MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 91 : TERKEJUT


__ADS_3

Kapten Yosi tidak menyangka ternyata di usianya yang sudah dewasa, Cintia masih senang bermain game anak-anak.


“Cin, kamu suka main game kayak gini?” tanya Kapten Yosi tidak percaya.


“Iya, Kapten. Saya terlanjur suka sama game ini sejak SMP,” jawab Cintia berbohong.


Padahal tadi ia secara acak mengklik shortcut yang tampil di dekstop untuk menutupi tampilan file data pengunjung Hotel Bunga yang sedang tampil di layar.


“Jangan sampai kamu kecanduan game, Cin. Nanti kasus-kasus yang kamu tangani jadi terlantar,” jawab Kapten Yosi.


“Iya, Kapten,” jawab Cintia pendek.


“Oh ya, barusan saya mendapat telepon dari atasan saya, katanya kasus Narkoba yang kalian tangani akan segera ditutup dalam beberapa hari ini,” ujar Kapten Yosi dan tentu saja mengagetkan dua polisi itu.


“Apa, Kapten Yosi?” tanya Herman dengan nada terkejut.


“Kenapa, Herman? Bukankah sudah tidak ada bukti atau saksi lain selain yang sudah diserahkan oleh kalian kepada Tim Ahli kemarin?” tegur Kapten Yosi.


“Iya, Kapten. Tapi, kami sedang berusaha semaksimal mungkin,” jawab Herman.


“Sudahlah, Herman! Masih banyak kasus lain yang tidak kalah pentingnya yang harus kalian tangani selain kasus Narkoba ini,” jawab Kapten Yosi.


“Tapi, Kapten-“ sahut Herman.


“Sudahlah! Kalian jangan banyak protes! Aku sekarang mau istrahat dulu. Capek!” sahut Kapten Yosi sambil beranjak pergi meninggalkan mereka berdua.


“Gimana ini, Cin?” tanya Herman.


“Kita harus bergerak cepat. Ayo, kita berkemas sekarang! Kita akan langsung berangkat menuju dusun Delima untuk menyelidiki seorang perempuan bernama Larasati,” jawab Cintia.


Mereka berdua pun buru-buru berangkat menuju dusun Delima. Semua agenda kegiatan mereka terpaksa ditinggalkan demi mengejar waktu. Mereka pun sudah berada di dusun Delima untuk menemui Pak Saimin, salah satu ketua RT di dusun Delima yang kenal baik dengan Kapten Yosi.


“Ada perlu apa Pak Herman dan Bu Cintia datang ke rumah saya? Apa ada sesuatu yang sangat penting?” tanya Pak RT setelah mempersilakan kedua orang itu masuk ke dalam rumahnya.


“Begini, Pak Saimin. Kami ingin menanyakan identitas seseorang kepada Bapak. Barangkali Pak Saimin kenal dengan orang ini,” jawab Herman.


“Siapa, Pak Herman?” tanya Pak RT.


“Apakah di dusun ini ada seorang perempuan bernama Larasati?” tanya Herman.


“La-larasati?” ulang Pak RT gugup.


“Iya, Pak saimin. Larasati. Kenapa Pak Saimin panik? Apa Pak Saimin mengenal nama tersebut?” tanya Herman lagi.


“Larasati yang mana, Pak Herman? Barangkali ada alamat lengkapnya?” tanya Pak RT dengan gugup.


“Ini nama dan alamat lengkapnya, Pak,” jawab Cintia sambil menunjukkan foto nama dan alamat yang ia foto dari monitor komputer.


“Iya, Bu Cintia. Saya tahu orang tersebut. Tapi, kenapa dengan orang tersebut?” tanya Pak RT makin gugup ketika membahas tentang Laras.


“Tidak, Pak Saimin. Saya hanya ingin memastikan bahwa orang tersebut benar-benar warga dusun Delima ini. Kalau emang iya, tolong antarkan kami berdua ke rumah perempuan bernama Larasati tersebut!” jawab Herman.


