
Pada saat mereka berpelukan, tiba-tiba muncul Jatmiko dari arah samping makam. Ketiga orang yang sedang saling menguatkan itu pun menoleh ke arah Jatmiko.
“Selamat atas keberhasilan kalian bertiga yang telah melalui ritual ini. Tidak semua orang bisa sekuat kalian. Perlu diketahui jika kalian gagal dalam ritual ini maka risikonya adalah kalian bisa hilang ingatan alias gila,” sapa Jatmiko.
“Jatmiko! Kami benar-benar takut dengan ular-ular itu!” ujar Pak Ade.
“Itu belum seberapa, Ade. Musuh terbesar kalian adalah Laras. Nanti malam kalian akan mengetahui sendiri betapa hebatnya arwah perempuan itu,” jawab Jatmiko.
“Tapi, barusan itu sudah membuat kami semua ketakutan. Kami sudah sampai di ujung rasa ketakutan kami,” jawab Pak Ade.
“Tidak, Ade! Kematian itu jauh lebih menakutkan dai itu semuanya,” jawab Jatmiko.
Pak Ade pun terdiam.
“Ade, sekarang ini sudah pukul setengah lima sore. Sebentar lagi sudah magrib. Kalau kalian bertga tetap di sini maka arwah perempuan itu akan dengan mudah menemukan kalian dan membunuh kalian bertiga. Ayo, kita segera berangkat menuju bukit!” ajak Jatmiko pada keluarga sahabatnya itu.
“Apa kami tidak salah dengar, Mas Jat. Rasanya barusan masih azan Asar? Sekarang kok sudah mau magrib?” tanya Bu Nisa dengan penuh rasa penasaran.
“Ha ha ha ha ha … kalian bertiga tidak sadar kalian tadi sudah masuk ke alam jin makanya waktunya bergulir lebih cepat,” ucap Jatmiko.
Pak Ade dan Bu Nisa saling menoleh dan mengangguk-angguk mendengar penjelasan Jatmiko.
“Revan, kamu ini ternyata memang anak yang hebat, ya?” puji Jatmiko pada Revan.
“Terima kasih, Om Jat,” sahut Revan dengan bersemangat.
“Ayo, buruan kita ke bukit! Sebelum semuanya terlambat!” tegur Jatmiko.
Mereka bertiga akhirnya bangun dan bersiap berangkat menuju bukit tadi. Butuh setengah jam setidaknya bagi mereka bertiga untuk bisa sampai ke bukit tadi. Karena tidak mau terlambat, mereka bertiga pun melangkah dengan lebih cepat menuju bukit. Jatmiko yang ikut mengantar mereka pun ikut mempercepat langkahnya agar idak tertinggal.
Setelah berjalan selama kurang lebih dua puluh menit akhirnya mereka sampai di bawah bukit.
“Ayo, buruan naik, Nak Ade!” Waktunya sudah hampir tiba!” teriak Nenek galuh dari atas bukit.
“Iya, Bu,” sahut Pak Ade dengan keras.
Pak Ade pun menoleh ke arah anak dan istrinya. Ia tak kuasa membendung kesedihannya saat itu. Ia pun memeluk anak dan istrinya dengan erat selama beberapa detik.
“Maafkan Mas ya, Dik? Maafkan bapak ya, Nak?” suara yang keluar dari mulut pria itu dengan perasaan sedih yang teramat sangat.
“Iya, Mas. Aku sudah memafkanmu, Mas Ade. Kamu jaga diri baik-baik ya, Mas Ade?” ucap Bu Nisa dengan penuh kesedihan.
“Dik, kalau mas meninggal, tolong jaga Revan baik-baik, ya? Jaga pergaulannya jangan sampai ia mejadi pria yang kurang ajar dan tidak bertanggung jawab seperti aku,” ucap Pak Ade dengan diiringi tangisan.
“Tidak, Mas! Kamu jangan berkata seperti itu! Mas itu adalah laki-laki terbaik buatku dan juga bapak terbaik untuk Revan. Mas harus selamat. Jangan tinggalkan kami berdua!” jawab Bu Nisa dengan berderai air mata.
Sekarang giliran Pak Ade memeluk anaknya. Pak Ade mengangkat tubuh anaknya ke atas kemudia menciumi wajah Revan.
