MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 38


__ADS_3

Aku dan Mas Diki tak mau berlama-lama di tempat ini karena Nur dan Riki pasti sedang ketakutan dan menunggu kami untuk segera ditolong. Mas Diki merapatkan ikatan kain pada lukanya untuk mengurangi rasa perih akibat cakaran harimau putih itu.


Kami berdua melangkah menuju gerbang depan sesuai rencana semula. Namun langkah kami terhenti karena mendengar suara tangisan itu kembali.


"Mas, apa kita jadi keluar pekarangan ini, sementara suara tangisan itu seolah-olah dekat sekali dengan kita?" tanyaku pada suamiku.


"Lebih baik kita urungkan rencana kita, Dik. Kita lewat di dalam saja, melewati pinggiran pagar ini sambil mengendap-endap," jawab suamiku tegas.


"Iya, Mas. Lebih baik begitu," timpalku.


"Ayo, Dik, kita segera bergerak!" jawabnya.


Sambil berjalan mengendap-endap melewati pinggiran pagar di sebelah barat, aku berkata pada suamiku.


"Mas, saya minta maaf, ya, sudah melanggar perjanjian kita?" ucapku perlahan.


Suamiku menatap mataku sejenak, kemudian ia pun mengelus rambutku.


"Saya tahu kamu juga tidak menginginkan untuk melakukan hal itu. Almarhum ibu juga pasti akan memakluminya seandainya ia masih hidup," jawab Mas Diki sedikit berbisik.

__ADS_1


Aku pun teringat dengan kejadian masa laluku. Waktu itu aku dan Arman aktif mengikuti latihan ilmu silat. Setelah beberapa waktu, aku menjalin hubungan dengan Mas Diki. Mas Diki memperkenalkan aku pada keluarganya, yaitu Yu Darmi dan kedua orang tuanya. Awalnya mereka sangat mendukung hubungan percintaan kami. Namun, suatu hari tanpa sengaja ibunya Mas Diki melihatku sedang menghajar preman yang sedang berusaha memalak seorang perempuan di pasar. Aku menghajar preman itu habis-habisan. Dan saat aku berkelahi dengan preman itu, ibu mertuaku yang sedang membeli keperluan dapur tanpa sengaja melihatku yang sedang bertarung dengan preman itu. Sepulang dari pasar, ia memarahi Mas Diki habis-habisan dan menyuruhnya untuk memutuskan hubungannya denganku. Tentunya Mas Diki tidak mau menerima begitu saja keputusan ibunya. Ia mengajakku bertemu perempuan yang telah melahirkannya itu. Di sana aku berusaha menjelaskan alasan mengapa aku berkelahi dengan preman itu. Namun, percuma saja, ibunya Mas Diki tidak mau menerima penjelasanku. Menurut ibunya, ia tidak ingin memiliki menantu yang hobi berkelahi. Setelah itu hubunganku dengan Mas Diki menjadi renggang.


Selama beberapa waktu, kami berdua tidak bertemu dan saling berusaha untuk melupakan. Namun, mungkin karena sudah ditakdirkan saling berjodoh, tak lama kemudian kami melanjutkan hubungan kami secara sembunyi-sembunyi. Awalnya sih aman-aman saja, tapi sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan terjatuh juga. Lagi-Lagi hubungan kami diketahui oleh ibunya Mas Diki. Tapi, kali ini Mas Diki lebih tegas lagi, ia bilang kepada ibunya bahwa ia sangat mencintaiku dan ingin menikahiku. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Alih-Alih marah dengan kenekatan Mas Diki, ibunya malah nengiyakan keinginannya untuk menikahiku dengan satu syarat yaitu aku tidak boleh lagi menggunakan ilmu silatku untuk berkelahi dengan alasan apapun. Dan saat itu kami pun menyanggupinya. Dan menikahlah aku dengan Mas Diki.


Semenjak saat itu, aku menjadi perempuan yang lebih feminin. Aku yang dulunya hobi menggunakan pakaian ala laki-laki, secara drastis berubah menjadi wanita seutuhnya. Dan aku pun sangat dekat sekali dengan ibu mertua. Ia sangat menyayangiku. Setelah dekat dengan ibu mertua, barulah aku mengerti apa alasannya tidak menyukai perempuan yang bisa berkelahi. Ternyata ia trauma dengan nasib yang menimpa sahabatnya.