“Begini, Pak Herman … Bu Cintia … orang yang kalian berdua maksudkan itu sudah meninggal tujuh hari yang lalu. Hari ini adalah hari ketujuh tahlilan di rumah keluarganya,” jawab Pak RT dengan terbata-bata.


“Innallahi wainna ilaihi rojiuuun … dia meninggal karena apa, Pak?” tanya Herman.


“Karena sakit, Pak Herman. Jadi, dia dulu memang tinggal di sini ikut ibunya yang menjadi ART di rumah salah satu warga dusun Delima ini. Tapi, beberapa tahun yang lalu, perempuan itu pergi dari dusun ini ke kota. Sebulan yang lalu dia datang dengan membawa seorang bayi yagng katanya adalah anaknya dengan suami yang sudah meninggalkan dirinya. Nah, dia pulang dalam keadaan sakit wakt itu. Anaknya dirawat oleh orang yang menjadi majikan ibunya dulu. Namun, tujuh hari yang lalu Larasati meninggal dunia,” jawab Pak RT dengan nada yang sangat berhati-hati sekali seolah-olah ia merasa ketakutan kalau menceritakan silsilah Laras kepada kedua polis itu.

__ADS_1


Herman dan Cintia tercengang saat mendengar pengakuan dari Pak RT. Mereka benar-benar tidak menyangka kalau orang yang mereka cari saat itu sudah dalam keadaan meninggal dunia.


“Kalau dengan Pak Dimas, apa hubungan nona Larasati ini?” tanya Cintia memberanikan diri.


“Pak Dimas???? Nggak ada, Bu. Larasati ini jarang bergaul dengan orang-orang sini. Apalagi sama Pak Dimas. Pak Dimas itu orangnya tehormat. Tidak mungkin ia bergaul dengan perempuan yang diisukan kurang baik seperti Laras ini,” jawab Pak RT.


“Loh, Nona Larasati ini apa perempuan nakal, Pak?” tanya Herman.


“Ya saya nggak tahu, Pak. Tapi, orang-orang sih bilangnya begitu. Katanya waktu di kota dia berprofesi sebagai wanita penghibur. Ups!” Pak RT buru-buru menutup mulutnya.


“Kenapa, Pak?” tanya Cintia.


“Nggak apa-apa, Bu. Saya hanya takut kalau membicarakan orang itu,” jawab Pak RT.


“Kenapa, Pak? Disini nggak ada siapa-siapa? Dan orangnya juga sudah mati,” jawab Cintia.


“Tapi, orang-orang banyak yang bilang kalau dia menjadi hantu, Bu,” jawa Pak RT.


Herman dan Cintia saling bertatapan saat itu. Di benak mereka berdua sedang memikirkan berbagai kemungkinan tentang perempuan bernama Larasati itu.


“Sepertinya Nona Larasati ini tidak disukai penduduk di sini, ya? Buktinya Pak Dimas yang jelas-jelas meninggal karena over dosis, tidak banyak diperbincangkan oleh orang-orang,” ujar Cintia.


“Pak Dimas kan orang baik, Bu. Pasti ada orang yang sedang berusaha mencelakai beliau,” jawab Pak RT.


“Kenapa Pak Saimin bisa seyakin itu? Kepribadian orang itu tidak bisa dinilai dari luarnya loh! Apalagi Pak RT di sini adalah salah satu tokoh masyarakat yang disegani penduduk dusun Delima. Seharusnya Pak Saimin bisa lebih bijak menyikapi hal ini,” tutur Herman.”Iya, Pak. Sebenarnya saya tidak mau terpengaruh oleh omongan buruk warga tentang Laras, tapi laa kelamaan saya kok malah jadi ikut-ikutan,” jawab Pak RT.


“Berpikirlah lebih jernih dan bersikaplah lebih adil, Pak. Jangan mudah percaya dengan isu-isu yang beredar sebelum ada bukti nyata,” ujar Herman.


“I-iya. Terima kasih, Pak Herman … Bu Cintia …,” jawab Pak RT dengan malu-malu.


“Pak Saimin bisakah Bapak mengantar kami ke rumah majikan ibunya Laras?” tanya Herman.