“Maafkan bapak ya, Nak! Sudah bikin kamu jadi seperti ini!” ujar Pak Ade dengan sedih.
“Tidak, Pak! Revan tidak apaapa kok berada dalam situasi seseram apapun asalkan ada Bapak dan Ibu, Revan masih bisa menjalaninya dengan baik dalam kondisi apapun. Karena bagi Revan tidak ada kebahagiaan terbesar selain kalian berdua,” jawab Revan yang membuat hati Pak Ade bergetar karea selama ini ia sering mengabaikan anak itu.
“Revan, nanti kalau bapak meninggal, kamu jaga ibumu baik-baik, ya? Jangan pernah sakiti hati ibumu karena dia dalah malaikat dalam hidup kamu dan jangan lupa mengaji, ya?” ucap Pak Ade pada anaknya.
Jatmiko melirik pada Pak Ade ketika pria tersebut menyuruh Revan untuk rajin mengaji.
__ADS_1
“Revan akan nurut sama ibu dan juga Bapak karena Revan tidak mau kehilangan kalian berdua,” jawab Revan dengan polosnya.
“Revan, kamu harus menjadi laki-laki yang menjaga kehormatan wanita dan selalu doakan bapak, ya, nanti” ucap Pak Ade sambil memeluk tubuh kecil Revan.
Bu Nisa ikut bergabung dan memeluk suami dan anaknya. Ia juga mencium tangan kanan suaminya sebagai wujud baktinya pada suaminya itu. Mereka baru melepas pelukannya ketika terdengar sholawat dar ufuk timur sebagai pertanda bahwa sepuluh menit lagi magrib akan tiba. Pak Ade naik ke atas bukit dengan perasaan yang hancur dan penuh keputsasaan karena harus berpisah dengan keluarganya. Sementara Bu Nisa buru-buru membawa anaknya ke warung yang menjual daging ayam di bawah bukit itu. Ia melumuri tubuh anaknya dengan daging busuk dan juga kotoran ayam yag berada di sana. Setelah itu ia juga melumur tubuhnya sendiri dengan enda menjijikkan itu sesuai dengan yang diajarkan oleh Nenek Galuh demi keselamatannya.
Ketika Pak Ade naik ke atas bukit dan hampir mendekati pintu gua, tiba-tiba ia measa panas di bagian tengah tubuhnya. Ia pun memegangi bagian itu karena sakit.
“Kenapa? Panas? Itu pertanda bahwa kamu sudah tidak bisa punya anak lagi karena sudah naik ke ats bukit ini,” ucap Nenek Galuh mengingatkan ceritanya beberapa waktu yang lalu.
Ketika Pak Ade masuk ke dalam gua itu, ia terkejut karena di dalam gua itu ada seorang laki-laki tua.
“Kenalkan ini Ki Santo, ayah kandung Jatmiko!” ucap Nenek Galuh.
“Selamat malam, Ki. Nama saya Ade,” sapa Pak Ade.
“Iya saya sudah tahu. Kamu segera naik ke atas altar itu. Karena waktunya akan segera tiba,” ucap Ki Santo.
Dengan jantung berdebar-debar, Jatmiko pun naik ke atas altar yang ukurannya cukup luas itu. Ada kejadian aneh ketika ia naik ke atas altar. Ia merasa kakinya menjadi hangat dan kehangatan itu menjalar ke seluru tubuhnya.
“Silakan kamu berbaring di atas altar itu!” ucap Ki Santo dengan suara berat.
Pak Ade pun langsung berbaring di atas altar sesuai perintah Ki Santo. Selanjutnya Ki Santo pun berkata kembali kepada Jatmiko.
“Jatmiko! Kamu lumuri sekjur tubuh itu dengan darah ayam itu!” ucap Ki Santo sambil menunjuk ke salah satu arah di dekat altar.
Jatmiko pun langsung berjalan menuju tempat darah ayam itu. Setelah itu ia pun menuangkan darah ayam itu ke sekujur tubuh sahabatnya yang sedang berbaring di atas altar. Pak Ade sedikit bereaksi karena bau amis darah ayam itu. Namun, hal itu tida lah lama karena Ki Santo kemudian melemapr bunga tujuh rupa menutupi sekujur tubuh pria mapan itu.
