
Bu Dewi hampir saja meneriaki tamu kurang ajarnya tersebut. Namun, nyalinya seketika ciut ketika ia mendengar suara Laras memanggil-manggil namanya.
“Budeeeee aku mau pulang! Budeeee aku mau pulang! Budeeee aku mau pulang!” Kalimat itu terdengar beberapa kali dari luar rumah sambil sesekali terdengar gedoran pintu yang sangat keras.
Jantung Bu Dewi saat itu seolah-olah berhenti berdetak. Ia tak menyangka, ia akan mengalami seperti yang diceritakan oleh para tetangganya bahwa pada hari ketujuh selamatan kematian, arwah keluarga yang meninggal datang untuk berpamitan kepada keluarganya.
“Be-rang-kat-lah ka-mu, Nduk! Bu-de ikh-las me-lepas ke-pergianmu …,” Kata-kata itu tiba-tiba terlontar dari mulut Bu Dewi dengan maksud untuk melepas kepergian Laras.
Entah dari mana kalimat itu diperoleh oleh Bu Dewi. Mungkin, ketika perempuan itu sedang bercengkrama dengan tetangganya, ada yang menceritakan kalimat apa yang harus diucapkan ketika didatangi oleh arwah keluarganya pada malam ketujuh acara selamatan. Nyatanya, Bu Dewi melontarkan jawaban itu dalam keadaan terdesak seperti saat ini.
Selama beberapa detik tidak ada suara lagi dari depan rumah. Bu Dewi berpikir kalimat yang ia barusan ucapkan benar-benar ampuh digunakan untuk mengatasi hal tersebut. Namun, nyatanya dugaan perempuan tersebut keliru karena beberapa detik kemudian terdengar suara Laras kembali dengan kalimat yang berbeda.
“Budeeeeeeee … siniiiiiiii! Aku mau salaman … Hi hi hi …” Suara itu tiba-tiba muncul dan membuat nyali Bu Dewi kembali ciut.
“Budeeeeee … siniiiiii … Hihihi ….” Suara itu kembali terdengar seolah sedang menakut-nakuti Bu Dewi.
“Pergiiiiiiiii!!!!” teriak Bu Dewi saat itu karena tidak tahan dengan perasaannya.
Bu Dewi benar-benar tidak menyangka arwah Laras ternyata datang tidak untuk pamit kepada perempuan itu. Melainkan seperti sedang meneror perasaannya.
“Jangan takut, Budeeeee …. Hihihiiiiii ....” Suara itu kembali terdengar dan membuat hati Bu Dewi bergetar karena takut.
Dalam keadaan takut seperti itu, Bu Dewi pun melafalkan ayat kitab suci yang ia hafal dengan segenap keyakinannya untuk memohon perlindungan dari Sang Khalik.
“Ampun, Budeeeee … Panaaaaaaas … Hentikan, Budeeee!!!!” Tak lama kemudian terdengar suara jeritan Laras dari luar rumah.
Bu Dewi meneruskan bacaaannya sambil menahan rasa tidak tega ketika mendengar suara Laras terus merintih memohon agar istri Pak Herman itu menghentikan bacaan doanya.
“Beristirahatlah dengan tenang, Laras! Jangan mau kamu diperdaya oleh setan untuk menyakiti manusia!” teriak Bu Dewi di sela-sela doanya.
“Ma-na bi-sa a-ku ber-istirahat de-ngan te-nang, Bu-de. Den-damku ma-sih be-lum se-penuhnya ter-balas! O-rang yang meng-hancurkan hi-dupku ma-sih hi-dup be-bas sam-pai se-karang. Si-lakan bu-nuh a-ku de-ngan ayat-ayat suci da-ri Bu-de. Bu-nuh aku, Bude! A-ku te-tap a-kan mem-balaskan den-damku mes-kipun Bu-de me-larangku!” teriak arwah Laras dengan suara kesakitan dari arah luar rumah Bu Dewi.
Mendengar jawaban seperti itu membuat perasaan Bu Dewi tersentuh saat itu. Ia tidak tega untuk menyakiti arwah Laras. Bu Dewi pun menghentikan bacaan doanya.
“Laras? Bukankah dendammu sudah terbalaskan semua? Kamu sudah membunuh Pak Hartono dan Pak Dimas? Siapa lagi yang telah menyakitimu, Laras?” teriak Bu Dewi dengan rasa keingintahuan bercampur dengan rasa ketakutan karena ia tahu yang ia hadapi saat ini adalah arwah yang sedang diperdaya oleh setan.
__ADS_1
“Budeeeeeee …. Tolong akuuuuuuuu!!!! Aku ingin pergi, tapi …,” teriak Laras tiba-tiba dengan suara yang benar-benar menyayat hati
“Laraaaaaaas, kamu kenapa?!!!!” Bu Dewi tak terasa menjawab teriakan anak angkatnya itu.
“A-ku ... A-ku ...,” sahut arwah Laras dengan suara terbata-bata dan terdengar sangat lemah.
“Kamu kenapa. Laras?” teriak Bu Dewi lagi.
“Hi hi hi … aku akan membunuh semua begundal itu. Hihihihi …,” teriak Laras kemudian dengan intonasi yang sangat berbeda dengan sebelumnya.
