MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 130 : PENGUNGKAPAN


__ADS_3

Herman dan Cintia saat itu benar-benar syok dan tidak habis pikir karena mereka harus berurusan dengan arwah korban pelecehan untuk mengungkap kasus Narkoba dan pelecehan yang sedang mereka tangani.


“Cin, aku mau ke Kapten Yosi sekarang untuk menyampaikan temuan berharga kita ini,” ucap Herman pada Cintia yang masih tetap syok karena baru menyadari bahwa perempuan yang semobil dengannya adalah arwah Nona Larasati.


“Iya, Her. Buruan! Aku tidak enak di sini sendirian,” jawab Cintia dengan perlahan.


Herman pun langsung melompat dari kursinya dan berlari untuk mencari Kapten Yosi. Ia berencana untuk mencari atasannya itu di ruang lobi karena biasanya jam-jam segitu Kapten Yosi senang berdiskusi dengan pimpinan divisi lain di sana. Tapi, ternyata Herman tidak menemukan Kapten Yosi di ruang lobi. Ia pun berlari menuju ke ruangan yang lain, tapi ternyata Kapten Yosi tak kunjung ketemu. Herman berusaha untuk menghubungi nomor telepon atasannya itu dan ternyata tidak diangkat-angkat. Hingga akhirnya tanpa sengaja Herman melihat Kapten Yosi sedang berada di toilet pria. Ia mendengar suara atasannya tersebut  yang sedang muntah-muntah di sana.


“Kapten? Kenapa sampean?” tanya Herman dengan perasaan cemas karena melihat muka atasannya yang terlihat kurang fit.


“Aku tidak kenapa-kenapa, kok!” sahut Kapten Yosi sambil berkumur-kumur dengan menggunakan air keran yang kelar dari salura pipa di sana.


Herman mengamati atasannya dari atas ke bawah hingga akhirnya ia pun menemukan jawaban kenapa atasannya tersebut sampai muntah-muntah. Tangan kiri Kapten Yosi sedang menenteng kresek berwarna putih berisikan kotak kue yang sama persis dengan yang diperoleh Cintia dari Pak Antoni. Karena melihat kue ajaib itu, Herman pun tidak bisa menahan diri untuk tertawa di depan atasannya. Karena sungkan dengan Kapten Yosi, ia pun tertawa terpingkal-pingkal di depan ruangan toilet. Kapten Yosi tahu bahwa Herman sedang menertawai dirinya makanya ketika ia sudah selesai urusannya di toilet, ia pun menemui Herman di depan.


“Kenapa kamu tertawa, Her?” tegur Kapten Yosi dengan nada datar.


“M-maafkan ketidaksopanan saya, Kapten! Saya tidak bermaksud berbuat tidak sopan kepada Kapten, tapi saya tidak kuat menahan diri untuk tidak tertawa. Sekali lagi saya mohon maaf, Kapten!” jawab Herman dengan masih tidak bisa menahan rasa gelinya.


“Iya. Tapi, kenapa kamu tertawa? Apa ada yang  lucu?” tanya Kapten Yosi lagi.


“Tidak, Kapten. Kalau boleh saya menebak apakah Kapten itu muntah karena tidak tahan dengan rasa kuenya Pak Antoni?” tanya Herman.


Kapten Yosi menatap heran kepada anak buahnya itu sebelum ia menjawab.


“Iya. Dari mana kamu tahu hal itu?” tanya Kapten Yosi heran.


“Tadi soalnya saya dan Cintia baru dari kantin dan Cintia mengalami hal yang sama dengan Kapten. Cintia pulangnya juga membawa kotak kue seperti yang dipegang oleh Kapten Yosi,” jawab Herman masih menahan geli.


Dengan muka datarnya Kapten Yosi memperhatikan kotak kue yang sedang ia pegang.


“Iya. Saya juga bingung dengan kue ini mau diapain? Apa saya kasihkan ke kucing jalanan saja, ya?” tanya Kapten Yosi.


“He he he he … Kebingungan kapten sama persis dengan yang dialami oleh Cintia. Dia mau memberikan kue itu kepada kucing jalanan saja,” jawab Herman dengan menyungging senyum.


“Ck Ck Ck … Sialan Pak Antoni itu. Jualan kue tidak ada yang enak rasanya. Bikin muntah iya,” gerutu Kapten Yosi.


“Apakah Kapten Yosi membayar lunas kue itu?” tanya Herman.


“Tidak, Her. Saya sengaja hutang dulu supaya tidak ditawari kue sementara waktu oleh Pak Antoni,” jawab Kapten Yosi dengan polosnya.


