MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
BAB 17 MISTERI


__ADS_3

Mas Diki bertanya kepadaku kenapa aku seperti mengenal guru yang meninggal yang diceritakan oleh Ibu Pemilik Warung, dan aku menjawabnya bahwa aku tidak mengenal Bu Marisa, tapi aku masih ingat nama guru itu sama dengan yang sempat diperbincangkan oleh dua orang guru yang waktu itu pernah makan bareng dengan kami. Aku tidak bercerita lebih lanjut kepada Mas Diki karena aku nggak mau Mas Diki berpikir yang tidak-tidak tentang Bulek Darsih. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan menuduh orang lain berbuat jahat hanya dari asumsi saja. Terlebih, hal ini berkaitan dengan keluargaku sendiri. Aku tidak mau Mas Diki memiliki pandangan yang buruk terhadap keluargaku.


Selepas makan pagi di warung tersebut, kami pun melanjutkan perjalanan. Tujuan pertama kami adalah sekolahnya Nur. Setelah mengantar Nur ke sekolahnya, tujuan kami selanjutnya adalah rumah kami. Sesampai di rumah kami, aku heran karena Mas Diki yang semula berniat untuk mengunjungi toko-tokonya malah ikutan turun dari dalam mobil.


"Loh, Mas Diki kok ikut turun?" tanyaku kebingungan sambil memasukkan anak kunci ke gembok pagar.


"Eh, anu, Dik. Saya ada sesuatu yang tertinggal di dalam," jawab Mas Diki.


"Oalah ... apa yang tertinggal, Mas? Biar saya ambilkan," tanyaku sambil membuka kunci pintu.


"Laporan penjualan minggu kemarin, dik. Biar saya ambil sendiri ke dalam," jawab Mas Diki sembari berjalan mengikutiku.


Begitu pintu rumah terbuka, kami pun masuk ke dalam dengan mengucap salam terlebih dahulu. Mas Dikilah yang mengajari aku untuk mengucap salam setiap memasuki suatu tempat, termasuk rumah sendiri. Menurut Mas Diki, kalau masuk ke ruangan terus kita mengucap salam, ada dua keuntungan yang dapat kami dapatkan. Yang pertama, misalkan di ruangan yang kita masuki itu sepi seolah-olah tidak ada orang, terus ada yang menjawab salam, berarti kami dapat mengetahui bahwa di dalamnya ada orang selain kami. Nah, misalnya terdengar jawaban tetapi tidak ada orangnya, berarti yang menjawab jinnya baik karena mau mendoakan keselamatan buat kami. He he he ...


"Tiga hari nggak pulang, kayak ngerasa gimana gitu, ya, masuk ke rumah sendiri? Duh, debunya tebel semua," ucapku.


"Iya, Dik," jawab Mas Diki kalem.


Aku terus berjalan dan sampailah aku di depan kamar. Dengan anak kunci yang kupegang, kubuka pintu kamarku itu. Mas Diki masih mengekorku di belakang.


Mas Diki membawa koper berisi baju-baju dan segala kebutuhan kami di rumah Mbak Ning ke dalam kamar.


"Taruh situ saja, Mas, kopernya. Nanti biar saya yang keluarin barangnya satu persatu," seruku sambil duduk di tepi ranjang.


"Iya, Dik," jawab Mas Diki sembari menutup pintu kamar.

__ADS_1


"Loh, kok pintunya malah ditutup, Mas? Katanya Mas mau ngambil berkas yang tertinggal," tanyaku pada Mas Diki yang saat ini berdiri di balik pintu sambil menatap tajam ke arahku.


"Hm ... berkasnya ada di mobil, kok, Dik," jawab Mas Diki dengan kalem.


"Kalau berkasnya ada di mobil, terus apa yang tertinggal, Mas?" tanyaku penasaran.


"Ini, Dik. Mas minta sangu dulu," jawab Mas Diki.


"Loh, Mas nggak pegang uang tunai, tah? Saya ada kok uang tunai, pakai uang tunai saya saja supaya Mas Diki enak kalau di jalan," jawabku serius.


"Uang tunai saya ada, kok, Dik," jawab Mas Diki kalem sambil melangkah mendekatiku.