Bu Dewi yang mengamati perubahan suara Laras itu pun bingung dengan apa sebenarnya yang terjadi dengan arwah Laras. Ketika Laras merintih, Bu Dewi merasa itu sama seperti dengan Laras yang ia kenal. Namun, saat Laras tertawa, meskipun suaranya sama, tapi Bu Dewi merasa itu bukanlah Laras yang ia kenal.
“A’udzubillahi minassaytonirrojiiim …” Bu Dewi pun melanjutkan bacaan doanya karena ia benar-benar tidak tahu dengan apa yang harus ia lakukan saat itu.
Benar saja. Beberapa detik kemudian terdengar teriakan melengking Laras dan akhirnya suara Laras yang menyeramkan sudah tidak terdengar lagi. Hal iTu bersamaan dengan suara azan Isya yang berkumandang di mesjid dan musalla. Bu Dewi meringkuk di balik pintu seolah kehilangan tenaganya.
“Laras? Apa yang terjadi denganmu, Nduk? Siapa orang yang masih kamu dendami, Nduk?” tanya Bu Dewi pada dirinya sendiri.
“Oeeeeeee ….” Tiba-Tiba terdengar suara tangisan Panji.
“Panji, kamu bangun, Nak? Pasti kamu haus ya, Nak? Ibu buatkan susu dulu, ya?” ucap Bu Dewi sambil buru-buru menyiapkan sebotol susu untuk Panji.
Panji yang masih tidak mengerti apa-apa itu tetap saja menangis meskipun jelas-jelas Bu Dewi sedang menyiapkan susu untuknya.
“Panji … sabar dulu ya, Nak. Ibu kan masih buatin susu buat kamu.” Bu Dewi berusaha memberitahu anak itu meskipun ucapannya tidak berdampak apa-apa untuk Panji.
Panji tetap saja menangis. Setelah Bu Dewi menyodorkan botol berisi susu hangat ke mulut mungil Panji, barulah anak kecil itu berhenti menangis dan berkonsentrasi menyedot susu dari dalam botol yang diberikan Bu Dewi.
Bu Dewi duduk di samping Panji yang sedang rebahan sambil meminum susu yang hampir habis. Satu botol susu hangat habis tidak lebih dari tiga menit. Bu Dewi pun mengambil botol kosong itu dari mulut Panji dan mencucinya dengan air panas gar steril.
“Oeeeeee …,” Panii kembali menangis setelah selesai minum susu pemberian Bu Dewi.
“Panji, kenapa kamu masih menangis, Nak? Kali ini ibu tidak akan menuruti keinginanmu kalau kamu inta keluar. Biar sudah kamu mau nangis seperti apapun, ibu akan tetap menunggu bapakmu datang!” omel Bu Dewi pada Panji.
“Oeeeeee ….” Panji menangis semakin menjadi karena tidak digubris oleh Bu Dewi.
__ADS_1
“Ibu bilang apa barusan? Pokoknya ibu tidak mau nurutin keinginanmu keluar dari rumah malam-malam. Kita tunggu bapakmu saja!” omel Bu Dewi lagi.
“Oeeee …” Seolah-olah tidak mau kalah, Panji menangis semakin keras.
Dan benar saja, Bu Dewi pun tak tahan mendengar suara tangisan Panji. Digendongnya anak kecil lucu itu.
“Panji, kenapa sih kamu tidak mau menurut sama ibu? Kalau terjadi apa-apa sama kamu, gimana?” Bu Dewi memarahi Panji sambil menangis.
Namun, ternyata dugaan Bu Dewi salah. Ketika ia menggendong Panji, ia tidak melihat Panji menunjuk-nunjuk ke arah luar. Dan Panji pun masih menangis meskipun ia sudah menggendongnya dan bersiap mengantar ke manapun Panji minta diantar.
“Kamu mau ke mana, Panji? Iya, ibu akan mengantarmu ke luar. Tapi, kamu jangan nangis!” ucap Bu Dewi.
Panji masih saja menangis. Bu Dewi pun kebingungan melihat aksi Panji yang tidak sepert biasanya itu. Bu Dewi baru ngeh setelah ia merasakan perutnya hangat.
“Ya ampun. Ternyata kamu menangis karena mengompol, Panji? Duh, bikin ibu deg-degan saja,” tukas Bu Dewi kemudian dan buru-buru mengganti popok Panji yang sudah tembus.
Tak lupa perempuan itu juga membedaki bagian ************ bayi mungil itu. Dan benar saja, setelah diganti popoknya, Panji kembali menguap dan terlelap.
“Panjiiiii … Panjiiiii …”
BERSAMBUNG
Setelah dicek di BAB berjudul "Terkejut", ternyata tidak ada peserta yang memenuhi syarat karena tidak ada yang menulis komentar di setiap BAB novel MARANTI. Maka aku mutusin untuk mengundi nama-nama akun yang menulis komentar di bab tersebut Dan keluarlah tiga nama berikut sebagai pemenang :
1. Dewi Arisandi
2. Bambang Setyo
3. Iroel Airoel
(untuk detil undian ada di instagamku @authorjunan)
Silakan japri nama2 akun tersebut setelah saling follow. Japri nomor telpon yg akan diisi pulsa @ 10 ribu.
Terima kasih
__ADS_1
Sampai jumpa game selanjutnya...