“Loh, acara tahlilannya sore kalau di sini?” tanya Herman.


“Biasanya sih enggak, tapi karena yang meninggal ada tiga orang. Jadi, tahlilan di rumah Pak Herman diadakan sore hari,” jawab Pak RT.


“Pak Herman?” tanya Herman.


“Oh ya, kebetulan nama orangnya sama dengan nama Pak Herman,” jawab Pak RT.


“Dasar nama pasaran!” ledek Cintia.


“Sialan, kamu, Cin. Ya sudah, kami menumpang sholat di sini, ya? Setelah itu kita berangkat ke rumah Pak Herman setelah sholat Asar,” ucap Herman.


“He he he … lucu juga. Masa Pak Herman mau perg ke rumah Pak Herman juga, ucap Pak RT.


Cintia tertawa ngakak begitu mendengar pendapat Pak RT yang menyudutkan teman kerjanya itu.


Setelah azan berkumandang, mereka bertiga pun sholat Asar secara bergantian di rumah Pak RT. Setelah menunaikan sholat Ashar mereka langsung berangkat ke rumah Pak Herman. Bu Dewi dan Pak Herman yang sedang menunggu tamu yang datang ke rumah mereka itu pun terkejut dengan kehadiran kedua polisi itu. Namun, mereka tidak membicarakan hal lain selagi acara masih berjalan. Menjelang magrib, barulah acara selesai di rumah Bu Dewi  dan semua warga satu persatu pulang ke rumahnya masing-masing termasuk Jamila, Minul, Pak Salihun, dan Pak Ratno. Hanya tinggal Herman dan Cintia yang masih bertahan di rumah Bu Dewi.


“Mohon maaf atas kedatangan kami berdua yang mungkin mengganggu kenyamanan Bapak dan Ibu,” sapa Herman.


Bu Dewi sempat tersungging senyum ketika melihat nama suaminya tercetak di atas saku seragam polisi itu.


“Kamu kok ketawa-ketawa, Dik. Nggak sopan tahu!” tegur Pak Herman.


“Itu, Mas. Nama Pak Polisi ini sama seperti nama Mas,” jawab Bu Dewi dengan kembali tersenyum.

__ADS_1


Giliran Cintia dan Herman saat ini yang tersenyum.


“Iya, tadi Pak Saimin juga bilang begitu sama saya. Mungkin dulu orang tua kami inspirasinya sama pas membuat nama untuk kami. Loh anakku kok ganteng, aku kasih nama ‘Herman’ deh!” ujar Herman dengan ekspresi sok polos.


“Nah, setuju banget saya, Pak!” sahut Pak Herman.


“Halah ge-er Mas ini!” sahut Bu Dewi.


Mereka berempat pun terlibat pembicaraan yang cukup hangat.


“Oh ya, sebenarnya Bapak dan Ibu ke sini ada perlu apa, ya? Kami kok jadi penasaran,” tanya Pak Herman.


Herman dan Cintia saling berpandangan dan kemudian Herman menjawab.


“Pak, apa benar Bapak dan Ibu ini adalah keluarga Larasati?” tanya Herman.


“Larasati?” Pak Herman dan Bu Dewi menyahut secara bersamaan.


“Iya. Ini data perempuan yang bernama Larasati yang kami maksudkan,” ucap Cintia sambil menyodorkan Ponselnya yang menampilkan foto nama dan alamat lengkap perempuan bernama Larasati itu.


Pak Herman dan Bu Dewi memperhatikan dengan saksama tulisan yang ada di layar Ponsel milik Polwan di depannya.


“I-i-iya, Pak. Ini memang data anak angka kami. Dan anak angkat kami ini sudah meninggal tujuh hari yang lalu. Acara yang Bapak dan Ibu ikuti barusan adalah acara tahlilan anak angkat kami itu, jawab Bu Dewi dengan terbata-bata dan penuh emosional.


“Kenapa data Laras bisa ada di tangan Bapak?” tanya Pak Herman menimpali.


“Begini, Bapak. Kami berdua ini sedang menyelidiki sebuah kasus. Di tengah-tengah penanganan kasus tersebut kami menemukan identitas nona Larasati,” jawab Herman.