"Kalau bukan uang tunai, sangu apa, Mas? Tadi kan sudah sarapan? Apa Mas Diki mau bawa bekal? Kalau iya, biar saya masakin dulu. Paling nggak sampai setengah jam sudah selesai," tanyaku lagi.


Kini posisi Mas Diki sudah sangat dekat denganku.


"Terus apa, Mas?" tanyaku.


Kali ini wajah Mas Diki sudah benar-benar berhadapan denganku. Setiap helaan napasnya tertiup ke wajahku. Kali ini Mas Diki tersenyum snagat manis kepadaku sambil kedua tangannya memegangi pipi kiri dan kananku. Tatapan matanya begitu tajam namun sangat menenangkan.


"Dik, Mas butuh sangu yang lain ...," bisiknya lembut.


"Mas Diki ...," ujarku lirih.


Dan selanjutnya bunyi detak jam dinding menjadi saksi pecahnya kerinduan di antara kami berdua.

__ADS_1


*


Sekitar pukul sebelas siang aku terbangun dari tidurku. Di sampingku tidak ada siapa-siapa. Pikirku, Mas Diki sudah berangkat ke toko-tokonya segera setelah melampiaskan kerinduannya. Aku pun bangkit dari pembaringan dan bermaksud untuk menyegarkan badanku dulu dengan cara mandi di kamar mandi. Kukeluarkan sabun dan handuk dari koper dan kemudian kubawa ke kamar mandi. Suasana saat itu sepi sekali karena memang rumahku agak jauh letaknya dari rumah yang lain. Di depan rumahku sebenarnya ada sih rumah milik Pak RW yang kadang-kadang ditempati oleh mertua Pak RW kalau sedang berkunjung ke rumah Pak RW. Tapi, saat ini kebetulan rumah itu kosong tak ada penghuninya.


Aku mandi di kamar mandi sambil menghidupkan keran air. Saat aku sedang menyampo rambutku, sayup-sayup aku mendengar suara seseorang yang sedang memanggilku dari luar.


"Siapa?" teriakku sambil mematikan keran air agar aku bisa mendengar suara orang yang baru saja memanggilku.


Namun, kutunggu selama beberapa menit, tidak ada jawaban dari arah luar. Aku pun melanjutkan mandiku kembali.


"Siapaaaaa?" teriakku kembali karena suara panggilan itu begitu jelas.


Namun, lagi-lagi aku tidak mendengar jawaban apapun. Aku pun mempercepat acara mandiku agar bisa segera keluar dari kamar mandi dan memeriksa keadaan di luar kamar mandi. Setelah selesai mandi dan gosok gigi, aku pun keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju kamarku.


"Siapa?" panggilku saat aku merasa seperti ada seseorang sedang melintas di ruang tamu sesaat ketika aku akan masuk ke kamar.


Lagi-Lagi tidak ada jawaban dan setelah diperhatikan sekilas, memang aku tidak melihat ada orang lain di sana selain aku. Aku pun masuk ke kamar dan segera mengganti bajuku yang sudah kotor.


Setelah mengganti baju, aku pun berniat untuk mengeluarkan isi koper. Rencananya baju yang sudah kotor akan segera kucuci, sedangkan baju yang masih bersih akan kupisahkan. Namun, entah mengapa ketika aku duduk untuk mengeluarkan semua isi koper, aku merasa seperti melihat Bude Yati sedang duduk-duduk di atas kasur.


"Astagfirullah!!!" pekikku sambil menoleh ke arah kasur.


Ternyata di atas kasur aku tidak melihat siapapun. Meskipun begitu, aku sudah ngos-ngosan dan merasa ngeri. Kembali aku melanjutkan pekerjaanku mengeluarkan dan memisahkan barang-barang dari dalam koper. Sekitar sepuluh menit kemudian, semua isi koper sudah berhasil kukeluarkan. Baju yang masih bersih kembali aku masukkan ke dalam lemari, sedangkan baju yang kotor akan aku bawa untuk dicuci di belakang. Aku pun membuka pintu kamar dan menariknya sehingga terbuka. Aku benar-benar terkejut saat pintu kamarku terbuka, secara sekilas aku melihat Bude Yati dengan wajah yang pucat sedang duduk di meja makan sambil menatap ke arahku.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Boleh tanya, nih? Apakah alasan kakak menyukai novel bergenre horor?


Terima kasih atas like, vote, dan komentar Sobat Junan semuanya


__ADS_2