MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 11: PERBINCANGAN


__ADS_3

Keesokan harinya ramai orang memperbincangkan munculnya hantu Laras di dusun Delima.


"Beneran nih semalam Bu Nisa ketemu hantunya Laras di sungai?" tanya Bu Yana.


"Beneran, Bu. Semalam itu Bu Nisa sampai nggak bisa tidur takut didatangi lagi sama Laras," jawab Bu Jefri.


"Katanya, Bu Reni juga didatangi Laras?" tanya Bu Yana lagi.


"Iya, benar, Bu Yana. Laras mengetok-ngetok pintu rumahnya Bu Reni. Sama Bu Reni dikira anaknya baru pulang dari kerja kelompok. Pas dibukain pintunya ternyata yang nongol malah Laras," jawab Bu Nada yang kebetulan tinggal di dekat rumah Bu Reni.


"Terus, bagaimana nasib Bu Reni?" tanya Bu Yana.


"Semalam Bu Reni pingsan di ruang tamunya. Ibnu yang menemukannya pertama kali. Anak itu berteriak-teriak karena melihat ibunya tidak sadarkan diri. Para tetangga pun datang menolong Bu Reni," jawab Bu Nada.


"Suami Bu Reni ke mana?" tanya Bu Yana lagi.


"Pak Hartono kan kerjanya malam, Bu Yana. Jadi, beliau tidak ada di tempat waktu kejadian," jawab Bu Nada.


"Terus, siapa yang menjaga Bu Reni semalam? Nggak mungkin kan, tetangga membiarkan Bu Reni hanya berdua saja dengan Ibnu?" tanya Bu Yana.


"Suami saya langsung menghubungi Pak Hartono, Bu dan memberitahukan kejadian buruk yang menimpa istrinya," jawab Bu Nada.


"Apa Pak Hartono percaya?" tanya Bu Yana sambil membungkus belanjaan Bu Nada.


"Awalnya Pak Hartono tidak percaya, tapi suami saya cerita kalau istrinya pingsan. Akhirnya, Pak Hartono pun minta izin pulang ke bos-nya," jawab Bu Nada.


"Selama Bu Nada nungguin Bu Reni di rumahnya, apa ada sesuatu yang aneh, Bu Nada?" selidik Bu Yana.


Bu Nada berpikir sejenak.


"Sebenarnya saya juga takut berada di rumah Bu Reni. Terutama pas saya pergi ke dapur mengambilkan air minum untuk diberikan ke Bu Reni. Kayak ada yang sedang ngawasi saya gitu, Bu. Serem deh pokoknya, padahal saya di rumah itu nggak sendirian. Ada juga beberapa tetangga yang ikut menunggui Bu Reni dan Ibnu, tapi kerasanya kayak gimana gitu. Rasanya waktu lama banget gitu, Bu, nungguin Pak Hartono datang," tutur Bu Nada.


Ibu-Ibu yang berada di warung Bu Nada ikut bergidik ngeri mendengar kesaksian tetangga mereka itu. Bu lek Roso yang kebetulan juga berada di antara ibu-ibu hanya diam sambil mendengarkan perbincangan mereka. Semalam ia mengalaminya sendiri seperti yang dialami oleh Bu Nisa dan Bu Reni, tapi ia enggan menceritakan hal itu kepada orang lain.


Di dalam hati ia hanya membatin, "Nduk Laras ... semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosamu. Aamiiin."


Bulek Roso pun segera pergi setelah membeli sayuran kepada Bu Yana.

__ADS_1


"Lihat tu, Bulek Roso nyelonong pergi kayak nggak tertarik dengan cerita kita," sindir Bu Dita salah satu tetangga Bulek Roso.


"Maklum, Bu Hajah! Anti gosip," sahut Bu Wati dengan tidak salah sewotnya.


"Jangan begitu, Bu Dita ... Bu Wati ... Bulek Roso kan sudah sepuh. Paling dia takut kalau dengerin cerita Laras," bela Bu Yana dengan nada ramah takut menyulut emosi kedua perempuan di depannya.


"Biarin didatangi hantu Laras, tahu rasa dia!" jawab Bu Wati.


"Hus!!! Nggak baik ngomong kayak gitu ke orang tua. Ntar kualat!" jawab Bu Yana lagi.


