MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 22 : SIFAT WANITA


__ADS_3

Sejak subuh Bu Dewi bertingkah di luar kebiasaannya sehari-hari. Ia seperti menyembunyikan sesuatu. Pak Herman yang melihat ketidakbiasaan istrinya itu pun menegur langsung Bu Dewi.


“Dik, kamu kenapa sejak tadi kelihatan murung?” tegur Pak Herman.


“E-enggak kok Mas! Aku nggak apa-apa. Hanya kecapekan saja,” jawab Bu Dewi sambil berusaha menormalkan raut wajahnya.


“Kamu beneran nggak apa-apa, Dik? Ngomong sama mas kalau kamu lagi ada masalah. Uang belanja habis kah?”


“Enggak Mas. Uang belanja juga masih ada.”


“Panji rewel, ya? Apa perlu kita membayar baby sitter untuk membantu kamu menjaga Panji?”


“Nggak perlu Mas! Panji nggak rewel kok. Malah aku senang sekali dengan keberadaan Panji. Jadi, aku nggak bengong lagi di rumah.”


“Syukurlah kalau begitu. Berarti kamu sudah nggak ngidam usaha butik lagi, kan?”


“Kalau itu sih masih tetap Mas. Tujuan aku buka butik di sini kan untuk memajukan desa ini juga sekaligus biar bisa memperkerjakan ibu-ibu di sini.”


“Kayaknya butuh dana besar ya, Dik? Kalau jual sepetak sawah, cukup ngak, ya?”


“Duh, jangan deh Mas kalau harus jual sawah. Kasihan Pak Ratno dan Pak Salihun. Ntar penghasilan mereka menurun karena lahan garapannya berkurang.”


“Kalau begitu, nunggu akhir tahun saja, Dik. Nunggu bonus akhir tahunku cair.”


“Iya deh, Mas. Andai saja ada investor yang mau bekerjasama dengan kita enak kali, ya?”


“Mana ada Dik investor yang mau mengucurkan dana untuk kita yang masih awam dalam dunia perbutikan!”


“Kali aja ada Mas investor baik hati. He he he …”


“Nah, gitu dong ketawa. Biar Mas bisa melihat kembali senyumanmu yang manis itu yang bikin Mas selalu rindu rumah.”


“Alah, Mas aja tiap hari pulangnya malam terus. Gombal!”


“Mas serius loh, Dik. Rasa kagum Mas terhadapmu itu tidak pernah berkurang sedikitpun semenjak Mas kenal kamu. Cuma, Mas kan juga harus kerja keras demi masa depan kita dan juga Panji,” ucap Pak Herman sambil merapatkan dirinya ke istrinya yang sedang menggendong Panji.


Bu Dewi tersenyum renyah. Seketika hilang perasaan gundah yang ia rasakan sejak semalam. Ditatapnya wajah Panji dan suaminya secara bergantian.


“Mas, kalau diperhatikan Panji ini mirip sama Mas, ya?”


“Iya tah, Dik? Berarti Mas ini ganteng kayak Panji, ya? Kalau boleh tahu apanya yang mirip?”

__ADS_1


“Matanya … alisnya … hidungnya … Untung kulitnya mirip sama Laras.”


“Halah … Bilang aja kulit Mas gosong! Gosong-Gosong gini susah dilupakan loh!”


“Percaya deh! Saking susah dilupakannya sampai-sampai si Surti nggak nikah-nikah sampai sekarang, kan? Nungguin Mas kali itu!”


“Hm … Mulai lagi deh! Itu kan masa lalu, Dik. Masa mau diungkit-ungkit lagi?”


“Masa lalu apaan? Emangnya aku nggak tahu si Surti itu selalu nongkrong di pinggir jalan tiap jam mas berangkat kerja, kan?”


“Mas nggak pernah memperhatikan hal itu, Dik!”


“Nggak usah ngeles, Mas. Pasti Mas ini lirik-lirik dikit kalau ada Surti di pinggir jalan. Iya, kan? Atau jangan-jangan Surti itu juga nungguin Mas pulang kerja?” Bu Dewi membelalakkan matanya.


“Mana mungkin itu, Dik. Itu kan tengah malam!”


“Siapa tahu, Mas? Namanya juga setan! Pas tengah malam kan sepi nggak ada orang. Terus Mas melihat Surti sendirian di pinggir jalan. Terus kalian … Maaaaaas!!!” Bu Dewi memukul lengan suaminya dengan cukup keras.


“Ya Allah, Dik! Apa salah Mas kok kamu langsung mukul? Itu kan hanya kecurigaanmu semata?” rengek Pak Herman menahan sakit.


“Feeling seorang itu tidak pernah salah Mas. Ayo, jujur sama aku Mas sudah ngapain aja sama Surti?”