“Kasus apa, Pak? Laras sudah meninggal tujuh hari lalu. Selama sebulan ia tinggal di sini. Kami pastikan ia tidak pergi ke mana-mana karena a sedang sakit parah. Tidak mungkin ia terlibat dengan kasus apapun,” protes Pak Herman.


“Mohon maaf, Pak.Kami datang ke sini bukan untuk menjustifikasi bahwa nona Larasati terlibat dalam kasus tersebut. Kedatangan kami ke sini ingin meminta tolong kepada Bapak dan Ibu barangkali sebelum meninggal, nona Larasati pernah berkata sesuatu atau memiliki barang yang bisa saja dapat membantu kami untuk mengungkap kasus yang sedang kami tangani sekarang,” jawab Herman dengan nada ramah.


“Kasus apa yang sedang Bapak tangani?” tanya Pak Herman.


“Mohon maaf, Bapak. Untuk saat ini kami harus merahasiakan kasus ini terhadap siapapun. Yang jelas dengan terungkapnya kasus ini maka semua orang yang dirugikan bisa mendapatkan hak keadilannya. Dan penjahatnya bisa dihukum seberat-beratnya,” jawab Herman.


Pak Herman menarik napas dalam-dalam. Sementara Bu Dewi menunduk. Perempuan itu teringat dengan buku harian yang ditulis oleh Laras. Ia yakin kasus yang dimaksudkan oleh kedua polisi itu adalah kasus kejahatan Narkoba yang melibatkan Pak Dimas dan Pak Ade di dalamnya. Dan juga kasus pelecehan terhadap Laras. Ingin sekali ia mengatakan saat itu kepada polisi itu bahwa ia memegang buku harian yang ditulis Laras. Namun, Bu Dewi sadar bahwa buku harian itu tidak cukup kuat untuk menjebloskan Pak Ade ke penjara. Dampak negatifnya justeru orang-oran akan tahu bahwa Laras memang menjadi hantu dan mengganggu kenyamanan warga dusun Delima.


“Mohon maaf, Pak. Sebelum Laras meninggal, ia tidak berpesan apa-apa kepada kami. Dan juga tidak ada barang-barang Laras yang mencurigakan,” jawab Bu Dewi dengan tegas dan suaranya parau saat itu.


“Apa Ibu yakin sudah memeriksa semua barang peninggalan nona Laras?” tanya Cintia.


“Sudah, Bu. Barang peninggalan Laras tidak banyak, Bu. Dan tidak ada yang istimewa. Hanya pakaian saja,” jawab Bu Dewi tegas.


“Begitu ya, Bu? Hm … kalau boleh tahu, apakah Bapak dan Ibu tahu di mana nona Larasati menetap selama meninggalkan rumah ini beberapa tahun yang lalu?” tanya Cintia lagi.


Pak Herman terkejut mendapat pertanyaan seperti itu.


“Kami tidak tahu,” jawab Bu Dewi tegas.


Pada saat itu Pak Herman tiba-tiba teringat sesuatu, tapi ia tidak mungkin mengatakannya pada kedua polisi itu.


Herman dan Cintia tidak mendapatkan informasi apa-apa saat itu. Kemudian azan Magrib berkumandang.


“Kami permisi dulu, Pak … Bu … Kami tinggalkan nomor pribadi kami barangkali besok atau nanti Bapak atau Ibu teringat sesuatu. Kami benar-benar minta tolong kepada Bapak danIbu,” ujar Herman sambil bangkit dari duduknya.


Mereka berdua pun pamit dari rumah Pak Herman menuju masjid untuk melaksanakan salat Magrib sebelum balik ke kantor.

__ADS_1


BERSAMBUNG


Ini adalah BAB terakhir yang harus dilike dan dikomentari oleh peserta SAYEMBARA novel MARANTI. Hari Jumat pukul 9 WIB akan kami cek nama-nama aku yang memenuhi syarat untuk diundi. Pengumuman tanggal 6 Desember. Terima kasih


__ADS_2