“Ha ha ha ha ha … Maaf saya tidak bisa menaha tawa saya, Kapten. Soalnya, tadi Cintia juga sengaja berhutang pada Pak Antoni dengan alasan yang sama seperti  yang disampaikan Kapten Yosi barusan,” jawab Herman sambil sesekali menutup mulutnya karena  merasa tidak sopan pada atasannya.


“Hah? Ternyata korbannya Pak Antoni banyak juga, ya? Lain kali saya akan menindak Pak Antoni supaya ia bisa instrospeksi dan bisa menghasilkan kue yang enak kembali,” jawab Kapten Yosi.


“Iya, Kapten!” sahut Herman.


“Oh ya? Ada apa kamu mencari saya?” tanya Kapte Yosi kemudian.


“Saya ingin melaporkan sesuatu kepada Kapten Yosi terkait dengan kasus peredaran Narkoba yang sedang kita tangani,” jawab Herman dengan nada serius.


“Oh ya? Apakah itu?” tanya Kapten Yosi serius.


“Kami berhasil mendapatkan video rekaman Pak Dimas sedang melakukan transaksi barang haram tersebut dengan seseorang. Kami sudah mendapatkan gambar orang tersebut. Tinggal nanti discreening ulang dan dicocokkan dengan ciri-ciri fisik orang-orang yan terdata di kepolisian,” jawab Herman dengan sangat antusias.


“Oh ya? Mana videonya, Herman?” tanya Kapten Yosi dengan antusias juga.


“Ada di laptop milik Cintia, Kapten!” jawab Herman sambil memberi jalan kepada atasannya itu agar dapat segera berjalan menuju ruangan kerja Cintia.


Kapten Yosi dengan penuh semangat melangkah dengan sedikit berlari menuju ruangan kerja Cintia dan Herman. Herman tak kalah semangatnya juga mengejar Kapten Yosi di belakang polisi senior tersebut. Akhirnya setelah berjalan selama beberapa meit, sampailah mereka berdua di ruangan Cintia. Di ruangan itu Cintia masih merasa ngeri dan takut dengan  persitiwa yang semalam ia alami.


“Kamu kenapa, Cin?” tanya Kapten Yosi pada Cintia.

__ADS_1


“Saya tidak kenapa-kenapa, Kapten. Saya hanya kurang enak badan saja,” jawab Cintia dengan berpura-pura.


“Minum vitamin dan pijar, Cin supaya kamu tidak jatuh sakit,” jawab Kapten Yosi.


“Iya, Kapten!” jawab Cintia lemah.


“Oh ya, katanya Herman kamu menyimpan video transaksi Narkoba Pak Dimas dengan seseorang?” tanya Kapten Yosi.


“Iya, Kapten. Kami berhasil menemukan video tersebut,” jawab Cintia.


“Mana videonya? Saya mau lihat,” tanya Kapten Yosi sambil mengambil duduk di kursi kosong yang tadi ditinggalkan oleh Herman.


“Ini Kapten Yosi, videonya!” jawab Cintia sambil menunjukkan video yang ia maksudkan dengan menepatkan posisinya pada durasi saat Pak Dimas menerima paket berisi Narkoba dari orang tersebut.


“Wah … Wah  … Wah … Ternyata kalian berdua memang polisi yang hebat! Tidak kusangka kalian bisa menemukan barang bukti yang sangat penting ini. Dengan barang bukti ini maka kita dapat melacak identitas orang tersebut dan juga mengeluarkan surat penggeledahan jika memang dibutuhkan,” jawab Kapten Yosi.


“Alhamdulillah, Kapten!” jawab Cintia dengan perasaan senang.


Kapten Yosi pun langsung membawa laptop milik Cintia itu.


“Saya akan membawa data ini ke bagian lain agar dapat dilacak pemilik identitas pria itu,” jawab Kapten Yosi.


“Iya, Kapten. Apa yang harus kami lakukan sekarang?” tanya Herman.


“Kalian beristirahatlah dulu. Nanti kalau sudah keluar hasil dari bagian IT akan saya kabarkan kepada kalian berdua. Nanti, kalian bisa diajak untuk proses penggerebekan atau tidak itu tidak masalah. Yang jelas saya sagat berterima kasih atas kerja keras kalian. Kalian layak untuk mendapatkan pengharagaan dari hasil temuan ini,” puji Kapten Yosi.


“Terima kasih, Kapten!” jawab Herman dan Cintia.