Dulu ia memiliki seorang sahabat perempuan yang menguasai ilmu beladiri. Sahabatnya itu aktif mengikuti kejuaraan. Ibu mertua pun sering diajak kalau sahabatnya itu sedang mengikuti ajang perlombaan. Sudah banyak piala yang berhasil digondol oleh sahabatnya itu. Hingga suatu hari, saat sahabatnya itu naik ke atas ring untuk bertarung dalam final lomba silat tingkat kabupaten. Sahabatnya itu bertemu dengan musuh yang hebat. Pertandingannya sangat seru dan berlangsung alot. Keduanya saling susul menyusul dalam perolehan poin. Hingga akhirnya pada putaran terakhir, sebuah tendangan yang dilancarkan musuhnya itu mengenai kepala sahabatnya dan ia pun mengalami cedera serius di bagian kepalanya sehingga harus dilarikan ke rumah sakit saat itu juga. Untunglah nyawa sahabatnya itu sempat tertolong, tapi tidak dengan penglihatannya.


"Mas, berhenti dulu. Lihat di depan sana ada dua orang sedang mengobrol," ucapku pada suamiku dengan berbisik.


"Iya, Dik. Benar katamu. Sepertinya itu seorang laki-laki dan perempuan. Ayo kita intip mereka!" ujar Mas Diki.


Kami berdua pun berjalan mengendap-endap mendekati mereka berdua yang seperti sedang cekcok. Kami benar-benar berhati-hati dalam melangkah supaya tidak diketahui oleh kedua orang tersebut. Singkat cerita, kami pun sudah berada pada jarak yang cukup untuk mendengar pembicaraan mereka dan mengetahui siapa mereka.


Aku menoleh ke arah Mas Diki. Ia memberi tanda dengan telunjuknya supaya aku tidak bersuara. Rupanya, Mas Diki juga terkejut sama sepertiku.


Selanjutnya, kami pun memperhatikan perbincangan sepasang suami istri yang terpaut usia cukup jauh itu.


"Pa, di mana kamu menyembunyikan Riki? Awas kalau sampai kamu mencelakai Riki, aku tidak akan memaafkanmu!" teriak lantang Clara kepada suaminya yang sekaligus adalah ayah angkatnya itu.

__ADS_1


"Tenang, Sayang. Aku tidak akan menumbalkan Riki kepada Mbah Bajol karena malam ini aku sudah mendapatkan tumbal yang lain. He he he he he ...," jawab sang suami sambil terkekeh.


DEG


"Siapa orang lain yang dimaksud oleh pria itu? Apakah itu Nur? Ya Tuhan, selamatkanlah anakku itu," ucapku di dalam hati.


"Lantas, mengapa kamu menculik Riki juga, Pa? Kembalikan Riki padaku kalau kamu memang sudah menemukan korban penggantinya!" bentak Clara dengan emosi.


"Tenang, Sayang. Jangan emosi begitu, dong! Kalau kamu emosi nanti kecantikanmu bisa hilang!" ujar laki-laki tua itu.


"Aku sengaja menculik Riki untuk berjaga-jaga takutnya aku akan gagal menumbalkan anak itu malam ini. Karena aku tahu, orang tua anak itu bukanlah orang biasa. Mereka pasti mengejarnya ke sini," ujar laki-laki itu lagi.


"Kamu sudah gila, Pa. Riki itu anakku. Aku tidak mungkin dapat hidup bersamamu kalau kamu nyata-nyata menumbalkan anakku itu!" teriak Clara.


"Emangnya siapa yang kamu bilang sebagai tumbal pengganti Riki?" tanya Clara lagi dengan penasaran.


"Anak itu adalah Nur Rahman. Tetanggamu, Sayang. He he he he he ...," jawab pria itu dengan tawa terkekeh-kekeh.


"Ya Tuhaaaaaan!!!" pekikku di dalam hati begitu mendengar nama anakku disebut oleh pria gila itu.

__ADS_1


Tanganku mengepal melambangkan kemarahanku. Ingin rasanya kuhajar pria keparat itu dengan kedua tanganku.


BERSAMBUNG


__ADS_2