
Maaf updatenya telat soalnya banyak kewajiban kifayah yang harus aku selesein. Jangan tanya kifayah apa, ya, Kak?
Langsung saja deh ...
Aku sungguh kebingungan dengan pekikan lantang pakdenya Siti yang tiba-tiba itu.
"Kenapa, Pak?" saya bertanya secara refleks.
"Astagfirullah!!!! Ya Allah!!!" pekik pakdenya Siti lagi di seberang telpon.
Mendengar pekikan keras seperti itu tak urung membuat aku merasa takut dan bingung. Aku menjadi gugup dan gemetaran tatkala menunggu jawaban pakdenya Siti yang sebenarnya.
"Nduuuk, saya ngomongnya pelan-pelan saja, ya, supaya kamu nggak kaget?" ucap pakdenya Siti melalui sambungan telepon.
"I-i-inggih, Pak" jawabku semakin gentar karena beliau berkata seperti itu.
"Begini, Nduk. Kamu harus siap-siap menghadapinya nanti," ucap pria itu seolah-olah ia sudah mengetahui permasalahan yang sedang aku hadapi.
"Menghadapi apa, ya, Pak?" tanyaku memastikan.
"Ya, menghadapi orang yang akan mencelakai anakmu, Nduk!" jawab beliau dengan penekanan suara.
"Ya Allah!!! Bapak sudah tahu-" ucapku.
"Anakmu itu sedang dalam bahaya besar, Nduk. Hanya kamu yang dapat menolongnya," timpal beliau.
"Iya, Pak. Saya dan suami saya akan berjuang untuk menyelamatkan anak kami tersebut. Termasuk dengan meminta tolong kepada Bapak," jawabku.
"Tidak, Nduk. Yang lain ini hanya bisa menemanimu saja. Cuma kamu yang dapat menghentikan ini semuanya!" ucap pria yang tidak kuketahui wajahnya tersebut.
"Be-benarkah begitu, Pak?" tanyaku dengan gelagapan.
"Iya, Nduk. Hanya kamu sendiri yang dapat menghentikannya karena kelemahannya ada pada kamu, Nduk!" tutur pria dengan suara berat tersebut.
"Ka-kalau boleh tahu, apakah kelemahan orang tersebut, Pak?" Aku bertanya kembali dengan perasaan syok karena tidak menyangka beliau akan berkata seperti itu.
"Saya juga tidak tahu, Nduk. Saya bukan tukang ramal, tapi insting saya berkata seperti itu," jawab beliau kembali.
"Iya, Pak. Terima kasih atas informasi yang Bapak berikan kepada saya," jawabku datar karena masih menahan perasaan yang tidak karuan.
Mas Diki memegangi badanku yang mulai limbung. Mataku sembap dengan seketika. Pikiranku melayang kemana-mana. Aku tidak habis pikir, bagaimana seandainya terjadi sesuatu terhadap Nur, anak semata wayang kami tersebut.
"Nduk .... Nduk ...," panggil pakdenya Siti yang terdengar dari telepon yang ku pegang.
__ADS_1
"Inggih, Pak," jawabku sambil meletakkan gawai tersebut ke dekat telinga kiriku.
"Kamu harus kuat, Nduk! Kamu jangan lemah. Kamu punya Tuhan, Nduk. Tidak usah takut. Bapak akan membantu mendoakanmu dari sini. Kamu harus berjuang, ya, Nduk," suara beliau secara terus-menerus mengingatkanku.
"Inggih, Pak!" jawabku di sela isak tangisku.
"Perbanyak berzikir di siang dan malam hari! Perbanyak salat Sunnah, mengaji, dan bersedekah! Kamu tidak boleh lemah, Nduk, karena itu menunjukkan keimananmu. Setan tidak akan berdaya menghadapi manusia yang memiliki keimanan kuat, sebaliknya setan akan mempermainkan jiwa-jiwa manusia yang labil dan kurang kokoh keimanannya," ujar beliau kembali dengan nada tegas.
"Inggih, Pak. Insyaallah saya akan melakukan semuanya itu. Saya akan berjuang mati-matian untuk menyelamatkan anak saya. Saya tidak akan membiarkan anak saya menjadi korban keserakahan," jawabku setelah berusaha menguatkan hati.
"Bagus, Nduk! Itulah yang bapak harapkan. Semoga hatimu semakin kuat menghadapi ini semuanya," ujar beliau.
"Inggih, Pak. Terima kasih," jawabku.
"Siti ada, Nduk?" tanya beliau kemudian.
"Ada, Pak. Apa Bapak ingin berbicara dengan Siti kembali?" tanyaku penasaran.
"Oh, tidak perlu, Nduk. Bapak cuma mau titip pesan sama kamu. Sampaikan pada keponakanku tersebut untuk selalu menjaga salat malamnya," jawab beliau.