Kapten Yosi langsung berangkat menuju bagian IT sedangkan Herman masih sibuk menenangkan Cintia.


“Cin,nggak usah terlalu dipikirkan. Arwah itu tentunya tidak bermaksud jahat kepada kita. Buktinya dia malah membantu kita, kan?” ujar Herman.


“Iya, Her. Tapi, aku masih kaget saja Kok bisa ada hantu yang mmbantu tugas kita,” jawab Cintia.


“Tidak, Her. Ini masih belum jam pulang. Aku nggak enak kalau harus pulang lebih awal,” jawab Cintia.


“Ya sudah, apa kita mau cari suasana segar dulu supaya kamu lebih tenang?” tanya Herman lagi.


Cintia menarik napas panjang.


“Tidak usah, Her. Aku ingin menelpon Bu Dewi saja mengabarkan kepada perempuan itu bahwa perempuan yang kita temui semalam memang arwahnya Nona Larasati,” jawab Cintia.


“Aku setuju ha itu, tapi kamu tenangkan diri dulu, ya, baru menelpon Bu Dewi,” jawab Herman


Akhirnya Cintia pun menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya agar bisa lebih tenang. Herman menyetel lagu kesukaan Cintia di komputer pribadinya untuk membantu menenangkan hati perempuan yang ia taksir itu.


Mereka berdua menikmati lagu itu dengan penuh penghayatan sehingga suasaa hati mereka menjadi lebih rileks.


“Her, aku sudah lebih tenang sekarang. Aku siap untuk menelpon Bu Dewi,” ucap Cintia pada Herman.


“Baiklah kalau begitu. Kamu nelpon pake hapeku saja, ya? Saya lihat baterai Ponselmu sudah mau habis biar diisi dulu dayanya,” ucap Herman.


“Iya, Her!” jawab Cintia sambil mengulurkan tangannya untuk menerima Ponsel dari Herman.


Herman pun menyodorkan Ponselnya pada Cintia dan perempuan itu langsung menerim ponsel itu dengan senang hati sementara Ponselnya sendiri diisi dayanya.


Cintia langsung memencet tombol power untuk menghidupkan layar Ponsel milik Herman dan ia terkejut karena ada foto dirinya di Ponsel Herman. Ternyata Herman juga baru menyadari kalau ia belum mengubah wallpaper bergambar foto Cintia.


“Ini, kok?” tanya Cintia pada Herman dengan perasaan heran.


“Eh, anu, Cin. Aku memang senang pakai wallpaper orang-orang yang aku kena termasuk kamu. Kemarin malah aku pake foto profil Kapten Yosi. Nggak masalah, kan?” jawab Herman berkilah padahal ia hanya menggunakan foto profil Cintia sebagai wallpaper.

__ADS_1


“Ooooo … iya nggak apa-apa,” jawab Cintia ragu.


Cintia pun mencoba membuka layar ponsel yang masih terkunci itu.


“Layarnya terkunci, Her!Apa sandinya?” tanya Cintia.


Herman langsung buru-buru mengambil Ponsel dari Cintia dan memasukkan kata sandi. Namun, karena ia kurang berhati-hati maka Cintia masih bisa mengintip kata sandi yang diketik oleh Herman.


“Loh, kata sandinya kok tanggal lahirku, sih? Kenapa Herman menggunakan tanggal lahirku sebagai sandinya? Atau dia memang bisa menggunakan data-data temannya sebagai kata sandi? Ah, rasanya tidak mungkin ada oran seperti itu. Atau jangan-jangan Herman ini sebenarnya menaruh hati padaku?” Cintia berkata-kata ada dirinya sendiri.


“Ini, Cin. Sudah kebuka dan sudah aku panggilkan nomoe Bu Dewi,” ucap Herman menyadarkan lamuna Cintia.


“iya. Terima kasih, Herman,” sahut Cintia sambil mengambil Ponsel dari tangan Herman.


Tidak sampai beberapa detik, panggilan itu pun langsung dijawab oleh Bu Dewi.


“Assalamualaikum … Ada apa Dik Herman?” sapa Bu Dewi dari seberang sambungan telepon.


“Waalaikumsalam Wr Wb. Ini aku Cintia bukan Herman, Bu Dewi,” jawab Cintia dengan sopan.


“Ya Tuhan. Apa kabar Dik Cintia? Ada perlu apa nih tumben menelpon saya?” tanya Bu Dewi lagi.


“Alhamdulillah saya dan Herman sama-sama sehat. Maksud saya menghubungi Bu Dewi adalah ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting untuk Bu Dewi,” jawab Cintia dengan nada serius.