Setelah itu Nenek Galuh pun menyalakan lilin-lilin di sekeliling altar. Sehinga ruangan tersebut menjadi terang benderang karena adanya penerangan lilin-lilin itu. Pak Ade melirik ke kiri dan ke kanan sambil menyaksikan bagaimana Ki Santo dan Nenek Galuh mempersiapkan segala sesuatu untuk melaukan ritual demi menyelamatkan hidupnya.
“Jatmiko! Kamu bacakan mantra yang sudah diajarkan oleh istriku tadi pagi!” ucap Ki Santo pada Pak Ade.
Pak Ade tidak menyahut. Melainkan ia langsung menuruti perintah orang tua itu. Secara berulang-ulang ia membaca mantra yang diajarkan oleh Nenek Galuh pagi tadi. Jatmiko kemudian mengangkat tangannya ke atas dan menyentuhkan kedua jempolnya di kepala Pak Ade. Pak Ade merasa titik yang disentuh oleh sahabatnya itu menjadi panas seketika.
Kemudian Pak Ade melihat Nenek Galuh giliran yang mengangkat tangannya lebar-lebar ke atas. Setelah itu perempuan tua itu menyentuhkan kedua jempolnya pada kedua jempol kaki Pak Ade. Dan Pak Ade langsung merasakan dinginbersumber dari kedua ujung kakinya itu.
Rasa panas di kepala Pak Ade dan rasa dingin di kaki Pak Ade terasa menjalar dan bertemu di satu titik yaitu jantung pria tersebut. Pak Ade merasakan bahwa jantungnya berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Pria itu juga merasa aliran darahnya menjadi lebih cepat dari biasanya.
Tidak berhenti sampai di situ, Pak Ade juga melihat Ki Santo menaikkan tangannya ke atas dan kemudia pria tua itu menyatukan jempolnya dan menyentuhkan persatuan kedua jempol itu ke dada Pak Ade tepatnya di bagian jantung. Pada saat itu Pak Ade merasakan hawa panas bersumber dari perpaduan jempol Ki Santo dan perlahan namun pasti suhu panas itu mengalir dari jempol Ki Santo menuju ke jantungya. Hampir saja Pak Ade berontak karena tidak tahan dengan panasnya. Untung Ki santo memperingati Pak Ade untk menahan sakit yang dirasakan. Dan benar saja, ketika dibiarkan panas d jantungnya itu kemudia menyebar ke seluruh tubuhnya dan Pak Ade merasa saat itu eneerginya menjadi seribu kali lebih kuat dari sebelumnya.
Detik selanjutnya Pak Ade melihat ketiga orang itu saling berpegangan tangan sambil merapal mantra. Pak Ade juga tidak ketinggalan ikut merapal mantra juga. Selanjutnya ketiga orang itu secara bersamaan mengangkat tangannya ke atas. Selanjutnya mereka pun secara bersamaan menyatukan jempol tangan mereka sebelum akhirnya persatuan jempol itu disentuhkan ke bagian jantung Pak Ade.
Hawa dingin tiba-tiba menyerang tubuh Pak Ade bersumber dari persatuan enam jempol Jatmiko, Nenek Galuh dan Ki Santo. Hawa dingin itu secara perlahan merambat dari jantung Pak Ade menuju ke seluruh tubuh pria suami Bu Nisa itu.
“AAaarrrrrgh!” pekik Pak Ade karena merasa jantungnya membeku saat disentuh lama-lama oleh ketiga orang itu.
Pak Ade menahan rasa sakit di dadanya dan kemudian ia pun merasakan sekujur tubuhnya membeku seketika dan tidak bisa digerakkan. Pak Ade ingin berteriak saat itu, tapi percuma saja. Jangankan untuk berteriak,untuk bergerak saja ia tidak mampu.
Pria itu hanya bisa menyaksikan ketiga orang itu kembali membaca mantra dan menaikkan tangannya ke atas. Setelah itu mereka kembali menyatukan jempolnya dan selanjutnya persatuan jempol itu kemudian disentuhkan ke kening Pak Ade.
