi ruang tamu dengan perasaan jengkel. Mas Diki menatap sedih ke arah bantal itu. Pikirnya, ia akan kedinginan tidur di ruang tamu. Tapi, ia tidak berani berbuat apa-apa karena ia tahu pasti kalau aku sudah marah memang seperti itu.

__ADS_1


Terbiasa tidur berdua dengan Mas Diki membuatku gelisah berada sendirian di pembaringan. Mataku tak kunjung dapat dipejamkan padahal tubuhku sudah merasa benar-benar capek luar biasa. Aku juga kepikiran dengan suamiku yang pastinya juga tidak nyaman tidur sendirian di ruang tamu. Tapi, biarlah sekali ini saja aku memberikan dia pelajaran agar ia tidak mengulangi lagi kesalahannya. Setelah berupaya untuk merilekskan diri dan membuang jauh-jauh pikiran yang berkecamuk di kepala, akhirnya mataku mulai menjadi berat dan aku merasa aku akan segera terlelap. Tepat saat aku akan memasuki alam mimpi tiba-tiba antara sadar dan tidak sadar aku merasa ada ******* napas berat di sebelahku dan dari ekor mataku yang sudah setengah sadar, aku melihat ada seonggok pocong sedang tidur di sebelahku.


"Ya Allah!!!!!" pekikku karena terkejut.


Aku bangkit dari tidurku. Peluh membasahi tubuhku yang sedang ketakutan. Kuedarkan pandangan ke sekeliling dan ternyata tidak ada siapa-siapa di kamarku. Aku mengatur napasku kembali sambil menyandarkan tubuhku ke dinding. Mataku masih memeriksa sekali lagi keadaan di sekeliling kamar itu. Kali ini aku yakin bahwa apa yang kulihat barusan hanyalah imajinasiku saja. Mungkin karena aku kecapekan saja. Setelah dapat menguasai diriku kembali, aku pun secara perlahan berusaha melanjutkan tidur kembali. Tapi, kali ini aku memilih untuk tidur dengan posisi kepala agak tinggi. Setelah berdoa dengan khusyu akhirnya aku pun bisa tidur dengan nyenyak sampai subuh.


"Mas ... Mas ... bangun! Sudah subuh," panggilku pada suamiku yang sedang tidur memeluk bantal guling.


"Sudah jam berapa ini, Dik?" tanya Mas Diki sambil mengucek-ngucek matanya.


"Jam setengah lima, Mas," jawabku kalem.


"Terima kasih ya, Dik, sudah membangunkan Mas. Mas ke kamar mandi dulu, ya," ucap suamiku dengan manis.


"Iya, Mas," jawabku kalem.


Begitulah aku. Aku tidak bisa menyimpan kemarahan dalam waktu yang lama kepada siapapun, apalagi kepada Mas Diki.


Pada saat aku memasak di dapur, Mas Diki datang menyusulku. Ia tidak mengajakku berbicara, ia hanya membantu mencuci peralatan yang masih kotor. Sepertinya Mas Diki tidak berani menyapaku duluan takut aku marah lagi seperti semalam. Karena rasa marahku sudah sirna dan aku nggak tega mengabaikan Mas Diki, aku pun menyapa suamiku terlebih dahulu.


"Tadi malam nyenyak tidurnya, Mas?" tanyaku kalem.


"Lumayan, Dik. Tapi setelah aku berhasil membunuh beberapa ekor nyamuk," jawab Mas Diki dengan nada penuh kehati-hatian.


"Loh, kenapa nggak disemprot sama Mas?" tanyaku spontan.


"Maunya sih begitu, tapi semprotannya ada di dalam kamar," jawab Mas Diki polos.


"Ya ampun!!! Iya ... maaf ya, Mas ...," ucapku sambil memegang kedua pipiku selayaknya orang yang baru mengingat sesuatu.


"Nggak apa-apa, kok. Sama satu lagi, Dik. Di ruang tamu agak dingin kalau malam karena ...," balas Mas Diki.

__ADS_1


"Ya Allah ... saya lupa memberikan selimut kepada Mas," jawabku dengan nada bersalah.


"Nggak apa-apa kok, Dik. Itung-Itung Mas nostalgia waktu masih miskin dulu. Tapi, nanti malam semprotan nyamuk dan selimutnya taruh di luar, ya? Kayaknya nostalgianya sudah cukup semalam saja," ucap Mas Diki dengan nada memelas.


"Hm ... emangnya Mas Diki nanti malam nggak mau tidur di kamar?" tanyaku dengan nada menggoda.


Mas Diki terperangah dengan kata-kata yang baru saja kulontarkan. Wajahnya terlihat sangat ceria seolah-olah baru mendapat uang segepok.


"Mau banget lah, Dik. Emangnya boleh?" tanya Mas Diki dengan wajah lugunya.


"Nggak boleh!" jawabku dengan bermaksud menggoda suamiku itu.


"Tuh kan ....," jawab Mas Diki lemah.


Aku menoleh ke arah Mas Diki seraya berkata.


"Boleh kok, Mas ...," jawabku sambil melempar senyuman termanisku.


"Alhamdulillahirobbilalamiiiin ...," teriak Mas Diki agak keras sambil berlari ke arahku dan mengecup keningku dengan bertubi-tubi.


Aku gelagapan mendapat aksinya yang konyol itu. Saking girangnya Mas Diki sampai lupa mematikan keran yang ia gunakan untuk mencuci piring.


"Mas ... Mas .. Kerannya matikan dong! Ntar dapurnya banjir ke mana-mana," teriakku.


"Oh iya-iya. Maaf, Dik!" jawabnya sambil buru-buru mematikan keran yang ada di ats bak cuci piring.


Aku merasa geli sendiri melihat tingkah konyol suamiku itu. Rasa kemarahan di dadaku mendadak sirna. Tidak mungkin bagiku terus-terusan marah kepada pria yang paling baik dan sabar itu.


BERSAMBUNG


Novel cetak KAMPUNG HANTU tersedia di akun shopeeku. Ketik 'mohamadimron' di kotak pencarian SHOPEE. Harus persis baru bisa muncul tokoku.

__ADS_1


__ADS_2