“Oh ya? Sesuatu penting apakah it, Dik Cintia? Saya kok penasaran sekali, ya?” tanya Bu Dewi lagi.


“Begini, Bu Dewi. Kami an tadi bilang kepada Bu Dewi bahwa semalam kami dititipi potongan buku harian milik Nona Larasati oleh seorang perempuan yang wajahnya sangat mirip dengan Nona Larasati yang kami sangka itu adalah saudara kembar Nona Larasati. Ternyata dugaan kami itu keliru,” ujar Cintia sedikit panjang lebar.


“Oh ya? Terus yang benar gimana, Dik Cintia?” tanya Bu Dewi dengan lebih penasaran lagi.


“Begini, Bu. Kebetulan di dekat tempat perempuan itu menyerahkan potongan buku harian kepada kamikan ada CCTV yang aktif. Nah, barusan kami sudah mengecek CCTV-nya ternyata semalam saya itu sedang berbicara dengan bangku kosong dan tidak tampak di layar bahwa ada orang keluar dari mobil kami. Jadi, dengan kata lain perempuan semalam itu memang hantunya Nona Larasati,” jawab Cintia dengan jelas dan tegas.


“Ya Allah … Laras … Ternyata benar kan keponakan saya itu menjadi hantu, Dik Cintia. Tapi, tolong jangan disebarkan berita ini, ya?” ujar Bu Dewi.


“Iya, Bu Dewi. Kami paham akan hal itu. Ternyata arwah Nona Larasati ini ingin orang-orang yang jahat terhadapnya terungkap semuanya,” jawab Cintia.


“Iya, Dik Cintia. Laras memang bilang seperti itu kepada saya Malahan dia itu ingin membalas dendam kepada orang-orang yang sudah melakukan pelecehan terhadap dia selama hidup,” jawab Bu Dewi.


“Maksud Bu Dewi membalas dendam seperti apa?” tanya Cintia sambil membearkan volume Ponselnya agar didengar oleh Herman juga percakapan mereka.


“Begini, Dik Cintia. Sebenarnya sejak dimakamkan, arwah Laras itu sudah berkali-kali mendatangi saya dan memberitahu kan kepada saya bahwa dialah yang membunuh orang-orang itu,” jawab Bu Dewi mengawali ceritanya.


“Oh ya? Siapa saja yang telah dibunuh oleh arwah Laras, Bu Dewi?” tanya Cintia dengan rasa penasaran.


“Semua, Dik Cintia. Laki-Laki yang telah melecehkannya pokoknya. Mulai dari Pak Hartono itu yang mati kecelakaan. Dia itu sebenarnya dibunuh oleh Laras. Dan yang kedua itu adalah Pak Dimas. Dia itu juga melakukan pelecehan terhadap Laras makanya Laras juga membunuh Pak Dimas dengancara yang sama bagaimana ia melecehka keponakan saya itu,” jawab Bu Dewi dengan suara terisak.


“Terus, Bu!” sahut Cintia.


“Sebenarnya saya ingin mencegah Laras membunuh orang-orang itu, tapi saya selalu terlambat karena Laras melakukannya dengan lebih cepat sebelum aku mengingatkan orang yang akan dibunuh oleh Laras. Saya tidak mau arwah keponakan saya itu menjadi seorang pembunuh, Dik Cintia …,” tutur Bu Dei semakin terisak.


“Tapi, kenapa kok Pak Ade belum dibunuh, ya?” tanya Cintia pada Bu Dewi.


Bu Dewi tersentak dengan pertanyaan Cintia.


“Loh, kenapa Laras mau membunuh Pak Ade, Dik Cintia? Pak Ade kan tidak berbuat jahat kepada Laras. Yang berbuat jahat kan hanya anak buahnya yaitu Pak Hartono dan Pak Dimas?” ujar Bu Dewi berusaha meyakinkan Cintia.


“Tapi, Bu … Di potongan buku harian yang ada di kami tertulis bahwa Pak Ade juga berbuat jahat pada Nona Larasati. Pak Ade memberikan tubuh Nona larasati sebagai suap untuk memperlancar bisnisnya,” jawab Cintia dengan terbata-bata.


“Apaaaaaa?” Bu Dewi terkejut mendengar keterangan dari Cintia.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Yuk, ikutan kuis novel KAMPUNG HANTU dapatkan pulsa 20 ribu di awal tahun 2023. Selamat Tahun baru 2023, ya? Semoga di tahun yang baru kesuksesan menghampiri kalian semuanya. Aaamiiiin ...


__ADS_2