Kembali Pak Ade merasakan suhu panas di keningnya. Suhu panas itu secara perlahan menjalar ke seluruh tubuhnya dan kembali ia dapat menggerakkan tubuhnya lagi setelah energi di kening tersebut mengalir ke sekujur tubuhnya.
Pak Ade kembali merasakan keajaian saat itu. Ia merasa tubuhnya beribu-ribu kalilebih kuat dari sebelumnya. Pak Ade baru mengerti bahwa ritual yang dilakukan oleh Ki Santo, Nenek Galuh, dan Jatmiko itu bertujuan untuk menguatkan fisiknya. Pak Ade menjadi lebih percaya diri untuk menghadapi arwah Laras.
“Nak, Ade. Sekarang saya akan membuka indera keenammu agar kamu dapat melawan arwah perempuan itu nanti. Tolong kamu pejamkan matamu sekarang!” ucap Ki Santo pada Pak Ade.
__ADS_1
Pak Ade pun menuruti perintah dukun sakti itu dengan suka rela. Ia memejamkan matanya dengan erat sehingga ia tidak bisa melihat apa-apa lagi saat itu. Ketika Pak Ade memejamkan matanya, Ki santo membaca mantra yang cukup panjang dan bisa didengar oleh Pak Ade. Kemudian Ki Santo memasukkan kedua jempolnya ke mulutnya. Setelah itu pria tua itu pun mengoleskan ludah yang ada di kedua jempolnya ke alis kiri dan kanan Pak Ade dengan arah yang saling berlawanan. Setelah itu Ki Santo berbicara kepada Pak Ade kembali.
“Buka matam secara perlahan, Nak Ade!” perintah Ki Santo pada Pak Ade.
Pak Ade pun sekali lagi menuruti keinginan Ki Santo. Ia secara perlahan membuka matanya dan ternyata awal ia melihat penglihatannya menjadi kabur, tapi lama kelamaan penglihatannya menajdi lebih jelas dari sebelumnya. Dan Pak Ade hampir melonjak ketika ia melihat ular kobra besar di belakang Nenek Galuh.
“Ya Ampun!” pekik Pak Ade karena terkejut.
Setelah itu pandangan Pak Ade beralih kepada Ki Santo. Kembali ia dibuat terkejut karena ia melihat makhluk tinggi besar dibelakang pria tua itu. Bahkan sakig tingginya. Kepala makhluk itu sampai menembus dinding atas gua tersebut. Pak Ade beringsut ke sisi yang lain untuk menghindari sosok-sosok menyeramkan yang tiba-tiba muncul di depannya itu. Malangnya, ketika ia menghadap kepada Jatmiko, kembali ia dibuat terkejut karena di belakang Jatmiko tiba-tiba ada harimau belang yang ukurannya sangat besar.
“Aaarrrrrgh!” Pekik Pak Ade sambil berusaha menutupi wajahnya dari penglihatan terhadap sosok-sosok menyeramkan itu.
“Tidak usah takut, Nak Ade! Yang kamu lihat itu adalah penjaga kami bertiga. Sejak kami lahir mereka sudah menemani kita bertiga secara turun temurun. Mereka tidak jahat, kok!” tegur Ki Santo pada Pak Ade.
Akhirnya Pak Ade mulai berani membuka matanya kembali. Meskipun dengan perasaan yang masih sedikit takut pada mereka.
“Nak, Ade. Tidak udah takut pada mereka bertiga. Justeru nanti ketiga sosok itu yang akan membantumu melawan arwah Laras. Makanya kamu tidak perlu khawatir lagi. Tapi, ingat karena energi Laras itu terpusat padamu maka kekuatan ketiga sosok itu juga tidak akan begitu optimal. Yang paling utama adalah kekuatanmu sendiri. Bagaimana kamu bisa mengendalikan rasa takutmu sendiri. Karena bahan bakar kekuatan arwah Laras adalah rasa ketakutanmu itu.
“Terima kasih, Ki Santo atas bantuannya. Sekarang apa yang harus aku lakukan?” tanya Pak Ade pada pria tua itu.