"Ih, Bu Yana ini belain dia terus. Bu Yana tahu nggak? Saya sama Bu Dita ini sering diceramahi sama Bulek Roso itu katanya harus jaga aurat lah! Inilah! Duh, capek pokoknya ...," jawab Bu Wati.


"Ealah ... Sudah, nggak usah diambil hati. Namanya juga orang sudah sepuh, biasa ngomong begitu. Saya sering juga diceramahi masalah kejujuran berdagang dan sebagainya," jawab Bu Yana.


"Bu Yana nggak kesel diceramahi terus?" desak Bu Wati.


"Yah, gimana lagi. Saya dengerin saja," jawab Bu Yana.


"Kami nggak sama dengan Bu Yana. Kami nggak mau diceramahi seperti itu. Lah dia sendiri pinter ceramah saja, buktinya kemarin pas kematian Laras, dia ke mana?" ledek Bu Wati.


Bu Yana memperhatikan ekspresi marah dari Bu Wati. Ia sadar kalau ia teruskan, Bu Wati bisa marah terhadapnya dan tidak belanja di tokonya lagi.


"Bu Nada dan Bu Jefri ke sini lewat mana tadi? Lewat depan rumah Laras?" tanya Bu Dita.


Bu Jefri dan Bu Nada mengangguk.


"Tadi, kebetulan pas ke sini saya nungguin ada orang yang mau lewat depan rumah itu, terus saya ajak bareng," jawab Bu Nada.


"Sama. Aku juga gitu tadi," jawab Bu Jefri.


"Terus, pulangnya gimana habis ini? Apa nungguin ada orang lewat lagi?" tanya Bu Dita.


"I-i-iya, kayaknya," sahut Bu Nada.


"Kalau nggak ada orang lewat gimana?" desak Bu Dita.


"Ya, ditungguin sampai ada," jawab Bu Jefri.

__ADS_1


"Nggak usah takut, Bu Nada ... Bu Jefri ... Ini kan siang hari. Nggak mungkin ada hantu siang-siang," sahut Bu Yana.


"Iya sih, Bu. Tapi, was-wasnya itu, Bu yang bikin nggak berani," jawab Bu Wati dengan nada meledek.


Bu Wati dan Bu Dita tentunya tidak perlu melewati rumah Laras untuk menuju rumah mereka.


"Bu Yana, bisa anterin kami, nggak?" tanya Bu Nada.


"Ah, masa ibu-ibu ini sudah pada dewasa minta diantar segala?" protes Bu Yana.


"Ya sudah, kalau Bu Yana nggak mau anterin, besok kita nggak belanja ke sini lagi," sahut Bu Jefri.


"Duh, kalian ini beneran kayak anak kecil," jawab Bu Yana.


"Sudah, anterin saja mereka berdua Bu Yana! Kasihan ...," jawab Bu Wati.


"Kalau aku nganterin mereka sampai depan rumah Laras, yang jaga toko ini siapa?" protes Bu Yana.


"Sebentar saja kan, Bu?" desak Bu Nada.


"Saya panggilkan anak saya, ya?" taya Bu Yana.


"Enggak! Masa diantar anak kecil? Laras mana takut sama anak kecil?" protes Bu Jefri.


"Emangnya, yang ngantar mau kalian suruh berkelahi sama Laras?" protes Bu Yana.


"Ya nggak juga, Bu. Tapi, kalau yang ngantar segede Bu Yana, kami lebih tenang," jawab Bu Nada.


"Hm ... Oke deh! Dasar kalian ini!" keluh Bu Yana sambil keluar dari tokonya.


Bu Wati dan Bu Dita yang melihat tingkah konyol mereka bertiga menjadi ketawa-ketiwi sendiri. Sedangkan ibu-ibu bertiga berjalan menuju rumah Laras dengan perasaan was-was. Begitu sampai di rumah Laras, mereka bertiga sama-sama lari secepat-cepatnya menuju rumah masing-masing. Bu Dewi yang kebetulan berada di depan rumahnya dan melihat tingkah aneh ketiga ibu-ibu itu menjadi bertanya-tanya.


"Ada apa dengan ibu-ibu itu, kok sampai lari-lari segala sesampai di rumah Laras?"


BERSAMBUNG


Jangan lupa membaca novel baruku yang lain yang berjudul "SUAMI RAHASIA PENYANYI DANGDUT"

__ADS_1


Tinggalkan like dan komentar kalian, ya?


__ADS_2