"Inggih, Pak" selaku.
"Nduk, Bapak mau istirahat dulu, ya? Kepala agak geliyeng soalnya," ujar beliau kemudian.
"Sudah, Nduk. Tapi, penyakit ini masih betah saja bersarang di badan Bapak," jawab beliau.
"Kalau Bapak berkenan, habis ini saya mau mengirimkan uang untuk Bapak gunakan berobat ke dokter yang lebih bagus," ujarku memaksa.
"Eh, tidak usah, Nduk. Daripada uang itu diberikan ke Bapak, lebih baik kamu berikan pada orang-orang di sekitarmu yang membutuhkan. Bapak sudah cukupan, kok! Masalah penyakit ini, emang sudah faktor usia saja. Bukankah Bapak sudah sangat lama diberikan kesehatan? Sekarang sudah saatnya hidup berdampingan dengan penyakit, he he he ...," tawa beliau renyah sekali.
"Itu lain lagi, Pak. Uang yang akan saya kirim ini khusus untuk Bapak sebagai ucapan terima kasih saya," Aku ngotot.
"Terima kasih atas apa, Nduk? Emangnya saya habis bantu apa? Nggak ada, kan? Bapak di sini kamu di sana, kan jauh-jauhan, masa iya toh saya bisa bantu kamu jauh-jauhan begini?" jawab beliau kembali masih dengan nada bercanda.
"Bapak ini ada-ada saja. Bapak itu sudah sangat membantu saya dengan informasi yang Bapak berikan. Dengan begitu saya jadi tahu bahwa ada bahaya mengancam keluarga saya. Dan saya bisa tahu bahwa kelemahan orang tersebut ada pada diri saya," jawabku lagi dengan lantang.
"Nah, gitu dong harus semangat! Bapak sengaja bercanda supaya kamu tidak terus-terusan bersedih. Mengenai uang yang akan kamu berikan kepada saya. Tidak usah, Nduk!" tutur beliau.
"Tidak, Pak. Saya akan menitipkannya kepada Siti saja," ujarku memaksa.
"Kalau kamu memaksa seperti itu, Bapak tidak akan mau menerima teleponmu kembali, gimana?" ancam beliau.
"Duh, Bapak kok gitu sih? Saya kan jadi bingung," ujarku dengan kebingungan.
__ADS_1
"Gini saja, Nduk. Bantuan bapak ini adalah ucapan terima kasih bapak karena kamu sudah memberikan pekerjaan kepada keponakan saya yang paling nglanangi itu," jawab beliau kemudian.
"Duh, Pak. Justeru keberadaan Siti sangat membantu perkembangan usaha kami selama ini. Kalau tidak dia, tentunya kami akan sangat kebingungan," bantahku.
"Jangan bosan-bosan sama Siti pokoknya. Dia keponakan saya satu-satunya. Sudah, ya, Nduk. Bapak mau segera istirahat!" jawab beliau.
"Ya sudah, Pak. Terima kasih banyak, ya, Pak. Semoga Bapak segera sehat kembali," ujarku tak mau memaksa lagi.
"Aamiin ...," jawab beliau.
"Assalamualaikum ...,"
"Waalaikumsalam ...,"
Sambungan teleponpun terputus.
"Siti ...," panggilku pada karyawan suamiku tersebut.
"Aku titip-" ucapku.
"Mboten-Mboten, Bu. Saya tidak mau dititip-titipin," jawab Siti sambil berjalan menjauhi saya.
"Duh, dasar nggak keponakan nggak pakdenya sama saja. Sama-Sama hobi membantu orang, tapi nggak mau dikasih upah,"
"Dik, gimana?" tanya suamiku.
Aku pun menjelaskan semua yang dikatakan oleh pakdenya Siti tadi. Sebagian sudah terdengar oleh suamiku , tetapi sebagian yang lain baru ia ketahui sekarang.
Saat asyik berbincang-bincang dengan suamiku, tiba-tiba terdengar suara gawai berdering. Aku menoleh ke arah gawai Siti yang masih kupegang. Ternyata bukan gawai Siti yang berdering. Suaranya berasal dari dalam tasku. Aku berjalan menuju meja tempat tasku berada. Kurogohkan tanganku ke dalam tas itu untuk mengeluarkan gawai di dalamnya. Aku terkejut setelah melihat nama yang tertulis di layar gawai yang sedang membuat panggilan ke nomorku.
"BU RINI????"
BERSAMBUNG
Hayo, mau komentar apa sekarang?
Terima kasih atas sambutan semua pembaca di novel terbaruku yang berjudul DARAH INDIGO. Sudah pada nggak sabar nungguin kelanjutannya, kan?
Terima kasih juga untuk para pembaca yang sudah membeli novel cetak KAMPUNG HANTU.
APA? BELUM BELI?
__ADS_1