Sebentar lagi magrib datang. Energi arwah Laras malam ini adalah yang terbesar. Kamu tetaplah berbaring di aats altar itu dan jangan kamu hiraukan apapun yang terjadi setelahnya. Karena semua itu hanyalah tipuan mata Laras. Yang perlu kamu ingat adalah apabila kamu sudah masuk ke alam Laras, kamu cari mustika yang berwarna ungu. Pegang erat mustika itu karena itu yang akan menyelamatkanmu. Jangan kamu pedulikan apapun yang terjadi selain mencari mustika berwarna ungu itu. Apabila kamu sudah berhasil mendapatkan mustika itu berarti Laras tenaganya akan melemah dan pada saat situ kami bertiga akan menangkap Laras dan melenyapkannya. Kamu paham, Nak Ade?” tanya Ki Santo pada suami Bu Nisa itu.
“Iya. Saya paham, Ki Santo,” jawab Pak Ade tegas.
“Baiklah, kalau begitu kami bertiga akan bersembunyi dulu. Kamu tetaplah berbaring di situ. Tepat saat azan Magrib beberapa saat lagi, arwah Laras akan naik ke atas bukit ini dan mulai memperdayaimu. Maka kamu harus berhati-hati terhadap tipu daya arwah perempuan itu. Kalau kamu berhasil melawa tipu dayanya maka kamu akan berhasil mengalahkannya dan dapat berkumpul dengan keluargamu dalam keadaan sehat wal afiat,” ujar Ki Santo panjang lebar.
“Baik, Ki Santo. Saya akan menjalankan semua nasihat Ki Santo,” jawab Pak Ade lagi.
Setelah itu, ketiga orang itu secara bergantian meninggalkan Pak Ade di atas altar. Jatmiko bersembunyi di balik batu di sebelah gua tersebut, Nenek Galuh bersembunyi di sebelah gua tepatnya di balik patung sesembahan, sedangkan Ki Santo bersembunyi di balik bati di dalam gua tersebut.
Sementara itu Bu Nisa dan Revan yang sedang berembunyi di sebuah warung di bawah bukit mulai merasa tidak nyaman dengan baluran kotoran di sekujur tubuh mereka.
“Bu,baunya bikin mau muntah,” ucap Revan pada ibunya.
“Tahan dulu ya, Nak! Ini demi keselamatan kita semuanya. Arwah tante itu tidak akan dapat melihat kita kalau kita bau seperti ini,” jawab Bu Nisa berusaha menenangkan anaknya.
“Iya, Bu. Tapi, bagaimana dengan nasib bapak, Bu?” tanya Revan lagi pada ibunya.
“Tenang, Nak! Bapakmu akan baik-baik saja di atas karena bapakmu dijaga oleh Om Jatmiko dan Oma,” jawab Bu Nisa dengan sabar.
“Semoga kita semua bisa selamat, Bu!” ucap Revan.
“Aaamiiiin …,” jawab Bu Nisa.
Revan senang karena ibunya berkata amin karena setahu dia ibunya tidak pernah sholat maupun menyebut kata Tuhan.
Beberapa detik kemudian azan Magrib berkumandang dari arah timur. Tiba-Tiba angin bertiuo dengan kencang di sekitar bukit tersebut. Revan menajdi ketakutan karena datangnya angin yang tiba-tiba tersebut. Terlebih lagi dari arah selata terdengar gemuruh sesuatu yang sangat keras.
“Bu, itu suara apa? Revan takut!” keluh Revan pada ibunya.
Jujur saja saat itu sebenarnya Bu Nisa juga merasakan ketakutan karena datangnya angin dan suara gemuruh itu. Tapi ia tidak ingin Revan menjadi lebih takut lagi. Maka ia pun memeluk tubuh anaknya sambil berbisik di telinga anaknya itu.
“Revan, permainan akan segera dimulai. Ingat, kita tidak boleh berteriak apapun yang terjadi. Dan satu lagi kita tidak boleh berbicara satu patah kata pun. Tugas kita hanya diam dan bersembunyi. Apabila tante itu tidak menemukan kita maka kita akan menang dan bisa berkumpul dengan bapakmu. Tapi, kalau tante menemukan persembunyian kita maka kita akan kalah. Kamu paham, Nak?” tanya Bu Nisa dengan sabar.
Revan mengangguk pertanda ia mengerti. Bu Nisa pun tersenyum pada anak semata wayangnya itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG