
Lagi-Lagi Mas Diki menahanku untuk tidak gegabah dalam melangkah. Sementara di depanku, Clara tampak marah dan menampar pria tua bertubuh tambun itu.
PLAK!
"Kenapa kamu menamparku, Cantik? Kamu tahu, kan, akibatnya jika berani melawanku?" ucap pria tua itu dengan nada marah dan dalam hitungan detik, Clara sudah berada di dalam rengkuhan pria tua itu.
"J-j-jangan k-k-kamu k-k-korbankan anak itu, Pa!" ucap Clara dengan terbata-bata karena takut.
"Berani-Beraninya kamu menghalangi keinginanku, Manis!" jawab pria itu dengan nada marah sambil mempererat jepitan tangannya di leher wanita muda itu.
"D-d-dia itu s-sudah s-seperti anakku sendiri, Pa. T-tolong j-jangan k-kamu sakiti anak itu, Pa!" ucap Clara dengan memohon.
"Diaaaaam!!! Jangan kamu membantah semua keinginanku! Bukankah seharusnya kamu berterima kasih kepadaku karena aku tidak jadi mengorbankan Riki, anakmu!" Bentak suami Clara dengan keras.
"T-t-tapi, Pa-" Clara masih berusaha mengutarakan keinginannya.
"Dasar kamu keras kepala! Kalau kamu terus membantah, anak kesayanganmu itu yang akan aku korbankan. Paham??" bentak pria itu lagi dengan suara lebih keras.
"I-i-iya, Pa! jawab Clara dengan ekspresi sangat ketakutan.
"Nah, begitu baru istri yang baik. Eh eh eh eh eh," ujar pria itu dengan terkekeh.
Sejurus kemudian, pria itu melepaskan pitingannya di leher Clara. Clara pun menarik napas dalam-dalam setelah lepas dari rengkuhan pria jahanam itu.
"Awas, sekali lagi kamu protes. Aku tidak segan-segan lagi untuk menumbalkan anakmu!" Bentak pria itu lagi.
"Di mana anakku sekarang, Pa?" tanya Clara di sela isaknya.
__ADS_1
"Nanti kamu akan tahu sendiri begitu waktu untuk penyerahan tumbal tiba," jawab pria itu.
"Pa, tidak bisakah ini dihentikan. Bukankah Papa sudah memiliki banyak harta?" ucap Clara kembali.
"Bukankah sudah aku katakan padamu. Semua ini akan berakhir kalau sudah ada sepuluh anak kecil yang diberikan sebagai tumbal kepada Mbah Bajol sebagai pengganti tumbal terakhir itu karena kamu tidak kunjung hamil!" jawab pria itu dengan keras.
"Kenapa Papa tidak mencoba menikah dengan perempuan lain? Siapa tahu Papa bisa punya anak dari perempuan itu untuk dijadikan tumbal," protes Clara.
"Kamu pikir aku bisa dengan mudah menyukai perempuan lain? Atau kamu sudah bosan menjadi istriku? Ngomong saja. Biar kubunuh saja kamu sekalian. Seharusnya kamu bersyukur dengan apa yang aku lakukan ini. Toh, kamu juga ikut menikmati harta hasil pemberian Mbah Bajol l, kan?" jawab Pria tua itu.
"Tapi, aku ingin keluarga yang normal. Bukan seperti ini. Aku takut, Pa," ucap Clara lirih.
"Makanya, kamu bantuin aku untuk mencari tumbal-tumbal itu," balas ayah angkat Clara.
Clara tidak menyahut lagi. Aku tahu apa yang sedang ia rasakan saat itu. Ia tidak ingin hal ini menimpa dirinya. Tapi, ia tidak bisa memilih kehidupan yang ia inginkan. Jerat cinta pria tua itu sudah sangat kuat merengkuh kehidupannya. Semua kebahagiaan telah direnggut dari kehidupan Clara.
"Aku memahami pilihanmu, Clara. Ini semua bukanlah keinginanmu. Aku tahu, sebenarnya kamu tidak ingin mengorbankan Nur. Namun, karena kamu berada pada dua pilihan yang sama-sama sulit, maka kamu terpaksa memilih opsi kedua, yaitu mengirbankan Nur,anakku," ucapku di dalam hati.
"Mas, ayo kita serang pria tua itu sekarang!" bisikku pada suamiku.
"Jangan gegabah, Dik. Kita belum tahu di mana pria itu menyekap anak kita. Kalau kita salah melangkah, bisa-bisa kita akan kehilangan Nur," jawab Mas Diki dengan berbisik.
Clara dan suaminya nampaknya tidak menyadari kehadiran aku dan Mas Diki. Kami berdua secara perlahan membuntuti mereka berdua. Mereka berdua tampak sedang memasuki rumah itu melewati pintu dapur. Kami berdua segera mengendap-endap merapat ke dinding dapur itu. Kami merapatkan telinga ke dinding untuk menguping pembicaraan Clara dan suaminya di dalam dapur itu.
"Sayang, bantu aku membawa nampan berisi bunga tujuh rupa dan sesajen itu, ya? Kita akan segera memulai ritualnya" ucap suami Clara.
"Di mana kamu menyekap Riki dan Nur?" tanya Clara lagi.
__ADS_1
"Kamu tidak sabaran sekali, Sayang. Sudah kubilang nanti kamu akan tahu sendiri," jawab suami Clara.
"Apa mereka berdua ada di dalam rumah ini, Pa?" Clara mendesak suaminya.
"Tentu tidak, Sayang. Terlalu repot kalau mereka kusekap di sini. Kamu tahu tidak, aku cukup kesulitan menangkap mereka berdua. Terutama anak tetanggamu itu, dia itu sulit untuk aku kendalikan pikirannya," jawabnya kembali.
"Kamu tidak usah bohong, Pa. Bukankah kamu yang mengendalikan mereka berdua sehingga bisa berjalan sendiri ke tempat ini?" protes Clara.
"Tidak, Sayang. Anak itu berbeda dengan anak yang lain yang sudah pernah kutumbalkan semuanya. Meskipun sudah berada dalam pengaruh ilmu sihirku, ia masih tetap tersadar dan masih bisa melawanku. Untung saja ia masih kecil, jadi perlawanannya tidaklah cukup kuat bagiku," jawab suami Clara.
"Jadi, maksud Papa. Nur itu datang ke sini tidak murni karena pengaruh sihir Papa? Tapi ada andil kemauan anak itu sendiri?" ucap Clara.
"Iya, Sayang. Aku juga heran dengan hal itu," jawab suaminya.
"Jujur ini, Pa. Aku berharap anak itu bisa mengalahkan Papa. Biar aku bisa hidup bebas," ucap Clara.
"Dasar kamu! Kamu pikir aku mudah dikalahkan? Jangan mimpi kamu bisa lepas dari aku. Kamu itu sudah ditakdirkan untuk menjadi pe dampingku selamanya," jawab pria tua itu.
Jujur, muak aku mendengar celoteh itu. Sepertinya jiwa pria itu sudah dipengaruhi oleh setan durjana. Yang ada di dalam pikirannya hanyalah harta dan Clara. Nyawa orang lain, tidaklah berarti apa-apa baginya.
"Kasihan, Clara, harus hidup dengan pria seperti itu. Apalah arti kemewahan harta, jika hati tidak bahagia. Bagaikan burung di dalam sangkar saja kehidupan gadis muda itu. Kira-Kira di mana pria itu menyembunyikan Riki dan Nur, ya?"
Aku berpikir keras untuk menebak keberadaan anakku dan anaknya Clara. Kalau menelisik dari ucapan pria itu, kedua anak itu tidak ada di dalam rumah ini dan ia tidak ingin repot-repot membawa anakku ke tempat persembahan tumbalnya.
"Be-be-berarti, ia menyembunyikan anakku di-"
Bersambung
__ADS_1