MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
BAB 25 : TAK TERDUGA


__ADS_3

Jeng Fitri pun langsung memilih baju-baju yang sudah ia pesan sebelumnya. Tak sampai setengah jam, setumpuk baju sudah berhasil ia kumpulkan.


"Maaf, Jeng. Goodie bagnya tidak muat kalau harus membungkus pakaian sebanyak ini. Nggak apa-apa ya dibungkus pake kresek legend ini?" tanyaku.


"Nggak apa-apa, Mbak. Saya kan sudah nggak butuh casing luarnya dari butik sampean. Saya sudah tahu kualitasnya," jawab Jeng Fitri.


"Ya sudah beres. Bayarnya mau cash atau lewat transfer, Jeng?" tanyaku lagi.


"Biasa. Transfer," jawab Jeng Fitri.


"Ya sudah kalau begitu. Nomor rekeningnya masih tetap seperti biasa. Ada lagi yang mau dibeli, Jeng?" tanyaku.


"Hm ... Bikini itu berapa?" tanya Jeng Fitri sambil menunjuk ke bikini yang berada di dalam etalase.


"Hm ... Ini? Dua ratus, Jeng. Emang pake ginian mau pamer ke siapa? Ingat, belum sah sama yang baru," protesku.


"Buat persiapan saja kok, Mbak. Takutnya kalau dibeli nanti habis menikah, keburu habis," jawab Jeng Fitri.


"Beneran, nih, dipakai kalau sudah nikah?" tanyaku.


"Beneran, Mbak. Mau ngasih kejutan gitu deh buat suami baru saya nanti," jawab Jeng Fitri.


"Oke, deh. Yang ini bonus untuk Jeng Fitri," jawabku sambil menyerahkan bikini berwarna ungu itu kepada Jeng Fitri.


"Beneran, nih, Mbak?" tanya Jeng Fitri tidak percaya.


"Beneran, Jeng. Masa bohongan?" jawabku.


"Alhamdulillah ... makasih banyak, ya, Mbak. Saya senang sekali. Asiiiiik," pekik Jeng Fitri.


"Sama-Sama, Jeng. Semoga hadiah dari saya bermanfaat buat Jeng Fitri," timpalku.


"So pasti, Mbak. My Darling pasti senang kalau melihat saya pakai ini," jawab Jeng Fitri sambil menimang-nimang bikini di tangannya.


"Hus! Ingat, Jeng Fitri nggak boleh aneh-aneh dulu sebelum sah!" ancamku.


"Tenang, Jeng. Saya nggak akan kayak gitu lagi sekarang. Saya mau nyari jodoh dunia akhirat sekarang. Saya nggak akan tambah muda, Mbak. Sekarang saya mau tobat pokoknya," jawabnya.


"Aaamiiin ...." Aku mengamini.


"Mbak, saya langsung pamit dulu, ya?" cetus Jeng Fitri.


"Beneran nih? Nggak mau ngobrol-ngobrol lagi?" ucapku berbasa-basi.


"Lain kali saja, Mbak. Saya keburu ada urusan lain sekarang," jawab Jeng Fitri serius.

__ADS_1


"Ya sudah deh kalau begitu. Sekali lagi, terima kasih banyak, ya, Jeng!" ujarku.


"Sama-Sama, Mbak," jawabnya.


Kami pun berjalan meninggalkan butik menuju ruang tamu. Tadi kami memang masuk melewati pintu di bagian dalam. Saat aku akan menutup pintu ruangan untuk butik, tiba-tiba ada panggilan masuk di ponselku. Di layar tertulis nama Mas Diki.


"Assalamualaikum. Ada apa, Mas?" tanyaku.


"Waaalikumsalam. Dik, sebelumnya mas minta maaf sama kamu. Tapi, kamu jangan marah, ya?" tanya Mas Diki.


"Kenapa, Mas?" tanyaku tak sabar.


"Begini, Dik. Klien yang kapan hari saya temui di kota sebelah barusan menelpon saya. Beliau setuju mengambil produk milik kita. Hari ini juga beliau minta dikirimi seribu pcs gamis milik kita, Dik," jawab Mas Diki dengan nada tergagap-gagap.


"Alhamdulillah ... Ini kan berita baik, Mas. Kenapa saya harus marah? Justeru saya senang mendengarnya. Bukankah Mas Diki pernah bilang kalau gamis yang itu laku, setiap pcs-nya akan disumbangin ke panti asuhan dua setengah persennya? Mas Diki nggak lupa hal itu, kan?" Aku bertanya.


"Enggak, kok, Dik. Mas nggak lupa hal itu. Maksud mas itu kayaknya mas nggak bisa ngantar kamu ke rumah Pak Seno. Soalnya mas harus buru-buru ke gudang untuk segera mengangkut gamis-gamis itu," jawab Mas Diki lemah.


"Loh, bukankah sudah ada karyawan di sana, Mas. Saya nggak mungkin berangkat sendirian ke rumah Pak Seno, Mas," protesku.


"Kunci toko memang sudah saya pegangkan ke mereka, Dik. Tapi, kunci gudang mas yang pegang soalnya anak-anak nggak ada yang berani pegang kunci gudang. Lagipula, customer baru ini maunya ketemu saya langsung untuk memberikan ceknya, Dik. Gimana, Dik? Dik Sinta kan bisa ngajak Jeng Fitri ke rumah Pak Seno. Jeng Fitri sudah datang, kan? Atau misalnya Dik Shinta tetap ingin minta ditemani mas, ya nggak apa-apa, tapi rejeki yang inj mas lepas dulu kayaknya," jawab Mas Diki lemah.


"Jangan dong, Mas. Rejeki nomplok kok dilepas? Ya sudah deh, kalau misalnya saya nggak ada teman. Saya nggak jadi ke rumah Pak Seno deh," jawabku.


"Lah, terus gimana, Dik. Dik Sinta tetap ke rumah Pak Seno saja. Ajak Jeng Fitri atau siapa gitu yang bisa menemani Dik Sinta. Tenang, nanti mas kasih bonus deh buat orang yang mau menemani Dik Sinta," rayu Mas Diki.


"Iya, bener," jawab Mas Diki.


"Ya sudah deh. Saya mau nyari teman untuk menemani saya ke rumah Pak Seno. Mas Diki hati-hati, ya, di jalan," ujarku.


"Makasih banyak, ya, Dik," jawab Mas Diki.


"Sama-Sama," jawabku.


"Assalamualaikum ...,"


"Waalaikumsalam ...,"


Jeng Fitri sudah bersiap naik ke atas motornya.


"Jeng Fitri!!!" panggilku cepat.


"Ada apa, Mbak?" tanyaku.


"Mbak, kamu bisa menemani saya pergi ke suatu tempat?" tanyaku.

__ADS_1


"Ke mana, Mbak?" tanya Jeng Fitri sambil turun lagi dari motornya.


"Sini duduk dulu!" ucapku pada Jeng Fitri.


Jeng Fitri menghampiriku dan duduk di teras di sebelahku.


"Gini, Jeng. Saya butuh orang untuk menemani saya ke suatu tempat. Jaraknya sekitar dua kecamatan dari sini. Jeng Fitri bisa nggak menemani saya?" tanyaku.


"Duh, kok jauh banget ya, Mbak? Kirain cuma dekat-dekat sini. Kayaknya saya nggak bisa, Mbak. Soalnya saya ada keperluan lain juga hari ini. Saya mohon maaf ya, Mbak. Seandainya saya nggak ada acara lain pasti saya mau menemani," jawab Jeng Fitri.


"Duh, siapa, ya, yang bisa menemani saya?" tanyaku sambil mikir. Kemudian saya punya ide untuk menghubungi Mbak Srintil.


Saya pun melakukan panggilan terhadap Mbak Srintil.


"Assalamualaikum ... Mbak Srintil,"


"Waaalikumsalam ... Mbak Sinta ada apa?"


"Mbak, bisa nggak menemani saya sekarang ke suatu tempat?"


"Sekarang, Mbak?"


"Iya, sekarang. Kalau Mbak Srintil bisa, sekarang juga Mbak Srintil siap-siap. Kita ketemuan di depan TK AMANAH BANGSA 3, tahu, kan?" ujarku.


"Iya, Mbak, tahu. Itu sekolahnya tantenya Mbak Ning, kan? Yang bagus itu, kan? Orang sini tahu semua, Mbak? Oke, saya siap-siap sekarang. Saya mau ngojek ke sana," jawab Mbak Srintil.


"Oke, saya tunggu beneran loh, ya. Saya juga mau berangkat sekarang. Sampai jumpa di sana" jawabku.


"Iya, Mbak,"


"Assalamualaikum, ..."


"Waalikumsalam, ...,"


Jeng Fitri masih duduk di sebelahku.


"Gimana, Mbak, nemu teman?" tanya Jeng Fitri.


"Alhamdulillah ... Jeng Fitri bisa mengantar saya ke jalan raya di depan, kan?" tanyaku.


"Bisa, kalau cuma ke situ, Mbak," jawab Jeng Fitri.


"Oke, tunggu saya mengunci rumah dulu ya sebentar," jawabku.


"Iya, Mbak," jawab Jeng Fitri.

__ADS_1


Aku pun bersiap-siap dan mengunci rumahku. Kemudian aku pun meminta Jeng Fitri antar kepada Jeng Fitri ke jalan raya. Baru saja Jeng Fitri meninggalkanku di jalan raya, seorang nenek tua berjalan ke arahku yang sedang menunggu angkutan umum. Suasana cukup sepi di tempat itu.


BERSAMBUNG


__ADS_2