Kali ini Bu Dewi mencubit paha suaminya.


“Ooooo berarti kalau orang sini tidak gemar bergunjing, Mas mau berhubungan lagi sama mantan Mas itu!” cubitan Bu Dewi makin keras di paha Pak Herman.


“Wadawww!!! Bukan gitu konsepnya, Dik. Hal itu haram dan dilarang agama. Lagipula ngapain mas harus berpaling ke lain hati kalau di rumah mas sudah punya istri yang cantik dan manis seperti kamu!”


“Mas yakin?” Tanya Bu Dewi sambil melepas cubitannya di paha Pak Herman.


“Seribu persen yakin, Dik,” rengek Pak Herman.


“Oke. Kali ini aku percaya sama Mas Herman, tapi ingat kalau sampai Mas macem-macem, tak sunnat lagi!”


“Aduh! Jangan, Dik!” jawab Pak Herman secara refleks memegang warisan orang tuanya itu.


Bu Dewi tersenyum simpul.


“Mas buruan mandi sana, sudah siang. Ntar terlambat!”


“Iya, Dik!”

__ADS_1


Sambil menunggu suaminya mandi, Bu Dewi pun mempersiapkan sarapan dan bekal untuk Pak Herman. Sesaat setelah ia menyelesaikan tugasnya, ada panggilan masukke ponselnya dari nomor yag tidak ia kenal. Bu Dewi tidak mengangkat panggilan telepon itu karena ia mengira itu adalah panggilan yang dilakukan oleh orang iseng atau salah sambung. Namun, karena panggilan itu dilakukan secara berulang kali, akhirnya perempuan itu pun mengangkat panggilan telepon tersebut.


“Assalamualaikum …”


“Waalaikumsalam … Dewi? Ini aku Sinta …” suara seorang perempuan dari seberang.


“Iya, benar. Saya Dewi. SInta?” Dewi bertanya-tanya di dalam hati.


“Iya, Dewi. Ini aku Sinta istrinya Diki. Teman lamamu.” Jawab perempuan itu.


“Ya Allah … Kamu Sinta? Si gadis tomboy itu? Gimana kabarmu, Sin? Kamu dapat nomorku dari siapa?” sorak Bu Dewi kegirangan.


“Dari teman kita, Wi. Alhamdulillah, aku baik-baik saja, Wi. Kamu tinggal di mana sekarang?”


“Aku tinggal di dusun Delima, Sin. Kangen banget aku sama kamu, Sin. Kamu sudah punya anak berapa sekarang?”


“Masih satu, Wi. Sudah besar anakku sekarang. Aku juga kangen sama kamu, Wi. Kita ketemuan, yuk?”


“Iya, Sin. Tapi, jangan sekarang, ya? Soalnya aku lagi ada acara di rumah.”


“Acara apa, Wi? Suamimu sunat lagi kah?”


“Ha ha ha … Ada-Ada aja kamu, Sin. Cuma acara kecil-kecilan. Yah, mungkin minggu depan aku bisa ketemu kamu. Rumahmu nggak jauh, kan?”


“Dekat kok. Nggak usah nyebrang laut. Kalau ada kesempatan ntar aku jemput kamu deh!”


“Duh, jangan deh. Aku trauma dijemput kamu!”


“Ha ha  ha … Kamu takut masuk selokan kayak dulu? Masih ingat saja kamu dengan kejadian itu?”


“Gimana aku bisa lupa, Sin. Aku jadi pincang selama dua minggu gara-gara kecerobohanmu itu!”


“Halah … tapi, gara-gara jatuh ke selokan itu terus kamu jadi kenal sama Herman suamimu, kan?”


“Sssttt … Jangan rame-rame. Orangnya denger ntar!”


“Biar. Biar dia tahu kalau dulu istrinya itu nggak suka sama dia Karena kulitnya tidak putih kayak artis Korea. Ealah, ternyata endingnya mau dinikahin sama opa-opa kampong! Ha ha ha …”


“Hus … Mulutmu ternyata tetap nggak bisa direm ya, Sin!”


“Sama dengan yang ngomong!”

__ADS_1


Mereka berdua pun tertawa gembira setelah sekian lama hilang kontak. Mereka saling berbagi cerita masing-masing melalui sambungan telepon. Sejenak, Bu Dewi lupa dengan masalah yang sedang ia hadapi. Saking asyiknya, ia sampai tidak menyadari kehadiran seseorang di depan rumahnya. Orang itu dating secara sembunyi-sembunyi dan melakukan suatu aktifitas mencurigakan di sekitar rumah Bu Dewi. Mereka baru menyelesaikan obrolan setelah ditegur oleh Pak Herman karena Bu Dewi tidak merespons Panji yang sedang menangis.


BERSAMBUNG


__ADS_2